Pengantar Bulan OKTOBER 2017

Pengantar Bulan OKTOBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Sabtu, 01 Oktober 2011

PENDULANG, HUTAN PINUS, DAN HUJAN


Data buku kumpulan puisi

Judul: Pendulang, Hutan Pinus, dan Hujan
Penulis : Ahmad Fahrawi dan M. Rifani Djamhari
Cetakan : I, April 2011
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta
Tebal : xx + 76 halaman (masing-masing penyair 20 judul puisi)
ISBN : 978-979-16848-5-5
Disain Sampul : Nur Wahida Idris
Gambar sampul : Abu Bakar
Desain isi : Indrian Koto
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Prolog : Maman S. Tawie
Epilog : Raudal Tanjung Banua


Beberapa pilihan puisi Ahmad Fahrawi dalam Pendulang, Hutan Pinus, dan Hujan


Perjalanan tak Selamanya Jarak

perjalanan tak selamanya jarak
yang ditempuh, dari laut ke pantai
dari hulu ke muara
perjalanan adalah gerak
yang diam, dari tiada ke ada
dari rahim ke sukma

perjalanan tak selamanya jarak
tahun-tahun panjang yang membagi musim
yang merentang kejujuran, yang niscaya
perjalanan adalah perantauan, yang menjala
jejak tak berjejak, yang niskala

tak suara menyiul tanda, sampaikah tujuan
tak gerak mengumbar makna, genapkah harapan
perjalanan adalah sungai ruh tak berjarak
mengalir, ke rumah Kau yang teduhkan, bakal berlabuh

1985



Kelelatu yang Melayang-Layang dan Hinggap di Pohon Jambu
Kepada TET

aku bisa mengatakannya apa saja
ia adalah kabar kemarau panjang bakal datang
ia adalah kabar rindu dan padang yang terbakar
ia adalah kabar petani-petani perkasa sedang membuka ladang
ia adalah kabar perjuangan di bumi keras kehidupan
ia adalah apa saja sepanjang aku bisa berkata

kelelatu lain melayang-layang dan hinggap di atap rumahku
bisa saja ia membawa api dan menyulut bencana
sekarang ia adalah nasib yang terdampar

1982
(TET : Tarman Effendi Tarsyad?  *admin)


Sungai Masa Lalu

sungai masa lalu, di tubuhnya melintang jembatan bambu
sungai belakang rumahku, lubuk dalam misteri bisu
sungai kota kecil, lanting permandian pohon lua di tepian

dari hulu perahu-perahu dikayuh, jala dilabuh
dari hulu biji-biji para larut, bocah-bocah berebut
dari hulu berbugil mengikuti alir
keriangan menghilir

sungai masa lalu
sungai rindu
bocah melempar batu ke lubuk dalam
riaknya yang terbayang adalah kenang

sungai masa lalu, parit keruh masa kini
perahu-perahu kehilangan tambatan
ikan-ikan kehilangan lubuk
bocah-bocah kehilangan rebutan
mampatnya air di hulu, longsornya tanah-tanah tepian
sungai kota kecil menghiliri kemajuan

Martapura, 1982


Suatu Malam di Pantai

bagai sosok puisi yang hilang
ketika kutemu jejak-jejak basah ketam di pasir
ombak menerpa jejak-jejak terbawa
ada yang kurasakan tapi aku tinggal termangu

bagai sebaris puisi yang datang
ketika kutampak kerdip lampu jauh di laut
perahu nelayan yang bersendiri menembus jelaga
ngilu angin berdesir, lirih ombak berdebur
sesuatu menyusup ke dadaku
geletar kehidupan yang tegar

bulan mengungkung ruang langit
menyepuh pantai dan kehitaman laut
bayang-bayang daun nyiur menari
denting gitar semayup
lalu sadarlah aku bersendiri merangkul sunyi
dan aku pun dikungkung rindu

Martapura, 1981


Orang-orang Pendulang

Dipukau kilau batu berangkatlah orang-orang pendulang
Nun ke galau pedalaman ke pendulangan yang memendam
rahasia batu
Berangkat dengan kepastian mimpi menuju
keserbamungkinanMU
adakah kilau batu akan tergenggam tangan mereka
adakah keserbamungkinanMu akan merebut mimpi mereka

Orang-orang pendulanglah yang membatukan tabu demi tabu
karena kilau batu adalah milik para datu
jika murka datu, batu pun akan kehilangan kilau
dan tanpa kilau makna batu akan kembali ke batu

Dipukau kilau batu orang-orang pendulang menggali lubang
demi lubang
melimbang, dulang demi dulang
sesuntuk hari demi hari sesuntuk musim demi musim
Tak hendak pulang, walau tak semua dulang melimbang batu
walau tak sebutir batu mengandung kilau
karena di lekuk bumi masih terpendam rahasia batu
karena di lekuk langit masih terpendam
keserbamungkinanMu

(Musim pun sempurna memuara
menduyunkan orang-orang pendulang menuju kampung pulang
walau tak lagi berkabar, yang tinggal selalu menunggu kabar
karena mereka yang pulang telah menggenggam rahasia batu
telah menempuh pedalaman saung-saung rahasia LuhMu)

Martapura, 1987



Beberapa pilihan puisi M. Rifani Djamhari dalam Pendulang, Hutan Pinus, dan Hujan

Sajak Jambon buat Dik Ami, II

bulan dan sungai, lalang dikuaknya, dan kota makin
jauh, dengar! Kericik air, jeram tempat mandi peri
putih dan jernih, pualam cina, hitam rambutnya
bagai malam di desa, ia berdiri di tepi danau
mencoba mengukur tinggi bulan dengan
sepi, tak ada hantu di sini, tak ada
asap di lembah itu, ia mencoba
berteriak, dan suaranya
kembali ke kupingnya
sendiri

oleh tebing dan lumut gunung
bunga-bunga putih-ungu
mekar di dahan hutan

1982


Poscard

di sudut runtuhan
gadis kecil
menidurkan bonekanya
di latar belakang
kota
terkoyak
langit
terbakar

1993-1996


Senja di Hutan Pinus

masih dapatkah kau lihat jarak-waktu
sementara matahari pelan-pelan meninggalkanmu
masih dapatkah kauikuti jalan setapak itu
sedangkan angin memenggal daun-daun ungu

masih sempatkah kaunyalakan lentera
menerangi jalanku menuju rumahmu
-- ketika kita sepakat malam
telah sempurna

1980-2004


Minggu Raya III

Lagu keroncong dan lampu petromaks menyala pucat
sampai pagi

dan sopir truk dengan handuk di leher itu
merayuku pula, Mama

“Irus manis, siapa pacar ikam?”
“Kada baisi, kadada nang handak pang!”

(mama, dapatkah ia mengerti, setiap lelaki
yang mampir di warungku, adalah pacarku?!)

Pemuda itu diam saja, mama. Gelas kopi dan kepul
asap rokok tak henti. Giginya coklat, jaket
hitam mengkilat. Dan sorot matanya tajam menghujam

“Indonesia sudah punya dua pilot wanita
Irus, kau pewaris Kartini, kan?!
Habis gelap terbitlah terang.”

“Ya, habis gelap terbitlah terang.”

(mama, dapatkah ia menangkap sendu wajahku?)

Lagu keroncong dan lampu petromaks menyala pucat
sampai pagi

Banjarbaru, 1982


 
Membayangkan Sebuah Kota

berilah kami sebuah plaza
bangku-bangku dan pohon palma

sebuah jalan raya setiap hari minggu
biarlah diliburkan
sehingga anak-anak kami leluasa
bermain dan berlari
di sana, para remaja kami
dapat mementaskan
kesenian mereka

di taman kota, setiap sore
biarlah kami leluasa
mendorong kereta bayi
ngobrol dan berkencan
-- berbekal sebungkus kacang
dan sebuah novel baru

di kota kami sebaiknya ada kafe
tempat penyair berdebat
membaca puisi dan memperbaharui janji
untuk kemanusiaan
tempat para cendekiawan kami
membulatkan tekad
untuk tidak khianat
-- untuk tidak sama sekali berkhianat

adalah lebih baik, bila penyair
disertakan jadi anggota
dewan kota
agar rencana dan pembangunan kota
tetap manusiawi dan berbudaya

di perpustakaan kota kami
yang buka 24 jam
orang-orang ditumbuhkan minatnya
untuk membaca dan meneliti
untuk menjadi diri sendiri
bukan dicurigai sebagai pencuri

ah, biarlah pengamen tua itu
-- seperti kemarin
bernyanyi dan bermain biola
di bawah monumen pahlawan kota

berilah kami
hanya sebuah kota
yang mampu kami cintai
sebab kota itu
adalah kami sendiri

Banjarbaru, 1990-1992


Tentang Ahmad Fahrawi
Ahmad Fahrawi lahir di Kandangan, 22 November 1954. Pendidikan SMAN di Barabai. Mukim di Martapura, bekerja sebagai PNS di Balai Informasi Pertanian (BIP) Banjarbaru yang lantas mengundurkan diri atas permohonan sendiri karena sakit. Menulis sejak 1975. Antologi puisinya Jala yang Ditebar (Sanggar Marta Intan, Martapura, 1981) dan Aku Mencari Kata dalam Sajak (HPMB, 1982). Antologi puisi bersama yang memuat puisinya Puisi ASEAN (sanggar seniman muda Bali, Denpasar, 1986), Puisi Indonesia 87 (DKJ, TIM, 1987), Selagi Ombak Mengejar Pantai (Yayasan Kemudi, Selangor, Malaysia, 1989), Festival Puisi XII (PPIA Surabaya, 1990) dan beberapa antologi bersama yang terbit di Kalsel. Nama pena yang pernah digunakan Era Novie M. Meninggal di Banjarmasin, 5 Juni 1990.

Tentang M. Rifani Djamhari
M. Rifani Djamhari lahir di desa Margasari (Tapin) 8 Juli 1959, alumni Jurusan Tanah F. Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Pernah bekerja Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Unlam sebagai pengajar, peneliti, analis AMDAL. Karya kreatifnya pernah dimuat di Horison, Hai, Topik dan Pelita, selain dimuat di media lokal Kalsel. Ia menjadi peserta Kongres Cerpen Indonesia IV di Pekanbaru tahun 2005. Meninggal dunia di Banjarmasin, 20 Maret 2009.


Catatan Lain
Buku ini saya dapat sewaktu peluncurannya di TOSI (Taman Olah Sastra Indonesia) Banjarbaru milik penyair Ali Syamsudin Arsy. Mohon maaf, lupa saya kapan acaranya berlangsung, yang jelas masih dalam tahun 2011. Di bukunya pun tak saya beri catatan sebagaimana saya biasa lakukan. Yang jelas, hari itu saya dapat harga khusus, beli Rp. 50.000,- dapat tiga buku. Normalnya satu buku itu Rp. 25.000,-. Saya beli 2 buku Pendulang, Hutan Pinus dan Hujan karena satu lagi titipan Hajriansyah yang hari itu berhalangan hadir. Sebuah buku lagi adalah gumam Asa, Bungkam Mata Gergaji. Berhadir dalam acara itu, selain ahli waris kedua almarhum, adalah Arsyad Indradi, Hamami Adaby, Sandi Firly, Jamal T. Suryanata, Arifin Noor Hasby, HE. Benyamine, Elang W. Kusuma, Tajuddin Noor Ganie, Ibramsyah Barbary, Bunda Belqis, ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar