Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Kamis, 05 Mei 2016

NGEPAK-NGEPAK




Data buku kumpulan puisi

Judul : Ngepak-ngepak
Penulis : Fahrurraji Asmuni
Cetakan : I, 2015
Penerbit : CV. HEMAT Publising, Amuntai, Kalsel.
Tebal : viii + 76 halaman (61 puisi)
ISBN : 978-602-1685-47-1
Penyunting/Penata letak/Perancang sampul : Faizal Amin

Beberapa pilihan puisi Fahrurraji Asmuni dalam Ngepak-ngepak

TITIK-TITIK PANJANG

Titik-titik panjang tak terbaca
Menyimpan sejuta rahasia
Bermula dari satu titik
Melahirkan beribu-ribu kehidupan
Dari adam sampai akhir zaman

Titik-titik panjang bermuara dari kun-Nya
Menggulir takdir perjalanan anak manusia
Mempesona anggun jagat semesta
Tapi bukan sebuah sandiwara

Titik-titik panjang menggantang siang-malam
Hitam-putihnya adalah bukti nyata wujud-Nya
Lingkar-bundar adalah sistem pengaturan-Nya
Deret-deret panjang adalah pengintaian-Nya

(rev. 210312)


AKU AIR MENGALIR

Aku adalah air yang mengalir ke hilir
Mengikuti liku-liku takdir
Melantunkan gemericik tasbih
Menjamah lembut tebing kasih-Nya
Aku adalah air, mengalir terus mengalir
Hanyutkan kotoran-kotoran jiwa
Berpegang pada sabda dan firman
Aku adalah air berasal dari air
Mengalir terus mengalir
Takkan diam
Takkan dendam
Sebelum mencapai danau-Nya

(200212)



NGEPAK NGEPAK

Aku mengepak-ngepak  tinggi
Menyisir langit
Menerobos mendungmu yang tergeletak di ufuk-ufuk
Menepis duka pelangi di hamparan senja

Aku mengepak terus mengepak
Tanpa hiraukan badai tanpa pedulikan topan
Lalu menukik tajam membelah awan
Memetik melati yang terbaring di bak sampah
peradaban
Kusematkan di dadamu dalam malam malam
Agar kau tahu betapa perlunya uluran tangan kebajikan

Aku mengepak-ngepak  terus mengepak
Berkeliling kota, memasuki segala desa
Mengukir kata  menebar doa
agar terhindar dari bala bencana

Mengepak-ngepak terus  mengepak ngepak
Tak kubiarkan sembilu mengiris diri
Supaya hidup  berseri dan berperi

Mengepak ngepak berkelepak kelepak
Tak tahan  merasakan panasnya perseteruan
Antar sesama antar kerabat bangsa
Ngepak-ngepak  mengepak ngepak
Aku lelah ingin istirahat di pangkuan-Nya
Damai
Damai
Damai
                    
(Amuntai, Mei 2015)


JEMPUTAN KEPAGIAN

Jemputan itu datang kepagian
matahari baru lempar senyuman
embun dan daun masih bermesraan
pekerjaan banyak tak terselesaikan
Siapa nyana langkah hanya sependakian

Jemputan itu datang kepagian
Menuntut janji saat penciptaan
Tak bisa diingkari
Datanya tertulis di lauh yang tinggi

Jemputan itu datang kepagian
Ada duka menghimpit persendian
Bakal apa yang dibawa
Kecuali setumpuk jelaga jiwa
Akankah didera siksa berkepanjangan?

(revisi, 16 Oktober 2015)


MENGAYUN PENGAYUH

Dia ayun pengayuh menyusuri sungai kehidupan
Kecipak terdengar nyaring adalah irama perjuangan
Menyisihkan kabut-kabut kesengsaraan
Siapa yang mau perhatikan nasibnya
Setiap hari menyapu keringat menjajakan semangka
Makan nasi berkuah air mata
Suami masuk penjara, anak berpenyakit asma?
Siapa yang peduli malam berteman malaria
Tidur berbantalkan duka
Tanpa selimut terbuka aurat dan dada?
Dia tetap mengayuh hidup tanpa keluh kesah
Menyusuri takdir yang membentang di berbagai arah
Dia terus mengayun pengayuh dengan senyuman
Sampai ke ujung perjalanan

(Amuntai, 15 Oktober 2015)


MENGGAPAI KEABADIAN

Lelaki berjubah putih tertatih-tatih
Menelusuri jalan sambil menahan rintih
Menggapai Nur keabadian
Lalu asah rindu pada lembar sajadah
Mengusir sepi mengejar janji
Surga dalam angannya
Harapnya membuncah basah
Langkah dipacu zikir diramu
Hua Allah, Hu Allah. Hu Allah
Allah, Allah, Allah
Makin sibuk, makin mabuk
Allah, Hu Allah, Allah, Huallah
Hu, hu, Hu, Hu, Hu, Huuuuhuuu
Semakin lama semakin tenggelam
Lalu diam
Menyatu dalam segala rahasia

(Amuntai, Mei 2015)


JIKA TIDAK INGIN

Jika tidak ingin diamuk badai jangan berumah di
tepi pantai
Jika tidak ingin digoncang angin jangan menjadi
pohon yang tinggi
Jika tidak ingin diinjak orang-orang yang lewat
jangan jadi batu kerikil
Jika tidak ingin jadi santapan harimau janganlah
menjadi kelinci
Jika tidak ingin dikejar dan ditendang janganlah
menjadi bola
Jadilah tanah agar memperoleh kesabaran
Jadilah air agar bisa dimanfaatkan
Jadilah udara untuk penerus kehidupan
Manusia tak dapat hidup tanpa pijakan
Manusa tak dapat hidup tanpa minuman
Manusia tak dapat hidup tanpa pernapasan
Manusia hidup karena karunia tuhan.

Amuntai, 2014


PERAHU

Akulah perahu
yang merenangi sungaimu
dari hulu ke hilir
dari tebing hingga tepian seberang
Aku tak peduli
meski  sebelumnya sudah ada
beberapa perahu
berlabuh menelusuri alurmu
Aku tak peduli
suatu saat akan terjadi kemarau
hingga airmu tak lagi membasah lidah
atau menyejuk rasa
Aku juga tak peduli
bila ada perahu lain
menguntit langkahku
Segalanya
telah kutumpahkan
dalam kolam hatimu

(Amuntai, 9 Maret 2013)


GADIS MAWAR BERMATA BULAN

Gadis mawar bermata bulan
Keluarga rumpun bambu sebelah rumahku
Setiap kali beradu mata
Aku hanyut dalam mimpi panjang
Bila malam tiba wajahnya meresahkanku
Gadis mawar bermata bulan
Menghijaukan rumput yang  lama  mengering
Mengalirkan deras impian yang semakin menjauh
Mestikah kubunuh kicau murai di dadaku
Ah, aku semakin  kehilangan langkah

(Amuntai  070312)


AKHIRNYA SAMPAI KE PUNCAK
Kado Ultah buat Arsyad Indradi

Akhirnya sampai juga ke puncak
Setelah menempuh perjalanan berliku
Menelusuri hutan penuh hewan berbisa
Meniti gunung tajam menyayat raga
Akhirnya sampai juga ke puncak
Walau dengan badangsar dada
Menahan perih luka diterkam duri-duri cerca
Menahan duka karena gadaikan harta
Akhirnya sampai juga ke puncak
Berkat darahmu menyatu dengan darah-Nya

(Selamat ULTAH yang ke-63 semoga sehat selalu dan dapat lindungan dari Allah SWT. Amiin)
(Banjarbaru, 29 Desember 2012)


TUHAN, KAULAH

Tuhan, kaulah
Matahari pemberi warna pada kehidupan
Angin pengembara dari waktu ke waktu
Tak pernah lelah
Tak pernah berkeluh-kesah
Tuhan, kaulah
Gedung beton menampung segala doa dan pinta
Tiang baja tempat bergelantung segala desah dan resah
Tuhan, akulah
Kabel listrik yang mengalirkan cahaya ke relung hati
Menggemakan ampunan ke hutan-hutan hitam
Tuhan, kaulah batu laut
Siap menerima semburan riak, tamparan ombak
Tuhan, kaulah
Air yang mengombang-ambingkan perahu
Jalan licin melancarkan kendaraan ke arah tujuan
Tuhan, kaulah
Cinta kasihku yang kucumbu tiap waktu
Cinta kasihku berzat satu bertangan seribu

(revisi 241015)


DARAH IMPIAN II

Dari liang mata luka
Mengalirlah darah impian
Menerjuni lembah keperihan
Menggejolak  rindu
Pada  rembulan
Dari liang mata luka
Kucoba menahan panas-Nya
Sambil menyeka keringat
Zikir tak lagi menjadi pendingin
Salawat tak lagi menjadi obat
Jelaga dosa terlalu kuat mengikat
Diri ini jadi berkarat
Dari liang mata luka
Mendesah darah impian
Membisik dalam gumpalan hitam
Minta hujan


ZIKIR BURUNG

zikir burung  membuka pagi
Menyegarkan rasa bangkitkan karsa
Ketika azan di masjid-masjid masih sepi
Ketika manusia masih terbuai mimpi

zikir burung pagi-pagi
resahkan ular-ular pemangsa
gairahkan dua merpati merangkai cinta

zikir burung di beranda pagi
sebarkan berita pada dunia
di sarangnya terjadi pemutarbalikkan fakta
masih nyaring terdengar auman harimau tua
zikir burung ingatkan  kita yang terlena
agar bangkit tegakkan tiang kebenaran

(amt, 120515)


KAU ADA DALAM DIRI

Telah kudobrak beribu pintu
Telah kujelajah ruang dan waktu
Telah kuarungi lautan ilmu
Kau tak pernah kutemu
Lelah kumencari
Di mana kau sembunyi

Tuhan,
Kulangkahi jalan hakikat
Ternyata kau begitu dekat
Ibarat tali dengan jerat
Tuhan,
Kau tidak sembunyi
Kau ada dalam diri

(040312)


HUJAN MALAM

Hujan malam membasahi daun-daun mengkudu
Dinginnya berkabar padamu yang terbuai mimpi
Adakah terbersit kembali membenahi catatan
halaman pertamaku
Yang kau obrak-abrik beberapa musim yang lalu
Ataukah kau biarkan saja menyatu dalam
kekusutan seperti itu
Tanpa mengecap indahnya pelangi sore
Hujan malam membasahi daun-daun mengkudu
Ada deburan ombak membasah dada
Ketika dikecup dingin dan sepi
Ketika tersingkap jandela masa lalu
Hujan malam membasahi daun-daun mengkudu
Aku bangkit dari dengkuran sepi
Tanggalkan selimut diri
Berlari menjemput pagi
Menunggumu di perbatasan hati

(Petang Jumat, 1 Februari 2013)


DI UJUNG PERJALANAN  
Untuk ananda Rezqie Atmanegara

Akhirnya kita sampai di penghujung jalan
Walau  keringat basah bercampur resah
Walau cermin tempat mengaca pecah
Kitapun  telah meluruskan langkah
segarkan pikiran  menerjuni sungai dan telaga
Lalu bersama mengikat diri
Lalu bersama melangkah lagi
Gelak tawa satwa
Desis ular sawa
Dan seringai kera di pohon para
Adalah semangat saling mesra dan membuka rasa
Di ujung perjalanan ini
Kita  mengasah  pisau
Membelah bulan
Mengiris matahari

(Amuntai, 22 Januari 2013)


Tentang Fakhruraji Asmuni
Fahrurraji Asmuni memiliki banyak nama pena, antara lain, Raji Abkar, Fahrurraji, As al-Alaby, Frasmuni, Raji Leonada. Adalah guru SMA Negeri 1 Amuntai. Pendidikannya S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia-Daerah (PBSID) FKIP Unlam (2003) dan S-2 Manajemen Pendidikan, STIE Pancasetia (lulus 20112)
      Mulai terjun ke dunia tulis-menulis sejak tahun 1982. Karya-karyanya berupa esai, puisi, dan cerpen pernah dimuat di berbagai media. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi tunggal, di antaranya Darah Impian (1982), Tragedi (1984); Juga hadir dalam buku  Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1988), Bintang-Bintang Kasuma I (Antologi 11 penyair Hulu Sungai Utara, 1984), Seribu Sungai Paris Berantai (antologi penyair Kalsel, Aruh Sastra III di Kota Baru,  2006), Ronce Bunga Mekar (antologi penyair Banua Enam, 2007), Mahligai Junjung Buih (antologi puisi dan cerpen Sastrawan Hulu Sungai Utara, 2007),  Tarian Cahaya   Sanggam , Antologi Puisi Penyair Kalsel, (Aruh Sastra V di Balangan,  2008), Doa Pelangi di Tahun Emas, (Aruh Sastra VI di Marabahan, 2009), Menyampir Bumi  Leluhur, (Aruh Sastra VII di Tanjung, 2010), Antologi Puisi Penyair Kalsel (ASKS VIII Barabai, 2011), Sungai Kenangan (antologi puisi penyair Kalsel, ASK IX Banjarmasin, th. 2012), Kepak Sayap Sastra Banua untuk Kemanusiaan (ASK X,Banjarbaru,2013)  dan Membuka Cakrawala Menyentuh Fitrah Manusia (ASK XI, Rantau, 2014).
         Kumpulan cerpen dan cerita yang telah dirilisnya adalah Kuning Padiku, Hijau Hidupku (1984), Sang Guru (1990), Pengabdian (1995), Dialog Iblis dengan Para Shalihin (2000), Datu-Datu Terkenal Kalsel (2001), dan Kena Tipu (2005).
         Karya yang lain adalah  Mengenal Sastra Lisan Banjar Hulu (untuk Muatan Lokal tingkat SLTP, 2001), Sastra Lisan Banjar Hulu  (yang sudah punah dan masih  hidup, 2009), Antologi cerpen siswa SMA ” Diteror 100 Jam” , (editor, 2010), Tutur Candi (September, 2010) dan Kumpulan Kisah Humor Bahasa Banjar (2010);  Ketika Api Bicara (kumpulan cerpen bersama, 2011); Putri Junjung Buih (kumpulan cerita daerah, antologi bersama penulis HSU, 2012); Kiat Menulis dan Cerpen Pilihan (antologi cerpen bersama, 2012), Nyanyian Kerbau Rawa (antologi bersama  (GPM Amuntai, 2013); Syekh Abdul Hamid Abulung, Korban Politik Penguasa (Penerbit Hemat, Amuntai, 2013); dan Sajadah Iblis (Penerbit Hemat, Amuntai 2013).
Menerima hadiah seni sastra dari kesultanan Banjar,  pada 16 November 2013 atas dedikasinya dalam pengembang seni sastra dan budaya daerah dan anugerah seni sastra dari Gubernur Kalsel, 14 Agustus 2014. Penyair tinggal di Sungai Malang, Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalsel.


Catatan Lain
Selain meminjam buku ini dari Hajri, saya juga membandingkan dengan puisi-puisi yang termuat dalam blog Percikan Sastra dan Budaya. Puisi-puisi itu diposting sekaligus di tanggal 13 Agustus 2015, harinya Kamis. Tentu saya berpegangan dengan apa yang tercetak (buku). Ada beberapa revisi, jika tidak dikatakan banyak. Yang di buku tentu lebih baru, dalam pengertian, yang telah melewati revisi. Namun, bagi saya pribadi, hasil revisi-an, belum tentu lebih baik. Kadang yang belum direvisi pun tak kalah menyengat.
            Buku ini dipersembahkan untuk istri dan anak-anak penulis. Ada keunikan dari nama anak-anak penulis, yang kesemuanya memuat unsur Fakh. Mereka adalah M. Fikri Fakhrudi, Dina Fakhriana, Ahmad Hafizh Fakhrin, Emma Fakhriati Zulfa, dan Muhammad Zikri Fakhrian. 
Berikut akan dibandingkan puisi di buku (yang telah mengalami revisi) dan puisi yang ada di blog. Kedua versi ini, bagi saya, sama bernilainya.

BULAN BERSELENDANG AWAN (versi buku)
     
Ketika membuka album lusuh
Terpampanglah kisah rembulan berselendang awan
Menggoreskan cahaya di lembaran hati
Bermekaranlah harapan mewangi di ambang sore
“Bang, ada sebuah kolam bening menunggu
kehadiran seekor ikan     agar sepi tak lagi
memagut tepian”
“Ikan siap merenangi kolam bening sepanjang waktu.”
Gayung telah bersambut
Jalan terbuka lebar
Matahari bersinar di depan mata
Tiga tahun memintal benang cinta
Janur kuning akan dipancang tanggal muda
Malam sebelum bersanding di pelaminan
Anisyah tabrakan di perempatan jalan
Kepergiannya belati menikam diriku
    
(Malam sepi, 21 Februari 2013)


BULAN BERSELENDANG AWAN (versi blog)

      Kuseka air mata yang merayap di daratan pipi
Kutatap onggokan tanah basah dengan dua menara
Kemudian melangkah ke masa lalu
Terbukalah album lusuh
Terpampanglah kisah rembulan berselendang awan
Bermula pertemuan pertama di aula lantai II Unlam
Mata bertemu mata
Menggoreskan cahaya di lembaran hati
Bermekaranlah harapan mewangi di ambang sore
Seusai kuliah asuhan Pa Jebbar
Ia memberi isyarat hatipun jadi berdebar
Ketika pulang jalan bersama
“Bang, ada sebuah kolam bening menunggu kehadiran seekor ikan
      agar sepi tak lagi memagut tepian”
“ Ikan siap merenangi kolam bening sepanjang waktu.”
      Lalu mendaratlah sebuah ciuman terima kasih
Gayung telah bersambut
Jalan terbuka lebar
Matahari bersinar terang di depan mata
Tiga tahun memintal benang menjadi kain
Musyawarah berbuah mupakat
Janur kuning akan dipancang tanggal muda bulan muda
Undangan biru sebar ke handai tolan
Malam sebelum bersanding di pelaminan
Anisyah tabrakan di perempatan jalan
Kepala pecah tulang kakinya patah
Hari perkawinan berubah jadi hari kematian
Kepergian Anisyah belati menikam diriku

(Malam sepi,21 Februari 2013)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar