Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 07 Desember 2012

IDRUS TINTIN; SENIMAN DARI RIAU



Data buku kumpulan puisi

Judul : Idrus Tintin; Seniman dari Riau, kumpulan puisi dan telaah
Penulis : Idrus Tintin
Cetakan : I, 1996
Penerbit : Riau Pos Grafika Indonesia, Pekanbaru (diterbitkan dalam rangka Anugerah Sagang Riau Pos tahun 1996).
Rencana kulit : Furqon LW
Pengantar : Norham Wahab
Telaah : Iskandar Leo, Prof. Dr. Mursal Esten, Ediruslan Pe Amanriza, Afrion, Pujiharto, Tenas Effendy, B.M. Syamsuddin
Tebal : viii + 244 halaman

Buku ini memuat 3 kumpulan puisi, yaitu Luput (26 puisi), Burung Waktu (36 puisi), Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan (32 puisi)

Beberapa pilihan puisi Idrus Tintin dalam Burung Waktu

Krakatau

di sana pulau di sini pulau
tengah-tengahnya laut memisah
di sana laut di sini laut
tengah-tengahnya gunung yang marah
di sana gunung di sini gunung
tengah-tengahnya rumpun sembilu
di sana Krakatau di sini Krakatau
tengah-tengahnya berdiri aku


Pemain Gambus

Siapakah kamu
Siapakah kamu itu
Yang memetik tali-tali gambus
Seperti rangkaian manik-manik warna-warni
Selama umurku ini?

Aku yang mengaku tak pernah menangis
Aku yang mengaku tak pandai menangis
Akulah lubuk air mata
Bila jari-jarimu memainkan lagu hidup
dengan gambusmu yang abadi

Jangan biarkan aku mengaku
orang dari besi
hati dari besi
Suruhlah aku mengaku kepadamu
bahwa lagumu telah menyentuhku
Tapi
apakah kamu
siapakah kamu itu?



Elegi Nelayan Tua

Lelaki tua itu tersengguk-sengguk di emper gubuk
Bulan layu rendah di langit
Air mulai surut
dan terlena digerogoti mimpi
Sebentar lagi subuh tiba

Inikah impian penghabisan seorang nelayan
Kaki dan tangan kaku dibelasah encok
Dada seperti terbakar batuk batuk batuk
Berteman dengan bulan dan air surut air pasang
Kokok ayam dan cicit murai
Menyambut pagi
Yang bukan lagi miliknya?

Panorama masa lalu tergambar di layar langit
dengan kail memancing ikan ikan ikan
sembilang tenggiri selar dingkis tamban jahan
ikan ikan ikan
pancing bubu belat kelong jala jaring
Selamat tinggal?

Encok yang datang marilah kamu
Batuk yang masuk teruskan jalanmu
ikan-ikan masa lalu
ikan-ikanku besok
Dan pertarungan akan berlanjut
terus!


Burung Waktu

Burung waktu
Terbang dari tempat gelap
Awal penciptaan dunia
Muncullah pagi pertama
Tenun bersilang lintang dua belas warna pelangi
Dan bunga-bunga, batu, hutan,
Pulau dan air
Siul kicaumu
Nyanyian yang kau bawa
Terbang menyeberangi lautan
Melintasi abad demi abad
Laju menuju
Masa depan
Yang masih tebal diselimuti kabut
Harapan dan ketakutan
Burung waktu
Setiap kali kau mencicit
Sembil memandang ke bawah
Terbang tanpa henti
Memasuki malam
Keluar siang
Terus menerus
Tak terhitung oleh alat dan ilmu hitung
Bawalah aku
Terbang bersamamu
Menyeberangi lautan
Melintasi abad demi abad
Laju menuju
Masa depan
Harapan tanpa ketakutan


Akhir Kata

Pada mulanya ialah bunyi
lalu tercipta kata pertama
untuk menyatakan terima kasih
dari hati yang putih tak tercela

Setelah itu
seperti benih tumbuhkan tunas
bunga-bunga dan buahnya lebat sarat
itulah kosa kata bahasa manusia
dan dengan itu semua
kulahirkan puisi
kisah pengkhianatanku kepadamu
dendang tentang cinta kita
mabuk seribu malam
dan doa-doa yang membumbung
terbang ke langit
seperti burung-burung putih kecil-kecil
coba menggapai singgasanamu

Pada mulanya ialah bunyi
dan akhirnya tak lain sunyi


Beberapa pilihan puisi Idrus Tintin dalam Luput

Pesan Seorang Ayah kepada Anaknya

: Anakku!
            Diam dan tenang adalah pemberian
            Ribut dan badai tanda kehadiran sesuatu
            yang baru sesudahnya adalah kedamaian.

: Anakku!
            Mengembaralah jauh-jauh
            ke hutan hatimu
            ke laut-laut hatimu
            ke langit-langit hatimu
            Di kedalaman yang pepat rerahasia
            kebahagiaan itu menggumpal
            di ujung kakimu

: Anakku!
            kebahagiaan itu rerahasia
            yang menggumpal di ujung kakimu.


Sekiranya bukan Kalau

Kalau seluruh laut bersatu
alangkah besarnya laut

Kalau seluruh pepohonan bersatu
alangkah besarnya pohon

Kalau pohon yang bersatu
tumbang ke dalam laut
yang bersatu
alangkah besarnya gelombang

Kalau aku ada di dalamnya
Hore !


Doa

Di batas kaki langit keriput
cakrawala terdedah

Ada sesuatu seperti terlupakan
menuliskan nikmat yang pernah diterima
baiklah akan kusiapkan nyanyian panjang
bagi puisi kehidupan yang pandak


Tanah Kelahiran

di sini kapal oleng gemoleng
angin tak ramah
nakhoda asyik di kemudi
kelasi tertimbun talitemali
penumpang mendengar degup jantung
jantung sendiri

lelaki keras berpacu jalan
perempuan memetik dawai hatinya
waktu malam tiba
perahu menyusuri puncak ombak
hidup di padang perburuan
tak pernah usai
tak pernah usai


Beberapa pilihan puisi Idrus Tintin dalam Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan

Singapura
Kepada Suratman Markasan

Ini bukan lagi Tumasik
bukan Selat
yang disebut-sebut Cikgu Mamud
orang Daik Lingga yang dengan bangga bercerita tentang
Singapura lama

Sia-sia kucari jejak Abdullah Munsyi
di antara rumah-rumah panggung yang tersisa
Teluk Air, Kampung Gelam, Lorong Engku Aman, dan
tempat-tempat yang aku sudah lupa entah apa namanya,
gedung lama dan kuburan keramat mulia

Sia-sia kutelusuri lorong berliku
untuk mendengar merdu suara aksen Melayu;
Di gang-gang sempit
tempat orang lalu lalang
sepertinya semua orang di sini
cuma tahu bahasa Hokian
Joran kolor dan kutang
menjulur dari puluhan jendela apartemen
bendera nir-adab
yang membuat senak dada

Tiga dekade yang lalu
selalu kujumpa banyak anak Melayu
berjalan bungkuk menunduk
bahunya berat seperti
gambar dewa Atlas memikul beban dunia
dalam buku-buku sejarah Yunani

Tapi kini tidak lagi
karena bukan kamu saja
yang memikul beban peradaban ini
orang-orang berdatuk-nenek dari
Wonosobo, Ponorogo, Gresik, Kendal, Bawean
semuanya Melayu
Berapa kuat lagi kalian
menahan rempuhan
zaman?
Namun rontaan penghabisan
anak-anak Melayu itu
alangkah gagah
mengumbar senyum
sebelum akhirnya
mungkin saja juri meneriakkan
kalah!


Asrama Dai-To-A

Inilah gedungnya
tiga puluh langkah dari tembok penghadang gelombang
tepat menghadap barat
berliku melingkar mengikuti garis pantai
sekarang jadi kantor kehutanan kabupaten kepulauan riau

Di sinilah dulu
pagi-pagi aku menyanyikan Mi-oto-o-kai-no
dan mengiris tais: ichi-ni-san-si
-go-roku-sici-hatsu
berbaris menghadap arah matahari terbit

Cemara memagar pantai
desahnya merisau-risau
masih seperti dulu

tapi di manakah kau
kini
mat ali
nomeng
syarifah dara, dan semua teman-teman seasrama
di mana
engku haji muhammad yunus (samurai meleret di pinggang)
encik khatijah, sensei hayakawa (muka garang hati baik)
mak minah (selalu diam-diam sembunyikan lauk tambahan
di timbunan nasiku)
tanya
dijawab
oleh
deru risau cemara
yang dulu juga
masih yang dulu juga

bisik sepoi laut
hanyut-alunkan
Umi yuka-ba
seperti yang dulu kami nyanyikan bersama
sambil menghadap laut dan matahari terbenam
kalau ke laut aku pergi
mayatku akan ditimbus air
kalau ke gunung aku pergi
mayatku akan diselimut rumput ...

rupanya
apa saja yang sudah hanyut
tercecer
di masa lalu
sepahit sepedih apa
pun
yang tinggal
hanyalah indahnya
saja

tolehan terakhir
ke bekas gedung asrama Dai-To-A
aku pun melangkah
menjauh
dari masa lalu

dekat dermaga
dari tape-recorder penjual rokok
di bawah flamboyan lebat semarak
mengalun lagu
Kokoro no Tomo ...


Perahu
Setelah Hamzah Fansuri*)

Perahuku kecil dan rapuh
layarnya koyak dayungnya pendek
alat perabotnya tak kuat-kokoh
bekal airnya tanggung-tanggung
kayu dibawa terang tak cukup
perahunya
dayungnya
kemudinya
pawangnya
semuanya tak handalan.

Ingin seperti punya Hamzah
gagah mengarung medan lautan
alatnya kuat bekalnya cukup
laju menepis buih gelombang
perahunya
dayungnya
kemudinya
semuanya memakai nama Allah.

Sejak dulu sudah ibuku
pesankan:
belajarlah rajin-rajin
mengaji jangan malas.
Tapi dasar bebal dasar nakal
muqadam pun aku tak katam
Bagaimana hendak mengarungi
Lautan Sailan
tempat laut terlalu dalam
ribut besar badai dan topan
banyak perahu rusak tenggelam
bagaimana hendak pergi
menyelam
untuk mengambil permata nilam
baru sampai ke laut Bintan
perahu sudah mau karam.


Di Kelenteng Senggarang

Mak-nyah tua tersenyum menyapa
hendak ke mane?
ucapannya mengalun
seperti dalam pantun

Di gerbang depan
singa batu
sudah ratusan tahun membisu
tak hiraukan bangunan yang ia jaga
dililit benalu ara dan angsana
tumbuhan nestapa dan putus-asa;
singa bisu
tak-acuhkan asap hio yang telah selekehkan
jelaga pada surai dan jambulnya;
sekawan kelelawar
mainkan musik tentang
sepasang kekasih yang bertengkar
dalam wayang cina

Di depan altar
seorang apek berkuda-kunda kuntauw
mata terpejam merenung di balik tembok nasib
menggenggam harapan erat-ketat
anggukkan hio, mulut komat-kamit,
Jangan-jangan yang ia baca
sepotong sajak Li-Tai-Pe


Puaka I

Jerung
puaka tua
datuk segala hiu
kau dikenal di Kiabu
kau dikenal di laut Singkep
kau dikenal di selat Bangka
Laut Cina Selatan tamannmu
Selat Melaka lintas arungmu
telah tumbuh karang di siripmu
telah bertelur tamban di badanmu
telah seratus jantung nelayan kau telan
namamu menggerunkan hati pelintas lautan
jerung puaka, kau panikkan para pelaut
tapi aku
tak takut
tak gerun
tak apa-apa
pada namamu
pada rahangmu
pada sirip
pada hempasan ekormu
aku tak taku tak gerun pada dirimu
sebab aku tahu
kau akan mati
tepat
di tempat
serampangku
pertama kali
melukaimu


Ular Itu ...

Tuan-tuan sekalian
saya datang
dan berdiri
di sini
untuk mengantarkan
suatu kisah
sebuah kesaksian
tolong dengarkan
dengan penuh perhatian

dimulai dari cerita purba
yang banyak orang
sudah lupa
tentu saja termasuk saya
tapi untunglah ada seorang fakir
tak berharta
rumah tidak zuriat tidak
matinya cuma
meninggalkan nyanyi dan kisah
untuk dilaungkan
ke seluruh pelosok negeri
ini

tiga hari tiga malam
ia berdendang
ia bercerita
di emper rumah saya
lidahnya seperti dioles dengan
madu guna-guna
bikin orang menjadi
tak sadarkan dunia
di depan orang seperti ini
saya cuma seorang murid
guru india lama
bersimpuh tertib
takzim mendengarkan
sabdanya

wa bihi nasta’ina billahi
katanya
aku ucapkan kata ini
karena kalaulah ada terselip
seiris sepotong
bohong
di dalamnya
jangan mulutku
jadi kudis jadi pekung
dan minta ampun kepada Tuhan
dan tuan berilah maaf
kepadaku

bermula di suatu masa
di suatu tempat
bukan antah berantah namanya
bukan dahulu, dahulu sekali
jauh di masa lalu entah bilamana
tapi jelas peta dan titiwangsa
di sungai melayu bukit siguntang
datanglah seseorang
bersemenda dengan orang di situ
mengikat janji menjalin sumpah
setia yang berkepanjangan
selama-lamanya
dan menjadi raja
“Kalau salah kami
hukumlah
digantung tinggi
dibuang jauh
direndam basah dibakar hangus
kalau besar salahnya
baik dibunuh, bunuhlah
diberi malu jangan sekali-kali.”

menurun bukit
menyusur sungai
ke muara
ke laut
bekalnya janji setia
akal bijaksana
dan benih-benih bahasa
yang kemudian jadi
seperti yang kita pakai ini

membangun kampung
membina desa
menegak negeri
dari satu tempat ke tempat lain
dan pada suatu hari
bertolak dari pulau bintan
raja bernama sang sapurba
meentas selat meintas teluk dan tanjung
memasuki kuala mura
menantang arus sungai
sampai ke hulunya
“Apa nama tempat ini?”
dan orang di seitu hendak merajakan dia

“Tapi tunggu,” kata yang tua-tua,
“Orang ini harus diuji dulu!”
dengan kehebatan ular besar
ular sakti, buas sekali
ular ganas tak terkalahkan
oleh sembarang orang
tapi ular besar itu tewas
di tangannya
dan jadilah dia
raja yang berkuasa
dari kuantan ke siantan
berpusat di pulau bintan
sepanjang sungai
seluas lautan
sepenuh pulau
orang pun bertempik berteriak
“Engkaulah gunung
dan kami pohon-pohon
Kalau engkau runtuh
punahlah kami.
Engkaulah angin
dan kami layar
Kalau engkau diam
tak bergeraklah kami
Engkaulah air
dan kami perahu
Kalau engkau kering timpas
kandas tersadilah kami
Engkau matahari dan bulan
kami bintang-bintang
Kalau engkau tak bercahaya
padamlah sinar kami
Engkau nafas
dan kami badan-raga ini
Kalau engkau berhenti
matilah kami
Kalau engkau runtuh
kalau engakau diam
kalau engkau kering
kalau engkau padam
kalau engkau berhenti
apa gunanya kamu bagi kami.”

Itulah sumpah yang ditempikkan juga oleh
orang-orang pesuku di kiabu
orang-orang talang di indragiri
orang mantang orang barok orang akit orang sokop orang
sakai
sambil menabuh gendang memukul gong
dalam mabuk tandak dan arak
dalam syukur menyembah sujud
dan kalimah-kalimah yang baik
“Jaga-jagalah engkau
karena
yang akan kauhadapi esok
anak ular yang dulu
lebih besar dari ular itu
lebih panjang dari ular itu
lebih bisa dari ular itu
lebih ganas dari ular itu
lebih buas dari ular itu
lebih dahsyat dari ular itu
Tahan?”

kini
ular yang lebih besar itu
yang lebih panjang
yang lebih bisa
yang lebih ganas
yang lebih buas
yang lebih dahsyat
telah datang
bukankah kita sudah bersumpah
bukankah kita sudah berjanji
bukankah kita sudah berikrar
sumpah jangan salah
janji jangan putus
ikrar jangan dilanggar
karena engkau gunung kami pohon-pohon
engkau angin kami layar
engkau air kami perahu
engkau matahari dan bulan kami bintang-bintang
engkau nafas kami badan
tolong kami
bantu kami
tunjukkan siapa dirimu
dari mana asal usulmu
datang dari jauh
muncul dari dekat
tugasmu cuma satu
seperti yang telah
engkau sumpahkan
seperti yang telah
engkau janjikan
seperti yang telah
engkau ikrarkan
belalah kami
itu ditempikkan juga oleh
orang pesuku orang talang orang mantang orang barok orang
sokop
orang sakai
dan hampir sebagian besar orang-orang riau
tuan-tuan sekalian
ini hanya sebuah rekaman
karena saya
tak kuasa
menyalin persis
paparan fakir pencerita
tapi saya seorang saksi
atas apa-apa yang dikisahkannya
tadi


Tentang Idrus Tintin
(Saya nukilkan riwayat Idus Tintin dari laman http://melayuonline.com/ind/personage/dig/251, selain karena di buku itu tak ada halaman khusus yang menulis biodatanya, juga karena saya sudah diharubiru puisinya Idrus Tintin sampai seperti orang mabok laut. Saya menyukai puisi-puisi dalam Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan yang kemudian saya tulis lagi, Singapura, Asrama Dai-To-A, sampai Ular itu ... Karena itulah tak berkesanggupan lagi menulis biodatanya. Hehe). Idrus Tintin dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932, dari seorang emak bernama Tiamah dan bapak bernama Tintin. Ibunya Tiamah, berasal dari Penyimahan dan menetap di Enok Dalam, Melayu Timur, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Indragiri Hilir, Riau). Sementara bapaknya Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau). Idrus Tintin merupakan anak ketiga dari empat bersaudara, yaitu Mohammad Boya (sulung), Mustika, Idrus Tintin, dan Norma (bungsu). Sejak kecil, oleh sanak keluarga dan kawan-kawannya, ia dipanggil Derus. Ayahanda Idrus Tintin bekerja pada Jawatan Pelayaran Indonesia kemudian dipindahtugaskan sebagai Nahkoda Kapal Patroli Pemerintah ke Laut Cina Selatan, Tarempa, Kepulauan Riau. Dengan berbagai pertimbangan, ayahnya akhirnya memutuskan pindah ke Tarempa dan menetap di sana bersama keluarganya.

Idrus Tintin memulai riwayat pendidikannya di Sekolah Rakyat Tarempa, kemudian pindah ke Sekolah Rakyat di Rengat. Kepindahannya ini disebabkan kondisi Tarempa pada waktu itu dibombardir oleh pasukan Jepang pada tanggal 14 Desember 1941. Dalam peristiwa tersebut tidak kurang dari 300 orang masyarakat sipil, termasuk ayahandanya, menjadi korban dan meninggal dunia pada tahun 1942. Sepeninggal ayahandanya, ia bersama keluarga akhirnya kembali ke Tanjung Pinang dan meneruskan sekolah hingga selesai. Usai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat, Idrus Tintin melanjutkan pendidikan di Chugakko (sekolah tingkat pertama) milik Jepang, namun tidak selesai. Pada akhir tahun 1944 ia ke Tembilahan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Muhammadiyah, itupun tidak diselesaikannya. Tahun 1947 Idrus Tintin kembali ke Rengat dan melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertamanya. Ia juga pernah mengikuti kursus Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sore hari untuk program ekstranei hingga lulus. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah ke Tingkat Menengah Atas Sore Tanjung Pinang.

Selama hidupnya, Idrus Tintin telah melakoni berbagai pekerjaan. Sekitar tahun 1943, ia dititipkan oleh emaknya di asrama Dai Toa Kodomo Ryo, yaitu asrama penampungan yatim piatu milik Pemerintah Pendudukan Jepang. Karena pandai berbahasa Jepang, ia diterima bekerja di Sentral Telepon Pendudukan Jepang. Tidak lama setelah itu ia dipindahkan ke asrama Kubota dan bekerja di Biro Okhabuthai di Tanjung Pinang. Ia bekerja di biro tersebut selama 5 bulan. Saat berumur 16 tahun, pada bulan Februari 1949, ia kembali lagi ke Tembilahan dan bergabung menjadi TNI. Ia juga pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di beberapa tempat antara lain; sebagai Staf Q Brigade DD Angkatan Darat TNI, Juru Tulis Kantor Camat Tarempa, Jawatan Penghubung Sosial Kewedanaan Pulau Tujuh, Tarempa dan guru honorer selama 17 tahun di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Pekanbaru, Riau.

Dalam dunia seni peran/teater, berbagai pengalaman telah ia peroleh dan berbagai sumbangsih telah ia berikan. Itu dimulainya sejak tahun 1943 saat bermain drama dalam bahasa Jepang produksi Raja Khadijah. Tahun 1944 di Tanjung Pinang, ia menggelar sandiwara dengan ide cerita Nosesang, dimana cerita ini bertutur tentang kehidupan petani dan nelayan. Tahun 1945 di Rengat, beberapa kali ia bermain sandiwara bersama grup Seniman Muda Indonesia (SEMI) asuhan Agus, Moeis dan Hasbullah. Pada tahun 1952, ia kembali ke Tarempa dan mendirikan sebuah sanggar sandiwara bernama “Gurinda”.

Untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan seni peran yang telah ia geluti, pada tahun 1959, ia memutuskan mengembara ke Pulau Jawa. Di sinilah,  Idrus berkenalan dengan seniman-seniman Jawa antara lain; Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M. Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan seniman lain. Pertemuan inilah yang menjadi titik tolak perkenalan Idrus dengan seni peran/teater modern/kontemporer. Selama berada di Jawa, ia sempat menjadi peserta dalam berbagai forum diskusi para seniman, baik formal maupun non-formal, terutama yang membicarakan tentang pemeranan dan penyutradaraan.

Pada tahun 1961, Idrus Tintin kembali menetap di Rengat dan membentuk sebuah kelompok teater. Sejak menetap di Riau, setiap ada perayaan hari-hari besar, Idrus selalu tampil bermain teater. Tahun 1964, Idrus mengikuti Festival Drama di Pekanbaru yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Riau. Naskah yang dipentaskan adalah naskah Pasien. Tahun 1968, Idrus menyutradarai pertunjukan teater modern di Gedung Trikora Pekanbaru berjudul Tanda Silang. Tahun 1974, bersempena Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, Idrus menyutradarai pertunjukan teater kolosal di Balai Dang Merdu Pekanbaru dengan judul Harimau Tingkis. Pada tahun yang sama, ia bersama Armawai KH. menubuhkan wadah pembinaan teater di Riau yang diberi nama “Teater Bahana.”

Idrus Tintin meninggal dunia pada tanggal 14 Juli 2003 di usia 71 tahun, akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri, Mahani dan Masani. Ia dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya Rengat Indragiri Hulu.

Catatan lain
Suer, saya belum pernah mendengar nama orang ini jika tak menyentuh buku ini beberapa waktu lalu. Tak lama kemudian, muncul tulisan di koran tentang adanya kesibukan untuk mendeklarasikan hari puisi Indonesia. Tahu kau apa tempatnya? Auditorium Anjung Seni Idrus Tintin di Riau. Pikirku, ternama juga orang ini. Saya malah lebih dulu mendengar nama Suratman Markasan, penyair Singapura, yang disebut dalam puisi Singapura Idrus Tintin. Mungkin saat SMA, waktu masih setia memelototi koran Republika. Buku ini sepertinya punya Hajri, sebab saya ambil di rak bukunya.

3 komentar:

  1. assalamualaikum ...
    nak tanyo kalau puisi tentang merantau aado tidak ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam. Yang saya ketemu: Kelana Anak Rantau (Frans Ekodhanto Purba) atau Andung-andung Petualang (Saut Situmorang). Yang seperti itu?

      Hapus
    2. Kalo yang dari angkatan dulu mungkin dari Asrul Sani (Surat dari Ibu), dalam buku Tiga Menguak Takdir. Puisi Sitor Situmorang mungkin juga ada...

      Hapus