Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 02 September 2013

ANGIN LAUT TAWAR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Angin Laut Tawar
Penulis : L. K. Ara
Cetakan : III, 1983 (Cet. I, 1969)
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta.
Tebal: 36 halaman (16 puisi)
Perancang kulit: Hanung Sunarmono

Beberapa pilihan puisi L. K. Ara dalam Angin Laut Tawar

Kutacane

sebuah kota berpagar gunung
matahari terik langit biru
tanah subur bersyukur
memercikkan tanaman
berkat keringat tumpah
dari gagang cangkul
lelaki kuat
atau dari sabit langsing
di lengan halus
gegadis jingga

sebuah kota digelitiki sungai
bersemu malu gadis jelita
bulan muda di kaki langit
membungakan senyum
melihat nelayan mengembangkan jala
dari perahu
atau tangan-tangan teracung
menahan pancing di atas air

sebuah kota mekar oleh dongengan
mimpi-mimpi disuburi cerita nenek moyang
setiap pintu rumah tahu
kisah beru dihe dan sipihir
kasih tak sampai
atau silayar tunggal dan beru jinem
kasih satria di ujung pedang
atau beru pagan
putri jelita tanpa bandingan

sebuah kota
tanpa patung-patung megah
hanya menyimpan kuntum luka
amis darah di rumpun bambu
benteng tua tinggal kenangan



Lawee Bulan

hati gelisah reda oleh kecipakmu
airmu jernih rela menerima
tubuh berlumpur hitam keringatan

dada sepi hangat oleh nyanyianmu
lenggangmu lapang
tubuhmu putih ramping
melenggokkan angan ke labuhan mimpi

pagi sebelum fajar
mencium wajahmu sejuk
gadis-gadis merebahkan pipi
menyentuhkan tubuhnya di arusmu
bertanya
berapa banyak pemuda di muara
yang rubuh mempertahankan negeri

sungai bulan kala senja
sebelum tudung malam terkembang
menampung keringat dan daki
menyambut jari-jari dan dada terbuka
menyirami kaki kanak-kanak
dan membasuh mata para janda

sepanjang malam sungai bulan
memerciki batang padi
mengedipi bintang-bintang
angin bersiul
lawee bulan lawee bulan


Laut Tawarku

di lereng-lereng gunung menujumu
di atas bus yang menderu
detak hati kian keras
kuatir nasibmu
sore itu

parasmu diusap senja
alangkah tenang
salam sederhana kau ulurkan padaku
tanpa iringan gelombang
ataupun pikatan kecipak riak
pertanda bulan akan mengambang

dalam sunyi malam
sebelum fajar
perahu nelayan lesu
pulang ke pangkalan
setelah semalaman direndam dingin
kulihat baju-baju lusuh
dan mata diberati kantuk

jalan yang meliku ke pangkuanmu
wangi oleh kenangan lama
kian terasa
sentuhan riang riak-riakmu
pada mukaku yang meminati

jalan menurun ke jantungmu
lembut oleh siraman embun
yang menetes teduh
tanpa suara
menjamah langkahku
satu satu
kala kuturun ke tepian
dengan debaran mesra di hati


Buat Pamong

kami sudah tahu
kami akan nyanyi indah sekali
jadi jangan senandungkan lagu biru
kami sudah tahu
bapa butuh tugu buat diri
percuma itu semua merdu
malam tak selalu purnama
bintang timbul bintang tenggelam

kami mau bapa datang dengan seluruh diri
kami akan terima dengan seluruh hati
kami tahu rasa kami tahu warna

nanti bila datang malam bapa
jangan takut
kami telah jadi penyair
kami telah jadi pelukis
segala kata dan nada dipahatkan nanti
tembaga atau emas tugu buat bapa
sejarah bakal tentukan


Angin Hutan Cemara

angin hutan cemara
ditegur fajar
buru-buru bangkit
menyongsong petani
yang bergegas naik
ke lamping gunung
ke ladang luas
di mana harapan berkecambah hijau
semakin hijau

angin hutan cemara
siang-siang
mengantar harum bunga
ke tiap tangga
dengan kipasnya riuh
mengibas panah surya
yang terpacak di punggung pekerja
melegakan dada
untuk nyanyi-nyanyi kecil
diselang-seling ayunan cangkul

angin hutan cemara
sore hari
habis perjalanan jauh
walau lelah
masih sempat
melipur pengambil kayu
atau nelayan di sungai
dan pengembala di padang-padang hijau
meringankan langkah mereka
menuju rumah dan rumah tangga

angin hutan cemara
biasanya gemerisik
hanya sesekali menderu
tapi kian kalinya mengingatkan
enam puluh ribu hektar
cemara menderai
tak jemu-jemu menderai
minta diolah
namun tak pernah diacuhkan
walau dua puluh tahun lebih
kita merdeka

angin hutan cemara
ceramah namun ramah
menawarkan bagia
bagi tiap orang
yang ingin mencicipinya


Kabar

dalam caya senja
suratmu tiba
baris-baris puisi
berdiri
menatapku
bola-bola matamu
memandangku
memandang

angin cemara
senja itu
mengusikku
menggeraikan rambut
duh, kian putih juga
aku kembali
ke matamu bening
ke kisah kotamu kini
agung oleh menara
lampu warna-warni
tapi di lorong-lorong gelap
rakyat merintih
ditindas beban berat
ya, anakku
di caya matamu sayu
derita rakyat kecil
kusaksikan
dalam caya senja
suratmu tiba
baris-baris puisi
bola-bola matamu
memandangku
ya, anak
rangkullah ibu


Gunung Singah Mata

dari puncak Singah Mata
memandang ke bawah
ke lembah pagi
ke liku-liku senyap

dari puncak Singah Mata
menyaksikan awan
berguguran
berkas-berkas caya
turun ke rimbun pohon
burung-burung
hinggap dan terbang
kijang-kijang berkejaran
di panas bertelau
pekik dan ciap
meriangi siang hari
panorama abadi
mengusir keresahan

dari puncak Singah Mata
memandang ke gunung di depan
di sampingnya jalan meliku
tadi pagi kita lalui
tanpa engah

tiap jengkal tanahnya
mengandung perih
darah dan keringat
riwayat derita
di bawah sangkur penjajah


Sungai Pesangan

airmu jernih
kaca alam yang permai
kala angin lena
dalam genangan siang

dengan kemilau
caya surya
kau elus kaki tebing
yang berkukuh
dalam tapanya bisu

kadang arusmu gemuruh
menempuh batu-batu
seakan tergesa
membawa berita
putri hijau
berbaju ular
bakal bangkit
dari danau

arusmu pun gitu deras
gitu tergesa
hingga tak engah
ada gadis
membungkuk di tebing
termangu mencari
bayang cintanya hilang
dalam golak air
di antara batu-batu

riakmu kecil-kecil
putih-putih oleh bulan
adalah selingan mesra
dari umbang-ambing peristiwa


Rahmat

angin lembut
yang menjamah ladangmu
menyepoikan puisi
membisikkan lagu juang tanpa akhir

alunan sungai
yang membelah sawahmu
mengapungkan puisi
caya-caya semangat dan keyakinan teguh

pada hujan renyai
turun ke bumi
mendesah napas puisi
dendang petani lagukan kerja berkepanjangan

panas mentari
yang menyiramimu
menaburkan puisi
himmah dan hikmah yang kekal

bersyukurlah
bersyukurlah
Tuhan tak putus melimpahkan rahmat-Nya


Tentang L. K. Ara
Menamatkan SD dan SMP di tanah kelahiran, Takengon, Acah, L. K. Ara melanjutkan belajar di Taman Madya, Taman Siswa, Medan, sembari bekerja sebagai pengantar koran. Kemudian masuk perguruan tinggi jurnalistik Medan. Ke Jakarta, mula-mula bekerja sebagai guru SMP “Sinar Kemajuan“ (1959), menjadi pegawai di kantor Kabinet Perdana Menteri dan tahun 1963 pindah ke Balai Pustaka. L. K. Ara punya perhatian yang besar pada sastra darah Gayo dan telah mengumpulkan puisi, melengkan (prosa liris), pribahasa dan teka-teki dan menghasilakn lebih kurang 20 judul khasanah sastra daerah Gayo. Karyanya yang telah terbit antara lain: Angin Laut Tawar (1969), Kumandang (1971), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1981), Anggrek Berbunga (1982), Kur Lak Lak (1982), Buah-buah di Kebun (1982), Senandung Burung-burung (1982), Senjata Pusaka Kita (1983), Umbi Sahabat Kita (1983).


Catatan Lain
Saya masih ingat, pertama kali menemukan buku ini sewaktu sekolah di SMP, awal-awal dekade 1990-an. Lama tidak bersua, akhirnya ketemu lagi di perpustakaan daerah Prov. Kalsel. Maka saya namakan puisi-puisi L.K. Ara sebagai puisi-puisi yang membuka kenangan. Inilah puisi-puisi yang turut mewarnai puisi-puisi saya di awal-awal dan mungkin juga masih ada bekasnya hingga kini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar