Pengantar Bulan Mei 2017

Pengantar Bulan Mei 2017
Bulan Mei 2017, mari kita menghayati dan menemukan mata air dari sepilihan puisi di 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 07 Maret 2011

MUSI YANG MANIS KEKASIHKU


Data buku kumpulan puisi Musi yang Manis Kekasihku

Judul : Musi yang Manis Kekasihku
Penulis : Eko Putra
Cetakan : 1, Mei 2010
Penerbit : Bejana, Bandung.
Tebal : 63 hlm. 14 x 20 cm (50 judul puisi)


Beberapa pilihan puisi Eko Putra dalam Musi yang Manis Kekasihku


Di Danau Ulak Lia

cuaca telah menjadi musim
yang terapung
di antara genangan yang tenang

dan sembilan arah
di setiap akar dan bunga teratai

tak ada lagi
yang dapat kusangsikan
pada mereka yang mengerami telur
atau mungkin seperti berudu

kini dia telah menungguku
lewat batuan cadas
dan pepohonan lapuk di seberang

ini cintaku
dari sesuatu yang dimakan zaman
beserta cuaca

dan langit yang merona

2009



Bukit Kulim

kutuju sebuah persimpangan, daun-daun akasia bergoyang,
angin rendah datang melunakkan langkah.

aku telah melihat langit, yang turun di kedua lembah, di sana
di bukit-bukit terjal yang memiliki seribu kemungkinan
menumbuhkan pepohonan

ada juga menara, bernyanyi merapatkan cakrawala, tentang
betapa luas dan sempitnya
suatu dunia dan masa.


2009


Sajak dari Ladang

bunga-bunga kacang
angin mengeram rumput palma

dan kupu-kupu yang bermain
di dedaunan berumbai
di bawah ciap angin puyuh

tempatku meneduhkan
segala rupa rahasia di bukit duri

batang-batang lengkuas
ruas kunyit, rimbun serai
di bawah hembusan angin perdu
mengingatkan pada sesuatu

2008


Rumah musim

dinding-dinding hujan
mengguyur tanah, mengepung cinta
mengubah sisa pepohonan menjadi jamur
dan mencari hidupnya sendiri
mengalir dari rangkaian semadi yang terus berlalu
melalui nasib diri, menari-nari dengan sendiri

2008

  
Lubuk Bintiale

kayu-kayu terdampar
menjadi gelondongan zaman
yang mulai menyapa diriku
 di atas tanah untuk kau sebarkan
melalui pelabuhan

dan menghidupi segala
matahari yang kau simpan
di antara sebuah kearifan

setiap akar, setiap lampu
yang jadikan semangatku
seperti perahu-perahu itu
di atas lampu yang kerlap-kerlip
melayari belia cintaku

2008



Tentang Eko Putra
Lahir di desa Kertajaya, Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 19 Juni 1990. Puisi banyak tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama. Musi yang Manis Kekasihku merupakan buku puisinya yang pertama. Ia berumah maya di http://ekoputra-puisi.blogspot.com. Sekarang tinggal di kampung halamannya, desa Keramat Jaya, dan bergiat di bidang kemasyarakatan sebagai pemuda teladan harapan bangsa. Hehe…


Catatan Lain
Buku ini saya dapatkan dengan jalan barteran buku. Saya yang lebih dulu ngirim Pewaris Tunggal Istana Pasir. Taunya dia cuma menitipkan bukunya lewat Hajri, saat ketemuan dalam Pertemuan Penyair Nusantara IV di Brunei. Tanggal yang dia tulis di bukunya, 18 Juli 2010, dan sebuah balasan kata makian: …diberaki kesepian kau… Hahaha

7 komentar:

  1. Bagaimana syarat & ketentuan pengiriman naskah antologi puisi ?? mohon balasannya segera, trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya agak bingung menjawabnya. Tapi bisa kirim ke sini saja m.nahdiansyah.abdi@gmail.com.

      Hapus
  2. saat kutemukan kata.disinilah aku bermuara. padamu...Salam

    BalasHapus
  3. sampai saat ini, puisi puisiku belum jadi buku lagi. dulu beberapa judul puisi yang dikumpulkan hanya berupa stensilan.Keanapa ya setiap kali mau membukukan puisi atau cerpen sepertinya hasil karyaku ini kurang layak terus jika dbandingkan punya temen yang sastrawan itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak motif orang untuk menulis puisi dan membukukannya. Yang penting, jalani aja om... hehe

      Hapus
  4. Saya baru sadar, namaku tidak terdaftar sebagai sastrawan, seperti yang tertera disudut samping ini. Sebab usia tidak lagi memungkinkan mencantumkan nama pada daftar penyair, tapi hanya sebagai penulis puisi di buku harian saja. Salutlah sama Abang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pikirkanlah, jika menulis puisi hanya untuk mencari nama, maka terasa tawarlah semua. Namun saat menulis puisi disertai hasrat mencintai sesama, memberi setulus bisa, niscaya akan lain rasanya.

      Hapus