Pengantar Bulan OKTOBER 2017

Pengantar Bulan OKTOBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Rabu, 05 April 2017

Budy Utamy : RUMAH HUJAN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Rumah Hujan
Penulis : Budy Utamy
Cetakan : I, Maret 2008
Penerbit : Frame Publising, Bantul-Yogyakarta.
Bekerjasama dengan Komunitas Paragraf dan
Yayasan Sagang Pekanbaru
Tebal : xxiv + 101 halaman (49 puisi)
ISBN : 978-979-168491-x
Editor : Hary B Kori’un
Supervisi : Raudal Tanjung Banua
Desain Sampul : tinkerbell graphics (Bandung)
Desain Isi : Adi Rajin
Pra-Cetak : Nur Wahida Idris
Pengantar : Hasan Junus

Beberapa pilihan puisi Budy Utamy  dalam Rumah Hujan

Tanah Tak Bersurga

tanah ini nak, tak separuh umurmu
hitamnya tak menyimpan humus
cuma buangan mimpi yang pernah melewati
pekarangan kita
konon kabut turun, ketika kau lahir
surga telah tiba, mak, ratap bapakmu
lalu kenapa bertahun setelahnya kita masih mengais
daki sejarah
dilumat mampus oleh ketakutan
yang di dalamnya kita harus permisi sekedar
menumpang nafas
surga tak pernah sampai di tanah ini
kecipak air terserap kerak kemarau
mulut-mulut yang ditemani tarian lalat dan belatung
menunggu hari disentak kelam yang tiba-tiba
kecup tanah ini, nak
mungkin esok berganti beton dingin yang angkuh
dan bunga rumput tak mampu menelusur mimpimu lagi
hangus bersama terik bakau yang terbakar di pipa-pipa
raga kita
seperti tanah ini,
tak bersurga, yang kelak tinggal nama

Pekanbaru, 19 September 2006


Gazal Cinta

pada sebuah paragraf,
ada cinta kutitipkan, dalam perjalanan yang selalu
membuatku menunggu
harap yang hinggap mungkin sekedar tempat bertanya
ke mana?
dan dunia meriak dalam gerak, melantunkan mimpi,
berkali-kali
hentak, menghentak mempermainkan langkah
mabuk
membiarkan gelang-gelang bercerita
menggemerincingkan sunyi, dan kepolosan dunia
terjaga dalam lafaz demi lafaz yang kucoba hafalkan, dan gagal
tergagap dalam ceruk senyum, membuai
jangan pergi,
kisah belum lagi usai, usah pesonanya membungkam,
teriakkan saja cintamu padaku,
lalu biarkan detik menyimpan kenangan, untuk tiba saat berbagi
bersama jiwa-jiwa murni
di ambang petang, kita tak lagi  perlu ribu-ribu kata,
ikrar merambat dalam genggaman memutihkan penantian
dan gazal cinta kumainkan sekali lagi.
sepenuh hati.

Pekanbaru, 29 Juli 2005



Gerimis Berkata-kata

gerimis berkata-kata
pada kelam yang tak lagi semerah senja
cukupkah beku kuberi?
sementara musim semi baru saja
menghantarkan kelopak-kelopak hati
padamu, lelah ini berhenti
seperti rindu yang berdeting dari mimpi-mimpi berdebu
terasing dalam haru
dan bersama pedih,
telah kau balur aku dengan kasih

12 November 2002


Hidup

bilur pada bibir mengatup musim
pada ruam menghujam angin
pada jendela mencakar dinding
pada kata meminang sepi
kuraba kau,kukenang mati

sumwhere,maret-april 2002


Dan Waktu pun Gugur

waktu pun gugur
setelah semerbaknya menipis dalam udara
miris berayun pelan di pelupuk bibir
oi,ke mana kuusir malam yang tak bersahabat
hingga siluet cemara pun terkekeh mengumpat
aku sudah kalah dalam permainan perasaan yang kita lakoni
setelah pengharapan mirip tugu menunjukkan legamnya
duhai,musim yang aneh
daun-daun terlambat berlari terganti lompatan waktu
perjalanan ini telah letih,sayang
bersimpang-simpang kisah
berpatah-patah harapan
berliang-liang rindu
berlinang-linang aku

memujamu membutakan hati,
mengganti cinta menjadi belati
dan waktu memang telah gugur,
takkan kembali

Pekanbaru,10 Februari 2006


Aku, Kekunang Semalam

aku, kekunang
yang terpapas sinar tinggal pendar pada pemantang
keriangan malam milikku
pekatnya tetap milikku
abadi hilang di bulan buram yang resah
tersisip entah pada lembar keberapa
entah pada bunga rumput yang mana
semalam adalah aku
tarikan napas dan tarian perpisahan yang sempurna
berpagut rindu pada lelahnya mungkin
merdu sesayap patah angin
di tebir-tebir hati yang mati
aku terlalu dahaga untuk keengganan pada samudera
pun terlalu rapuh untuk memecahnya

di sini kuretas kenangan
tawa-tawa jalang yang muram
membenam keriangan luka
aku merana,tergelak,dan berteriak
sesayap rubuh,sesayap lapuk
berselimut embun dan titik-titik fajar
kukecup harum tanah perjanjian
dengan seucap kata:
aku karam ha..ha..ha…

Pekanbaru,24 November 2001


Kasidah Laut

gemuruhku,membenak di sisi pantai yang lain
saat gagap ombak dan letih buih bersanding

aku, si ombak pincang
berlari menyusurimu,kekasih
menyapu gelisah di sepanjang lekuk karang
yang kerap menghadang,beringas
menyeringai tajam
tapi toh tak pernah menumpulkan gairah akan diammu
aku membawakan berdesir-desir desah cinta
menepikan asin yang hanya pedih mendekapmu
peluk mungkin akan berhenti entah kapan,
saat penat yang membatu ini berteriak lantang
kekasih,berkali-kali kurelakan bernafas
nafasku karam di bibirmu
berkali-kali kutantang terik hari dan malam yang jatuh,
menertawakan aku yang dibelah-belah rindu
hanya petang,menawar sejenak kegundahan ini
saat pasang aku kan menemuimu,kekasih
biarkan aku menghitung buih yang kuhempas ke pantaimu
sekedar mengakui ketidakberdayaan aku,si ombak
yang tak punya pilihan selain mencuri waktu
untuk mencumbu.
jika selepas malam deburan dan belai tak lagi sampai
ke kaki-kakimu
jangan mencariku,kekasih
gemuruhku,mungkin telah membenak di sebuah sisi
pantai yang lain lagi  
saat gagap ombak dan letih buih bersanding
atau mungkin aku,si ombak
karam diam-diam.

Pekanbaru,15 Juli 2006


Omerta

aku berdiri di reruntuhan
memilih berlagu dalam redup bayang-bayang
bersembunyi di dekap yang semerbak
setialah padaku, katamu
dan kubentang cerita kita di binar-binar mata, meski buta
kurasa dingin mengancam, harus apa?
langkah terikat lidah yang terbelah-belah ini adalah pilihan
dengan sayup kematian aku mengukirmu sekali lagi.
setia, bisikmu
pasrah menyembur lewat luka, seperti mawar
di merah senja.
tapi dunia tahu apa?
tahun-tahun hanya letih, perjalanan yang kemudian kita
sesali sama-sama
aku terlalu muda, tapi cinta tak menunjuk usia
memang kelam sesudahnya,
namun bungkam yang kusenandungkan ini, simpankan.

Pekanbaru, 28 Juli 2005


Kota

kota ini menggetarkan
pada langit nama-nama seperti bersayap menjauhi
aku bergumul dalam khayal abu-abu
bau tanah itu milikmu, usapan pagi senandungmu,
malamku beku
terlempar kembali dalam kesengajaan yang buru-buru
di antar pilarnya aku mencari segenggam kata
untuk kuberi
saat kita bertemu nanti
aku pulang,
kota ini letih memuat tahun-tahun cerita yang sama
ataukah aku semakin terhimpit mencari-cari makna
di sini hujan menjadi kenangan
cerita usang yang sama-sama kita poles di mukaku,
tak bersekat
bacalah, paragraf-paragraf ini milik kita

pernah dan bagiku tetap
skenario saat bulan meninggi dan tanah menutupi
bebayangku
tak juga dapat merenggutnya
kota ini kita
meski akan pulas tanpa sentuh

kepekaan pudar, biarlah
toh awan itu masih namamu, lebuh ini tetap aku
maka biarkan mimpi mendayung kota menjadi tua,
dalam lamunan kita yang remaja.

Pekanbaru, Januari 2004


Melepas Hujan

melepas hujan, mengukir jejak
lengang menguntitku
meretakkan lentera yang kusulut selepas gelap menyergap
jangan jadi lilin, pesanmu
tapi dalam pasungan diam, leleh waktu menitikkan rindu
petang ini lagi yang kau persembahkan untukku

seakan pagi dan cerah hari tak ada dalam genggaman
lihat,
daun melambai pada matahari
memancar keterpaksaan
menyambut kelam yang belum tentu bersahabat,
belum tentu berbulan
tapi kita tempatkan saja waktu
seperti yang kau mau
merendam-rendam mulut dalam tuak
yang basi
menunggu rupa hari yang melulu layu
aku bosan,
menemui berderit-derit ngilu tak berujung
dalam labirin senja, cinta kadung menguap muak

kini hujan benar-benar pergi,
membawa jejakmu

Pekanbaru, 17-18 Juli 2006


Tiga Episode Pulang

deru ini nafas kita
pada sesak waktu yang saling berkejar
berapa menit lagi, berapa umur lagi
kita habiskan pada bermalam-malam romansa
susul-menyusul yang entah
wahai, pada gerbong yang samakah pertemuan itu
laluan yang melaju berdesir lirih saling melambai
pada sesuatu yang kutuju. Kau?

cubitan waktu yang kuhabiskan di setiap stasiun
tak juga menyuguhkan wajahmu
isak datang dan pergi,
bahagia dan sesal yang berhimpitan,
mengikuti umurku yang mendadak menjadi banyak
sudah setua ini, aku masih saja kikuk menghadapi
pertemuan
saat kata-kata sama-sama kita surukkan di tong sampah
yang berlalat
jika kemarin tak pernah lagi lewat dipikiranmu
dan kata-kata hanya kumpulan lebah berdengung
di jendela kereta
lenguh lambai yang kutunggu melemah, hilang tersapu
riuh rindu,
tiba-tiba dan cuma bisu.
manila, 28 november 2006#03.51

di stasiun ini orang-orang saling menyeka peluh
“wah, langkah-langkah berlarian memencar kisah”
Ke manakah denyut luka menuntun kita
pada senyap semata atau bias selamanya
helai-helai waktu yang gugur di sisi jendela
mengendap, saat jemari tak menggenggam apa-apa
dan lelah tak terseka siapa-siapa
dan kita dipaksa memberi makna, atau memilih untuk lupa
stasiun itu, kekasih, apapun maknanya,
hanya penantianlah yang mereka pilih
meski keriangan acap mampir hari ini,
esok tetap tunggu menunggu yang jemu,
lalu cinta ataukah keharusan, saat pilihan hanya
memberimu satu?
singapore, 30 November 2006#19.30

aku pulang
pada sejarah yang membentang barrel-rel cerita
melagukan pahit yang sama-sama kita kecap
dalam keterbatasan
bahkan untuk jujur sekalipun
tak apa, hidup berlari di sini-sini saja
tak perlu kita sulap menjadi dongeng yang ideal
dan aku tahu, kau tak pernah hadir di dalamnya
mungkin terselip pada malam di sebuah peron
yang tak mungkin lagi kuingat
kenyataan bukan musuh, memang,
meski tak juga mungkin bersanding dengan mimpi,
dan di baris berapa pun, di gerbong mana pun,
kita tetap mengeluh; wah, apa daya.

Pekanbaru, 17 November 2006


Rahasia Itu Bercerita

tak ada syair untuk dunia malam ini
hati terlajur dicuri dalam dekap-Mu
mementahkan tubuh-tubuh yang tergulung gelut doa
aku memaku hari-hari lewat,
untuk sekedar merasa denyut yang semakin tua
duhai, musim cinta telah datang
helai-helai nafas semakin tipis tenggelam
menanggalkan keharuman yang lumat dalam genggam
menuju keabadian di antara rahasia
sebelum mata terlelap dan kecupan-kecupan tersimpul mati,
izinkan aku menangis pada hela yang fana
dan biarkan rahasia itu mulai bercerita
23 Jan 06#14:37

rahasia itu bercerita
tentang sebait cinta yang erat dalam ikhlas
menunggu berita-Mu
aku akan pulang, setelah menari di atas geliat zaman
sejarah memang cuma mampir dan sepintas
meninggalkan bekas,
memutihkan bulan yang melengok pergi
tanpa penyesalan
setelah mencengramku dalam lenguh titik-titik subuh
24 jan 06#00:48

diam selalu punya waktu
membisikkan butir-butir cinta dalam semerbak gelas khayal
kapan lagi aku mencumbu-Mu,
meluruhkan pekat darah dalam pasrahku yang panjang
aku sekarat seperti sepi terkurung gundah
menjulang, membahana namun seteguk khianat
sakit dan pudar
24 jan 06#02.06

cinta ini jurang
membujukku mendekapmu dalam lunturan rindu
saat diri terbebaskan dan tanggul-tanggul air mata
membasuh fajar kegembiraan,
di situ aku menunggu-Mu
24 jan 06#02.35

pada penutup hari
kusandarkan cengkerama kita tadi petang
ikhlas membawa harapan tergelak bersama kenyataan
aku, dalam kehendak-Mu,
terlahir dan mati seperti debu
24 jan 06#13.22

ada pesan yang datang lewat denyut, sebentar tadi
melukai hati bukan lagi cara terbaik,
karena darah pemberian-Mu ikut tercabik
24 jan 06#13.36

aku terbakar rindu
setelah dahaga dan langkah membawaku menjauhi-Mu,
menanggalkan tali darah yang takkan pernah hilang
bodoh, melamunkan-Mu hanya akan gelap kini
hingga minda yang terkubur ini kugali
24 jan 06#20.41

aku mencari-Mu di wajah-wajah mereka
meski kupaksa waktu untuk selalu berpihak padaku
kecewa justru kubalas dengan teriakan dosa
hingga keraguan membuka cadarnya
dan dalam pedih, di situ kutemukan kekasih
24 jan 06#21.15

terkadang letih membuatku lupa menyapa-Mu
meneteskan peluh dalam hidup yang terlanjur buram
seperti lilin, aku terbakar dalam diam
mencair dan terbuang
24 jan 06#21.30

sejarah itu menghantui
menempel pada uap di jendela, meski tertutup
kemana kubagi bergazal kegelisahan ini?
kutepis serenyai mimpi penuh kutukan,
menyengsarakan
seperti lapar yang menggantung,
seperti benalu,
seperti aku.
24 jan 06#23.40

roman ini menyisakan gelisah padaku
mengenang kasih yang tak pernah luput pada tiap hela
yang Kau tiupkan
dalam epilog, kusampaikan tentang debar menyentak
duhai, betapa aku mabuk cinta
sempatku berkelana dalam mimpi yang salah
menggapaimu justru mencampakkanku lebih jauh
iman yang kupertentangkan dengan takdir-Mu,
menjejakkanku pada sesal berlebuh-lebuh

untukku telah Kau tuliskan skenario
yang seluruhku ada padanya,
dan kuteguk dalam satu perjalanan panjang;
hidup.
25 jan#01.00

Pekanbaru, Januari 2006


Menunggu Hujan

Kan kubiar bunga rumput menjalar
di tiap sisi cerita ini
acuh mendapati kabut bersembunyi di ketiak daunnya
lepas dingin, angin saja yang kukunyah
sementara batang menyentak-nyentak akar
memaksa mengirimkan rindu mengganti jemu
kita tidak lagi sedang memusimkan mimpi
jika kelak mendapati tubuh menjadi sekam
kering mengerang-erang
di kubur berepisode cerita hujan
31 agustus 2006#23.03

kabut yang jatuh ini, menenangkan
meninggalkan beku di mulut luka
aku tak dapat lagi melihatmu
percik-percik mimpi dan hari depan mengalir
pada sebuah lembah yang lain, kabut yang lain
dingin terlanjur penat menggantung-gantung di udara
mampir membawa hujan
bagi dinding lembahku yang entah
29 juli-agustus 2006#

sebilah jari menunjuk rongga yang senyap
menyanyilah, ajaknya
rongga mengatup, belukar menutup,
kata-kata merembes,
melelehi beranda tempat kau menenun bulan,
berkantuk-kantuk
19 september 2006#20.30

dekap beringsut lerai,
melengangkan jalan pulang
kita tak menuju pintu yang sama, jendela yang sama
sudut jalan yang derai langkahmu dan retak tanganku
tak berulir cinta
21 september 2006#21.37

tahun-tahun nakal
menyusur peluh cerita yang lelap dalam andai
merayap dekap di dada kiri
tempat kau mematuk detik
mendusta pada degup yang hambar
kau mencuri bibirku berkali-kali
lalu rutuk yang genit memenggal riangmu
menukar dengan hitungan umur
yang terlewati diam-diam
sesenyap tawa, sepenat pagut kita
26 agustus 2006#20.27
11 september 2006#15.55

ada ruang kosong di dada kiri
ketika langkah berderai-derai di rentak hujan
waktu juga yang membumbui kita dengan haru
menitip titik air di lentik mata
memaksaku menggerus dada
18 september 2006#22.34

nafas meremang sunyi di sini
gigil yang tak sampai malah mengirim demam
nama-nama terlafaz dalam igau
berbutir-butir jatuh bersama peluh
lepas menerobos pori
memutus simpul hidup
28 september 2006#23.40

aku menerka takdir yang menunggu lepas senja ini
gerimis menyuguhkan perkabungan
“telah raib dengan damai di sini…”
bertopeng-topeng kupajang di etalase,
yang kau sebut rumah,
yang kutelan dan lupakan
29 september 2006#14.45

usai sebuah perjalanan, apalagi yang kau ingat
selain serial petualangan berbumbu gairah
kehilangan tak sanggup meretakkan ubun-ubun
yang kau junjung dan tawarkan ke beranda-beranda
yang terjaga sepanjang musim
tak juga sebuah pengakuan muncul
menenangkan geletar angin yang dibawa hujan
dengan apa roman ini kuberi nama
atau senyap ataubelaka
atau maut akan memberiku nama
setelah kesiap rindu melayang di nafas yang kuhela
kemudian kau mengingatnya
04 oktober 2006#04.47

aku menunggu hujan
datang sekejap dalam kedip yang tak mungkin lagi
mengatup
marah yang nanti redup
25 oktober 2006#22.50

Pekanbaru 2006


Tentang Budy Utamy
Budy Utamy lahir di Pekanbaru, 20 Mei 1980. Mulai menulis sejak SMP namun publikasi karya mulai 2001. Puisinya tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama, seperti Puisi Tak Pernah Pergi (Bentara Kompas, 2003), Selat Malaka (UIR Pres, 2007), Tafsir Luka (Yayasan Sagang, 2005), Kemilau Musim dan Pesona Gemilang Musim. Bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru, Riau.


Catatan Lain
Di halaman v-vii, muncul serangkaian komentar, yaitu dari Hasan Aspahani, Herlela Ningsih, Olyrinson, Murparsaulian, Hukmi, dan Ramon Damora. Kata Murparsaulian: “Membaca Rumah Hujan saya seperti bermesraan dengan hujan. Sejuk, indah dan menyenangkan. Saya seperti melihat kaki-kaki hujan yang gagah turun ke bumi, memberi ketenangan dan sensasi yang luar biasa. Pilihan kata-kata yang unik, kadang-kadang melankolik lalu tiba-tiba muncul diksi yang gagah, menantang dan luruh kembali. Ada debaran rasa yang sulit ditebak, seperti hujan yang bisa datang kapan saja.” Setelah komentar, ada tulisan penulis yang menjadi pengantar buku ini, dijuduli Hujan dan Saya (hlm. ix-xi). Dan di halaman berikutnya, muncul prolog dari Hasan Junus yang berjudul Berkunjung ke Rumah Hujan.

            Oya, tak ada puisi yang berjudul Rumah Hujan di kumpulan ini. Judul puisi yang memuat kata hujan antara lain: Hujan Jugakah di Hatimu (hlm. 12), Melepas Hujan (hlm. 88), dan Menunggu Hujan (hlm. 91). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar