Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Selasa, 04 Agustus 2015

BULAN SELESMA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Bulan Selesma, Sajak-sajak Sepanjang Jalan
Penulis : N. Syamsuddin Ch. Haesy
Cetakan : I, Agustus 2004
Penerbit : PT Bina Rena Pariwara, Jakarta dan Pusat Studi Kebangsaan Nusa Sentra.
Tebal : vi + 118 halaman (45 puisi)
ISBN : 979-9056-86-1
Penyunting : Muhammad Haekal
Desain sampul dan grafis : Muhammad Khairil
Pra cetak : Sukmara, Jaenuddin

Beberapa pilihan puisi N. Syamsuddin Ch. Haesy dalam Bulan Selesma

Surau Sutan Muda
(kepada Yos Sutan Iskandar)

Sutan muda pulang kampung dendangkan lagu
kebimbangan: “Luruihlah jalan Payakumbuah,
Babelok jalan ka Biaro, dima lah hati in dak ka
rusuah, awak ta kicuah. Oi oi ayam den lapeh.”
Di sudut kota ini sutan bangun surau para sutan
muda.
Surau mungil elok rupa. Ah... kutangkap
semangatmu:
Jeans belel, kaos oblong, songko hitam,
selendang sarung.
Di sini kita mengulang kaji jalan republik.
Di sini kita latih kembali jurus-jurus kumango
Di sini kita olah daya olah fikir
‘tuk dibawa lusa hari
ke lepau-lepau
sebelum tiba waktu tiba di balai
Kuangkat tanganku tinggi-tinggi
Kutebar senyum penuh rasa hormat
Sutan muda pulang kampung
Bangkitkan lagi batang tarandam
Biarkan anak-anak muda itu hidupkan lagi
surau.
Inilah pusat kearifan
Tempat ninik mamak anak kemenakan
berbincang tentang arah jalan republik.
Surau sutan muda surau kerinduan
Di sini siapa boleh mengaji
Hingga adat kembali bersendi sara’ biar sara’
tetap bersendi kitabullah.
Semestinyalah ninik mamak berbagi pengalaman
memilih jalan lurus ke Payakumbuh.
Semestinyalah anak kemenakan menyulam
syariat mengkaji hakikat.
Berpijak di bumi memadu dzikir dan fikir. Tak
perlu menggantang asap.
Biar tak bimbang hati. Biar tak gundah sukma.
Biar tak lepas ayam di tangan.

(Payakumbuh, 2003)



Kangen

Mari nyanyikan lagi tembang
da I dang do
Seperti dulu ibu nina bobokan kita
Di pelukan lembah Takeungon.
Gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan
Ikuti irama bocah di meunasah-meunasah
Dendangkan hifzil kariim
Sebelum tiba waktu membaca hikayat Perang Sabil
Di meunasah tua keropos
di alaf berganti
Dusun sunyi Garot dalam pelukan Pidie yang senyap
Ayo bersihkan sisa bercak darah di lusuh kain
batik ibumu
Sudah terlalu lama kita tak duduk minum kopi
Sambil bercerita tentang
masa kanak-kanak
Berlarian sepanjang pantai
tepian selat Malaka
Di bekas gardu pabean.

Gumamkan lagi desah swara hati
“Mate aneuk meupat jeurat.
Mate adeut tak pamita”
Mari bergegas ke Lam No kawan. Bersuluk sunyi
di sisi makam
Syeikh Salahuddien. Padri arief jernih wajahnya
Lupakan pasar dan keramaian perempuan cantik
bermata biru. Lupakan berapa mayam emas
mesti ada dalam genggaman.
Inong menari dalam sunyi
Simpan dulu rencong warisan Abu.
Panjangkan dzikirmu dalam kembara fikir. Tak
rindu berbalas kangen
K’tika sunyi menyulam kenangan di sisa kain
pengikat kepala
Aku kangen…

(Banda Aceh, 1 Januari 2004, 01.00)


Adzan itu
(kepada almarhum AH)

Masih kudengar suara adzan
dalam irama ringkih itu.
Sujudku hening.
Sajadah masjid Raya Baiturrahmaan
belum berganti harumnya.
Wewangian syuhada jaman silam.
Di sudut masjid ini kau ajarkan daku menyelami
makna hadits Qudsy, sambil berbincang tentang
ulama-ulama pecinta negeri bersimbah darah
membela tano Aceh
di penghujung musim penghujan.
Masih kudengar suara adzan
dalam irama ringkih itu.
Jelang pergantian waktu di tahun penuh makna.
Sudah terlalu lama kita tak lagi duduk minum
kopi menghabiskan malam di bawah rembulan.
Berbincang tentang dentang Cakra Doniya
bangunkan kesadaran. Tinggalkan mimpi
panjang penuh dendam dan sakit hati. Lebih dari
enam puluh purnama daku kehilangan engkau.
Sekarang, di sela adzan yang masih tetap ringkih.
Di sela tawa tertahan di antara mata penuh
curiga. Ujung pena hanya mengukir aksara berisi
gumaman tentang para ulee balang jaman baru
memutar angka-angka yang bergerak cepat
penuh misteri. Seperti pusingan baling-baling
helikopter dari Sovyet.
Di pinggiran makammu, cuma gumam do’a yang
menggetarkan bibir. Tak lagi puisi-puisi tentang
cinta. Di ruang keluarga tempat kita bersila
membicarakan masa depan, yang kudapat hanya
sunyi. Tak ada lagi kisah gerak irama tarian
Rumy. Aku pun lupa bagaimana mengucapkan
do’a Rabiah yang pernah bunda ajarkan dulu. Di
halaman pendopo tempat kita berbincang sambil
berjalan selepas shubuh,
tak kucium lagi aroma wewangian keikhlasan
mengabdi bagi tanah negeri tercinta.
Apa lagi yang dibincangkan orang-orang di sini?
Adzan shubuh itu terdengar lagi.
Dari masjid Raya yang sama.
Iramanya masih seperti irama adzan yang dulu.
Adzan ringkih penuh misteri.
Adzan sunyi.
Adzan pengharapan
dengan seruan yang sama.

(Banda Aceh, 1 Januari ’04)


Surat Malam untuk Ibunda
(Aku terkapar di ruang apartemen sunyi. Tubuhku menggigil.
Kurindukan belai tanganmu: Nen Hasienna, ibu yang melahirkanku)

Ibu, telah kubaca lagi al Fathihah berulang-
ulang, tapi masih saja aku si buta nan tuli.
Segala pinta telah Tuhan berikan,
namun selalu saja terkhianati.
Jalan lurus telah Tuhan berikan
tapi selalu saja kuarahkan kemudi sesuka hati,
hingga zigzag jalan kendara hidup berkelok-
kelok. Sering aku terjungkal di selokan tepian
shiratal mustaqiim.

Ibu, telah kucoba hayati bagaimana berfikir
namun selalu saja dzikirku terhalang-halang,
pongah melambung berjalan limbung, padahal
cuma dari noktah tak bernilai aku dicipta Allah.

Ibu, telah berkali-kali kubaca segala yang mesti
kubaca, lagi-lagi kebodohan dan kegelapan jua
menjadi selimut malamku,
busana kehidupanku sepanjang waktu.
Sering gelap kurasa di terang jalan hidupku.
Tergagap-gagap tertatih-tatih kueja kebenaran.
Aku lahap di hadap lapar dunia.
Aku dahaga di hadap haus benda.
Aku masih si buta terus meraba.
Aku masih si bisu tak menyebal dari suara-suara
kebenaran.
Aku masih si dungu tak pandai membaca tanda
Tak pandai membaca isyarat swara tersembunyi.
Aku masih si pandir melingkar mondar mandir
tersesat di bawah matahari
Lidahku kelu membaca firman-firmanNya
Ibu, masih kukenakan sarung Mandar
pemberianmu. Selendang hitam sekeping
setanggi. Di jarak tanpa batas dunia penuh
warna, dengarkan harapku: tolong sekali lagi
Ajarkan aku kenali diri,
sebelum tiba hidupku di bibir maut.

(Paris, 1992)


Mata itu

Mata itu mata tajam. Jendela luka
Mata itu mata tajam
Pintu keberanian ‘tuk merdeka
Mata itu mata tajam. Pesona keyakinan
Tegar menantang gelombang
Mata itu mata tajam. Penyimpan kasih ibu
Mata itu mata tajam. Lensa kecerdasan
Melawan kelaliman
Mata itu mata tajam
Penyimpan harap dalam sunyi
Penyimpan keluh dalam peluh
Penyimpan cemas dalam remas
Penyimpan asa dalam rasa
Penyimpan pesona dalam persona
Maka lumatlah  segala lelah
Meski derita tak kunjung sudah
Tak putus asa bersarang di jiwa

Bangunlah sukma biar terjaga
Bangkitlah gairah biar terarah
Terbanglah ke langit asamu
Jangan biarkan burung unta menelikung kaki
Jangan biarkan rantai kecemasan
membelenggu
Terbanglah terbang sejauh sayap
mampu mengepak
Terbanglah terbang bebas
ke luas cakrawala tanpa batas
Mata itu mata tajam
Mata elang. Mata keberanian
Jangan biarkan redup
Walau lelah. Jangan biarkan kalah.

(Surabaya, 2003)


Malin Kundang

Malin kundang silakan pulang
Negeri ini memanggil-manggil.

Malin datang. Malin datang. Tak di pantai tak
ombak tak berkapal. Udara cerah cakrawala
terbentang. Pesawat supersonic membawa Malin
pulang.

“Mengapa bunda terkapar lesu.
Sakit lama tak juga hilang.”
Malin Kundang bawa harapan.
Investasi segala rupa.
Malin Kundang membawa sesal.
Terlambat kabar tiba di hati.
Bunda mengelus kepala Malin.
Putra tersayang elok budi elok rupa.

Siapa kata Malin durhaka?
Malin kaya karena bekerja
Siapa kata Malin durhaka?
Tak Malin patung membatu
Siapa kata Malin durhaka
Membela bunda di mana saja
Siapa kata Malin durhaka
Bawa berita eloknya asa

Di lepau-lepau Malin bersuara
Bunda siapa merutuk kita?
Tak Malin anak durhaka
Elok budi elok rupa
Tengoklah Malin datang dari udara
Di tanah rantau Malin kuasa
Siapa jual saham ibunda?

Malin datang Malin datang
Bawa kabar bukan berita
Di kota-kota di negeri entah
Pahlawan negeri menjadi batu
Di kota-kota di negeri entah
Pahlawan bangsa jadi nelangsa

Oiii sansainya negeri beta

Malin datang Malin datang
Malin dipuja Malin dipuji
Bundo Kandung tanah negeriku
Ninik Mamak penunjuk arah
Anak kemenakan mendulang asa

Siapa kata Malin durhaka
Tengok tengoklah siapa sungguh pendurhaka
Menjual harta ibunda
Harga murah di bawah bandrol
Aset negara tiada harga

Siapa kata Malin durhaka
Tak mencuri uang negara
Siapa kata Malin durhaka
Tak pernah rampas tanah petani
Siapa kata Malin durhaka
Tak bakar hutan tak jual garam
Siapa kata Malin durhaka
Tak timbun pupuk tak import beras
Tak juga seludupkan gula
Siapa kata Malin durhaka
Tak bikin hati bunda terluka

Pulanglah Malin Kundang pulanglah
Tanah negerimu memanggil-manggil.

Malin datang Malin datang
Tak gelimang harta di tangan
Malin datang Malin datang
Malin datang Malin datang
Bunda senang bunda pun riang
Selepas pagi berganti siang
Biarkan derita segera pergi

(Padang, 2003)


Carru’

Karena bangsaku carru’
segalanya dijual murah
Harga diri terjual tanpa bandrol
Siapa lagi mau jual kehormatannya?

Puang,
Apalagi yang mesti dijual hari ini?

Udara tergadai hutan terjual
laut kita sebentar lagi
Lihat lihat ke pantai itu
Para nelayan pulang membawa kemiskinan
Seperti petani di gunung-gunung dan di lembah-
lembah
Satu-satunya hasil kerja keras hanya keluh
Di penghujung penantian selepas berbulan-
bulan mengolah sawah
yang dipanen hanya derita

Puang,
Apalagi yang mesti dijual hari ini?
Kehormatan, sarung dan badik telah lama lepas
dari tangan
Cadik lak lagi menyisakan kebanggaan
Di pasar-pasar gelap
mereka turunkan barang selundupan
Di pasar-pasar resmi
mereka timbun kita dengan berkoli-koli
persoalan

Puang,
Apalagi yang mesti dijual hari ini?
Di tengah bangsa yang carru’
Siapa peduli pada kebesaran dengan cara yang
benar!

Puang,
Apalagi yang mesti dijual hari ini?
(Angin pantai berbisik perlahan: “Suaramu… ya
suaramu. Mereka sangat perlu suaramu.”)

(Makassar, 2004)


Au Revoir

Tak lelah kita telusuri jalan perbukitan di bawah
dekap dingin ini
Salju turun menjelang tiba fajar.
Malam gelap baru saja terlintasi tanpa cahaya. Baru
saja kita berguru
pada bintang-bintang.
Di samodera rasa kita ukir rangkaian tanda tanya
Setiap kali biduk dilepas sauhnya dan layar biduk
terpancangkan.
“Koallea talangga notoalia”
Berpantang kupulang meski salju membekukan
seluruh kehidupanku.
Di sini aku memang bukan orang bernama.
Jauh dari perbincangan orang-orang tergelak di
depan perapian.
Irama hidupku irama air mengalir
Bukan musik dimainkan dengan partitur
dipandu conductor lentur tubuhnya
Tak kan kurentang cinta
Biar jauh ngembara ke alam cita
Musikku adalah dinamika menantang realita
Yang kupertaruhkan hanyalah asa
Di simpang keberadaan dan ketiadaan.
Aku orang sendiri
Salju mencair terbakar nyala api hidupku
Seperti dinihari tadi ketika badai kembali datang
dan jendela kamar kita dikepung kaki hujan
keras menghantam
Ukuran hidupku sangatlah sederhana
Sekedar senyum sunggingkan bibir
Cerminkan keikhlasan suka
Nerima realita kehidupan
Matahari belum akan lagi tiba
Masih banyak waktu dihitung bilangannya
Maka janganlah terpedaya
bau anggur aneka rupa
Au revoir..

(Bordeux, 1992)


Kerudung
(Kepada SHR)

Kerudungmu berkebaran tertiup angin
perubahan musim
Kemarau tiba
Kerudungmu nyanyikan irama harmoni
Pada kerudungmu benang-benang kemanusiaan
terajut jadi hamparan asa
Simaklah jari jemari peradaban
Menyimpul benang-benang hati
Sukma nan terjaga
Kau sulam dengan ketulusan hati
Kau lajur dengan keiklasan
Kerudungmu berkebaran tertiup angin
perubahan musim
Kemarau tiba
Berkas sinar mentari nyelusup di sela simpul
benang kasih sayang yang terjalin jadi
kerudungmu
Pada setiap simpul jalinan benang sukmanya,
kubaca puisi-puisimu tentang tanah air
Tentang bangsa
Tentang rakyat
Tanpa mesti disuarakan dalam pidato-pidato
gegap gempita
Kenakan terus kerudung itu
jangan pernah lepaskan meski hanya sejenak
meski hanya sesaat
Biarkan kerudung itu melindungi indah
rambutmu lindungi kecerdasanmu lindungi
cerlang fikirmu padu dalam dzikir tak henti
Maka alirkan di kerudung indahmu
Kesucian makna firman-firman Tuhanmu.

(Kuala Lumpur, 1998)


Pajaga Makkunrai

Kita masih seperti dulu, ki
Masih seperti dulu
Di gedung tua ini kita minum kopi sambil
menulis cerita seperti dulu
Tak ingat lagi lebih dua puluh tahun kita tak sua

Gedung-gedung tua
Gudang-gudang tua
Masih ramah menyambut kita
Kenangan demi kenangan
muncrat membuncah-buncah

Dunia kita memang pulang pergi
antara hari kemarin dan kini
Di Somba Opu kita masih bercerita tentang
orang-orang tua yang selalu tertawa ketika kita
sudah menekuk wajah kerena lelah

Kapan lagi kita tarikan Pajaga Makkunrai ‘tuk
menyambut diri sendiri?
Seperti dulu ditarikan ‘tuk sambut Bung Karno?
Tamu agung siapa lagi
yang mesti disambut kini
Bukankah Gilireng
dan para tamu agung adalah kita?

Biarkan gedung-gedung tua
dan gudang-gudang tua diam membisu, ki
Kita harus berubah
Kitalah kini penguasa negeri
Penentu siapa patut duduk di balairung
Penentu siapa patut duduk di istana
Ayo kita tarikan Pajaga Makkunrai
untuk diri sendiri, ki
Lupakan sirene meraung
melintasi jalan-jalan utama Makkasar

Cukuplah kebesaran Gowa
terpancar di jiwa kita merdeka
Cukuplah kejayaan Mandar
tercermin di kecendekiaan
yang terangi cakrawala
Cukuplah kebesaran La Galigo
nyeruak di seluruh batin kita terjaga
Cukuplah segala kemasyhuran masa lampau
terpancar di keberanian kita melawan para
penyamun dan perompak negara!

Kita harus berubah, ki
Tak boleh lagi termenung melukis bayangan
rembulan!!!

(Makassar, 2003)


Ketiak Ular

Telah kita habiskan waktu mencari ketiak ular.
Padahal kita tahu tak seekor ular pun berketiak.
Saksikan ayo saksikan bagaimana mereka sibuk
menarik ular leher mencari ketiak ular.
Mempersoalkan titik dan koma, mempersoalkan
koma di depan titik di belakang. Coba simak
dengan kecerdasanmu bagaimana mereka
menyimpan kecerdasan di balik celana dalamnya
masing-masing. Aku lelah sobat. Aku lelah. tak
kutemukan lagi cara membangunkan kesadaran,
memaknakan setiap kata menjadi rencana.
Membuang semua daftar keinginan. Kau benar
sobat kau benar. Tak kutemukan cara berbagi
Kecerdasan. Ah…kata-katamu sungguh
menyegarkan: “Karena kita katak, kita perlu
mencari ketiak ular, setiap katak wajib melatih
kepekaan, mencermati gerak para pemangsa
kekuasaan.”

(Cisarua, 2003)


Bulan Selesma

Bulan batuk di atas cakrawala negeriku
Do’a-do’a pembersih jagat
Terkontaminasi do’a-do’a politik
Yang digelar orang berulang-ulang
Bulan selesma
Bulan batuk di atas cakrawala negeriku
Terserang alergi udara panas tak tentu
Terkontaminasi timbal berlebih
Siapa menebar racun di udara bebas jamrud
khatulistiwa?
Di mana para ulama’ bersih hati bersih jiwa
sembunyi?
Mengapa do’a-do’a tulus ikhlas bersulam cinta
tanpa rekayasa tertutup do’a-do’a politik?
Ke mana pergi dzikir penuh irama keikhlasan
Bulan batuk di atas cakrawala negeriku
Bulan selesma
Cakrawala bising. Angin berpusing
Menerbangkan segala kepalsuan
Mengapa terlalu panas dan kering tanah airku?
Di mana para ulama bening sukma jernih hati
sembunyi?
Di mana cendekia pencerah umat mengurung
diri?
Ooooiii… di mana kalian sembunyi
Segera kumandangkan do’a dan dzikirmu
Do’a tulus dalam sujud penuh tawaddu’
Dzikir bening dari kumandang kebersihan hati
Wirid sukma dari kejernihan penuh pencerahan
Bulan batuk di atas cakrawala negeriku
Angkasa raya menanti do’a-do’a suci dari
kebeningan sukma. Gemintang berseru:
“Kembalilah ke cakrawala
Ke bukit-bukit pencerahan
Jangan biarkan serban dan kacamatamu ikut
tercebur lumpur”
Segeralah melesat ke cakrawala
Rasakan kepengapan

(Jakarta, 2003)


Ki Sunda di mana Alamatmu Sekarang

Kucari-cari berulangkali kucari tak kutemukan
alamat rumahmu, Ki Sunda?
Di sela harmoni kecapi suling gesekan rebab
alirkan tembang jiwa peluruh gelisah resah
batinku kutanya orang di mana alamatmu?
Di pengap Bandung heurin ku tangtung tak
kutemukan alamatmu
Tonggak jembatan layang pasopati diam
membisu
Tak kutemukan alamatmu di seragam para
birokrat kantor gubernur tak juga kutemukan
alamatmu di pin congkrang kujang
papasangan di dada para wali rakyat di gedung
parlemen
Di kantor walikota tak seorangpun tahu di mana
alamatmu? Lenyap bersama sorban yang palid di
keruh Cikapundung
Di kampus-kampus, mall dan terminal bis tak
seorang pun beritahu di mana alamatmu. Di
Cihampelas orang-orang menggelengkan kepala.
Di bukit dago orang-orang sibuk membabat
hutan lindung hutan perdikan di jaman
Padjadjaran
Di seluruh pelosok bekas tanah Pasundan
tak kutemukan kamu
tak kutahu di mana alamatmu?
Di mana alamatmu sekarang Ki Sunda?
Adakah kau sembunyi di balik semak peradaban
Sunda yang terkurung peradaban entah?
Keluarlah dari persembunyianmu
Beri kabar daku di mana alamatmu?
(di kaos-kaos oblong mahasiswa, di seragam para
birokrat, di balik warna jas politisi
di balik serban kiai, di balik jubah pastor dan
pendeta yang kulihat entah siapa)
?????
???

(Bandung, 2002)


Ihwal Perempuan

Siapakah perempuan? Daripadanya kita
memasuki misteri tanpa harus melewati bingkai-
bingkai nyata yang kita tempatkan di seluruh
beranda dan kamar tidur rumah peradaban kita?
Pernahkan kita berfikir tentang bagaimana
menempatkan mereka setara dalam irama
kehidupan kita?

Perempuan adalah keperkasaan yang sengaja
disembunyikan Tuhan. Keperkasaannya adalah
magma terus membara dan sekali-sekali
membuncahkan lahar, batu gunung dan
kesuburan semesta
Tanpa mereka kita kan sulit mencari apa makna
hakiki atas setiap kata semangat dan keberanian

Perempuan adalah akal budi penuh pekerti yang
tak sengaja dimasukkan ke kotak-kotak misteri.
Kita merampas keadilan haknya dan
menyudutkan mereka di lorong ketakberdayaan
yang selalu dikunjungi air mata dan kesedihan.
Mereka dipacu memanggul beban perasaan
setiap manusia. Padahal pada mereka kita
peroleh makna atas kata keadilan dan kearifan.

Perempuan adalah gelombang ombak samodera
memacu biduk kehidupan menantang siapa saja
menguji keberanian menghadapi dan melawan
badai kehidupan merekalah penyelamat palka
berdiri tegak di buritan ketika badai datang
hendak menghantam biduk hingga porak
poranda.

Siapakah perempuan. Sudah seberapa jauh kita
mengenalinya? Siapakah perempuan? Seperti
apakah gerangan mereka ditatap pandang nanar
melihat dunia berubah setiap saat. Menyaksi
musim terus berganti tak pernah henti.

Siapakah perempuan. Bagaimana kita mesti
Menghargainya?

Perempuan adalah angin menderu.
Mengantarkan kita menuju pantai zaman.
Dalam pelukannya kita tenggelam menjadi
bocah sepanjang sejarah. Merekalah hulu dan
muara pelayaran jauh di kehidupan tempat cinta
ditemukan dan difahami.
Tempat kasih sayang diselami. Dalam
kelembutan tutur sapa mereka kita dapatkan
berjuta makna yang sering sengaja tidak kita
fikirkan.

Siapakah perempuan? Dalam belaian lembut
jemarinya kita lena menghitung masa berlalu
sambil nerawang masa-masa kan tiba. Kepada
merekalah kita datang setiap kali kalah hadapi
tantangan dan pergulatan.

Perempuan senantiasa menyimpan kegaiban,
karena Tuhan sengaja ciptakan mereka tuk
alirkan segala misteri
yang tak pernah bisa kita jangkau di luar batas-
batas empirisma kita, meski hanya sekejap.
Perempuan adalah berjuta bunga sebarkan
wewangian Tuhan di dunia nyata. Dari mereka
segala keharuman nama disandangkan. Kepada
mereka kita datang mencari keikhlasan.
Merekalah yang diciptakan dan dipilih Tuhan
menjadi ibu bagi setiap insan. Tempat DIA
mengalirkan kasih-sayangNya.

Perempuan adalah bianglala pemberi nuansa bagi
kemegahan kaki langit, tempat Tuhan alirkan
keindahanNya. Mereka jualah fatamorgana
pemantul keperkasaan cahaya mentari di hampar
lautan dan sahara, tempat kita diuji mengeja
kembali makna harapan dan impian. Pada
merekalah kita selalu datang mencari segala
makna dari setiap ketidak-tahuan kita.

Maka, muliakanlah mereka. Pada mereka
kemuliaan diletakkan seperti apa pun sosoknya.
Hormatilah mereka, karena pada merekalah
kehormatan dipertaruhkan.
Sayangilah mereka, karena pada merekalah
sungai kasih sayang mengalirkan cinta tanpa
henti dari zaman ke zaman.
Cintailah mereka karena pada merekalah Tuhan
menitipkan kedalaman cinta dan kehalusan rasa.

Dampingilah mereka karena Tuhan menciptakan
dan memilih mereka sebagai mitra setara
nelusuri jalan kehidupan.
Pada mereka kita dapatkan makna kata bahagia
dan derita penguat fikir dalam berbagi apa saja
yang diberikan Tuhan kepada kita.
Merekalah cahaya yang berkasnya menukik
tajam ke seluruh rongga sukma terjaga.
Memantul dalam Kristal mutiara kalbu.
Pantulannya menyadarkan kita ‘tuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu. Jangan sisihkan
mereka dari kehidupan kita. Berikan daya agar
mereka selalu kukuh kuat berada pada tempat
yang seharusnya mereka ada. Tempatkan mereka
di ruang batin bening sukma agar selalu mampu
bercermin menemukan kedalaman makna
keberadaannya. Agar mereka mampu tunjukkan
kita jawaban: siapakah kita sesungguhnya.

Perempuan adalah kelambu kegaiban tirai
peradaban tempat kita selalu ditantang
menjawab tanya: “Di manakah batas ketiadaan
dan keberadaan kita?”

Perempuan adalah soko sangga tempat
kemuliaan dan harmoni kehidupan tegak berdiri.
Tempat kemuliaan manusia diberi makna.

Karenanya,
Hanya kepada perempuan
Tuhan menitipkan Surga.

(Jakarta, 1994-2004)


Puisi Televisi

Tertunduk aku ketika juntai toga dialihkan.
Senyum lebar jabat tangan hangat bagai simponi
di siang hari.
Kuingat kamu. perempuan jelita pemimpin bijak
menyimpan kearifan di balik kerudung dalam
warna serasi.
Televisi harus ditempatkan sebagai tabung cahaya
pencerahan abadi. Tidak untuk menebar ghibah,
buhtan dan fithnah. Tidak untuk ciptakan
berhala-berhala baru. Tidak memindahkan bara
api neraka ke taman surga.
Kukenang dulu, bagaimana kau perintahkan aku
hidupkan puisi di sela siaran iklan, dangdut dan
film india.
Diam-diam kugumamkan firman Illahy:
“Allaahu nuurussamawaati wal ardhi matsalu
nuurihi kamiskaahi fiiha mishbah. Almishbaahu
fii dzu jaa jah. Adz dzu jaa jah ka’annahaa
kawkabun dzuriyyu yaw qodu min syajaratim
mubarakoh.”*)
Termenung aku mengenang kamu
Kuingat ketika di simpang malam ketika hujan
turun badai datang di malam ulang tahun, di
halaman pengabdian.
Kuingat ketika kau letakkan batu pertama
pembangunan masjid di sudut halaman pusat
pencerahan itu.
Di kamar apartemen kupandangi Menara Kuala
Lumpur.
Di dinding dalam bingkai berkaca.
Kutengok hiasan dinding
Selembar Giro Bilyet kulihat dan tak kan pernah
kuuangkan hingga kelak maut menjemput.
Selembar harapan yang kuterima lewat tangan
waktu. Tersenyum aku melihat tanda-tangan
tertera di situ.
Demi kuingat engkau
kuterima saja tanda penghargaan berbilang
angka-angka itu.
Sekarang di sini kukenang kearifanmu.
Kelak bila kupulang esok
Kan kuberi gagasan-gagasan baru
Visi qur’ani bagi siaran televisi di negeri sendiri.
Televisi tak boleh dipisahkan dari puisi.
Di situ pencerahan selalu diulang asah.
Pencerahan ditebar-sebarkan bagi ummat
manusia.
Pencerahan seperti yang terungkap dalam ragam
pusaka indah para leluhur.
Puisi dan televisi tak boleh dipisahkan setiap kita
hendak mencari makna cahaya.
Cahaya hati
Nuur illahy

(Kuala Lumpur, 2000)
*) Allah pemberi cahaya bagi langit dan bumi. Cahaya Allah laksana sebuah lubang tak tembus. Di dalamnya ada dian besar. Dian itu di dalam kaca. Kaca itu seolah bintang laksana mutiara, yang dinyalakan dengan minyak, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya.


Tentang N. Syamsuddin Ch. Haesy
Noor Syamsuddin Chatib Haesy, 48 tahun (nb. buku terbit: 2004), mulai mempublikasikan puisi pada dekade 70-80 an. Kumpulan puisinya Soneta Rumah Bocor (1976). Saat mengelola manajemen Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), pernah mendesain program sinepoems (sinetron puisi) bertajuk Suara dari Pedestrian, sempat pula bersama sejumlah karyawan TPI, menerbitkan antologi puisi Gumamam dari Balik Layar Televisi (1993). Bersama H. Setia Hidayat, menulis Sangkakala Padjadjaran, sebuah buku yang terkait dengan rumpaka (puisi Sunda) Cianjuran. Beberapa puisinyanya juga digubah menjadi lagu al. oleh Titik Hamzah (Hanya Ruang Kosong) dan Evi Tamala (Seribu Purnama).


Catatan Lain
Penyair menulis catatan pembuka yang dijuduli: Puisi, Tanda Demokrasi Berbudaya. Di satu paragraf ada menulis seperti ini: “ Yang terekam dalam buku ini sebagian memang berkait dengan peristiwa politik, karena yang terimpresi memang peristiwa politik. Beberapa di antaranya lebih merupakan peristiwa pribadi. Direkam begitu saja melalui corat-coret sepanjang perjalanan. Kadang di ruang tunggu bandara, di dalam pesawat, lobby dan kamar hotel, kafe, ruang diskusi, gedung pertemuan. Juga dalam perjalanan darat di dalam mobil.//Untuk itulah agaknya, buku ini lebih mungkin dinikmati dalam segala suanana yang bebas dan demokratis…”
            Untuk halaman persembahan, penyair menuliskan tidak kurang dari 27 nama, yang disebutnya bocah-bocah masa depan sebagai puisi peradaban masa depan. Begitu. J  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar