Pengantar Bulan Maret 2017

Pengantar Bulan Maret 2017
Bulan Maret 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 05 Desember 2016

Nersalya Renata: LIMA GAMBAR DI LANGIT-LANGIT KAMAR




Data buku kumpulan puisi

Judul : Lima Gambar di Langit-langit Kamar
Penulis : Nersalya Renata
Cetakan : I, Januari 2015
Penerbit : Akar Indonesia, Yogyakarta
Tebal : 88 halaman (55 puisi)
ISBN : 978-602-71421-2-1
Penyunting : Nukila Amal
Perancang Sampul & Penata Letak : Pat Adele
Fotografer : Ging Ginanjar & Yudi
Gambar sampul diambil dari Instalasi
Maria Zaitun (2010) karya Hanafi

Beberapa pilihan puisi Nersalya Renata dalam Lima Gambar di Langit-langit Kamar

PUTIH

di sini, putih adalah pusat. tujuan dari setiap
perjalanan. semua berlomba untuk menjadi putih.
tampak putih. seolah-olah putih. berpura-pura
putih. bermuka putih. berpikiran putih.
bertingkah laku putih. berkata-kata putih.
berjalan di jalan yang putih.
mengerjakan pekerjaan yang putih. berkeyakinan putih.
bermimpi putih.
berteman dengan teman yang putih.

Jakarta, 2011


METAMORFOSIS

setelah meninggal
kakek menjadi angka delapan digit
bersemayam dalam rekening nenek

Jakarta, 2013


MATI

jika aku mati
apakah kau
akan mengawetkanku
dalam puisi

Jakarta, 2008



LIMA GAMBAR DI LANGIT-LANGIT KAMAR

Gambar 1
seorang lelaki dengan hati yang berisi 3 kuntum
bunga: mawar putih, anggrek bulan ungu, dan
krisan kuning

Gambar 2
ibu mencium seekor katak yang takkan pernah
berubah menjadi pangeran

Gambar 3
sebuah kanvas kosong

Gambar 4
seorang perempuan yang terus-menerus berbicara
dalam kepala seorang laki-laki

Gambar 5
mayat seorang perempuan
dengan selembar pesan di tangan:
aku tak butuh puisi-puisi dan cintamu yang fiksi

Jakarta, 2008


RUMAH

ibu selalu menjadikan dirinya
rumah bagi ayah

rumah yang sekelilingnya dipagari
rumah yang diubah-ubah ayah warna dindingnya
rumah yang dipaku dindingnya untuk dipasangi
lukisan, foto keluarga, jam dinding dan tanggalan
rumah yang bagian-bagiannya dihancurkan untuk
dibangun kembali
rumah yang diam
rumah yang tak ke mana-mana

rumah yang ditinggalkan ayah
dengan kisah-kisah abu-abu
dan rumah yang selalu menanti ayah kembali
dengan doa membiru

begitulah ibu
selalu menjadikan dirinya rumah bagi ayah

rumah yang terus-menerus ditinggalkan
untuk dimasuki kembali oleh ayah

Jakarta, 2008


SEPOTONG SAJAK

apa yang bisa kuberikan padamu
untuk kesabaranmu
menemaniku main boneka, pasaran
dan memboncengku setiap hari
dengan sepeda tuamu
diiringi lagu-lagu jepang
remah-remah ingatanmu

apa yang bisa kuberikan padamu
untuk cerita-cerita yang berhamburan
untuk waktu tidurmu yang tersita
ketika asma menyerangku

apa yang bisa kuberikan padamu
untuk setiap hangat dekapan
dan air matamu yang merembes di bahuku
ketika aku hampir kehilangan segala warna

apa yang bisa kuberikan padamu
selain sepotong sajak
dan rindu
yang tak kenal kata usai

Jakarta, 2006


KHAYALAN UNTUK NENEKKU

1
selembar uang plastik
: cukup untuk membayar tagihan telepon. listrik,
dan belanja-belanji 30 tahun kedepan.

2
robot untuk membersihkan rumah, halaman,
memasak, mencuci, menyeterika, menyiram bunga.

4
buku-buku tentang obat-obatan tradisional,
tanaman hias, dan agama

5
dokter pribadi yang selalu siap dan sabar
mendengarkan keluhan-keluhannya.

6
tetangga-tetangga yang sangat ramah, baik, dan
tak pernah bikin ulah.

7
menang undian mi instan: liburan ke bali
selama 7 hari untuk 2 orang, plus uang saku.

Jakarta, 2009


KEPADA ANAKKU

aku mencintaimu
jauh sebelum namamu kutemukan

telah kupilihkan ayah terbaik untukmu
ayah yang membuat matamu berbinar
setiap kali kau menatapnya
ayah yang berwarna pelangi
ayah yang kau sukai seperti permen dan coklat

aku bersumpah
kau tak akan memiliki
sebuah pisau yang menancap dalam kepalamu
seperti yang kumiliki
pisau yang ditancapkan ayahku
pisau yang terputar
setiap kali aku menatapnya
pisau yang membuatku
tak mengenal warna

aku bersumpah
ayahmu adalah ayah terbaik
ayah yang memberi keindahan warna pelangi

namun, jika kelak aku salah
aku akan sangat menyesal
dan akan terus meminta maaf padamu
sepanjang hidupku

Jakarta, 2007


GIGI DALAM GELAS

nenek selalu menyimpan gigi palsunya dalam sebuah
gelas yang diisi air. kadang sangat mengejutkan
saat melihat gigi nenek dalam gelas.
gigi yang mengatup dengan gusi merah muda.
aku selalu membayangkan perpindahan gigi itu.
direndam dalam gelas.
dipasang dalam mulut nenek. bagaimana gigi itu
keluar masuk mulutnya. membantunya berbicara.
menghancurkan makanan. juga tersenyum.
suatu kali, saat kami ngobrol ketika nenek tersenyum
rongga mulutnya tampak gelap. hitam. kosong.
ternyata nenek tak memakai gigi palsunya.
kesedihan tiba-tiba memelukku.
pipi nenek terlihat begitu cekung.
ia tampak sangat renta.
setiap kali masuk kamar nenek
dan melihat gigi nenek dalam gelas. aku masih saja
selalu terkejut. namun juga sangat berterima kasih.
karena gigi itu telah banyak membantu nenek.
terutama karena telah menyamarkan kerentaannya
hingga senyumnya menjadi lebih indah

Jakarta, 2011


ORKESTRA

suara tamborin menembus jendela kendaraan
meledak di perut anak-anak tanpa nama
yang asyik menggerogoti monumen di tengah kota

orang-orang berlintasan
menutup mata dengan stiker
tisu kloset dan spanduk diskon supermarket

pada sebuah telepon umum
seorang pelacur sedang sibuk menjahit kelamin
lalu menutupnya
dengan plester bermotif kartun

di jembatan penyeberangan
para pengemis menyusun barisan
lalau bergiliran berorasi
tentang tangan yang menjulur
lantas mereka berteriak-teriak
sambil melempari matahari

suara peluit, sirine, klakson kendaraan,
lagu-lagu bertabrakan
dengung orang-orang bertanduk
sebuah pengumuman
dan sayup suara azan

Bandar Lampung, 2005


HITAM

aku tak tahu
apa yang salah
dengan kulitku yang hitam

hitam
membuatku ingin lenyap
tiap kali acara arisan keluarga,
ada saudara berkunjung,
juga di hari raya

aku tak tahu
apa yang salah dengan
kulitku yang hitam

setiap kali paman atau bibiku
berkunjung, selalu saja
julukan-julukan keluar dari mulut mereka
semuanya menempel padaku
aku besi berani
jarum-jarum ejekan dari mulut mereka
menempel padaku

mereka juga membandingkanku
dengan sepupuku yang berkulit putih
lantas mereka  melarangku
bermain di luar rumah di bawah matahari

begitulah
setiap kali ada kumpul-kumpul keluarga
aku ingin sekali bisa lenyap tiba-tiba
atau terbungkus dari ujung kaki
sampai ujung rambut
seperti permen yang dibungkus
dipuntir ujung-ujungnya
seperti pocong
agar tak ada yang melihatku
dan memanggilku si hitam

Jakarta, 2009


NENEK  MOYANG

saat teringat naga
aku berpikir
mungkin ia nenek moyang keluarga kami

jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepalaku
mengapa setiap kali berkumpul
mulut kami selalu mengeluarkan api
dan sangat bernafsu saling menghanguskan

Jakarta, 2009   


KERAN

tak perlu kau perbaiki keran itu
biarkan ibu terus menunggu
air menetes
sambil menjahit tubuhnya
dengan garis-garis jelujur
dan rapat tisikan
atau biarkan ia membayangkan
air mengalir deras dalam kepalanya
menghanyutkan ihwal yang lama tersimpan

teruslah bicara
tentang kewajiban dan aturan kehidupan
agar tak jadi prasasti
atau fosil
yang ingin ditemukan dan dimaknai

tak perlu kau perbaiki keran itu
cerita-cerita telah mampat
tak ada yang dapat dicatat
amarahku menjelma
langkah tergesa yang sunyi
tertinggal di lemari
di bawah kursi
serta dalam ruang-ruang
yang tak mampu kumasuki

mungkin kau pernah ada
pada ranjang di sudut kamar
atau boneka beruang
yang sebelah matanya telah hilang
tapi aku tak ingin tahu
tak akan bertanya

kita sedang main sandiwara
tanpa plot dan sutradara

Bandar Jaya, 2004


TUHAN DAN AYAHKU

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia selalu mencari tuhan-tuhan lain.
tuhan yang bisa mengabulkan permohonannya
dalam semalam. tuhan yang tak perlu dirayu
dengan doa-doa.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia terus mencari. tuhan yang bisa menjaganya
dan memakmurkannya dalam sekejap.
tuhan yang melindunginya dari segala niat buruk
orang-orang berhati buruk.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia menemukan tuhan yang lain. tuhan yang bisa
disematkan di jari manisnya. tuhan yang ditanam
di pojok-pojok rumah. tuhan yang dapat dilarutkan
dalam minuman dan dicampur dalam makanan
untuk mengarahkan hati dan pikiran
sesuai keinginannya.
tuhan yang bisa menumbuhkan pohon uang.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku. ia bosan
berdoa. perjalanan doa menjadi nyata terlalu lama.

satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku.
ia menemukan tuhan yang lain.
seluruh keinginannya terwujud
dalam waktu singkat. aman. makmur. tanpa pesaing.
tanpa pengacau. tak ada yang membangkang.
semua jalan lancar. tak ada jalan buntu.
tak ada kemacetan. kharismanya berkilau.
senyumnya semakin lebar. ia tidur sangat nyenyak.
tanpa doa. tuhan yang baru tak perlu doa.
tak perlu ia jenguk lima kali sehari.
ia mimpi begitu indah.
mimpi menyembunyikan ibu di balik pohon.
lalu ia terbang bersama bidadari.

Jakarta, 2008


MIMPI-MIMPI SAKIT PANAS

1
sebuah lingkaran api. seekor harimau besar
di sisi kanan. memandangku. harimau itu mundur.
mengambil ancang-ancang. lalu melompati
cincin api di atasku. dalam slow motion
aku mengamati bagaimana harimau itu
melintas di atasku. berpindah ke sisi kiri. lalu
melompat lagi ke sisi kanan. berulang-ulang.
aku memejamkan mataku. mencoba tidur. namun
saat mataku terpejam aku masih saja melihat
harimau itu. melompati cincin api di atasku.
berpindah-pindah. dari sisi kiri ke kanan.
dari sisi kanan ke kiri. tak pernah berhenti.

2
pada dinding yang catnya memudar. aku melihat
monalisa menulis surat. dengan pena bulu dan
tinta. ia menulis. menyelupkan kembali
ke dalam tinta. terdiam sejenak.
lalu kembali menulis. monalisa menulis
dengan sangat khusyuk. semar datang
mengendap-endap. mendekati monalisa. berdiri
di belakang monalisa dengan kedua tangan di
belakang. mencuri baca surat yang sedang ditulis.
tersenyum-senyum. lalu mengangguk-angguk.

3
pada plafon yang terkena bocoran air hujan.
minotaur memandangku. mata bengisnya
tak berkedip memakuku.
detak jantungku semakin cepat. perlahan.
kurasakan. napasku tersedot kedua matanya.

4
sebuah batu hitam. besar. di atasku.
aku merasakan berat yang sangat. aku berusaha
menggerakkan tubuhku. membebaskan diriku
dari batu besar itu. tapi tak berhasil.
aku berteriak-teriak minta tolong.
namun tak ada suara yang keluar.
dan tak ada seorang pun yang datang.

Jakarta, 2013


AKHIR PEKAN

perempuan itu datang saban akhir pekan
berjongkok di sisi gundukan itu
membacakan surah dan doa-doa

sebenarnya
dia datang untuk menutupi penyesalannya
untuk seluruh akhir pekan yang telah ia abaikan
akhir pekan kala dulu lelaki itu menanti
kedatangannya di beranda
menantinya untuk sekadar berbincang-bincang
tentang masa lalu
atau berita-berita paling baru, paling hangat
lelaki itu sedikit berharap. bahwa perempuan itu
akan sedikit peduli pada dirinya. menanyakan ihwal
asam urat yang bersemayam pada kedua kakinya.
merayunya untuk berobat.
lalu mengajaknya jalan-jalan
dan mentraktirnya makan
namun, lelaki itu selalu sendiri
di beranda setiap akhir pekan

kini perempuan itu selalu datang
saat tanah telah menyimpan rapat lelaki itu
ia ingin semua kembali
namun tanggal kepulangan telah ditetapkan
yang pergi takkan kembali
waktu yang lewat tak bisa diminta kembali
sekeras apa pun usahanya
sekeras apa pun tangisannya
sedalam apa pun penyesalannya
sebanyak apa pun permintaan maafnya
sebanyak apa pun doanya
seberapa sering kunjungannya

penyesalan akan terus membuntutinya
memberatkan hati dan pikirannya
menyemak dalam kehidupannya
meredupkan cahaya wajahnya

tapi dia akan selalu datang saban pekan
berjongkok di sisi gundukan itu
di antara embusan anginsore
dan anjing yang berkeliaran
juga sunyi yang memekakkan

Jakarta, 2012


FRAGMEN KEHILANGAN

1
malam hampir mencapai titik pusatnya.
hari bergegas berganti nama. kau kehabisan
kata. napasmu satu satu. aku hanya bisa
memandangmu. tiba-tiba aku teringat
pohon-pohon yang kautanam di halaman
rumahku, dan kau minta aku menyiramnya
saban sore. nangka, jambu air, jambu batu, sawo
kecik, rambutan. aku memanggilmu. jarum jam
berkejaran. aku ingin mematahkan
jarum-jarum itu satu demi satu. ayat-ayat dan
tangisan bersilangan. bertabrakan. aku tahu
kau sedang berjuang keras. untuk menjawab
panggilanku. untuk membuka kelopak matamu.
di mana izrail kini berada. di muka pintu.
di langit-langit. di sisi jendela. atau di sebelahmu.
jika melihatnya, aku akan memintanya
datang lain kali. biasanya, saat ini
kau sedang tidur di lantai ruang tamu
berbantal peci lusuh kesayanganmu. dulu
kita selalu bersepeda bersama. menyusuri
perkampungan. singgah ke rumah kawan dan
kenalanmu. ceritakan lagi bagaimana rasanya
terjun dari hercules. ayo nyanyikan sebuah lagu
jepang untukku. kuku tanganmu ungu
satu-satu.

jam tangan dariku belum sempat kaupakai.
mungkin lebih baik kita makan nasi goreng
lalu minum coca-cola dingin, sambil ngobrol
tentang mobil impianmu yang nyangsang
di awang-awang. kaugenggam erat tanganku.
air mataku menetes bagai keran bocor. harapan
seperti balon gas terlepas dari genggaman.
terbang tinggi. menjauh. kurasa ayahmu
menunggu di luar. menjemputmu.
dengan ferari enzo merah atau porsche panamera
hitam. tentu dia tak henti-henti menekan klakson.
tak sabar menunggu kemunculanmu
di muka pintu. awal. akhir. berangkat. pulang.
buka. tutup. aku di sini. kau kehilangan kata.
kau tamu terbaik saat acara minum teh.
pembeli yang menyenangkan saat main pasaran.
aku memanggilmu. berkali-kali. namun kau
seperti rumah kosong yang memantulkan
kembali suaraku. mobilmu masih di bengkel.
kau kehabisan udara. selesai. kau telah selesai
berjuang. izrail telah menyelesaikan tugasnya.
kedua matamu tertutup. semua tertutup.
matamu. pikiranmu. hatimu. berhen. kau
terdiam. dalam sepi.
bagaimana aku harus percaya. ini hari terakhir
kita berbagi matahari. kabar kepergianmu
disiarkan dengan pelantam masjid setelah
azan subuh. mendengar namamu disebut dan
melihatmu terbujur aku merasa
ada yang mencabik-cabik di hatiku.

kau hanya diam. dengan tubuh sedingin lantai dan
dinding. aku akan menemanimu.
memandang wajahmu sepuas-puasnya. aku akan
mengantarmu pulang. sebagaimana dulu
kau selalu mengantarku ke mana pun dengan
gembira. tapi kali ini. bagaimana aku harus
mengantarmu dengan gembira.

2
aku telah membaca namamu, berikut tanggal
kedatangan dan kepulanganmu. tapi aku masih
mendengar suaramu. memanggilku. mengajakku
ke kebun. memetik daun singkong, tekokak, dan
bunga kecombrang. “nenek akan masak daun
singkong tumbuk kesukaanmu,” katamu.
berkali-kali kumasuki kamarmu, ruang tengah
tempat kau biasa menonton tv. beranda. dapur.
menyakitkan melihat daun-daun kelapa kering
yang kauikat dan kaususun rapi dekat tungku.
topimu yang tergantung murung. obat asam urat
yang terakhir kali kaubeli. di kebun, hanya tinggal
rumah panggung kecil yang kaubangun menjelang
ulang tahunmu yang terakhir. juga pohon-pohon
yang kautanam. kau seolah mempersiapkan
semuanya. menyiapkan bagaimana aku akan
mengenangmu.
tentu. kau seperti menyediakan pondok itu
untuk tempatku menangis
sambil memandang semua pohon yang kautanam.

3
kali ini. sungguh. toko-toko souvenir
begitu menyakitiku. entah berapa toko
yang kumasuki. semakin banyak toko
semakin sakit terasa. namun aku tak bisa berhenti.
memasuki toko demi toko. menyusuri rak
demi rak. meja demi meja. meneliti seluruh barang
yang tersusun di meja. terpaku pada barang-barang
yang digantung. sibuk dan bingung memilah-milah
jam, topi, pipa cangklong, cincin, ikat pinggang,
korek gas, kaca mata.
tiba-tiba aku teringat kau yang selalu duduk
di beranda menjelang senja.
dan kali ini. tak  ada yang bisa
kupilihkan untukmu dengan segala keriangan.
begitu menyakitkan tak bisa memilihkan
benda-benda itu untukmu. yang biasanya
akan kauterima dengan gembira dan
sedikit malu-malu. tak ada. tak ada yang bisa
kupilihkan untukmu. senja itu masih sama.
namun kau tak lagi duduk di beranda.

Jakarta, 2012


Tentang Nersalya Renata
Nersalya Renata lahir di Bandar Jaya, Lampung Tengah, 1981. Alumni FKIP Universitas Lampung Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktris Teater Satu Bandar Lampung. Menetap di Jakarta. Puisinya tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama.


Catatan Lain
Saya jarang menemukan sebuah buku puisi dipersembahkan untuk kakek dan nenek. Dan sesuatu yang jarang itu saya temukan di sini: “untuk/Atokku, Baharudin bin Thomas Junior (1931-2011)/Nenekku, Nurjanah binti Mohammad Noer/Zen, Faila, Kanya/Teman-teman Teater Satu Bandar Lampung.”
            Segera setelah menyuntuki buku ini, satu kesimpulan muncul di kepala saya. Renata di buku ini banyak menulis sekitar tema-tema keluarga. Tentang keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar