Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Selasa, 01 April 2014

ZIARAH TANAH JAWA


Data buku kumpulan puisi

Judul: Ziarah Tanah Jawa
Penulis : Iman Budhi Santosa
Cetakan: I, Maret 2013
Penerbit: Intan Cendekia, Yogyakarta
ISBN : 978-979-9857-35-4
Tebal: x + 128 halaman (80 judul puisi)
Penyelia Aksara : Anes Prabu
Tata letak : Harmono
Desain sampul : Latief S. Nugraha

Beberapa pilihan puisi Iman Budhi Santosa dalam Ziarah Tanah Jawa

Ziarah Tanah Jawa

Tinggal satu jalan yang ditunjukkan kota-kota berdebu
pada usia enam satu. “Kembalilah ke Jawa…”
menyusuri jejak ingas kemadu
merawat lempuyang sembukan yang makin jarang
memuliakan gunung sungai, membersihkan halaman
dengan sapu sebelum matahari terbit dan terbenam

Lepaskan pula terompah sepatu dan seluruh buku
menapaklah dengan kaki telanjang
biar pasir kerikil memijat kembali
telapak kakimu yang berkarat dan membesi

Disaksikan rumput ilalang, senyum dan tembang
kusinggahi makam nenek-moyang
tanpa bertanya siapa mereka
apakah keturunan matahari atau rembulan
apakah babad dan serat pernah mencatat atau menyebutkan

mungkin, lewat bunyi perkutut atau derkuku
mengejawantah lagi nasihat para wali
merasuk kembali papatah-petitih ke dalam puisi
merayakan sekuntum melati mekar
pada setiap hati sanubari

2009



Perayaan Hantu

Malam itu, anak-anak membuat diriku
dari rautan bilah bambu
kepala tempurung kelapa, diberi baju kain rombeng
dikalungkan pensil, untuk mengail
tanda-tanda waktu bakal memberi atau berlalu

“Cepatlah menari,” mereka berbisik
mengusik roh yang beterbangan
merasuk ke dalam permainan

Maka, hitam seperti bukan hitam
ranting menjelma tulang
benang melilit nyanyian mambang
sehingga malam yang pekat jadi benderang

Sebutkan namamu, sebutkan rumahmu
beri aku mimpi, beri aku perahu
beri kami dewi, beri kami pangeran
beri kami tangga mendaki rembulan

Semalaman anak-anak merayakan kegelapan
ketika kaki dan tangan-tangan kecil mereka
demikian papa, tak bisa mengejar
meraih yang tampak di depan mata pada zamannya

2012


Hari ini Engkau Bernama Sri
: Legenda Dewi Sri

Sehabis kelir, dalang dan wayang
membuang petaka pemali
mata dan hari pun memulai pagi
dan engkau mengintip di ujung bulir srikuning
menunggu kapan jemari tangan-tangan itu menyunting
usai menggelar sesaji sepanjang pematang
doa dan tembang warisan nenek-moyang

“Tertawalah sejenak anak-anak desa
karena kami, Sri – Sadana akan terus menjaga
bukit lembah tanah Jawa…”

“Bukankah padi dulu bunting
mengandung anakmu, Dewi?” Perawan-perawan bertanya
sambil mengelus perutnya
dan para perjaka hilir mudik
merasa perkasa karena keringatnya
engkau berkahi
serupa nasi beras
bersanding ikan teri
kulub daun pepaya
dan urap kelapa muda

Hari ini kusaksikan engkau, Sri
ketika sawah ladang menuai cerita
langit dan bumi menjalin cinta
laki perempuan memboyong puteri jelita
manja bercengkerama di punggung dan pundaknya

2006


Angin Negeri Anak Gembala

Waktu angin mati, layang-layang kembali kertas
rautan bilah bambu dan benang kehilangan napas
anak-anak gembala pun segera meneriakkan nyanyian sakti
“Cempe-cempe undangna barat gedhe
takopahi duduk tape
yen kurang goleka dhewe…”

Maka, entah dari mana asalnya, angin pun tiba
puluhan layang-layang mendaki
mencari tinggi, menguji musuh
bakal dicampakkan ke negeri jauh
tinggal rangka di pohonan sunyi
atau koyak-moyak dalam perang anak
ketika semua tak bisa memiliki

Seindah itu, sepatuh itu
angin negeri anak gembala ini.
Tak pernah ingkar janji diajak bermain
mengajar daun pohon melambai
mengantar tepung sari bercinta hingga selesai
usai puji sanjung dilantunkan membumbung
hanya dengan tembang tanpa sesaji
hanya dengan hati lapang, mata terang
mulut lidah tak menyimpan kata-kata berduri
“Cempe-cempe undangna barat gedhe
takopahi duduk tape
yen kurang goleka dhewe…”

Anak-anak gembala telanjang dada
tembang, bau keringat dan tangan-tangan kecilmu
telah mengibarkan bumi Jawa
dengan cerdas, di luar sejarah emas yang perkasa
karena restu berkah para raja
tak pernah singgah di ubun-ubun mereka

2006
* Cempe-cempe undangna barat gedhe.., dst : tembang anak-anak gembala di Jawa yang artinya, anak-anak kambing panggilkan angin besar, saya beri hadiah air tapai, kalau kurang cari sendiri.”


Sesaji di Bawah Pohon Manilkara Kauki

Semalam seorang perempuan muda
meletakkan kembang telon, sebongkah kemenyan
rokok, susur, dan sekeping limaratusan
dengan sembunyi-sembunyi
di bawah pohon Manilkara kauki
di simpang jalan arah masa depan yang sunyi

“Aku lahir dari pohon ini.” Bisiknya
lebih tolol dari boneka
dan memang sangat bisa
karena ia bukan siapa-siapa

“Kalian percaya, aku manusia?”
Tiba-tiba ia bertanya
sapu tangannya mengucak mata
orang-orang tak bergumam
suntuk menyaksikan pergelaran sandiwara

Sebelum pergi kubuat namanya dalam hati
Si Wengi, karena hidupnya lengkap terbenam
sama dengan bulan bintang di malam hari
tak pernah menemukan pagi
di kampung halaman yang bukan miliknya lagi

2008
* Manilkara kauki : nama latin pohon sawo kecik
* Kembang telon : tiga jenis bunga. mawar, kantil, dan kenanga, yang menjadi syarat sesaji upacara ritual tertentu


Tragedi Kesetiaan Seorang Emban
: Anjani dan Endang Suwarsih

Selesai membasuh muka di bibir telaga
ia tak berani meratap karena duka putri junjungan
sudah menghunjam dada abdi pidak-pedarakan

“Mengapa harus terjadi, Putri?” Endang Suwarsih bergumam
sebab ia hanya emban dan berada di pungkuran
suaranya pun bukan tembang, pantas didendangkan
setelah sampyuh, nista dan cacat melulur sekujur tubuh
setelah Cupu Manik Astagina
diperebutkan tangan-tangan angkara murka

Sepasang perawan berwajah wanara
sama-sama luka, membenamkan diri ke telaga Nirmala
memburu cantik yang dihapus dewata
yang lain menjaga, mengembang junjungannya

Ah, abdi-abdi Jawa yang setia
cantik bandara karena emas permata
cantikmu karena selendang
rela memanjakan anak-anak wayang
menimang benar salah penuh kasih sayang

2008
* pidak-pedarakan : rakyat kecil, hina dina
* pungkuran : rumah bagian belakang
* sampyuh : mati semua
* bandara : sebutan terhadap majikan


Legenda Damarwulan

Sejak dulu aku tidak percaya, Raden
serupa Anjasmara. Engkau bukan pekathik
bukan sudra, bukan rumput muda
pantas jadi makanan kuda

Terakhir di tanganmu bukan lagi sabit
tapi pedang dan seragam prajurit
mukti-mati jadi sesanti
setiap menjaga dia yang memberi

Lalu di mana dua belas ekor kuda itu?
bukankah hanya bayang-bayang
menambah keramat tanah Jawa
yang dihuni ratusan cerita wayang?

Serat babad memang mencatat namamu
dalam tembang piwulang
juga kiblat nasihat
tapi tidak menetapkan alamat
di mana kami bisa datang
berguru dan berdebat
belajar mengurai mana lambang
mana hakikat

2011
* pekathik : tukang pencari rumput untuk makanan kuda
* sesanti : semboyan
* piwulang : ajaran


Rumah Cinta Kampung Halaman Tanah Jawa

Sepanjang waktu terus menunggu potret itu
kursi kayu atau bambu di beranda
kicau burung, rumpun bunga
ramah tersenyum menganggukkan kepala
padamu padaku yang mengaku saudara

Ada kupu-kupu berkejaran, lebah datang pergi
mengawinkan putik benangsari sekali jadi.
Pintu-pintu senantiasa terbuka
jendela tanpa jeruji, pohon mangga rambutan
siap berbagi, karena seluruh buah semata berkah Ilahi

Siang di longkangan anak-anak perawan
belajar membatik udan liris hingga sidamukti
lukisan risau-resah setangkai melati
sebelum kelak diserahkan pada sang junjungan
dengan sepasang tangan, disaksikan bulan dan matahari

Senja puluhan layang-layang mengajak terbang
membuktikan langit bukan bayang-bayang
kertas benang mendaki, membaca awan
menyaksikan anak ditimang angin musim ketiga
panas terasa emas di kampung halaman tanah Jawa

Malam keris pedang disimpan dalam almari
amarah keluh kesah tak dibiarkan singgah
dendam benci diikat doa ditiup zikir
mencair dibasuh air bersuci subuh dinihari
hingga semua aral melintang dapat dilompati

Pagi ribuan orang bertebaran sampai ke negeri jauh
menggali tebing lembah, memungut embun jatuh
menyambung langkah-langkah patah
menyusuri jejak rezeki berpindah arah
menampik rindu pulang hanya badan sebelah

Selama ada cinta, mata bocah pun memberi tuah
waktu engkau pamit, perempuan menjelma rumah
saat ciuman terus menggamit, nasihat kerabat
mengusir ular kelabang, hantu dan mambang
yang bakal merusak sawah ladang, juga letak pematang

Selama lidah basah oleh liur sendiri
di antara seresah kering tak memantik api
tak menginjak semut cacing tengah mencari
ke mana pun singgah, semak duri sedia mengalah
karena cinta akan membangun cerita indah di mana saja

Saudara, rumahku rumahmu selalu bertaut
saling mendirikan, menjaga, dan menitipkan ketika pergi
bertukar selamat dengan tetangga dan sama-sama memberi
karena letak tanah Jawa bukan dalam dongeng legenda
tapi dalam hati, dalam denyut jantung di dada kiri

2012
* longkangan : celah antara pendapa dengan rumah induk di Jawa
* udan liris,sidamukti : motif batik di Jawa


Tembang Tanah Jawa

Pagi ketika prenjak bersahutan di halaman
pintu jendela jadi menanti siapa yang akan datang.
Apakah dulu benar ada benih ditabur
kemudian lama ditinggalkan, serupa nama yang dikubur
tapi tak pernah hancur berpuluh tahun dilupakan.
Adakah kini sebutir biji bakal jatuh
dari paruh burung pleci
tatkala berlompatan di dahan ranting pohon murbei?

Semalam ketika burung kulik dan tu’u
mengharubiru, berputar-putar di atas pucuk randu
kemudian hinggap pada rumpun kembang sepatu
barangkali ia tengah mengajak cicak dan jengkerik
memagari hatinya yang lelap
dari marabahaya di balik gelap dan lindap

Tengah hari ketika seekor ular lare angon
menyasar ke beranda dari celah akar pohon sengon
jangan siapkan cabang bambu ori
tatap matanya, dan bisikkan lewat hati
irama tembang kinanthi
dalam liuk gemulai jemari tangan dan kaki

Menjelang senja, ketika sepasang derkuku
bercengkerama di bubungan rumah
katakan pada mereka, cinta tak akan punah
selama kicau merdu, lembut kata
dan kelepak rindu, meluruskan jalan menikung
mengingatkan hatimu hatiku yang tak kenal manisnya madu

Lalu, ketika seekor gagak hitam
menyeruak mahkota pohon salam
menabrak belimbing muda, menghajar buah serikaya
jemputlah ia dengan lambaian
lemparkan sebongkah garam, taburkan segenggam biji asam
agar bala dan petaka tenang tak bergerak
diperangkap waktu yang tak mau berhenti walau sejenak

2011


Ziarah Tembuni

Berkaca pada lantai pendapa, malam wangi Wijayakusuma
keriput uban serentak melawan, karena di sudut
dekat pot bunga berlumut, saudaraku
tembuni yang ikut serta dari gua garba bunda
masih tersimpan aman dan patut

Di sana masih tegak pohon mangga bapang
sepasang kelapa gading dan rumpun bambu kuning
ditambah tebu hitam, meniran dan kaca piring
melengkapi salam sapa pagar halaman yang ramah dan hening
“Ya, aku masih di Jawa.” Bersama welat dan jamu
menyanding pohon srigunggu, tuah tapak liman
serta dewa-daru

“Tetapi, mengapa sekarang engkau merasa jadi tamu…”
Padahal, di sana masih ada makam leluhur
ada nisan kayu batu ditatah dengan goresan paku.
Mereka tak pernah lupa siapa anak cucu
yang dulu nakal, suka mencuri ketela
dan membakarnya malam-malam saat bulan puasa.
Maka, seperti terbangun dari mimpi, kucabuti rumput teki
yang berakar pada dahi mereka, yang menjalar
menutup nama yang pernah mendongengkan kisah Nabi,
Ramayana hingga Mahabharata

Ya, di sini aku punya kisah lama
ada perlambang pada anak panah dan gendewa
saat ibu yang melepaskan dirimu diriku
berguru pada tunas dan buku lebih dari satu

Kini, dengan keringat di dahi kucium kembali tanah itu
bersama derit bambu kusembuhkan penat
perjalanan bersepatu
di sini engkau aku lahir, menjadi akar dan batang kayu
di sini pula ribuan dongeng berkait menjelma biduk dan perahu

2011


Lekuk-Liku Perlambang

Karena wong Jawa nggone semu
Sinamung ing samudana, sesadone ing adu manis
Maka, aku tak akan memainkan gelap terang
Dalam puisi dan membuatmu tercengang

Aku hanya akan mendendangkan tembang
Ketika lebah kumbang datang pergi
Menghisap madu dengan tenang

2006
* wong Jawa nggone semu…dst : air muka dan perilaku orang Jawa cenderung semu (terselubung), ucapannya tersamar, segala masalah selalu dihadapi dengan muka manis.


Pada Suatu Hari Rabu Umanis Pagi di Pagelaran Keraton Yogyakarta

Jauh dari celah gunung kampung tak tercatat dalam sejarah
aku datang dengan dada dan kaki telanjang. Sendiri,
napak tilas jejak pewaris Senapati; berbekal puisi.
Sebab, tinggal mereka yang bisa merawat sesanti tanah Jawa
gemah ripah loh jinawi, tata-titi-tentrem kertaraharja
menjaganya dengan pupuh dandanggula atau kinanti
bukan dengan kalimat sakti seperti dirancang negeri ini

Sampai di depan pagar besi, disambut bau karat menyengat
aku mematung, gelisah dan bayangan lewat tak terhitung.
Tak ada lagikah pasewakan agung di sini
seperti ketika Sultan menitipkan melati cempaka
kerbau sapi, juga padi dan ketela, menjadi kerabat sejati
sanak kadang di bumi Jawa? Tak ada lagikah bedhaya serimpi,
atau bondhan kendhi digelar untuk menatah
mengasah tutur-langkah
sehingga lentur dan indah ketika menapak kembali esok hari?

“Siapakah yang kau tunggu, Saudara?”
Tiba-tiba ada suara bertanya.
“Raja,” jawabku singkat, tanpa berpaling pada si orang asing
karena yang tampak hanya boneka prajurit di ruang kaca
tiang pendapa, pot-pot bunga, dan sunyi
yang menyeruak hingga alun-alun utara.
“Dia tak ada di sini.” Gumam laki-laki tua memakai surjan
berkain panjang tanpa alas kaki, wajahnya kehitaman
tapi jernih tak berdaki. Mengisyaratkan dirinya
bukan pidak pedarakan
tapi tak ingin dikenal nama, tak mau dipuji

“Marilah…” Ia menggamit pundak, mengajak.
Dan aku, tahu-tahu seperti kerbau dicocok hidung
patuh pada dia punya kehendak, bergandengan
mengungkap ribuan kasunyatan menakjubkan.
“Lihatlah…” Ia menuding benteng keraton
kini bukan lagi tembok beku perisai terhadap meriam peluru
tetapi rumah-rumah abdi magersari beradu bahu
ditambah kicau burung ramah menyambut para tamu.
Ada taman terus menanti, membuka gerbang sepanjang hari
ukiran kayu, gemelan perunggu
batik dan ratusan pernik cantik tetap menunggu
rendah hati sebelum menjadi perlu.
Malam, sepasang beringin alun-alun selatan pun
diajak bermain, tua muda dengan mata terpejam
belajar mencari dunia lain. Warna-warni lampu juga menyala
menghias jeruji sepeda tua, kerdip kerjapnya menyelusup
hingga pelosok Nusantara

“Raja bukan penunggu singgasana, Saudaraku.
Ia ada di mana-mana. Mengalir dalam urat nadi kota desa
sesekali ikut bertani, menempa di besalen pandai besi
menuntun orang-orang buta, menjelma tongkat
kiblat laku lampah yang ditiru anak cucu
dan merasuk ke dalam hatimu, juga hatiku.
Pagelaran juga bukan lagi sebatas pendapa tua ini
tetapi, seluas tanah Jawa yang membentang di hadapanmu.”

Di bawah terik matahari ada pesan santun
membuatku tertegun. Karena kata kalimatnya serupa mantra
memaksa labah-labah terkejut dan bangun dari tidurnya.
Lalu, siapakah dia? Apakah beliau raja
yang telah meletakkan derajatnya
sama tinggi dengan pundak hamba sahaya?

2011


Orang-orang Malioboro 2009

Selembar daun angsana yang gugur musim ketiga
dinihari menyapa (dengan wajah kecewa)
setelah terinjak sepatu bersama semut hitam di bawahnya
yang harus mati sebelum menemukan remah berkah
yang tengah dicari atau dicuri.
“Apa yang kau tunggu di sini, laki-laki tua?”
Tapi, laki-laki beruban itu merasa tak ada siapa-siapa
di bawah sepatunya, karena dirinya hanya mondar-mandir
sambil mengunyah catatan lama

“Di sini pernah ada Rendra.” Gumamnya
setelah di sepanjang tembok kusam
tak ada lagi poster dan iklan teater.
Tak ada lagi denting gitar melantunkan puisi
yang tak pernah dimuat oleh koran-koran besar

Waktu sepotong kenangan melintas
di seberang balkon tua lantai dua
lagi-lagi ia berhenti. “Di situ ada Umbu.”
gumamnya, setelah merasa di sana hanya ada gelap
dan aroma karat. “Benarkah ini Malioboro yang dulu?
Benarkah sekarang jadi makam, jadi lorong hantu
milik iklan siang malam yang terus mengharu-biru?”

Maka, berhari-hari ia pun mencari
orang-orang yang masih menggenggam puisi
berhari-hari mencari sketsa lukisan
seperti disimpan handai taulan
dan dimuliakan pada kamar-kamar pribadi.
Tapi, yang ditemukan hanya suvenir yang sengaja diukir
oleh tangan para fakir membuat cerita terus bergulir.
Tengah hari ketika hidup serasa makin diburu-buru
sekali lagi ia melangkah ke utara, mencari puisi
yang dulu disembunyikan di celah pintu warung kopi
yang sekarang tiada (dan sejarahnya pun tak ada)

Demikianlah. Senantiasa ada orang-orang gila
merasa Malioboro miliknya. Ada orang-orang buta
merasa Malioboro seperti yang diraba.
Ada orang-orang bisu bahagia melukis Malioboro
dengan lidahnya. Ada orang-orang tuli
yang tak pernah mendengar
hiruk-pikuk Malioboro begitu bebas merdeka.
Ada orang-orang lumpuh yang senantiasa mengaduh
ketika harus patuh menuai peluh
beringsut sepanjang Malioboro yang terbuka.

Ada rasa malu ketika tak ada lagi tegur sapa bersahabat
ratusan orang memilih hidup dalam etalase
berkubang dalam harga
dan angka-angka yang senantiasa berkhianat

2009


Perempuan Rumpun Bambu
: Perburuan Dewi Kekayi

Semula hanya kijang yang mengelak diburu
mendadak hilang ditelan rumpun bambu

Ketika mantra Rabu Dasarata menyibaknya
di celah duri seorang putri berserah diri

“Silahkan ke utara, tiga ekor kijang
akan jadi milik Baginda.” Putri ini, Kekayi
seperti meramal matahari ketiga
bakal terbit di istana Ayodyapala

Dasarata percaya, sekaligus menerima
tiga janji dipancangkan sebagai sabda sakti
raja gung binathara yang terpasung sendiri
oleh jerat cinta kijang liar
penghuni hutan belantara

Memoyong perawan rumpun bambu
Sang Prabu tega menghapus kisah sejarah
kerajaan yang dititipkan (hanya dititipkan)
pada seorang menantu
lelaki yang kandas mengemudikan tiga perahu

2007


Pada Sebuah Lebaran Idulfitri

Setiap kali berpaling, masih ada cerita
pahit biji mahoni, teduh mahkota trembesi
gubuk-gubuk bersahaja, saluran irigasi
melukis ciuman teramat jelas di pipi ini

Antara pergi dan tidak pergi
ratusan tikungan kulalui, tetap saja kembali
mencari restu selamat, menghindari cacat cela
biji benih melupakan asal mula
serupa beringin tumbuh di celah tembok-tembok kota

Bunda, aku hanya anak-anak rumpun pisang
malu berdesak tumbuh menjelma jelatang
hanya kicau burung dalam detak jantung
menjagamu teguh meniti setiap pematang

Hari ini, beri aku lututmu, tanganmu, dadamu
karena engkau tak pernah menuliskan kata salah
di ubun-ubunku

2009


Tentang Iman Budhi Santosa
Iman Budhi Santosa lahir di Magetan, 28 Maret 1948. Pendidikan formal di bidang pertanian dan perkebunan. Tahun 1969 bersama Umbu Landu Paranggi cs, mendirikan Persada Studi Klub (PSK), komunitas penyair muda di Malioboro, Yogyakarta. Menulis sastra dan kebudayaan dalam dua bahasa, Indonesia dan Jawa. Kumpulan puisinya: Tiga Bayangan (1970), Dunia Semata Wayang (1996/2004), Matahari-matahari Kecil (2004). Kumpulan cerpen : Kalimantang (2003). Novelnya : Ranjang Tiga Bunga (1975), Barong Kertapati (novel silat, 1976), Perempuan Panggung (2007). Noveletnya: Dorodasih (1994), Dan Pertiwi (1995), Bidadari Bukit Seruni (1997), memenangkan lomba penulisan novelet majalah Femina. Buku lainnya: Kalakanji (esai sastra budaya, 2003), Talipati, Kisah Bunuh Diri di Gunung Kidul (2003), Profesi Wong Cilik, Spiritualisme Pekerja Tradisional di Jawa (1999), Dunia Batin Orang Jawa (2007), Nasihat Hidup Orang Jawa (2010), Nguri-Uri Paribasan Jawi (2010), Laku Prihatin, Investasi Menuju Sukses ala Manusia Jawa (2011), Saripati Ajaran Hidup Dahsyat dari Jagad Wayang (2011), Petuah Bijak Para Leluhur Nusantara Seputar  Perkawinan (2011), Sinau Paribasan Jawa (2011), Candi Jawa Tengah dan DIY (2011), Sinau Budi Pekerti Saka Lakon Ramayana (2012), Spiritualisme Jawa (2012), Ngudud, Cara Orang Jawa Menikmati Hidup (2012). Alamat sanggar: Jl. Dipokusuman MG I/167 Yogyakarta. Email: imanbudhisantosa@yahoo.com

Catatan Lain
Ada sepotong kertas kecil terselip di dalam buku, yang tiba-tiba menyeruak begitu saya buka halaman pertama, setelah menyobek plastik pembungkus buku. Sesuatu yang baru pertama kali saya jumpai. Sesobek kertas kecil itu bertulisan begini: Salam budaya, Saya bahagia Anda telah mengapresiasi dan mendokumentasi antologi puisi “Ziarah Tanah Jawa” ini. Jika berkenan, silahkan mengirim nomor ponsel Anda kepada saya sebagai jembatan menyambung silaturahmi selanjutnya. Terimakasih. Iman Budhi Santosa (081328883027). 
            Dalam kata pengantar dikatakan bahwa kumpulan puisi Ziarah Tanah Jawa sengaja dipersembahkan kepada khayak, bukan semata-mata untuk memenuhi tuntutan semangat bersastra belaka. Melainkan juga sebagai upaya memuisikan nilai-nilai filosofi orang Jawa yang sempat mengejawantah dalam gerak kehidupan sehari-hari di kalangan rakyat jelata. Termasuk di antaranya, apresiasi mereka terhadap wayang yang demikian mbalung-sungsum selama ini (hlm.v).

            Kata-kata yang sulit dalam puisi dicetak miring dan penjelasannya dikumpulkan dalam Glosari di bagian belakang buku. Memakan 4 halaman tersendiri (hlm 121-124). Jadi tidak ditaroh di bawah puisi seperti yang terlihat di blog ini. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar