Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 02 September 2013

DUNIA BOGAMBOLA, NYANYIAN SEPASANG DAUN WARU

Satu Buku Dua Kubu:
Kubu Satu : Dunia Bogambola oleh Sosiawan Leak
Kubu Dua : Nyanyian Sepasang Daun Waru oleh Thomas Budi Santoso



Data buku kumpulan puisi 1

Judul : Dunia Bogambola
Penulis : Sosiawan Leak
Cetakan : I, April 2007
Penerbit : Indonesia Tera, Yogyakarta.
Tebal : 72 halaman (47 judul puisi + 1 puisi bersama)
ISBN : 979-775-018-3
Pemeriksa aksara : Kesia Lumintang
Penata letak dan design : Gannie D. Rahardian

Beberapa pilihan puisi Sosiawan Leak dalam Dunia Bogambola

Cerita untuk Anak Kita
- di pusaramu

aku cerita pada anak kita;
bahwa kau sedang tidur lama
dan suatu ketika akan bangun.
anak kita bertanya;
bagaimana ibu bisa mengenaliku
kalau ia tidur sejak aku lahir?
kubilang, ibu pasti mengenalmu
sebab ia selalu memimpikanmu
bahkan sejak sebelum tidur!

pelangi-mojosongo, solo, nopember 2006



Apakah Kartini

kartini, apakah kau akan tersenyum
tahu astronot wanita kita gagal mengangkasa lantaran keburu tua
sementara amerika menunda peluncuran pesawatnya
dan kita belum mampu meracik roket sendiri

kartini, apakah kau akan tertawa
lantaran sekarang wanita dapat menjadi birokrat
atau wakil rakyat di parlemen
bahkan presiden

kartini, apakah kau akan menangis
lantaran kini untuk yang pertama kali
presiden wanita kita sudah turun tahta
dan entah nanti apakah terpilih lagi atau frustasi

kartini, apakah kau akan menderita
tatkala di koran kau baca
ada ibu rumah tangga rela menjadi pengedar ganja dan narkoba
untuk membantu suaminya menghadapi keruwetan ekonomi
atau seorang ibu yang membunuh suami
lantaran selingkuh dengan teman sendiri

kartini, apakah kau akan susah
ketika kau jumpa para remaja
kehormatannya diobral murah
di tanah sendiri atau di negeri tetangga

kartini, kalau kau lahir di jaman ini
mungkin bingung mencari arti emansipasi
seperti kami linglung mengingat nama dan arti kartini

untung kau lahir 127 tahun lalu
sehingga tak mengalami,
betapa susahnya menjadi wanita berkelamin ganda;
ibu rumah tangga sekaligus pekerja!

pelangi, mojosongo-solo, 25 april 2004


Kemana perginya sejarah Papua?

kemana perginya sejarah papua?

teman-teman sd ku
kurus, dekil, rambutnya bau
kulit penyakitan, pakaian lusuh tanpa sepatu
aku menangis, saat 40 tahun kemudian
masih ketemu pemandangan yang sama
di sini, di papua
kemana perginya sejarah papua?

di atas kapal, para pengembara terpesona
saat mata menabrak gunung bersalju di puncaknya
di sini, di khatulistiwa
lalu, di dasar kali yang mereka selusuri
terhampar emas tanpa tuannya
bagai permadani pasir yang merdeka dan bercahaya.
gunung bersalju itu
melempar rasa rindu tanah leluhur
mampir ke areal pertambangan
yang pada perutnya hamil tua kekayaan
di sana, di eropa.
tapi di sini, di papua berarti bencana
sebab para suku percaya
mereka ada atas kehendak dewa
juga kali, samudra, rahasia hutan dan pegunungan.
bersama alam mereka membangun kearifan kehidupan,
merajut impian kemakmuran.

kemana perginya sejarah papua?

papua yang manis
digaris tipis kali ajkwa
daya hidup suku-suku timika
yang sejak 23 tahun lalu digasak 7.257 ton tailing saban hari
yang mulai 16 tahun lalu kusam dirajam 31.000 ton tailing saban hari
yang kini meradang diterjang 223.000 ton tailing saban hari
jangankan untuk mandi,
ikan dan lokan mati
bahkan kebun sagu orang komoro
di wilayah koperaporka layu

kemana perginya sejarah papua?

papua yang perkasa
di mana pipa-pipa raksasa grasberg-tembagapura
mengantar 6 miliar ton gerusan pasir tembaga ke laut arafuru
tempat kapal-kapal besar menunggu.
aku menangis, saat 40 tahun kemudian kutahu
di dalam 6 miliar ton itu
terkandung 6.000 ton emas.
aku menangis,
mendengar orang-orang papua
para penambang limbah di kabur wanomen dihalau paksa
diusir kasar dan ditembaki aparat negara,
apakah untuk memungut emas sebiji pasir, di tanah papua
orang-orang papua harus kehilangan nyawa?

lihatlah kuala kencana samping timika
tempat petinggi freeport berleha-leha
sementara 7 km dari kota itu, ada rumah yatim piatu
yang taraf hidupnya sama seperti sebelum ditemukan papua
di sekitarnya masih bisa kaujumpa orang-orang berkoteka

kemana perginya sejarah papua?

kita gerus gunung berpuncak salju
atas nama kemakmuran bersama
sambil membiarkan sanak saudara hidup di jaman batu
atas nama warisan budaya

kemana perginya sejarah papua?

Pelangi mojosongo, solo 15 maret 2006
* dari esai Riswanda Imawan (kompas, 13 maret 2006)


Penjarah Sahaja
-    bagi gusmus

kesahajaan adalah
; mata air yang mengucur dari gunung
menjelma teduh kala wajah terbasuh

ialah juga embun pagi
usai musnah sang kabut
yang menetes di ujung daunan
menjelma kehidupan para perdu dan rerumputan

kesahajaan pula
yang menuntun padi, jagung dan palawija
menunduk di atas meja makan
tanpa pernah menuntut dipulangkan

kesahajaan serupa kerja dan doa
yang bergandengan tangan dalam kalbu kita
menjelma keadilan, kemakmuran yang sentosa

kesahajaan, dialah
yang acap menyelinap
pergi tanpa pamit dari sanubari

jakarta, 13 september 2000


Keluar dari Hidup

aku butuh sesuatu
lamatlamat kukenal, semacam misteri;
kuajak masuk ke kesepian kluwung,
garis laut dan pekak hawa gunung
dan kamu; sesuatu yang lamatlamat kukenal itu
duduk sepi di sampingku
tidak tersenyum tidak berduka
sementara gelap dan sepi di luar kita
cuma sibuk suara serangga,
angin atau daunan yang menjatuhkan embun
sunyi sendiri tak akan jaga oleh keriuhan itu
sebab ia telah lelap menyelinap
di kehangatan kita.
aku butuh sesuatu
lamatlamat kukenal, semacam misteri;
bukankah kadang kita butuh keluar dari hidup?
menggila dengan aku!
sebelum akhirnya
seperti salmon;
setelah bertelur, berakhir
di tempat yang sama pada saat dilahirkan

pelangi-mojosongo, solo, 7 oktober 2006


Kota, Sang Penjarah Desa

kota-kota tlah kian lunas memamah
para kampung dan desa
slogan dan iklan menabur propaganda
menggasak segar udara
hingga malam,
mercury-mercury menggantikan impian petani
yang pada siangnya
dirangsek rambu-rambu jalan
dijala lintasan kawat listrik
di atasnya
di sawah.
beton-beton dan jalanan
pun menjarah dunia padi
di mana berumah matahari petani.

solo, oktober 1998


Puisi, Rimba atau Taman Bunga

apa yang bisa diberikan puisi
di tengah senyuman tuhan;
tsunami dan banjir bah
formalin, bakso tikus, longsoran sampah
flu burung dan demam berdarah?

apakah puisi berteriak sekencang reformasi
pemilu dan sidang raju
demo kepala desa, ruu pornografi atau karikatur nabi?

apakah puisi seperti blt
raskin, kartu sehat, ganti rugi tanah
untuk tol dan program pemerintah?
atau ia mirip komentar penguasa
tentang bbm, tdl, teroris, impor beras dan pupuk kimia?
freeport dan blok cepu?

Apakah ia seperti chairil
intisari pikiran dan perenungan?
atau cuma seonggok jagung di kamar willy
yang loyo berhadapan dengan spp wiji?

apakah puisi beda dengan nina bobok ibu kala kita kecil dulu?
apakah ia tak sama dengan tembang dolanan di pelataran
saat kanak-kanak, berkawan teman-teman dan rembulan?
apakah ia tak bisa gaul dengan abg
yang nongkrong di mall, super market dan televisi?
apakah ia tak bisa dipinang dentuman ritmik
café, restoran, dan discotik?
apakah ia adalah lembu yang kecapaian
usai membajak sawah?
atau puisi adalah sawah itu sendiri?
angin, batu, bajak, tanah, matahari
bulan, laut, ranting, kedalaman dan kesenyapan
jiwa yang terbelenggu?
denting gitar dan gemericik air kali?

nyatanya di matamu puisi menolak semu
berkisah segala, memamah semua
meski tak selalu mampu memamah menu
mengunyah usia hingga menua
lautan, kota, manusia kalah
korupsi serta ziarah
rindu, nabi, sejarah, kenangan
cinta, sia-sia juga nyanyian

seperti omnivora
kau telan tiap yang kau temu
entah suka entah tak kuasa, entah karib entah tak akrab
masuk ke lubang krongkongan
lalu aduk di lambung lambang
kembali ke lumbung kehidupan
apakah segampang lempang?

nyatanya, kau kerap menggulai kata-kata
melebihi makna yang hendak kau jala
hingga lahir sajak dengan kerutan
dahi lipatan dan luka sekujur muka

nyatanya, wajahnya kabur bertabur aneka
hingga kita musti waspada
kala menatap dan menyelaminya
sebab, bisa bak rimba yang di rimbun kata
sedang matahari, sang pembidik arah
tak tembus cahyanya
di rimbunan yang belum selesai tumbuh
dan terus tumbuh!

lalu, tanpa kompas kita terjebak di hutan makna
ruwet jalan keluar masuknya
sedang alas yang kita injak tak henti diserbu kabut
hasil perselingkuhan slogan dan mantera
beraroma gelisahmu yang lembah
sebab alpa kau buka jendela
hatimu!

bagai lensa kamera, sajakmu tanpa kekang biasnya
menghidang gambar jauh dari nyata
lebih indah, lebih manis, lebih tragis, lebih terjaga
fantastis!
kau lupa
bahwa rumput sejumput
lebih gairah dari segenggam kembang
di samudra bunga

sedang taman, tak dibutuhkan
di pendemi alvian influensa dan busung lapar

pelangi mojosongo, solo, 11 maret 2006


Anakku Menulis

tak ada yang ditulisnya
; kecuali kegembiraan bermain dan siksaan belajar
juga buku-buku dan jam sekolah yang lengang
; kecuali saat bel istirah.
kartu-kartu dan gambar-gambar
masa depan yang asing dari sejarahku
erat berada di genggamannya,
di tidurnya, juga mimpinya
menjelma bantal, kasur di kamar tidur
menjadi teman setia di meja belajar
berubah lauk lezat di meja makan.
lalu-lagu televisi, tarian kartun dan film fiksi
merampas matanya yang selalu curiga padaku
wajah tegang mata prampang
terjaga tiap bicara denganku; orang tua!

tak ada yang bisa ditulisnya
di depan computer tuaku
; ia kehilangan huruf-huruf yang berantakan letaknya
tanda baca dan jeda jadi tak ada fungsi
rayuan games, laksana sambal di makan siangku
tuts-tuts kotor, mouse yang kerap macet dan berdebu
mengusir minatnya; membunuh kisahnya tentang apa saja
tentang mandi yang telat lantaran sinchan
tentang permainan dengan teman yang selalu kurang
uang belanja yang tak pernah nambah
(padahal harga jajanan makin menjarah!)
makan yang tak pernah nikmat
tapi, tetap tak ada yang bisa ditulisnya!

pelangi, mojosongo-solo, april-mei 2004


Apakah Kamu Masih Ingin Menemuiku?

saat kecil, kami sekeluarga tidur bersama
tanpa listrik, dengan ibu dan ayah
di dalam rumah berlantai tanah.
jika turun hujan, kantuk urung datang
sebab atap seng ditabuh air langit yang tumpah
tak beraturan
apakah kamu masih ingin menemuiku?
sedangkan kutahu
kamu tak pernah singgah di tempat yang sama
kecuali saat pulang.
selalu berpindah
dari cahaya api ke lembab tanah,
basah hujan dan batas impian.

saat kecil, kami sekeluarga bekerja
masing-masing memiliki tugas yang berbeda
adikku menyiapkan kayu di tungku tak kunjung padam
perapian buat kakak,
yang menimba sumur hingga kering,
sebagai alasku menjemur air mata ibu di pembaringan,
sedang ibu menyisir kemarahan bapak
yang selalu memandang jendela berkabut
atau pintu berdebu
entah oleh asap, butiran air mata atau embun jelaga
apakah kamu masih ingin menemuiku?
dan berharap memungut kangen yang perwira
tumbuh di kedua lengan tak lempangku
atau di sepasang bengkok pahaku?

pelangi-mojosongo, solo, april 2006


Kekayaanku Hanya Buku dan Bunga

kekayaanku hanya buku dan bunga
apakah kamu sudah membeli mobil? tanyamu
buku-buku menjerit dari timbangan
bersamaan dengan debu dan akar kembang
yang dicampakkan di jalanan
entah karena perang, pesta perkawinan
atau sisa pemakaman
kupungut segala tanpa peduli nama
status keluarga, cacat atau bermahkota
sambil kuingat ceritamu
tentang perselingkuhan udara dan limbah kimia
yang melahirkan hujan api di semua ruang, di dapurmu
mendidihkan segala yang kau sentuh
bahkan saat kau tidur sekalipun

kekayaanku hanya buku dan bunga
apakah engkau bahagia? tanyamu
seperti kata-katamu yang lengang
tanpa wajah, tak bernada, beralamat
aku dirajang-rajang huruf yang berloncatan
tanpa jeda tanpa tanda baca
yang lama ditawan daftar harga
di istana pasir bersama angin, kluwung
dan giris gerimis
yang tak pernah turun, di dapurmu
tapi, kekayaanku hanya buku dan bunga

kekayaanku hanya buku dan bunga
aku kangen, katamu
dan aku melamarmu dengan perpisahan
sambil terus mengumpulkan buku dan bunga
menjarakkan pertemuan kita
yang tak kunjung sampai!

pelangi-mojosongo, solo, 29 maret 2006





Data buku kumpulan puisi 2

Judul : Nyanyian Sepasang Daun Waru
Penulis : Thomas Budi Santoso
Cetakan : I, April 2007
Penerbit : Indonesia Tera, Yogyakarta.
Tebal : 72 halaman (48 judul puisi + 1 puisi bersama)
ISBN : 979-775-018-3
Pemeriksa aksara : Kesia Lumintang
Penata letak dan design : Gannie D. Rahardian
                
Beberapa pilihan puisi Thomas Budi Santoso dalam Nyanyian Sepasang Daun Waru

Di Gleneagles Hospital

di gleneagles hospital
di operation theatre suite
aku datang padaMu
“sejak dahulu sudah
aku serahkan telinga ini
dan sekarang aku serahkan pula
telingaku, dan hidupku
sebab Engkaulah yang
empunya diriku”

sesaat duniaku terlena
selama tiga jam, entah ke mana
dan ketika aku siuman
pertanyaan pertama
“apakah aku sudah selesai?”

di gleneagles hospital
di ruang empat tujuh belas
aku temukan diriku
berkeping seribu
kulihat fatamorgana, panjang
terbentang di depan
dan kuputar kembali
cakrawala kehidupan
yang kutempuh, sepanjang
separoh hidupku
yang sempat meluruhkan
air mataku

di gleneagles hospital
aku temukan kembali, cintaku
yang terkikis waktu, yang panjang
sejak cinta dipersatukan
waktu yang sempit
yang menyekat kasih, dan
waktu yang sisa
yang menyimpan derita
(dan membuat segalanya sia-sia?)

di sana
aku temukan kembali, cintaku
isteriku
aku temukan, sahabat-sahabatku
dan surat-surat dari jauh
dan percakapan-percakapan dari jauh
yang menopangku
dengan semangat, dan
penghiburan, dan doa
dan firmanNya
yang membuat aku
tegak berdiri
kembali

s’pore, 15.12.86 


Minggu Bahagia

dua pasang mata bening
saling bertemu sayang
dua hati sejernih telaga
berpadu dalam cinta suci
yang tak akan pernah mati

nopember dua puluh
cerah dan cerah
tak ada selembar mendung
tak ada angin desah
burung gereja bernyanyi sampaikan salam
pada gemulai daun palma

ayah bunda terkasih
ayah bunda terkasih
bertemu dalam satu titik yang cerlang
anak dan anak
terjalin dalam keresmian adat
menjadi milikku dan milikmu
begitu indah
begitu cinta
begitu bahagia
penuh gairah hidup
di atas hikmah tuhan

nopember dua puluh
tak akan pernah terulang
seperti minggu ini

1966


Nyanyian Sepasang Daun Waru

dua manusia
berpelukan di alam semesta
dalam kubangan air mata

hatinya pecah bersulang darah
putih tak seperti darah
karena derita habiskan warnanya
merah semerbak bau mawar
karena durinya terpasang sepanjang perjalanan

manusia kenal dua ribu warna
jagad raya punya berapa
baginya cuma ada warna buta
dan cinta mendulang misterinya
sacinko, begitu bisiknya
kocinsa, itulah sandinya

jarum jam tak bergoyang lagi
tertindih asa yang jatuh
dari pusat jantungnya
konyasa, rintihnya
sanyako, hiburnya

jarum waktu yang congkak
tak mau mengalah
ikut menikam dari depan
sanyako, desahnya
konyasa, ratapnya

aku ingin punya kuasa
dan kutuntut waktu
berjalan bersama bayanganku
menuju timur sebelum tengah hari

aku ingin punya kuasa
mengembalikan hari-hariku yang hilang

sacinko, sacinko
kocinsa, kocinsa
gaungnya tembus dua belas kisaran
membawa sisa bau bunga rumput

hari senja, matahari menjadi bulan
sanyako, sanyako
konyasa, konyasa
gemanya sahdu kandas ditelan ceruk bumi

aku menangis melihatnya
aku mendengar tenggelam di dalamnya

9 september 2000


Patiayam

lembahmu yang datar
rumputmu yang hijau
sawahmu yang kuning
cukup air

petani penggarap sawahmu
penebang-penebang kayu
kuli jalan raya dan rel kereta
semuanya dihidupi air bumimu
menapis butir-butir keringat
bersama mentari yang meleleh

kelebihanmu patiayam
bukanlah milikmu sendiri
kotamu patiayam
sekedar hanya menerima warisan tanahmu

sedihnya patiayam
kala bulan menghilang dari malam
padi yang kuning
lari bersama deru prahoto
dan berputarnya roda pedati
tinggalkan mimpi

petani-petanimu yang setia
penebang-penebang kayu
gembira masih dengan bulir jagung di lumbung
kuli-kuli jalan raya
kuli-kuli rel kereta
dan seribu mata cekung
sempat mendengar deru prahoto
dan kletak-kletik roda pedati
di akhir mimpi

1969


Rinduku Kehidupan

siapa engkau yang menetapkan pembenaran tentang logika
karena logika hanya ditemukan dalam persamaan cinta

siapa engkau yang mendulang kebenaran dalam logika
karena benang merahnya berjalan bersama bayang-bayang kita

siapa pula engkau yang memasang logika jadi mahkota
karena laju deritanya menjadi niscaya

kudus, 8 juni 2004


Lahir Sajak

dikandung perut bumi
sejak eva dan adam tak lagi bertelanjang
lahirlah sebuah sajak
setelah itu lahir dan lahir lagi
dan lahir kembali, berlaksa sajak
sebab sajak adalah sedih dan sepi

7 juni 1970


Semalam Sebelum Pengantin Tiba

mama
mama
kuketuk pintu kubur mamaku
kubayang rona cinta mamaku
memukul detak jantung
dalam gelisah kerinduan

satu saat paling bahagia
mengapa ditandai air mata?
mengapa tiada mama kecap?

semalam sebelum pengantin tiba
mamaku datang bersama wangi sedap malam
mamaku tersenyum
mamaku menangis
dan hatiku menelungkup

malam ini
kubelai wajah mamaku
kutembangkan lagu pengantin buat mamaku
hingga fajar gemercik
dan bunyi lonceng gereja menyongsong pengantin
kusembahkan anggur pengantin buat mamaku

2 juli 1968


Aku Mencarimu

aku mencarimu di deretan kata-kata surat yang kubaca
di ujung guratan penaku dan di celah-celah tumpukan
informasi dan data

kubolak-balik dirimu di halaman agendaku dan
kucari jejak suaramu di ruang rapatku
di kilatan cahaya kalkulator kulihat pandanganmu
memudar dan hilang berbaur warna hijau

dalam dering tilpon yang tak henti-henti, aku mencarimu

aku mencarimu di jok depan mobil peugeotku
di tikungan dan perempatan jalan yang kulewati
di lekukan-lekukan bonsaiku yang indah dan
di balik kaca akuariumku

aku mencarimu ketika kudapati permen di saku kiri celanaku
di kopiku yang hitam yang kuminum saat mentari
miring ke barat, kutemukan sepintas hanya bayanganmu

dan di antara tamu-tamuku, aku mencarimu

aku mencarimu di kamar mandiku dan di dalam tube odolku
kupijat dirimu dan meletakkanmu di atas sikat gigiku
kudengar protesmu menembus cermin yang kutatap

aku mencarimu di antara lauk-pauk makan malamku
dan di seputar gelas minumku yang mengembun
yang berisi air jeruk kesukaanmu

dalam kepulan asap rokokku, aku mencarimu

aku mencarimu di gedung bioskop yang penuh penonton
rasanya engkaulah yang duduk di sebelah kananku
tapi tak berani aku meraba tanganmu

dalam mimpiku yang terpatah-patah, aku mencarimu

di ujung fajar tak kujumpai dirimu di sela-sela ketiakku
ah, ingin kubelah kepalaku dan mengeluarkanmu dari sana
membaringkanmu di antara dada dan lengan kananku
tertawa kecil membaca puisi ini

14 juli 1989


Doa

tuhanku
apabila kutundukkan hatiku
mengaca diri setelah gigiku retak
dan mataku buta semu
kutemukan diriku
seperti kuda lari berperang

hakekat kasihmu
yang ada dan selalu ada padaku
dan selalu kuadakan
mendamba buah yang ranum
yang belum kuasa kudapat
memaksa aku gelisah

hidupku yang sempat tergoda
bising dan nyala
membuat aku senyap
dalam kesementaraan yang gila

tuhanku
meski dunia berguling
seribu kali sehari
aku pun akan mati
dan kumohon:
akan tiba satu saat
hatiku menjadi lumpuh
dan mata kakiku pecah
tinggal uluran tanganku
penuh kepadamu
tak akan lagi berpaling

1 maret 1970


Doa

kekasihku
betapa hati ini jadi biru menyebut namamu
yang dambakan kepergian puisng using dari hati kembara
sebab padamu kekasih
kudapatkan hakekat hidup ini
yang membawa awan kecemasan pada mega ria
hingga tinggal hidup untuk kau
bersama dara yang paling kucinta

kekasihku
kala aku kenang pekik kengerian yang menyayat
melengking lewat jiwa-jiwa tualang papa
aku jadi ingat satu tragedi kuno
dari sodom dan gomorah
pada tiang garam di laut mati
dan sahdunya malam ini, sahdunya
iku tangisi domba yang sesat

kekasihku
cahyamu telusuri liku-liku kesenduan mayapada
melebihi kristal bintang yang paling cemerlang
panas menembus jiwa-jiwa nanar di riba dosa
sirami indahnya bunga bakung yang terpahat di hati
hingga semuanya tengadah
di bawah kakimu yang suci agung
tiada bisa berpaling

1966


Hidup

hidup adalah gerak
gerak adalah arah
arah adalah alam semesta
dan alam semesta adalah
senyawa liang rahim dan
liang lahat

kudus, 28.11.90


Tentang Sosiawan Leak
Sosiawan Leak lahir di Solo 1967. Seorang penyair dan deklamator puisi yang melakukan perjalanan sastra di banyak kota di Indonesia. Juga menulis sejumlah naskah lakon yang disutradarai dan dipentaskan bersama Kelompok Teater Klosed sejak 1998. Puisinya tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama. Tahun 2003 diundang ke Poetry on The Road (Internationalies Literatur Festival Bremen) dan sempat menjadi pembicara tamu di Universitas Hamburg dan Passau, Jerman.

Tentang Thomas Budi Santoso
Thomas Budi Santoso lahir di Pati, 19 November 1944. Menulis puisi sejak tahun 1960-an dan tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama. Ia adalah Penasehat Dewan Kesenian Kudus. Kini tinggal di Kudus dan bekerja di PT Djarum sebagai direktur produksi.


Catatan lain
Jika Dunia Bogambola dibagi dalam beberapa bagian, maka Nyanyian Sepasang Daun Waru lempang, tak terbagi-bagi. Dunia Bogambola dibagi atas 6 episode, yaitu Episode Bidak Cinta (8 puisi), Barisan Barbar (8 puisi), Kandang Nurani (10 puisi), Para Penjarah (7 puisi), Masa Tuba (7 puisi), dan Kamar Lembab (8 puisi).  Ada dua puisi yang ditulis bersama, yaitu Di 61 Tahun dan Melangkah ke 2006. Berikut puisi yang ditulis bersama tersebut:

Di 61 Tahun

hari ini ingin aku kembali memasuki rahim ibuku
tetapi tak tertulis kodratNya demikian
hari ini aku bersyukur karena andaikan bisa
tak terbayang betapa besar dukaku melihat
perbedaan kelembutan rahim ibuku dan kerasnya tanah yang
kupijak
hari ini aku bahagia karena ungkapan bahagia darimu, sahabatku
hari ini aku bersyukur sebab Tuhan menopangku
sehingga kakiku tak terluka dan tetap melangkah di bumi
kehidupan

(thomas budi santoso)

tapi kita kadung tanah
yang ditiup roh hingga nyawa berumah
menjentera hidup yang gelegak
saling mamah; kecuali puisi
sedang kau tahu; malaikat dan nabi enggan mampir di ranahnya
sesekali cuma
dijamu penyair sufi
tapi kita tak!
kita cuma serpih gelombang jaman yang kalah
kembali ke tanah sebelum nemu rumah

(sosiawan leak)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar