Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 01 November 2015

GUNUNG BIRU DI ATAS DUSUNKU




Data buku kumpulan puisi

Judul: Gunung Biru di Atas Dusunku
Penulis: Lastri Fardani Sukarton
Cetakan: 3, 1992 (1: 1988, 2: 1992)
Penerbit: Balai Pustaka
Percetakan: Balai Pustaka
BP No. 3576
Tebal: 44 halaman (36 puisi)
Gambar kulit dan hiasan vignet: Motinggo Boesye
Pengantar: Balai Pustaka

Beberapa pilihan puisi karya Lastri Fardani Sukarton dalam Gunung Biru di Atas Dusunku

hujan

paling menyenangkan
di antara perjalanan yang kukenang
bila musim hujan datang
membakar jagung di ladang
makan sambil bersila kaki
di gubuk yang sepi
memandang sawah dan gemercik kali
ah, gunung dan burung pun nampak tersenyum
sekalipun mendung
akankah kenikmatan ini
dirasakan juga oleh insan di kota



di langgar

bila magrib tiba
bedugnya adalah pertanda
aku segera mengambil mukena
berlari ke langgar
belajar mengaji tanpa membayar

bocah-bocah semuanya harus bekerja
menimba air untuk wudhu
menggelar tikar dan menata Qur’an
menyikat lantai sumur yang berlumut
tak peduli yang kaya, yang tak punya
bahagia
bila keadilan telah tercipta


kereta api

setiap subuh
peluit itu melengking
tanda kereta apiku tiba
aku harus cepat berangkat

menapaki embun di rumput
bila mau pergi ke kota
berbelanja
simbok duduk memutar susurnya
aku di dekat jendela
menyebar kertas-kertas kecil
meludah
dan geli aku
bila ludah dan kertas
menempel di rambut penumpang
simbok marah
ditariknya ekor kudaku
pedas
alangkah pedasnya rambutku
tetapi aku tak berani melawan
simbok bajunya lusuh dan tak banyak uang
tetapi ia tak menyukai kejahatan


kunang-kunang

kau menemaniku
ketika mati obor bambuku
pulang mengaji
di rumah pak makruf
sesungguhnya aku takut
melewati sawah bagi gadis sekecil aku
ada kuburan tua di ujung desa
ada suara burung hantu di atas kepalaku
tetapi, bukankah Gusti Allah menyayangiku
kunang berpijarlah
terangi pematang ini
nampakkan ularnya
yang ingin memagutku
temanilah bintang-gemintang
mengantarku pulang


pasar

aku tidak punya tempat bermain
setiap pulang sekolah
membantu simbok di pasar
menakar beras
membungkus kacang tanah
menghitung uang-uang berdebu yang kami dapat hari itu
sesudah dagangan itu habis
aku boleh beli makanan yang kusuka
tiwul, cenil dan nasi pecel
aku pun boleh bermain kain perca
yang kudapat dari kebaikan para penjahit di sana
aku membuat boneka
aku membuat baju-bajunya
apalagi yang tak membahagiakan diriku
makan dan bermain
sambil membantu orang-tua
aku pulang menggendong beras dan kacang
simbok berjalan di belakangku membawa uang
melewati kali
melewati kampung
melewati orang-orang tani yang beranai-anai
kami ramah berteguran
walau tak ada uang
walau tak saling kenalan


pulang sekolah

pulang sekolah kulewati kali-kali
dan pematang sawah, di kiri-kanan kutemukan ikan
kuambil banyak-banyak wader dan udang
kugenggam dengan jemariku yang kecil
ai, satu-dua meloncak kembali ke induknya
tak mau kubawa pulang

simbok, simbok
hari ini kita makan enak
simbok memanaskan minyak di wajan
sedapnya, gurihnya
melarat kadang amat nikmat
dari pada mengantongi segebung uang
tetapi nurani kita tiada tenteram


ayamku

aku menetaskannya
dari bentuk telur
kusuruh induknya
mengerami
dan tumbuh lucu, berbulu gundul
daging dan tulangnya menonjol
sering kubelai
lalu membesar dan akan bertelur pula
seorang tamu besar datang
bapak memerintahkan menyuguhi opor ayam
aku menitikkan airmata
ketika parji memotong lehernya
dan mencelupkannya di air panas
kucabut anak bulunya satu-satu
sembari tersedu
simbok pun tahu

berhentilah bersedih anakku
untuk menyenangkan orang
kita memang perlu berkorban
kuelap airmataku
dengan ujung kutang perempuan itu


kematian

memang sudah kusadari
hari itu akan datang
simbok meninggalkanku
ketika napasnya tak bersengal lagi
memang masih ada bapak
tetapi dia terlalu galak
pantatku sampai kebal
oleh sengatan rotan
sekali pipiku sampai lebam biru
karena terlambat mencari cacing bagi bebek-bebekku
aku dihukum
simbok meratapiku
anakku, wong ayu
tak pernah kubiarkan seekor nyamuk menghisap darahmu
sekarang wajahmu sendu
sini kuusapkan rambutku
kupoles dengan ludahku
esok pagi
wajahmu akan cantik kembali
ah, semua yang datang melayat
mengatakan aku gadis cantik dan baik
tapi apa gunanya?
aku tetap menangis
ketika simbok diusung ke pemakaman
aku ingin turut terbenam di liangnya


andong tua

andong tua merayap jalannya
sarat penumpangnya
oleh simbok-simbok tua yang lelah
kuda, kusir dan penumpang
sama-sama tak pernah kenyang
buatku
bau tlepongnya yang kecut*)
adalah ciri khas kotaku
di mana aku mengukuri rindu

*)  tlepong = tahi kuda, kerbau atau sapi


gunung biru di atas dusunku

tolehkan ke belakang
wajahmu yang penuh semangat
bila kau akan meninggalkan desa ini
anakku
sebuah bukit
tengkurap di kaki langit
lalu tapakilah
sawah-sawah

yang ranum padinya
ketika kau akan mengejar kereta
menuju ke kota

di sana kau menuntut ilmu
di sana kau mencari jodo
pulang membawa sarjana
sangat bahagia


kepada anakku

seorang perempuan
melahirkan dalam kesakitan
mendidik dalam kemelaratan
bercita tinggi tak terbilang
apa saja yang diharapkan?
hati anak-anak berikan kemuliaan
anak-anak adalah kebanggaan
apa arti kekayaan
apa arti kehidupan
tanpa anak yang soleh
berikanlah kehangatan


setasiun tua

temboknya masih perkasa
sekalipun coreng-coreng itu bertambah jua
dekil dan berbau busuk
ada tukang ronde
dan penjual kue
berteduh dari sorot matahari
sebab atapnya tak menempel lagi
dahulu
aku di situ
duduk di kursi dari besi
menanti peluit berbunyi
tanda kereta tiba
semua harus berlari
biar mendapat tempat
duduk nyaman
hingga keretaku bergerak perlahan
sangat pelan
yang berlari bersepeda
yang merayap menyewa andong tua
semuanya kusetut*)
dan duluan tiba
kini ketika aku dewasa
yang kupandang hanya relnya yang memanjang
seolah ingin memberitahuku
dia harus istirah
sementara colt dan bis kota merajalela
sepur hanya pagi dan sore saja
mahal upahnya

*) kusetut = kukejar; kusalip


teman

bermain di kali
tak memikirkan lagi kepedihan
yang ada cuma kedamaian
itu dunia anak-anak
ketika aku dewasa
perjalanan seolah tanpa ujung
di mana kesusahan demi kesusahan saling menindih
bersatu dalam aliran darah
menjadi sesuatu yang harus dinikmati


rumah tua

kuangkat kepala
debu yang dulu kuraih dengan sapu
masih ada dan aku bisa menghapusnya dengan tanganku
lampu antik pun termagu memandangku
yang sudah dewasa
penuh kematangan
apakah yang ingin kau tanyakan tentang diriku?
aku masih perempuan desa yang lugu


Tentang Lastri Fardani Sukarton
Lastri Fardani Sukarton lahir tanggal 5 Desember 1942 di Yogyakarta. Pendidikan: mulai SD sampai tamat SMA tahun 1960 ditempuh di kota kelahirannya, Yogayakarta. Kemudian masuk Fakultas Sastra Universitas Gajahmada di kota yang sama. Tapi setahun kemudian, 1961 ditinggalkannya karena menjadi pramugari Garuda Indonesia Airways (GIA).

Lastri mulai menulis sejak kelas 6 SD, karyanya berupa sajak-sajak dimuat di majalah Kawanku, lembaran majalah anak-anak di surat kabar Pikiran Rakyat, Yogyakarta. Waktu kelas 2 SMP ia sudah duduk menjadi redakur Remaja Nasional, lembaran  remaja pada surat kabar Nasional.

Dari latar kehidupannnya yang akrab dengan pedesaan pedesaan agaknya menyebabkan ia selalu menghadirkan dan mengalirkan banyak ilham yang tertuang dalam puisi-puisinya, dengan sikap yang polos, jujur, berisi kerinduan atau rasa kasih sayangnya. 

Selain menulis puisi dan cerpen, ia juga menulis novel. DI antara novel-novelnya yang telah terbit menjadi buku:
1. Kisi-Kisi Hati
2. Letup-Letup Cinta
3. Di Batas Kebencian
4. Perempuan-Perempuan di Sekitar Anakku
5. Bagilah Dukamu itu, Sayangku


Catatan  Lain
Seperti yang dapat dibaca di atas, sajak-sajak dalam kumpulan ini bernafaskan suasana pedusunan. Membaca buku ini kita seolah-olah mendengarkan cerita dari seorang gadis kecil (meski ada beberapa puisi yang sudut pandangnya dari seorang ibu) tentang kehidupan sehari-harinya  seperti membakar jagung, menangkap ikan, membantu orang tua dan lain sebagainya.

Kekhasan  dari buku ini ialah bahasanya yang sederhana. Eh, bukan hanya sederhana, namun teramat sederhana alias polos. Kalau pun ada majas, maka majas yang digunakan ringan saja. Seperti yang diungkapkan penerbit dalam pengantarnya:

“Ini bukan hanya menyangkut masalah bakat dan teknik, melainkan sebuah kekhasan.”

Dengan adanya kekhasan berupa kepolosan bahasa, bagi saya ini bukan suatu kelemahan, tetapi justru suatu kekuatan dalam sajaknya. Ini sesuai dengan sudut pandang seorang anak kecil, yang tak lain merupakan teknik penulisnya dalam melukiskan nostalgianya. Tidak selamanya bahasa yang polos dapat dianggap kelemahan dan sesuatu yang “kekanak-kanakan”. Dengan kejujuran penulisnya, hal apapun bahkan sesuatu yang biasa saja dapat menjadi bernilai indah, meski diungkapkan secara amat sederhana. (^ ^)

(AHMAD FAUZY)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar