Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 04 April 2016

CATATAN SUNYI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Catatan Sunyi
Penulis : Monika N. Arundhati
Cetakan : I, 2014
Penerbit : Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
Tebal : 118 halaman (63 puisi)
ISBN : 978-602-9187-88-5
Ilustrasi sampul dan tata letak : Christopher A. Woodrich
Prolog : Budi Kleden
Epilog : Christopher A. Woodrich

Beberapa pilihan puisi Monika N. Arundhati dalam Catatan Sunyi

Ladang Musim Hujan

Nenek, musim kemarau beranjak pergi akhir bulan lalu. Hujan
datang dari selatan melewati dusun kecil kita di kaki gunung.
Batang-batang kemiri dan kopi dihijaui lumut. Pucuk-pucuk ubi
kuning, merah dan ungu merekah malu-malu.

Nenek, berikan cangkul padaku, mari kita gemohing di ladang.
Ingin kuratakan ladang yang subur serupa dada montok,
menanam benih padi dan jagung sampai siku penat sambil
nyanyikan bejo hingga bercucuran keringat.

Nenek, aku rindu kehangatan vetak sewaktu senja tenggelam di
balik malam, aroma kotaklema bakar dihembusi angin ke puncak
sunyi Labalekang. Ricik mata air di timur ladang mengantar
pertemuan gaibku dengan Buka Barek. Ia tengah menyusui ular
sembari mengunyah sirih-pinang.

Nenek, hujan turun lagi malam ini. Aku tergelincir dalam
kenangan masa kecil. Sejak kau pergi ke Bobu dan tak lagi
pulang, seekor kupu-kupu putih hinggap di kelambuku tiap
malam.

Nenek, sekarang musim hujan. Apakah di duniamu juga
turun hujan?

Jogja, November 2013
Ø Gemohing: Sikap kerja sama atau gotong royong dalam kesempatan  membuka kebun baru dan panen hasil.
Ø Bejo: Nyanyian saat menanam padi atau jagung
Ø Vetak: Pondok ilalang di tengah ladang,
Ø Kotaklema: Daging ikan paus
Ø Buka Barek: Dalam legenda masyarakat Lamabaka, Kabupaten Lembata, Buka Barek adalah istri ‘wai natan’ (jin penghuni mata air  yang berwujud seekor ular)
Ø Bobu: Sebuah tempat yang indah dan penuh kedamaian, tempat jiwa-jiwa bersemayam
Ø Kupu-kupu putih: Jelmaan roh leluhur yang datang mengunjungi keluarganya



Inkarnasi

Waktu kecil, aku senang mengejar kupu-kupu putih
yang masuk ke rumah.
“Jangan kautangkap. Kupu-kupu itu mendiang nenek
yang turun dari surga untuk mengunjungi kita.”
kata Bapak.
Waktu terus berlalu. Aku terus tua dan menjelma kupu-kupu.
terbang mengitari rumah tanpa pernah dihiraukan.


Pelabuhan

Matahari tenggelam di teluk mata-Mu,
di atasnya jiwaku berlayar tenang
Menggagas tiap riak sebagai rangkaian doa.
Kutambatkan perahu pada ranting-ranting sujud.
Menelusuri belantara sunyi untuk menjumpai-Mu.
Oh, jadilah Kau telaga tanpa dasar,
Mengganti cintaku yang dangkal dan berbatu.


Pulang

Kau bentuk aku dari tanah
Teramat ringkih dirapuh waktu
Satu embusan nafas-Mu
Aku terurai jadi debu
Waktu maut meniup sangkakala
Aku akan pulang sambil menari di jalan sunyi
Untuk masuk dalam kobaran api cinta-Mu.

                                                                                    (22.16)


Isyarat Bulan

Lewat jendela, bulan itu datang membawa sekeranjang hujan
dan kabut. Mungkin ia melihat; bercawan-cawan anggur
tak habis-habisnya kureguk dahaga,
dan aku menggelepar di tengah gelap.

Bulan masuk dengan senyuman, seperti menyimpan
ribuan isyarat. Seperti menggoda dan memancing air mata,
bertanya ia;
“Sudahkah engkau siap?”
Maka seketika menangisku. Seperti langit menangisi bumi,
menumpahkan duka hari-hari.

Maka menangisku. Nyanyi dan kutuk mengalir berserakan.
Air mata terus memanjang, berliku-liku,
merambat ke rumpun-rumpun cemara sebagai tobat.
Kegelapan di mata ikut mengalir menuju muara damai yang
sudah lama kunanti.
Bergegas kulipat suara, dan mendirikan rumah doa.
Aku dilahirkan kembali
Dalam sunyi.
                                                                                   
Yogja, 13 Desember 2010


Catatan Sunyi

Lewati lorong malam,
membasuh senyap subuh
Dingin
Angin
Sehelai daun jatuh.
Sunyi.

09.09.2011(02.55)


Lelaki Kayu

Ialah lelaki yang terpahat dari batang jati terkokoh
dengan wangi cendana.
Tubuhnya berukirkan tatapan teduh, senyum damai
juga hati penuh belas kasih.
Ia adalah lelaki yang dipelitur
Dengan campuran tiner cinta
dan sekaleng penuh vernis ketulusan.
Tangan kanannya menggenggam palu,
anggrek di tangan kirinya.
Ia menjunjung langit dan memeluk bumi.

Lelaki itu Bapak.

                                                Bengkel Kayu, Juli 2011


Dua Sajak Tanpa Judul

1
Hatiku sehelai daun gugur
Biarkan ia sejenak singgah di pekaranganmu
Jika angin kemarau berhembus
Dengan ringan kutinggalkan engkau
Mengembara menuju tanah yang lain

2
Ada gemerisik guguran daun-daun
Luruh sunyi dihembus angin senja
Ia melayang jatuh di halaman hatiku
Terkapar sepi pada bebatuan bernama rindu


Mazmur

Padang rumput tempat gembalakan jejak jiwaku adalah Kau
Di situ ada tetes embun, harum rumput liar, dan gemerisik damai.
Tumbuh pula rumpun perdu yang rantingnya menyimpan teduh
dan kicau burung

Aku menjelma rusa, mencari pancaran air.
Kutemukan telaga bening; sebuah genangan sunyi tanpa riak
Lalu aku tenggelam di situ, di telaga teduh dekapan-Mu.

Di dataran telapak tangan-Mu aku mengembara tanpa henti,
Menyusuri garis-garis sungai sedih bahagia.
Tiap garis adalah makna; menuntunku menuju muara bernama cinta
Pada lengan-Mu kulukis jejak hidup; gurun tandus, ilalang,
bunga-bunga rindu, semak berduri, hujan dan badai.

Duhh, Kekasih
ruang yang memisahkan kita ini hanya sebuah tanda koma
Sebab matahari akan pergi mempersembahkan malam sunyi
Hanya untuk kita berdua


Narasi Amplop Hitam

aku lahir dari gelap rahimmu
yang menyimpan cahaya dari waktu ke waktu.
Wangi madu buah dadamu merahkan denyut nadi,
menyambung satu demi satu nafasku yang berlepasan.

Di telaga matamu tergenang semesta kehidupan berdebu.
Jutaan sakit terkubur di sungging senyummu.

Luka-luka kau simpan hingga membangkai di sudut jiwa.
Gelap jalanku menjelma embun yang gugur dari matamu
sebelum fajar.

Waktu tergesa pergi.
Senja datang mengantar sehelai amplop hitam darimu.
Di dalamnya ada gemuruh ombak, jerit sendu dan beberapa tetes
air mata.

Aku pulang dari kota terjauh, memikul sekeranjang sesal.
Hendak kujamah ampunmu.
Tapi kau telah memilih kembang merah, lembab tanah,
serta wangi nisan kayu.

                                    Yogyakarta, Mei 2009


Mimpi Sederhana

Bulan merayap ke langit, tersendat di antara awan pekat,
Sekelompok kelelawar beterbangan luruhkan daun jambu di pekarangan
Di atas dipan bambu, berbaring aku menikmati wangi manis buah jambu.
“Jangan bermimpi menjadi orang kaya;
banyak harta, tidur tak nyenyak hidup di atas bara”
nasihat bapak sambil memetik sape’.
Sehembus angin datang membawa dentingannya ke puncak-puncak pepohonan.
“Milikilah hidup sederhana, tenang, dan penuh kasih.”Ibu berpesan.
Mata dan bibirnya bercahaya diterangi pelita yang mulai redup.

Dentingan sape’ mulai samar terdengar.
Aku terlelap dalam mimpi sederhana;
membangun Rumah Panjang di tepian sungai,
meramu hidup dari daun dan buah-buah hutan,
merangkai mahkota dari bunga-bunga liar,
menari bersama burung enggang di atas rumput hijau.
Hutan yang lembut dan teduh akan menyelimutiku dari
kebisingan dan hiruk-pikuk zaman yang datang dan terus melaju pergi.

(27/4/2-13-1.48)
Sape’: Alat musik petik tradisional kalimantan


Sketsa

1
Jangan pergi membawa bayanganmu,
tinggalkan saja di sini.
Sesaat lagi lonceng kapel berdenting
di saat itulah bayangmu aku sketsa
dalam doaku senja ini

2
Tak letih-letih aku sketsa bayangmu,
namun tak pernah selesai
menjadi lukisan.
Lalu kubunuh diriku dan
dengan darahku kembali kusketsa
bayangmu.
Tiba-tiba di atas kanvasku,
Muncul lukisan suci; tarian penyaliban manusia!


Requiem

Pada sisi lelehan waktu
Hari kian menua
Nafas lelah mengalir
Disela katup mata
Sunyi
Tiada bunyi
Saatnya beristirahat
Di pembaringan
Terakhir


Lilin

Engkau adalah lilin, Mama
Yang membakar sedikit demi sedikit dirimu
untuk menerangi ruang gelapku


Kosong

Kita pernah sampai di sana; tanah lapang yang aman
mencoba sembunyi dari sorot matahari yang diam di balik awan
Di situ, kita semai rindu, menanam cinta
tak peduli malam pun siang
Benih tumbuh menjadi pohon,
buah-buah ranum rekah menggiurkan.
Kita reguk manisnya dan jadi mabuk.
Oh, apa yang dirasakan setelahnya?
Manis berubah jadi tawar
Dan kita diam dalam kekosongan.

Jogja, 19/09/2012 (12:31)


Hidup

Kususun mimpi demi mimpi
Kaulah dasar sekaligus puncaknya
Segala yang lain adalah tiada

Ruang Hening, 11/08/2012 (14.10)


Puisi

Sungai makna
Yang mengalir
Dari mata air jiwa

Jogja, 2010


Tentang Monika N. Arundhati
Monika N. Arundhati lahir di pulau Lembata, 27 Agustus 1990, sebuah pulau kecil di ujung gugusan kepulauan Timor-Flores, NTT. Ia lahir dari keluarga tukang kayu sederhana. Puisinya dimuat dalam antologi bersama Sajak Terpagi (2010) dan Isis dan Musim-musim (2014). Tahun 2014, diundang dalam Makassar International Writers Festival.  Kuliah di jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma.


Catatan Lain
Puisi dalam buku Catatan Sunyi, semuanya ditulis dengan huruf indah. Itu lho, huruf-huruf yang tulisannya dirait atau disambung dan miring itu, mengingatkan saya dengan pelajaran waktu sekolah dasar dulu. Saya tak tahu apa nama jenis hurufnya. Tulisan selain puisinya, meskipun bukan tulisan indah lagi, namun fontnya sepertinya miring juga. Hampir senada dengan huruf puisinya.
            Jika Budi Kleden, dalam prolognya yang berjudul Terlahir dari Sunyi (12 halaman) itu, mengulas persoalan puisi dan refleksi sunyi, maka di epilog yang dijuduli Empat Sekawan Sunyi (8 halaman), Christopher A. Woodrich, membandingkan Monika dengan Amir Hamzah, yang lebih dulu melahirkan Nyanyi Sunyi. Monika sendiri menulis Semacam Pembukaan, sebanyak 3 halaman. “Menulis puisi bagi saya adalah sebuah ritual untuk menjelma menjadi manusia seutuhnya, sekaligus memperoleh kemanusiaan. Melalui ritual sakral ini, saya bisa merenungi hidup, bercakap-cakap dengannya, lantas insaf bahwa saya sejatinya adalah manusia,” kata Monika di paragraf awal.  Dan ini penutupnya: “Akhirnya, dengan segala kerendahan hati sambil belajar menyadari kelemahan untuk memacu diri agar terus berkarya, saya persembahkan antologi puisi “Catatan Sunyi” ini kepada pembaca di mana pun, terutama kepada masyarakat puisi yang mencari kearifan lewat kesunyian dan kejernihan kata.” Begitu kira-kira.
            Oya, ini unik juga, jarang saya temui. Pada halaman yang memuat keterangan buku, ada dicetak lambang Sanata Dharma dan penjelasannya. Bunyinya seperti ini: Universitas Sanata Dharma berlambangkan daun teratai coklat bersudut lima dengan sebuah obor hitam yang menyala merah, sebuah buku terbuka dengan tulisan “Ad Maiorem Dei Gloriam” dan tulisan “Universitas Sanata Dharma Yogyakarta” berwarna hitam di dalamnya. Adapun artinya adalah sebagai berikut. Teratai: kemuliaan dan sudut lima: Pancasila; Obor: hidup dengan semangat yang menyala-nyala; Buku yang terbuka: ilmu pengetahuan yang selalu berkembang; Teratai warna coklat: sikap dewasa yang matang; “Ad Maiorem Dei Gloriam”: demi kemuliaan Allah yang lebih besar.”
            Buku ini, walau ada daftar isinya, namun tidak menuntun kita untuk dapat mengetahui berapa jumlah judul puisinya, jadi saya mesti menghitung satu-satu dan mendapatkan angka 63 puisi dalam satu kali hitungan. Saya tidak mengecek atau melakukan hitung ulang lagi.
            Ada komentar-komentar kecil juga. Dari Max Nitsae, Freddy Oky dan Gusty Fahik di halaman 4 buku dan Yoseph Yapi Taum dan Yohanes Manhitu di sampul belakang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar