Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Sabtu, 05 Maret 2016

BADAI 2011




Data buku kumpulan puisi

Judul : Badai 2011
Penulis : Hamami Adaby
Cetakan : I, Januari 2011
Penerbit : Sanggar PARIMATA, Banjarbaru.
Bekerja sama dengan Tahura Media
Tebal : ix + 108 halaman (100 puisi)
Koordinator : Sirajul Huda
Editor : Asa
Cover dan layout : Hery S

Beberapa pilihan puisi Hamami Adaby dalam Badai 2011

Kiyam Tangan

Tak satu pun yang melihat ruh
ketika mati apakah ruh itu biru
tak pasti tepatnya jam berapa nanti penumpang labuh
tak satu pun orang tahu
dan apakah ketika tubuh kosong
ruh berada di atap gerbang
kereta Mu sudah pasti
tak satu pun bisa ngomong

Ruh itu senar dawai cumbu
dalam urat nadi langit biru
perjalanan batin pulang sarang
tak tampak mata telanjang
kecuali kiyam tangan lipat kaki
dalam kekecilan diri

Banjarbaru, 30-4-10


Mata Ikan Berenang

Kubaca cermin hatimu di tengah risau pantai
adalah geriap buih
yang sampai yang gemulai
di pangkuan halaman rumah suatu hari

Kalau saja aku menyanyi
hati kita semakin sepi
harap gelombang mengantar berita
ikan berenang di laut mata
siripnya mengirim surat cinta

Banjarbaru, 29-4-10



Hangatnya Api

Andai aku menghadiahi sebentuk hati
agar kau lebih dalam mengenal dirimu, barangkali
sebagai sahabat yang tak mungkin sebagai kekasih

Jika kelak kita tak dipertemukan
nanti kau miliki rumah dan taman
tempat anakmu bermain ayun-ayunan
katakan padanya, “ini poto sahabat mama
yang pernah menyayang.”

Ketika kau terbangun anakmu masih tidur pulas
aku merasakan tangan membelai pipinya
lalu mencium kening kecupan dahi amat mesra

Izinkan sayang menerus tidur panjang
dalam kehangatan cinta, eh…

Banjarbaru, 26-12-10


Mutiara

Telah ku tulis buat kamu puisi
sukur dibaca kalau tak jadi
berarti tepuk tangan tiga kali

Puisi adalah sekerat hati
pada sembilu waktuku
gending jiwa bagai seutas tali
setitik air dari segelas rindu

Puisi adalah gema jiwa
yang berdenyut dalam irama
putih bagai buih samudra
di dasar laut tak terbaca

Telah ku tulis puisi sederhana buatmu
di atas alun gelombang bayu
lenyap terbang bagai lelatu

Banjarbaru, 14-2-10


Kalau

Juwita
kalau kau jadi api
sumpah aku lelaki jadi angin
ku hembuskan dalam diri
agar terjadi pembakaran
yang menghangus kota kelahiran
kita gambarkan : ini sebuah mimpi
betapa dasyatnya letus terbang cinta

Banjarbaru, 23-10-10


Species Bunga

            Bila kuyakini:
dasar tanah yang ku pijak
aku tumbuh di atasnya kecambah
setelah itu putik menampak
seperti cacing-cacing menguliti daging keranda
kemboja, melati menabur tanah
siapa boleh mengirim doa-doa

            Bila kuyakini:
dasar hidup setangkai warna bunga
yang fitri
kita tanam species dalil kembali
yang kuyakini ada

Banjarbaru, 12-12-10


Dalam Perjalanan

Dalam perjalanan kutemukan pohon lentera
saat langit kelam hujan ketika bulan keguguran
angin pantai menyibak rambutnya lewat jendela
di sela renda gorden merah hati kuajak canda

menyihir kata puitis menulis mantra
kemat-kemit bibir tadarus lewat malam
lentera-lentera minyak wangi beranda rumah
jala-jala ikan, hutan danau gunung-gunung
merunduk munajat langit tutur cahaya

Dalam perjalanan kutemukan lengkeng permadani
piring berukir gelang permata bola mata Shinta
sedang Rama dikejar hujan tujuh rembulan
di lenturan awan putih jemari mungil
tetes gula aren bumbung sukma

Dalam perjalanan kutemukan samurai dinding
tengkorak kura-kura siput dan kerang
hias pintu daun jendela puisi Gonzales
bias sejengkal hati membagi cinta

Kotabaru, 9-9-10


Dalam Darah

Dulu kau gagah dan tampan
semampai tinggi bunga rampai
mata tajam samurai
kupu-kupu terbang rendah
mencium kening
rumbai-rumbai layangan
getar sukma menyungging

Kiri kanan pajang cermin pandang
garis-garis wajahmu
tak lagi setia seperti dulu
tubuh pering memanjang

Ketika makan mamah aspal, semen
kertas, bensin dan solar
batu
es kopyor sedap susu
dahaga perut lapar
terus
terus
terus

Itukah alas sebab rebah?
tidak!

Pikiran lelah
gelisah
keinginan rekah
tak terjamah?
ya
ya
ya

Ya Allah
Allah
Allah
dalam darah

Banjarbaru, 10-4-10


Atas Nama Cinta

Betapa pun kita tak harus bantah
manusia dicipta begitu indah
dari lahir berakhir upacara sakral
matahari selalu bertutur ramah
aku jadi surya hati kidung
yang diputihkan senja lembayung
mengalir pagi sore senandung
atas nama cinta yang agung

Aku ingin menyelami cahaya
bumi pelayaran tempat rahasia
dari dua simbol yang dicipta
langit-mayapada bumi yang manja

Betapa pun kita tak menyangkal
dua simbol atas nama cinta

Banjarbaru, 24-9-10


Ruang Perpustakaan

Aku temu sebuah buku tebal
di rak-rak katalog
“la tahzan, jangan sedih”
kubaca
selembar dua lembar hampir separo
dasyat otak cerna, sungutku
ini lentera gegap malam teraba
ini petunjuk seperti layar meminum angin
ku goreng laut asinnya biru bermain
buat ikan-ikan kelana dan canda

Ruang perpustakaan
ibarat kapal di samudra
nahkoda wanita bernama “Nunung”
giring tombol kemudi ombak
buku-buku mengepal jemari angkasa
pabrik-pabrik rohani liontin kalung
gudang senjata meregang virus kedunguan
buka pintu dan jendela rumah kita

Di Perpustakaan Banjarbaru, 2010


Pertemuan
(Kenangan 16 tahun bunga-bunga tanjung)

Pertemuan kembali hasrat perjalanan matahari
mabuk syair – puisi dimekarkan
rindu diamlah bersama angin
menambang peradaban madihin dan pakem mamanda

Bunga rekah kuntum semolek bidadari
jejak batu-batu dan gemericis bibir kemayu
juntai bukit anggun dan nafasmu yang hijau
bayang laut menjaring jala
bagang biru dan lukah daratan
menuliskan album kenangan

Aku sempat lupakanmu, ketika
kau tak berkirim surat, barangkali
amplop belum dikunci perangko baru ditempel
diposkan hari ini

Aku masih bisa temukan nama-nama lewat ingatan
mengeja alfabet kota pernah singgah
berumah pertemuan ruang tidur
bertahun sudah menyemai indah mazmur
yang tak pernah tulis kata perpisahan

Tanjung – Banjarbaru, 30-11-10


Bulan Semangka

Kuncupnya matahari karena rinai hujan
dari gores hatinya perlahan kelam
saat langit angin mendesirkan alam
dalam gelinjangan lembah awan

Tersandung rindu gejolak riak pusaran
manisnya bulan semangka
di atas pembaringan sofa altar jiwa
sukma melerai sedu-sedan

Kemarau basah embun menusuk dingin
setelah merunyamkan pikiran
lantas diapakan firasat hayalan?

Dari lembah permai kupahat pasrah
angan pun kering menggugur sia-sia
dalam lipat kertas musim pancaroba

Banjarbaru, 21-6-10


Bulan Itu Shangrilla (2)

Biarkan hati menyayang seribu bulan
dalam maklumat yang pernah baca di kitab
dinginnya malam dan rimba yang luas
digerai-gerai rambut imaji zat melekat
aku sujud di kaki langit memandang mukzizat
kau cipta bulan, bola hari bintang-bintang
sekeping hati nurani seutas akal sekepal sayang
tak perlu mengeja sakwasangka
dalam tiap perjalanan ada catatan hujan dan terik mentari
awan-awan liar berkejar rambat-rambat akar ilalang
gulungan gulung benang bulir sayang hamba

Bulan itu Shangrilla
seribu bulan cipta satu langkah kembara
bulan seribu warna engkaulah di mana
yang berjarak sejuta tahun harva langit-bumi
dalam satu tarikan nafas
begitu akrab jasad dan ruh kita

Pagatan – Kotabaru, 8-9-10


10 Malaikat
(: buat Rizanudin Rangga)

Dalam tambur ada suara detak jantung
di dedaun ranting letuk angin
minggu awal Oktober pohon hijau pun
rebah ke pelukan pagi nun
sujud langit meneruskan ruhnya
dari penjara bumi singgah bersalin
bawa payung bendera permadani

Dalam tambur bunyi pelakat ummat
di tangan 10 malaikat-malaikat
jejer seragam putih usung keranda
sahabat Rizanudin Rangga
“Selamat jalan jumpa Kekasih”

Banjarbaru, 22-10-10


Hatimu dalam Gemuruh Puisiku

Kau telah senandungkan hati puisiku
gemuruh jantung kau tangkap irama ketika
vocal menghentak tajam menurun bukit suara
membakar imaji paru-paru dalam jeda nafas
menghujam bagai petinju jatuhkan lawan di kanvas

Syorga telah kau rampung di hatiku
seperti “Iqro” ku syairkan kau baca lambang dan tanda
terbang aku dalam emosi berpacu
terpaku tak ke mana-mana
menirukan palung hatimu dalam gemuruh bahana

Banjarbaru, 7-12-10


Langkah ke Depan

Sepanjang pandangan tanah menguning
hijau bukit gunung
burung-burung pesta musim
datang, pergi dan terbang
damaikan langkah petani ke depan

Birayang, 23-7-10


Nikah Perjalanan

Seperti ular merayap meliuk desis perjalanan
rimbun daun mata pohon liar merambat
terlalu indah kalau awan merenda hujan
di buku nikah tak tercatat
matahari lebih awal datang sebelum senja
menunggu di kamar stasiun tiba

Sepasang pengantin belum menikah
aku masygul menatap rumah kepompong
kosong
     telah jadi kupu-kupu
saksi kunci perjalanan batu-batu
hanyalah desah

Banjarbaru, 14-12-10


Tak Tereja Menuju Cakrawala

Adakah bekas lukaku yang kau tampung
di gelas pancuran matamu lalu kau basahi
di sehelai daun gugur entah kau jadikan payung
ketika perahu karet merampungkan jantungmu

sampai butiran kata menjelma mimpi:
laut dan ikan tertangkap jaringmu
dalam ikatan ganggang dan gelombang
kegelisahan makin terurai bersama bintang

Bulan lagi sepi gamang dan semu
rambatan rumput liar melingkar sendu
kutanyakan kenapa tak tereja makna satu hurup saja
dalam sandi cakrawala yang manja

Banjarbaru, 19-12-10


Rindu

Kalau lah rindu hampa tikar
lewat terminal bulan mekar
dalam kerudung malam

Kalau aku rindu kutetak batu hitam
dari gergaji putih kapan saja
kepala runduk lekat di badan
di rampis kening doa

Kalau aku rindu hadir alifmu
wajah lembut pesona bintang
di mana kursi sandinganku
lukis bendera kuning mas hu
rumah semesta anak-anakku

Kalau kau rindu, stop dulu!
karena rinduku buatmu

Banjarbaru, 28-7-10


Dunia Sasain Tuha Bangka

Dunia sasain tuha rumpung wan kilum langit lingsak
di mana-mana banyumata mangalimbuak
mambulasak layau matan sungai malimpuar
ka satrat, ka bawah rumahan layap ka tiras
galu nini manyimpuni pakakas

Kasian banar sidin karikih-kurikih maniring
manggaluti panci kenceng wan rinjing
tabungkuk-bungkuk bajalan lalu diandal katil kayu
“ni… ni baingat ni ai, banyu sasain naik”
“itu am tu jar padatuan ikam, kalu iwak NUN kasitanan
bagarak bangaran gampa atawa windu, balenggang tanah
ujan bajam-jam saling labatan alamat calap saalaman”,
            (pander nini marudai kaya piring pacah)

Han tia tatamui pitua datu-nini kalu!
Jukung kawa tarabang ditunjul banyu, jangan tacegal
wayah ini banyak musakkat cari duit ngalih
baras balarang, gula kada manis lagi,
lumbuk-malumbuk mandagui bakali lipat
minyak gas harganya malibuk

inya kita bamula ba alih ke ilpiji 3 kilu, tagal
rancak gasnya bau maruap di salang
bisa jua di pantil
cuss… dagum tahambur lelangitan, luyuh awak padih
kursumangat jauhakan nang kijil

Uh, Tuhan umur sasain tuha dunia sasain Bangka leweh
kanapa kita kada menusur pinggir tapih?
jangan ungah manabangi puhun kayu, cuba pang tanami
mintu jua batu hirang sarakah karuk manguringkai bumi
kurus-karing binatang kadada pucukan

mati kajung samunyaan, kaya apa
20 tahun di hadapan
Umai-umai macam-macam paregal bubuhan kambing
begal rampuk – cuntani duit
barandal bank – tikus-tikus landrat, film kaca
nang maracuni butuh rakungan wan rabung paring
ui, sasadangi lagu kada baik, ingatakan mati
lakasi batubat nasuha tampulu Tuhan maingati

Banjarbaru, 21-5-10


Tentang Hamami Adaby
Hamami Adaby lahir di Banjarmasin, 3 Mei 1942. Ia penyair generasi 70-an. Antologi puisinya: Desah (1984), Senja (1994), Iqra (1997), Dunia Telur (2001), Nyanyian Seribu Sungai (2001), Bunga Angin (2002), Kabar dari Swiss (2003), Refleksi Dermaga (2004), Uma Bungas Banjarbaru (2004, antologi puisi bahasa Banjar), Tiga Kutub Senja dan Baturai Senja (Eza Thabry Husano, Hamami Adaby, Arsyad Indradi, 2004). Menrima penghargaan seniman sastra dari Walikota Banjarbaru (2004).


Catatan Lain
Buku kumpulan ini tanpa pengantar penulis, juga tak memuat komentar sesama penyair/pembaca. Di halaman-halaman depan buku, ada sebuah puisi tanpa judul sebanyak 4 bait. Saya cari-cari ke dalam, ternyata judulnya “Hangatnya Api”. Di sampul belakang pun ada puisi juga, sama tanpa judul. Ternyata judulnya “Nikah Ruang”. Buku ini dikasih penyairnya, saya catat tanggalnya, yaitu Rabu, 13 April 2011. Waktu itu saya datang ke rumah beliau buat ngantar titipan Hajri dari Banjarmasin, yaitu cetakan buku “Nyanyian Seribu Sungai”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar