Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 04 April 2016

SELUANG POETICA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Seluang Poetica
Penulis : M. Iqbal J. Permana
Cetakan : I, Januari 2012
Penerbit : Tavern Artwork, Palembang.
Tebal : xviii + 52 halaman (29 puisi)
ISBN : 978-979-9983-93-0
Desain sampul, perwajahan : Ferry Gunawan
Editor : Nurhayat Arif Permana
Foto-foto : Mushaful Imam dan Jack Zaini
Prolog : B. Trisman
Epilog : Shamsudin Othman (Universiti Putra Malaysia)

Beberapa pilihan puisi M. Iqbal J. Permana dalam Seluang Poetica

Seluang Poetica

Dua potong bilah bagai teraju berimbang
timbul tenggelam menerpa sungai
ketika tangkul dikembangkan
musim seluang telah datang…

Panggilkan puguk atawa kajut
musim seluang telah datang
bergerombol mereka mudik
dari tanah berawa atau lumpur berpasir

ketika air mulai pasang anak
sawah ume telah disiang
anak-anak berkumpul di lanting
bermain berenang dan bersimburan
menjala dan menangkul seluang-seluang batang

Panggilkan Puguk atawa Kajut
pukat dan jala segera dirajut
sebentar lagi ribuan seluang
akan segera berenang ke hilir atawa ke hulu
musim seluang telah datang

Sungai Rotan, Mei 2010



Barabah Gadang
(The Excotica Painan)

Angkeklah sauah dari Carocok!
badayuang ke Pulau Cingkuak
balayar juo ke Alur Gadang
hiruiklah angin Langkisau jo Pincuran Boga
kita pai ka Mantawai

Baiklah Uda, baiklah Mamak!
kami ikuik di buritan
dengan pompong tanpa navigasi
Indak ado GPS, indak ado fish finder
kaki pada kemudi dan gas di jamari
mari mamburu Gabuar jo Tanggiri!

Malam manalikung kami di Barabah Gadang
nagari mambang jo bunian
Karano Uda ndak takut galombang
Ndak takuik galodo
Ndak takuik mambang

Baiklah Uda, baiklah Mamak
kami ikuik dari buritan
Turunlah sauah turunlah umpan
Tangkoklah Gabuar, Tuna dan Lemadang

Baiklah Uda, baiklah Mamak!
kami pulang panuah buruan
Dengan pompong tanpa navigasi
Indak ado GPS, indak ado fish finder
Kaki pada kemudi dan gas di jamari

Pesisir Selatan Painan, 2008

------ catatan --------
Barabah Gadang : sebuah pulau spot mancing ke arah Mentawai, konon banyak orang buniannya. Barabah adalah nama sejenis burung madu endemik painan. Pulau Cingkuak, Alur Gadang pulau dengan berpenghuni monyet.
Mambang : jin
Bunian : makhluk malam penghuni pulau
Galodo : gempa
GPS : alat navigasi Global Positioning System
Fish finder : sonar pencari ikan


Nyanyian Rawa Lebak
(Song of Swampy Area)

Ketika matahari merah tepat dibelah unjar
burung-burung mulai melipat sayapnya
mereka bergegas keluar dari anjung
tambang perahu telah dibuka simpulnya
satang diangkat dayungpun berkecepak
perahu telah keluar dari rawa
meninggalkan aroma, purun dan bunga telipuk

Nah dengarlah nyanyinya:

ikan baung ikan sengarat
kami berdayung menebar pukat

udang satang ikan beringit
berumah tiang berumah rakit

jala ditebar panas diserap
jiwa terbakar hidup diharap

kami ke lebak kami ke rawa
kumpai tersibak perahu digalah

Ikan seluang mudik ke dusun
Padi berkembang kebunpun ranum

Juli 1990


Petani Muda dan Musim

Bulan depan sungai ini pasang lagi
Nah, sementara kita berkayuh
Tilap ikan akan mengiringi kita
Sedang anak-anak melagukan lagu huma
Dan air pasang anak

Dengan lembut angina ngusap-ngusap pipimu
Nyibakkan sedikit topi terindakmu
Bulan depan sungai ini pasang lagi
Nah bersiaplah
Bersihkan sawah dan rumput liar
Matahari akan nunggui di sepanjang pematang
Bila panen datang,
Burung-burung terbang lepas dan lebung siap garap

Nah,
Ada rona warna pipimu yang gitu nggairahkan
Membuat hidup jadi berarti

Padang Selasa, 12 Oktober 1985


Lading
(The Sharp Knifes)

Lading adalah serekai
Pelengkap baju ketika berjalan
Lading adalah sungai yang mengaliri nadi
Hingga muara
Yang lahir dari tebing yang terjal
Dan lembah yang curam
Yang tumbuh di malai-malai padi
Dan bunga-bunga kopi

Lading adalah agregat
Dari jiwa yang menghargai martabat

Lading adalah semenda berlapik emas
Dan serekai yang purba bagi hati yang bersih

2003


Kabar dari Siberia
(The Siberian Flight)

Sekelompok bangau bluwok mengais ketam di hamparan mangrove
dengan suara riuh rendah
Adakah kabar dari Siberia
Jika salju telah muncul dan musim bercinta telah tiba

Segerombolan burung laut akan memutihkan langit
Memutihkan bakau, memutihkan mangrove
Mereka telah datang
Penerbangan pertama dari Siberia, benua yang jauh…

Mengapa mereka jatuh cinta pada negeri berawa ini?
Terbang ribuan mil jauhnya
Demi kepiting bakau dan cacing nipahkah?

Hamparan mangrove dan bakau begitu luas
Membentang dari Tanjung Tengkorak hingga Sungai Sembilang
Di manakah taman ini tersembunyi?
Tak seorang pun yang peduli
Kecuali sekelompok burung migran dari Siberia

Adakah kabar dari Siberia
Tentang Pulau Betet dan Sungai Sembilang?

Muara Sungsang, 2009


Belajar pada Gelumpai

Ketika aksara ditakik
susunan aksara adalah doa
susunan aksara adalah mantera
susunan aksara adalah senandung, puisi, dan prosa di seluruh wanua

Ketika leluhurku mulai menulis di pelepah nipah, batu dan gelumpai
maka aksara adalah romantika purba
tentang kebajikan Dapunta Hyang
berangkat dari Minanga
membawa dua laksa balatentara
untuk membangun wanua

Ketika aksara dan hikayat bertutur
tentang leluhur orang-orang Melayu
Parameswara dan Sang Demang yang bijak
bandar yang ramai berjuluk Tumasik

Ketika gelumpai tak sanggup lagi bercerita
susunan aksara adalah kumpulan program biner
yang terkubur ke dalam citra digital
dan aksara telah kehilangan jiwa

Ketika leluhurku berhenti menulis
maka aksara telah putus dari akarnya
akankah belajar dari gelumpai?

* gelumpai : bambu dabuk yang dinukil dengan huruf ulu (kaganga), biasanya berisi kata-kata bijak


Ksatria Terakhir
(Tribute to Parameswara: The Last Emperor of Criwijaya)

Tahukah kamu ke mana perginya ksatria terakhir negeri ini?
yang sedih karena bandar semakin dangkal
yang terusik karena perang berkepanjangan
yang terusik karena pamalayu

“Kejarlah kami wahai Mahisa Anabrang
kita memang budak perang
tetapi ksatria terakhir tidak akan menyerah
demi sumpah yang ternukil di prasasti

Marwat Wanua!
Marwat Wanua!
Tunggulah kami satu windu lagi!

Paroh terang bulan, haluan mengarah ke timur
ksatria terakhir bergegas berlayar malam
ratusan perahu dan hulubalang setia
Mengarahkan haluan ke Temasek, Melaka dan Pattani

Marwat Wanua!
Marwat Wanua!

Tahukah kamu tentang ksatria terakhir negeri ini?
yang turun dari Siguntang dan menyusur Mukka Upang
berlayar ke arah timur dan menguasai Bandar Temasek

Marwat Wanua!
Marwat Wanua!

Jika raja Campa terusik hingga darah tertumpah di Samudera
dan bandar hangus terbakar
tetapi ksatria terakhir tidak akan pernah menyerah
karena sudah ternukil di prasasti
kita memang ksatria perang

Wahai ksatria pemberani wangsa Syailendra
arahkan haluan ke Melaka
harapan menanti di sana

Marwat Wanua!
Marwat Wanua!

Taming Sari, Bandar Melaka 2010


Pulun Buaye
(The Crocodile Bender)

Ketika pantun bermas dimainkan
Dan khadam mulai berpantun

“Tabek tuan, tabek penonton
Tanyekan Nyek tanyekan Mbuk
Di mane negeri pulun buaye?”

Seberang dusun Bungin Kiaji
Ulak Betangisan ade di tengah
Inilah negeri Pulun Buaye
Pewaris ulak penjaga rawa

Lepaslah pantun lepas Dulmuluk
Musim sengarat telah dekat
Tebarlah jaring tebarlah pukat
Tebarkan bubu bentang penilar

Tanyakan Nyek, tanyekan Mbuk
Di mane pembatas di mane penjage
Ulak dijage rebe dijage
Gigi runcing sisik gemerincing
Pemangsa Tapa pemangsa Dakse”

“Wahai pulun bijak bestari
Apa dikhabar di dalam negeri
Wahai Khadam penjaga seni
Rakyatnya sehat padinya jadi”

..Tabek tuan tabek penonton
Pantun bermas sampai di sini”

Pemulutan Ilir 2009


Tuguk Sembilan Sungai Seberang
(The Shrimp Catcher)

Sebentar lagi kita berlabuh
di tuguk ke Sembilan sungai seberang
dengan jaring rapat penangkul udang
serta tiang-tiang nibung bersilang dan berbaris horizontal
bentangan lanskap sempurna di tengah muara

“Wahai kaum urban
singgahlah sejenak ke gubuk kami
tengoklah sepengisap rokok saja
ada banyak udang rebus di tuguk kami
dan oleh-oleh terasi sebesar kepala”

“Wahai kaum urban
singgahlah sejenak ke gubuk kami
marilah belajar bersama kami
menurunkan tuguk dan mengangkat jaringnya
cukuplah bagi kami, beras ladang, garam dan terasi”

Sebentar lagi kita berlabuh
di Tuguk Nibung sungai seberang
tengoklah sepengisap rokok saja
tempat manusia pilihan alam
hidup dan bertahan dengan berani di tengah muara

Tanjung Lago, 2009


Lemafa
(The Whale Hunters)

Ke manakah perginya 12 ekor paus dari Tanah Wangko
yang setia beriringan melintasi kapal
Berburu ke laut lepas atau diburu di Laut Sawu?

Jangan melintas ke Lamalera
karena layar praso sappang telah dinaikkan
Musim berburu telah dimulai…

Baleo…Baleo…Baleo…
Perahu Peledang telah diturunkan

Ayo Lemafa!
Lelaki pemberani berdarah laut
Angkat Tempuling
dan hunjamkan dalam-dalam

Baleo…Baleo…Baleo…
Perahu Peledang telah diturunkan

Ayo Lemafa!
Jangan kembali… tanpa buruan

Ke manakah perginya 12 ekor paus dari Tanah Wangko
yang setia beriringan melintasi samudera
Berburu ke laut lepas, atau diburu di Lamalera

Seekor tertinggal di Lamalera.

Tanah Wangko-Manado Tua 2009


Kemang Bejalu
(The Handycraft of Jukung)

Susunlah kayu bungur ini menjadi lunas
dan meranti payo ini menjadi galar
menjadi tiang dan rangkanya

Ukurlah agar tak baring
hingga dapat menderas laju
mulai dari ujung pulangan sampai ke ujung pulangan

Di sinilah kami belajar
tak ada arsitek
tak ada insinyur
hanya puyang, sungai dan perahulah guru kami
Yang mengajarkan kebajikan sebatang bungur
dan meranti menjadi perahu

“Panjang tetak pendek sambung”

Susunlah kayu bungur ini menjadi lunas
dan meranti payo ini menjadi penggalar
menjadi tiang dan rangkanya
tak ada unglen untuk perahu

“Panjang tetak pendek sambung”

Jukung Kemang Bejalu
menderaslah lalu hingga muara hingga ke bagan
bawakan kami beras pegagan
menderaslah lalu hingga ke jalur
bawakan ikan, udang dan terasi.

2007


Antu Banyu
(The Mongkey of Water)

Dua helai purun berujung runcing tepat membelah purnama
rawa membentangkan sayapnya bagi makhluk-makhluk malam
awan merah dan hitam
angin bersiut-siutan
membawa udara basah dan sisa gerimis

Lampu di pondok berkelip-kelip
angin bersiut-siutan
inilah Negeri Antu Banyu
yang membentang sepanjang bantaran sungai
yang terselip di atas lanting dan tiang-tiang jerambah

Di manakah engkau bersembunyi wahai Siamang Ayek?
dengan rambut hitam licin berlumut
serta mulut berbau amis

Dua helai purun berujung runcing membelah malam
membelah mimpi kaum pinggiran
tentang Antu Banyu yang tak pernah muncul lagi

Lalu ke manakah makhluk pemakan ikan ini bersembunyi?
kabarnya telah pindah ke kolam kaum urban
dan menjadi sajian di televisi

Mati kau!
Antu Banyu dimakan televisi!

Mei 2010


Tentang M. Iqbal J. Permana
Nama lengkapnya Muhammad Iqbal Jauhar Ganda Permana, namun dipanggil Cecep. Lahir di Bengkulu, 17 Juni 1964. Menulis karya sastra sejak SMP, utamanya puisi. Juga aktif di teater, dan pantomim. Pendidikan S1 di bidang Pertanian Universitas Sriwijaya, S2 bidang Ekonomi dan S3 di Universitas yang sama. Bekerja di Bank Sumsel Bangka Belitung. Kumpulan puisinya: Kekasihku Musi Kekasihku Mimpi (bersama Toton Da’i Permana).


Catatan Lain
“Banyak penyair di negeri ini, namun tak banyak yang menguasai bahasa dan memahami ruang sosialnya. Dan jika kita membaca puisi-puisi Iqbal, kita tahu, dia bukan hanya seorang ekonom dan perbankan, tapi juga memang penyair,” tulis Halim HD di sampul belakang. Di sampul belakang pula, akan kita jumpai nama Iir Stoned, Harris Cinnamon, Toton Da’i Permana, Yan Sulistyo dan Vira Savira.
Oya, setidaknya ada sembilan foto lanskap berwarna yang menemani hadirnya puisi-puisi itu. Foto-foto itu tersebar dan memberi gambaran atas puisi-puisi tertentu. Contohnya ketika ada puisi “Menukil Belitong” maka kemudian ada foto pantai Belitong.
Di bagian depan, penulis menulis “Tersebab Indonesia Raya”, katanya di satu bagian: “Seluang sendiri sejenis ikan yang hidup di sungai Musi yang merupakan santapan lezat untuk digoreng kering, dipepes tempoyak, atau dipindang. Di mana pada musim-musim tertentu seluang-seluang ini akan muncul dan ditangkap oleh masyarakat dengan alat tangkap sederhana berupa tangkul. Sementara Poetica terinspirasi dari bahasa latin yang paling sering dimanfaatkan oleh penyair. “Lisencia Poetica” sebagai bentuk kebebasan berekspresi membebaskan kata-kata. Maka jadilah Seluang Poetica sebuah kumpulan puisi sederhana.”
Dan tulisan itu kemudian diakhiri dengan seruan ini: “Jika ingin memahami tradisi lokal Indonesia raya dan berenang bersama Seluang Poetica cobalah sejenak melipat laptop dan mematikan gadgetumu, izin sehari dari Paman Google, Om Facebook atau Tante Blackberry. Pergilah mancing ke lebak atau muara karena kita akan lebih dapat memahami dan memaknai betapa besarnya kekuasaan Allah SWT, tentang alam dan gelombang, laut dan sistem bencana alam.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar