Selasa, 01 April 2014

Mansur Samin: DENDANG KABUT SENJA

 

Data buku kumpulan puisi

Judul: Dendang Kabut Senja, tiga kumpulan sajak 1955 - 1970
Penulis: Mansur Samin
Cetakan: I, 1985
Penerbit: Gunung Agung, Jakarta.
Tebal: viii + 140 halaman (58 puisi)
Pencetak : PT Sumber Bahagia Jakarta

Kumpulan sajak Dendang Kabut Senja terdiri dari tiga kumpulan, yaitu Dendang (22 sajak), Kabut (21 sajak), dan Senja (15 sajak).

Beberapa pilihan puisi Mansur Samin dalam Dendang

Kenalan

Ke sana saja duduk, katanya pelahan
kamar, tilam seakan baru didandan
di pojok kembang delima, kaca dan dolanan segar
rumah dan santunnya memikat kawan di mana-mana
melupakan resah melepaskan duka gelisah
kadang semua dipasrahkan memenuhi malam
seolah kami berdua keluarga rukun di dunia

Kala gerimis mengamatinya di Pasarmanis
kunyalakan pelita: sandal, piring dan gauntua
seperti ada ia di sini memanggil darahku lagi
tapi dari kabar polisi terlambat sudah
Rukayah dilanggar mobil tadi pagi ke rumah sakit pusat
karena tiada pamili dimakamkan di tanah wakaf

Mendatangi desa di rimba wilayah selatan kukira
dari pusaka: ladang, risalah sederhana
bekas lurah menggundikinya tak tahu ke mana
di suratnya di bawah tikar yang lunyah
murid madrasah, anak wedana, anggota palangmerah
betapa mudahnya ia hadapi hidup serba warna
datang dan pergi menentukan jalan yang dipilih

Kini pun gerimis
di makamnya kembang delima telah berbunga
dan di balik hari
hidupku kluyuran larut berakhir entah di mana



Penyair

Pengagum kecintaan dunia
pencari kedalaman manusia
tapi kantuk dan lesu
pengisi jalan hidupmu

Pandangan makin jauh
sambil lupa satu pegangan
memainkan ini hidup
uang dan kesehatan

Penyair adalah cinta yang mengalir


Telaga

Gerimis hujan akhir Agustus
menggenapi selokan dan tubir kampung
aku makin kerap bertandang ke rumahmu
seakan curah hari-hari pedih yang menindihku

Kemudian kita sering berjumpa di tepi telaga
bisu tak berkata-kata sangking pedatnya jiwa
kudengar kabar dari Pedanda:
gadis itu telah kawin sejak tuan pulang ke Jawa.


Ajakan

Mari serahkan kepadaku semua sengsara
sampai di manalah tangis orang-orang putus asa
tiada percaya hidup ini nyanyian mesra
sedang baiknya
jiwa memperkelahikan nasib tiada habisnya

Mari serahkan kepadaku semua sengketa
sampai di manalah sedih orang-orang kecewa
tiada percaya hidup ini hadiah indah
sedang baiknya
jiwa menegakkan keyakinan yang patah

Mari serahkan kepadaku semua cedra
sampai di manalah tuntutan ingin bagia
terlalu menyalahkan dunia
terlalu menyalahkan sesama
sedang baiknya
jiwa mengisi hari yang masih kita miliki


Pendatang

Percaya dengan dera pertama
lentera besar reda depan samar
di sudut rindu rasa kenal menyasar

Peluk mata bermimpi raga
luasa dan percaya ialah Nina
tapi di mana pernah jumpa?

Zaman Siap sepanjang bukit utara
membuarkan warna semua tengadah
kotaku korban aksi bumihangus

Sepi kamar begini ke mana ia pergi
di pojok tertulis: “Sekretaris Menteri”

ujud kehidupan serba bisa terlangsungkan?


Tukang Kebun

Betapa sering di sore hari
kami berjumpa di pojok jalan ini
menyajikan senyum dia menghormat mesra sekali
sambil mengetam bunga-bunga: apa kabar sudara?

Kemudian kami jarang berjumpa
hidupku disibuki zaman yang sukar ini
tapi penggantinya tadi menuding arah ke sana
di bawah cemara kini kuburnya alangkah sunyi


Perbandingan

Siang makin tenang saja
mengisi hangat ruang angin segar dari pelabuhan
di ranjang kudapati kau telanjang dan diam
sedang di meja kotak obat, botol-botol belum dibuka

Selama sakitmu menjadi
harga pilihan sukar tersudahi
dan jengukan dari luar sana
berakhir pada maksud yang itu-itu juga

Begitulah diajeng manis
nilai kasar yang menyamari hidup ini
kata benar bukan kebenaran itu sendiri
dan perbandingan gerak segala tiba
percaya tak percaya adanya Kuasa
tugas kita
menyelesaikan, bertahan dan mengakhiri bahaya

Kala kaubenahi bekas kita terbaring
di luar kudengar ketukan giliran lain
kerna hidupku mengisi alam berkisar
sekianlah aku pergi tanpa pamit dan kabar.


Kami

Kami tak siasia mempertahankan bumimu ini
menyerahkan gerak jiwa masak oleh tenaga
pandanglah jalan suram masa kalut yang dikeluhi
setiap kata mencari nilai dalam benda

Kami tak siasia mempertahankan keindahanmu ini
melepaskan ria dunia mencari arti sederhana
lihatlah kedamaian sejuk larut diremuk hari
seluruh malam menepis tibanya fajar

Kami telah bercinta dengan dunia dan air mata
inilah masa retak menghancurkan bintang sejarah
kesederhanaan jiwa menggelita sudah
tinggal kecewa melulu menjenguki hati yang mabuk
dan dari kerentaan pencapaian bentuk
pitam berkata: Tuhan sudah tiada di dunia!

Kami tak siasia mempertaruhkan jiwa ini
merebut derita dunia mendengungkan tangis anak manusia
bangkitlah penyair, rebut sikap yang masih kita miliki
seluruh makna kembalikan pada pencapaian sederhana.


Beberapa pilihan puisi Mansur Samin dalam Kabut

Tarutung

jalan padat melumat direguk mata
hamparan Silindung dan luhak Toba
derai angin gugur menusuk hampa
senandung leluhur pisah meraba

dara yang menolak duka
pupuklah cinta menyubur desa
lanjutan ini sendu yang pasrah
sedang di dalamnya kita tak tahu apaapa


Desapantai

Dari bukit terjal
semak pantai berkijapan
kincir di telaga dulu
berganti sebuah gardu

Itu bandar di hulu
tinggal lengangnya pucat samar
bukan seperti dulu
disibuki pedagang dari Medan

Hingar rebana tak riuh lagi
apakah sibuyungdeli telah mati?

Dekat magrib sendirian pulang
di bondongan gadis pergi sembahyang
sekilas senyum betapa nyaman:
Kapan abang datang
apa kabar dari rantoan?

Memancar sinar jelita malam
berkemas pribumi menginap di lobang.


Sibolga

sendiri beratap malam bersih
serasa dalam awal mengembara
di sini pijar kota menyepi
rimba laut pantai padaku lama bicara

hati menyisih makin lunyah
berdiri di luar makna penuh harga
di sini swara akhir semua wajah
kerja dunia lahir padaku tanpa bicara

kitalah pengungsi bumi sepi ini
sebab damba yang paling pasih
antara cinta dan hati menunda
hidup bersandar dalam dera.


Kenangan

Dataran sayup tanjung selatan
dalam hatimu nyalang menggetar
dan dari siraman kilatan bintang
biduk ke kuala berdendang nyala
melintang duka sengsara dan puja dunia
bagai larutan kasihmu dulu
datang meraih merangkul daku

Apalah artinya rindu
bila hanya merendam risau
tinggallah pasrah wahai dusun kenangan
hutang kerja menumpuk sepanjang rantauan.


Padangsidempuan

ucapkan semua harga dari suara
dihadapi pijar resah dalam tiada
takutku dan takutmu hasrat yang ramah
menyubur jauh dalam hari dan dera

dan memadatlah hubungan duka

raba yang merungrung jiwa
di luar harga cinta dunia
bagiku nanti menggenggam jari
atau kita semua berangkat mati.


Ratap Ibutua

Sebelum tidur ditumalam
ibu tunggu kalian di halaman
yang diantar orang
dua jenazah sebuah keranda panjang

Kalian tinggalkan ibu seorang
menghadapi sisa ini kehidupan
oceh siapa lagi di gubuk kita
selain rasa sunyi seharian mengembara?

Musim pukat yang bakal tiba
berduyun orang ke laut dan ke sawah
ibu bayangkan kalian ada di sana
pulang sore, seorang menutup jendela
yang lain menyalai ikan untuk makan malam kita

Betapa damai kalian sepanjang tahun
nelayan dan peladang keduanya rukun
akan jadi apa kesendirian ibu
jika ingat kematian kalian tempohari
sisulung menembak adiknya sendiri

Ketika surat penghargaan tiba
ibu tak dapat membaca
tapi di dalaman ada terasa:
Alangkah mudah pemuda berkorban
untuk membela kekuasaan seseorang

Tak dapat ibu ikut musim menyabit ini
lumbung dan jaring sudah lama terkunci
kerja ibu sekarang seharian
ke tetangga bertandang
sering tanya, kapan selesai ini perang?


Beberapa pilihan puisi Mansur Samin dalam Senja

Sibaganding Sirajagoda

Tengah siang
di pojok nun, ke dalam restoran
berbondong para kuli berlesuan
duduk di sebaris bangku
dari bisik dan keluh:
Telah berbulan
tak ada kapal datang!

Sedang sama menatap ke bandar sana
terkuak pintu muka
suara siul mengalun
dari mulut kumis brenteng
tegak melangkah lagak perlente
bertopi pandan, bercekak pinggang
menatap awas ke tiap ruang
dengan gerak angkuh
menggeser sebuah bangku

Kuli-kuli cepat menyisih
terserak pergi
dari pandang yang heran
hati terus bertanya:
Dari mana pula munculnya
ini Sibaganding Sirajagoda
bukankah dirinya
sudah lama penghuni penjara?

Sambil mengunyah kacang
ia buka topi pandannya
tiba-tiba tinjunya
menghentam meja
dengan megahnya:
Kasi bir! Sambal Udang
Rokok Kowa dan Sate Padang!

Tengah bersantap dengan lahapnya
dari lorong utara
muncul kepala berpet kuning
Simarkamin Sikenpetai
kuli-kuli kerumun kembali
menanti apa kan terjadi:
Ini restoran
apakah bakal jadi gelanggang
dua jagoan?

Dengan gerak mengintai
berpaling Sibaganding
pelan meletakkan bir
tegap berdiri seperti singa
sambil memilin kumisnya:
Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba!

Markamin terdiam
dan duduk tenang:
Teruskan makan Bung, silahkan minum
kedatanganku ke mari
bukan buat menangkapmu!

Satu demi satu
bubar para kuli
dan dari kerumun
terdengar bisik:
Sibaganding Sirajagoda
apa ada tandingnya di kota Sibolga?

Suatu hari
gerimis mendung memucat langit
sedang berteduh para kuli
dari sebuah bendi
turun opsir Nippon
menggandeng nona Indo
belanja ke dalam toko

Akan keluar dari meja kasir
di pintu telah menanti
Sibaganding Sirajagoda
dengan tampannya
bercekak pinggang
topi pandan berkibar
menatap tenang

Setelah bersiul
sebuah senandung
ia melangkah tegap maju
tangan yang hitam berbulu
menarik pinggang Sinonaindo
digandeng ke dalam sado
sedang Siopsir
melongo tak berkutik

Kembali beraksi Sirajagoda
menggeger kota Sibolga
inilah korban keduapuluh dua
perempuan kena tenungnya

Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba

Musim gajian di akhir bulan
para kuli keluar dari labuhan
satu-satu hilang ke pakter tuak
di tengah celoteh dan cakap
dari pintu samping
muncul Sibaganding
semua jadi hening
ke sebuah meja makan
duduknya mekangkang
jarinya yang bugil
pelan mengusap kumis

Dalam kecemasan itu
semua dikagetkan dentaman tinju:
Mana tuak baru
Jengkol, Sambal pari
Cepat bawa ke mari!

Kuli-kuli balik menyisih
menanti apa yang akan terjadi

Selagi semua diam
dari lorong selatan
terdengar tawa riuh
menuju pintu

Di teritis dekat terali
sepuluh tentara Nippon
akan masuk terhenti
serempak melongo
menatap awas ke satu pojok

Semua mata penuh tanya
menanti gerak Sirajagoda
tapi tingkahnya yang bebas
senyum segar
jari mencukil gigi
mata melirik
dan tangan yang hitam
tenang mengangkat gelas

Dari rombongan tentara Nippon
seorang maju melangkah pelan
geraknya bagai kan menohok
mengekarkan lengan
tapi Sirajagoda
bersiul dan biasa
seolah tak terjadi apa-apa

Maka
di akhir teriakan tinggi
beterbangan stoples dan kursi
tuak berhamburan
dan di pojok tiang
sepuluh tubuh tentara Nippon
bertindih susun
tergeletak tak bergerak

Sibaganding Sirajagoda
dengan tenangnya
membersihkan bajunya
memilin kumisnya
dengan langkah pongah
pergi keluar

Sibaganding Sirajagoda
siapa berani boleh coba

Di hari Sabtu, hari pasaran yang sibuk
berdengung mobil-mobil truk dari timur
berloncatan tentara Nippon
menjaga ketat setiap lorong
sekitar pakter tuak
dikepung rapat

Gegerlah setiap pojok
telah tertangkap Sirajagoda
digiring ke Bonandolok
potong leher hukumannya

Sebuah pagi
di bawah langit yang cerah
ke sebuah pokok tusam
tubuh Sirajagoda
dirangket kuat

Tiba-tiba pedang samurai
menebas dan mendesing
tapi pental
lalu dicucuki dengan bayonet
ditikam dengan berbagai senjata tajam
tubuh Sirajagoda
tak apa-apa

Berapa senjata telah patah
berapa tangan telah benjol
tapi leher Sirajagoda
segubris pun tidak luka

Setelah putusasa
dibuka rangketannya
Sirajagoda senyum
dengan santun
minta minum

Hampir selesai meneguk cangkirnya
entah bagaimana mulanya
tubuh Sirajagoda
gaib tiada bekasnya

Begitu tersiar berita
ketakutan menggeger Sibolga

Atas ikhtiar Kenpetai
dihimpun para ahli
dari saran Datu Balemun
tentara Nippon dapat maklum:
Ilmu yang dipakai Sibaganding
bernama Ilmu Jugil
jika lehernya akan dipotong
jangan dirangket dengan tali
jika akan dibunuh dengan besi
jangan diberi minum air

Sedang merancang akan menangkapnya
dekat senja
betapa gempar kota Sibolga
dari sebuah kedai rampah
muncul Sirajagoda
menggandeng nona Cina
dan topi pandannya
berkibar megah

Maka beredarlah cerita:
Sibaganding Sirajagoda
bukan mati bukan menyerah
tapi korbannya keduapuluh tiga
nyonya tauke dari Singapura

Di pagi bersih
ketika ibu-ibu pergi mandi
tersiar pula berita:
Tadi dinihari
kedua orangtua Sirajagoda
telah diangkut dari rumahnya

Menjelang tengah hari
berita tersiar lagi:
Kedua orangtua Sibaganding
telah hampir mati
dipukuli kenpetai

Dari cerita seorang opas kantor
gempar pula setiap lorong:
dekat jam satu tadi
ada yang melihat Sibaganding
di Sarudik di tepi kali
sedang mandi hadap ke hilir

suatu hari di hari Rabu
betapa kaget para buruh
dari sebuah sampan
muncul tenang
mendarat Sirajagoda
menuju tangsi tentara

Bersorak tentara Nippon
telah menyerah Sirajagoda
di hari Selasa di Bonandolok
bakal menerima ganjarannya

Pada jam yang ditentukan
suatu pagi yang rawan
di bukit hutan selatan
tenang berdiri Sirajagoda
menanti hukumannya

Anak mata yang jingga
menatap jauh ke lembah
dari bibir yang basah
terdengar kata:
Kaulah rupanya Abang Daud
orang yang mereka suruh
harus membunuhku

Adikku Sibaganding
ketahuilah, tadi pagi
kedua orangtua kita
telah berpulang ke rahmatullah

Beginilah akibat darah mudamu
karena dorongan napsumu
telah kau cemarkan ilmu pusaka kita
yang diwariskan leluhur
guna keselamatan bersama

Dua hati lama berdeburan
semua kata tak terucapkan

Adikku tunggal Sirajagoda
ilmu pusaka dari warisan leluhur kita
bukan untuk pemuas napsu manusia!

Adikku, Sibaganding Sirajagoda
jika benar kau jantan
cobalah nilai perbuatanmu
apakah semua perempuan korbanmu
dapat membayar
nyawa kedua orangtua kita?

Sibaganding Sirajagoda
telah kau nodai kemurnian senjata
telah kau khianati nilai pusaka
untuk penebusnya
harus nyawa kita berdua

Dengan air mata berhamburan
dari sebuah rajut kumal
Daud mengeluarkan bungkusan
seberkas duri pandan
dilantingkan ke dada Sirajagoda
dipurukkan pada pundak dan kepalanya
serentak dua tubuh rebah ke bumi
tak bernyawa lagi

Mendung mengatapi kota
alam bagai berduka
melepas dua saudara
mati bersama

Di hari Rabu itu
empat jenazah sekeluarga
diusung ke kubur
dimakamkan bersama

Sibaganding Sirajagoda
tamat riwayatnya.


Warga Terbuang

Sebuah petaka
menimpa istana dan rakyatnya
putri jelita yang cantik itu
dijangkiti sampar telah seminggu

Di itu pagi
ketika gadis-gadis menumbuk padi
saling bertanya dalam hati
apakah akibat penyakit ini
bagi seluruh negeri?

Di labuhan nun, di pinggir kampung
para nelayan berkerumun
masihkah dikenal putri itu
jika sampar memenuhi tubuh?

Di bawah awan retak-retak
para menteri mupakat di teratak
apa disujudkan ke depan Baginda
agar segenap rakyat
terhindar dari bencana?

Menteri tua
merenung lama:
Betapa sedih Baginda
jika harus pisah
dengan putri jelita

Menteri muda
menjawab:
Raja yang bijaksana
tetap mementingkan rakyatnya
daripada
keuntungan dirinya

Dari sudut memutus:
Tak adakah jalan lain
agar putri jelita itu
jangan hidup terkucil?

Sampar adalah setan penyakit
jika berjangkit ke tengah rakyat
apa jadinya kerajaan Luwu ini
satu-satunya kebijaksanaan
putri jelita
harus dikucilkan!

Di malam yang penuh bintang
sujud menteri di balai dalam
mohon terbuka duli Baginda
keinginan rakyat kita
putri istana harus dikucilkan
karena di tubuhnya bersarang
penyakit menular yang mengerikan

Raja Luwu terdiam pekur
mengenang putri terbuang jauh
mengenang pribumi kena bencana
apa jadinya
memilih mana
putri seorang atau nasib rakyat
untuk membanding apakah jawab?

Bersujud pula menteri muda
patik maklumi beratnya cinta
haruskah menolak kasih
membuang darah sendiri
cuma sebab penyakit
yang akan merusak rakyat
yang akan menjangkiti rakyat

Antara cinta dan bijaksana
berbenturan di hati Baginda
sambil pekur bertitah:
Inilah undang Kuasa
inilah ujian Pencipta
menguji sikap seorang raja

Raja adalah pelita bagi rakyatnya
raja adalah tongkat bagi rakyatnya
kami menteri
cuma abdi pribumi
mohon maaf dan dimaklumi
kami pun tahu kebimbangan itu
kami pun tahu kesedihan tuanku

Dari barat sinar empuk keemasan
Baginda melangkah ke peraduan
direnungi tubuh putri yang terbujur
dinanapi kaki yang busuk bernanah
lalar menghitam karena bau busuk
duka mengguncang dada:
Nasibmulah itu anakku
harus terbuang jauh
apa jadinya Ayah ditinggal nanti
bersunyi sendiri sepanjang hari?

Perlahan terbuka mata bengkak
nyalang tapi tak dapat berkata
tinggal hati berbisik
menjeritkan pedih
antara kasih Ayah yang dijunjung
dan nasib diri yang busuk
ditentukan oleh hukum kampung

Di malam yang menentukan itu
telah hadir para menteri di balairung
Baginda bertitah:
Atas nama rakyat
atas kepentingan rakyat
putusan yang kupilih
membuang anak sendiri!

Hilirmudik para menteri
malam kerja malam ini
sebuah rakit besar
disiapkan untuk berlayar
bagi putri dan inang pengasuh
menjelang subuh
akan bertolak meninggalkan Luwu

Langit subuh pucat mendung
rakit pun dibawa arus
tinggallah kerajaan Luwu
tinggallah Baginda seorang
akan pergi anak terbuang
entah ke mana mengembara jauh
membawa pilu!

Mentari pagi menyemburat
di bukit nun, rakyat berjejal
melepas putri tak dapat melihat
akan bertolak warga terbuang
karena tuntutan
harapan rakyat
keselamatan rakyat

Setelah berbulan dimainkan gelombang
rakit terdampar di pintu karang
turunlah dayang-dayang
mencari daratan
mencari tempat berlindung
untuk melanjutkan hidup

Pagi yang amat sibuk
pontang panting para inang pengasuh
mendirikan sebuah bangsal
mencari tempat berladang
untuk napkah kehidupan
warga terbuang

Di atas tanah gembur
segalanya tumbuh subur
padi menjadi
kentang dan ubi
oleh berkah kehidupan
melimpah seharian

Setelah bertahun duka berlalu
di terik siang tengah hari
di sebuah dangau
putri yang sendiri
menjaga jemuran padi

Tiba-tiba dari semak hutan
merangkak kerbau putih
mendekati padi jemuran
menanapi putri yang sendiri

Terkejut sang putri
cepat menghalau kerbau putih
telah dilempar berulang kali
tapi makin mendekati

Digerakkan oleh kecemasan
berlari kencang sang putri
sebab kegugupan
tersandung rubuh ke bumi

Maka kuasa takdir
kerbau putih
menjilati tubuh putri
hingga bersih
bersinar lagi

Hari kedua berlaku pula
kerbau putih mendekati putri
menjilat tubuh berulang kali
hingga berbinar
oleh segala sinar
jadi rupawan gemilang

Telah tercipta hukum kuasa
tubuh putri tambah jelita
menyinar ke seluruh rimba
menyuburkan mayapada
oleh kecantikan parasnya

Di pagi dingin langit bersih
lahirlah sumpah sang putri
Untuk anak cucuku nanti
jangan dibunuh
jangan diganggu
kerbau putih sibaik hati
kerbau putih yang penuh kasih!

Sampai kini di sekitar Palu
sumpah putri masih berlaku
melarang tiap pribumi
menyembelih sikerbauputih

Bukankah kasih
harus bertimbang
dengan kasih?


Jelmaan

Siapakah kau
nakhoda, bajak atau nelayan
awas lewat di sini anak cucu
ingat jembalang cermat siga gelombang
ini laut, kubur kisahku sepanjang zaman

Itu perahu
berisi pengantin baru
berlayar di pagi bersih
dua jiwa menyatu kasih

Silir ombak berdesiran
mengelus sanggul kembang haruman
mata dan kasih bersiutan
sibuk menjahit menolak sungkan:
tanganmu itu Nakhoda Ragam
jangan liar di tengah lautan

Bila Siti terus menjahit
diam sendiri terasa sunyi
ingin jemari bercumbu kasih
rangkullah Abang, peluklah mari!

Dhuh, matamu Siti sibintangpualam
mendebur rasa penuh kobar
dhuh, jelitamu Siti sipijargumilang
menjirat cinta kalbu menggetar

Santun orang di perahu
ada sopan tahu malu

Angin segar
kasih membakar
sitangan liar
merangkul nakal

Alihkan tangan Nakhoda Ragam
kita di perahu ingatlah sopan
apakah tega cinta terbuang
benam berdua mangsa lautan?

Sekalipun di laut
sekalipun di gelombang
rangkul cintaku
peluk kasih sayang

Menolak yang tak dapat ditolak
tangan merangkul sejadinya
cinta pun liar, liarlah jarum
menembus jantung
seraya terjun

Laut menggelora
jingga oleh darah
suara di mana-mana:
onarnya cinta
kerna ulah napsu manusia!

Siapakah kau
nakhoda, bajak atau nelayan
awas lewat di sini anak cucu
jika jumpa buaya putih
jangan takut anak cucu
itu jelmaan nenekmu Siti.


Dukacerita di Belukar Senja

Beratap awan retak-retak
sampailah laskar di pinggir kota
mengiring putri Citrarasmi
menuju Majapahit
bakal jadi suntingan
prabu Hayam Wuruk
bakal berkerabat
dengan kerajaan Pajajaran

Setiba utusan di istana
wirawiri para penggawa

Ke singgasana
bersembah patih Gajah Mada:
Baginda Majapahit Raya
apa gunanya tamu disambut
bukankah kerajaan Pajajaran
telah lama takluk
di bawah duli Tuanku?

Balik utusan ke pinggir kota
Bawa pesan patih Gajah Mada

Setelah mendengar pesan
Sri Baduga Maharaja Pajajaran
lama terdiam
menahan duka, menahan murka:

Tidakkah Hayam Wuruk sendiri
melamar putriku Citrarasmi
kenapa harus aku pula
bersembah ke depannya
cuma karena dia
lebih kuasa?

Di itu siang
laskar Pajajaran jadilah bimbang:
Kecongkakan Majapahit
apakah dianggap angin
atau dijawab dengan lembing?

Atas perintah Sri Baduga
utusan kembali ke Majapahit
membawa jawaban singkat:
Adat mana pula
harus seorang bapak
menyerahkan putrinya
ke depan bakal mantunya?

Saat menerima jawaban
patih Gajah Mada jadilah murka:
Sebelum patih bertindak
suruh Sri Baduga
cepat ke mari membawa putrinya
bersembah ke depan baginda

Sebagai adat, Pajajaran yang takluk
rajanya ke mari harus bersujud!

Dengar pesan-perintah patih Gajah Mada
para laskar dan panglima
serasa mendapat tamparan hina
serasa mendapat lemparan nista
sibuk bersiap:
Daripada Baginda tercoreng arang
lebih baik tak pulang ke pangkalan

Bondongan porak peranda
siap tiap senjata

Bersama angin dari selatan
menderu sorak di jauhan
laskar Majapahit telah bangkit
akan menawan Raja Pajajaran
yang tak mau tunduk
yang tak mau takluk

Maka laskar Pajajaran
menyambut serangan dengan perwira
dan di tiap arah
perang tanding pun terbuka

Dari tiap penjuru
laskar Pajajaran mengamuk
lembing, kelewang dan anak panah
berlaga memorak angkasa

Hampir magrib
awan di langit makin tipis
laskar Majapahir masih mengalir
mengepung rapat setiap arah

Di segenap tempat
perang terus berkobar
laskar Pajajaran yang bertahan
betapapun perwira
kerna musuh yang menggelombang
tenaga bertahan tak imbang
perlawanan yang tangguh
jadi lumpuh

Nun di belukar barat
dari seorang laskar
Citrarasmi mendapat kabar:
Ayahanda Sri Baduga
telah tewas dengan perkasa

Meratapi berita itu
putri Citrarasmi
mengajak para inang pengasuh
mati bersama, bunuh diri!

Di bawah lazuardi pucat kesumba
semua laskar Pajajaran
tewas perkasa
membela malu
membela nama

Melintasi bangkai terkapar
semua perangkatan
kembali ke Majapahit
membawa berita akhir:
Putri Citrarasmi
telah bunuh diri!

Malam pun turun
sampai berita ke Hayam Wuruk
beliau pekur
sesal makin menjadi:
Putri jelita Citrarasmi
putri molek bakal permaisuri
tak dapat dipersunting
karena ulah kurang teliti
karena ulah kecongkakan diri

Demikianlah
telah tercipta sebuah kisah
dukacerita di belukar senja
nun, di Majapahit sana
ada cinta yang sengsara
ada cinta yang kecewa
sebab pilihan Citrarasmi
daripada hidup terhina
lebih baik mati
membela nama

Maka pesan dari sejarah:
setiap tindak manusia
jika terlalu mengagungkan kuasa
jika terlalu menghina sesama
akhir nasibnya tentu kecewa!


Tentang Mansur Samin
Uh, tak ada biodata Mansur Samin di buku ini. Seingat saya, oleh H.B. Jassin dikumpulkan ke dalam angkatan 66.

Catatan Lain
Kata pengantar berisi panjang lebar penjelasan penyair. Kata Mansur Samin: “Kumpulan Sajak DENDANG semula dititipkan ke tangan almarhum Anas Ma’ruf pada tahun 1960. Saya berpesan saat itu kepada beliau, jika ada penerbit yang berkenan menerbitkan, cukup berhubungan dengan beliau saja. Kumpulan sajak ini bersuasana dendang pencarian terhadap hakikat hidup seorang penyair. Tempat terciptanya di beberapa kota Jawa Tengah, Bali dan Sumatera.”
Paragraf selanjutnya: “Kumpulan Sajak KABUT semula akan diterbitkan oleh PT Pembangunan. Diserahkan tahun 1962. Suasana sajak-sajak dalam kumpulan ini mendung berliput duka-cerita akibat sengketa perang-saudara yang berkobar di kawasan Sumatera Utara. Semua sajak-sajak dalam kumpulan ini, tercipta di beberapa tempat sekitar Sumatera Utara.”
Kemudian: “Kumpulan Sajak SENJA pertama kali diserahkan kepada Bapak HB. Jassin tahun 1964. Pernah kumpulan ini dipamerkan dalam Pameran Dokumentasi Sastra di TIM. Sajak-sajak panjang dalam kumpulan ini, bersuasana kerakyatan. Karena khazanah penciptaannya dari jiwa rakyat yang tersebar di kepulauan Nusantara. Selesai dikerjakan di Surakarta dan Jakarta. Tentu saja dalam mengerjakannya makan waktu yang lama, mengingat sumbernya berupa bacaan dan lisan yang masih bermain dan beredar dari mulut ke mulut rakyat.”
Lalu kata penyair: “Pada tahun 1967 saya himpun menjadi sebuah kumpulan sajak. Berhari-hari Kumpulan Sajak ini saya kepit mapnya sambil mengedari beberapa penerbit di Ibukota guna menawarkannya untuk diterbitkan. Suatu ketika saya mengepit map kumpulan sajak itu dalam berkunjung ke rumah Bapak H. Adam Malik almarhum dengan keperluan menawarkan lukisan seorang teman pelukis kepada beliau. Sambil berbincang-bincang tentang lukisan, beliau menanyakan map apa yang saya kepit sejak tadi. Sesudah saya tunjukkan pada beliau, sambil tersenyum beliau menyuruh tinggalkan. Setahun kemudian tepatnya tahun 1968 kumpulan sajak itu saya ambil kembali dari tangan beliau dan disuruh antarkan ke penerbit Gunung Agung.”
“Kumpulan Sajak ini saya serahkan ke penerbit Gunung Agung tahun 1968. Setahun kemudian antara saya dengan penerbit menandatangani surat perjanjian penerbitannya. Dan kini setalah menempuh perjalan yang panjang, kumpulan tiga sajak ini, saya persembahkan ke tengah bumi persada sastra Indonesia.”

Yap, saya menarik nafas panjang. Betapa panjang perjalanan buku ini. Jika kontrak kerjasama terjadi tahun 1969, dan kata pengantar bertanggal 1 Oktober 1985, maka ada rentang waktu 16 tahun manuskrip sajak ini teronggok. Yang paling mudah dikenali dari 3 kumpulan ini adalah SENJA. Semua puisinya panjang-panjang dan bercerita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar