Pengantar Bulan Juli 2014

Bulan ini, menyapa kita puisi Wiji Thukul dalam Para Jendral Marah-marah, Dedisyah dengan Sajak Perjalanan Pertama, S. Wakidjan dengan Pita Biru, Hr. Bandaharo dengan Aku Hadir di Hari Ini, Linus Suryadi Ag dengan Rumah Panggung, Samadi, -- penyair yang hilang dalam perang saudara (PRRI) di Sumatera tahun 1957-1958 -- dengan Senandung Hidup dan Ekohm Abiyasa dengan Malam Sekopi Sunyi. Salam puisi. Mohon maaf lahir batin.

Sabtu, 10 September 2011

BUAH RINDU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Buah Rindu
Penulis : Amir Hamzah
Cetakan : XI, 2008 (III, 1959)
Penerbit : Penerbit Dian Rakyat, Jakarta
Tebal : vi + 50 halaman (28 judul puisi)
ISBN : 979-523-020-4


Beberapa pilihan puisi Amir Hamzah dalam Buah Rindu


Malam

Daun bergamit berpaling muka
Mengambang tenang di lautan cahaya
Tunduk mengurai surai terurai
Kelapa lampai melambai bidai

Nyala pelita menguntum melati
Gelanggang sinar mengembang lemah
Angin mengusap menyayang pipi
Balik-berbalik menyerah-nyerah

Air mengalir mengilau-sinau
Riak bergulung pecah-memecah
Nagasari keluar meninjau
Membanding purnama di langit cerah

Lepas rangkum pandan wangi
Terserak harum pemuja rama
Hinggap mendekap kupu berahi
Berbuai-buai terlayang lena

Adikku sayang berpangku guring
Rambutmu tuan kusut melipu
Aduh bahagia bunga kemuning
Diri dihimpit kucupan rindu



  
Berdiri Aku

Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datar ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu-sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju



Tuhanku apatah Kekal?

Tuhanku, suka dan ria
Gelak dan senyum
Tepuk dan lari
Semua lenyap, silam sekali

Gelak bertukaran duka
Suka bersalinkan ratap
Kasih beralih cinta
Cinta pembawa wasangka...

Junjunganku apatah kekal
Apatah tetap
Apatah tak bersalin rupa
Apatah baga sepanjang masa...

Bunga layu disinari matahari
Mahluk berangkat menepati janji
Hijau langit bertukar mendung
Gelombang reda di tepi pantai

Salangkan gagak beralih warna
Semerbak cempaka sekali hilang
Apatah lagi laguan kasih
Hilang semata tiada ketara...

Tuhanku apatah kekal?

(Tambahan: Apatah: kata tanya untuk menanyakan sesuatu yang tidak memerlukan jawaban)





Kusangka

Kusangka cempaka kembang setangkai
rupanya melur telah diseri...
hatiku remuk mengenangkan ini
wangsangka dan was-was silih berganti.

Kuharap cempaka baharu kembang
belum tahu sinar matahari...
rupanya teratai patah kelopak
dihinggapi kumbang berpuluh kali.

Kupohonkan cempaka
harum mula terserak...
melati yang ada
pandai tergelak...

Mimpiku seroja terapung di paya
teratai putih awan angkasa...
rupanya mawar mengandung lumpur
kaca piring bunga renungan...

Igauanku subuh , impianku malam
kuntum cempaka putih bersih...
kulihat kumbang keliling berlagu
kelopakmu terbuka menerima chembu.

Kusangka hauri bertudung lingkup
bulu mata menyangga panah asmara
rupanya merpati jangan dipetik
kalau dipetik menguku segera.



Sunyi

Kuketuk pintu masaku muda
hendak masuk rasa kembali
taman terkunci dibelan pula
tinggallah aku sunyi sendiri.

Kudatangi gelanggang tempat menyebung
masa bujang tempat beria
kulihat siku singgung menyinggung
aku terdiri haram disapa...

Teruslah aku perlahan-lahan
sayu rayu hati melipur
nangislah aku tersedan-sedan
mendengarkan pujuk duka bercampur.

Kudengar bangsi memanggil-manggil
tersedu-sedu, dayu mendayu
tersalah aku diri terpencil
badan dilambung gelombang rindu.

Duduklah aku bertopang dagu
merenung kupu mengecup bunga
lenalah aku sementara waktu
dalam rangkum kenangan lama.

Rupanya teja serasa kulihat
suaramu dinda rasakan kudengar
dinda bersandar duduk bersikat
aku mengintip ombak berpendar.

Imbau gelombang menyembahkan lagu
kepada bibirmu kesumba pati
fikiranku melayang ke padang rindu
walaupun dinda duduk di sisi.


Kenangan

Tambak beriak intan terberai
kemuncak bambu tunduk melambai
mas kumambang mengisak sampai
merenungkan mata kesuma teratai.

Senyap sentosa sebagai sendu
tanjung melampung merangkum kupu
hanya bintang cemerlang mengambang
diawang terbentang sepanjang pandang

Dalam sunyi kudus mulia
murca kanda dibibir kesumba
undung dinda melindung kita
heran kanda menajubkan jiwa

Dinda berbisik rapat di telinga
lengan melengkung memangku kepala
putus-putus sekata dua;
"kunang-kunang mengintai kita"...


Buah Rindu 2
 
Datanglah engkau wahai maut
lepaskan aku dari nestapa
engkau lagi tempatku berpaut
di waktu ini gelap gulita.
 
Kicau murai tiada merdu
pada beta bujang Melayu
himbau pungguk tiada merindu
dalam telinganku seperti dahulu.
 
Tuan aduhai mega berarak
yang meliputi dewangga raya
berhentilah tuan di atas teratak
anak langkat musafir lata.
 
Sesaat sekejap mata beta berpesan
padamu tuan aduhai awan
arah menatah tuan berjalan
di negeri manatah tuan bertahan?
 
Sampaikan rinduku pada adinda
bisikkan rayuanku pada juita
liputi lututnya muda kencana
serupa beta memeluk dia.
 
Ibu, konon jauh tanah Selindung
tempat gadis duduk berjuntai
bonda hajat hati memeluk gunung
apatah daya tangan tak sampai.
 
Elang, Rajawali burung angkasa
turunlah tuan barang sementara
beta bertanya sepatah kata
adakah tuan melihat adinda?
 
mega telahku sapa
mergastua telahku tanya
maut telahku puja
tetapi adinda manatah dia!


Hang Tuah

Bayu berpuput alun digulung
Bayu direbut buih dibubung

Selat Melaka ombaknya memecah
Pukul-memukul belah-membelah

Bahtera ditepuk buritan dilanda
Penjajah dihantuk haluan ditunda

Camar terbang riuh suara
Alkamar hilang menyelam segara

Armada Perenggi lari bersusun
Melaka negeri hendak diruntun

Galyas dan pusta tinggi dan kukuh
Pantas dan angkara ranggi dan angkuh

Melaka! Laksana kehilangan bapa
Randa! Sibuk mencari cendera mata

“Hang Tuah! Hang Tuah! Di mana dia
Panggilkan aku kesuma Parwira!”

Tuanku, Sultan Melaka, Maharaja Bintan!
Dengarkan kata bentara Kanan

“Tun Tuah, di majapahit nama termasyhur
Badannya sakit rasakan hancur!”

Wah, alahlah rupanya negara Melaka
Karena Laksamana ditimpa mara

Tetapi engkau wahai Kesturi
Kujadikan suluh, mampukah diri?

Hujan rintik membasahi bumi
Guruh mendayu menyedihkan hati

Keluarlah suluh menyusun pantai
Angkatan Pertugal hajat dihintai

Cucuk diserang ditikami seligi
Sauh terbang dilempari sekali

Lela dipasang gemuruh suara
Rasakan terbang ruh dan nyawa

Suluh Melaka jumlahnya kecil
Undur segera mana yang tampil

“Tuanku, armada Peringgi sudahlah dekat
Kita keluari denganlah cepat

Hang Tuah coba lihati
Apakah ‘afiat rasanya diri?”

Laksamana, Hang Tuah mendengar berita
Armada Peringgi duduk di kuala

Mintak didirikan dengan segera
Hendak berjalan ke hadapan raja

Negeri Melaka hidup kembali
Bukankah itu Laksamana sendiri

Laksamana, cahaya Melaka, bunga pahlawan
Kemala setia maralah Tuan

Tuanku, jadikan patik tolak-bala
Turunkan angkatan dengan segera

Genderang perang disuruhnya palu
Memanggil imbang iramanya tertentu

Keluarlah Laksamana mahkota ratu
Tinggallah Melaka di dalam ragu...

Marya! Marya! Tempik Peringgi
Lelapun meletup berganti-ganti

Terang cuaca berganti kelam
Bujang Melaka menjadi geram

Galyas dilanda pusta dirampat
Sebas Melaka sukma di Selat!

Amuk-beramuk buru-memburu
Tesuk-menusuk laru-meluru

Lala rentaka berputar-putar
Cahaya senjata bersinar-sinar

Laksamana mengamuk di atas pusta
Yu menyambar umpamanya nyata...

Hijau segera bertuka warna
Sinau senjata pengantar nyawa

Hang Tuah empat berkawan
Serangannya hebat tiada tertahan

Cucuk peringgi menarik layar
Induk dicari tempat behindar

Angkatan besar maju segera
Mendapatkan payar ratu Melaka

Perang ramai berlipat ganda
Pencalang berai tempat ke segala

Dang Gubernur memasang lela
Umpama guntur di terang cuaca

Peluru tebang menuju bahtera
Laksamana dijulang ke dalam segara



Tentang Amir Hamzah
Nama lengkapnya, Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera, lahir dalam lingkungan bangsawan Kesultanan Langkat, Sumatera Timur, pada 28 Februari 1911. Meninggal di Kuala Begumit pada 20 Maret 1946 dalam umur 35 tahun, ia diculik dan dibunuh dalam revolusi sosial Sumatera Timur. Dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia bersekolah menengah dan tinggal di jawa saat pergerakan kemerdekaan. Tahun 1933 mendirikan majalah Pujangga baru bersama Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana. Kumpulan puisinya adalah Nyanyi Sunyi (1941) dan Buah Rindu (1937). Ia juga menerjemahkan Stanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933) dan Syirul Asyar (tanpa tahun). Ada yang mencatat ia meninggalkan 160 karya, terdiri dari 50 sajak asli, 77 sajak terjemahan, 18 prosa liris asli, 1 prosa liris terjemahan, 13 prosa asli, dan 1 prosa terjemahan


Catatan Lain
Buku ini kubeli hari selasa, 12 juli 2011, saat perhelatan dialog borneo kalimantan XI di Samarinda. Belinya di toko bagus, jl. Lambung Mangkurat, dengan harga Rp. 38.000,- Ceritanya, malam itu, saya, penyair Arsyad Indradi dan Ali Syamsuddin Arsy, kelaparan dan ingin makan malam. Maka berjalanlah kami menyusur jalan dan ketemu warung yang lumayan memuaskan selera lidah banjar, macam panggang-panggangan ikan dan sayur berkuah. Pulangnya ketemu toko Bagus itu, tak jauh dari hotel Lambung tempat kami menginap. Selain beli buku Buah Rindu, saya juga membeli Jantung Lebah Madu Nirwan Dewanto.  

2 komentar: