Pengantar Bulan SEPTEMBER 2017

Pengantar Bulan SEPTEMBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Sabtu, 01 Juli 2017

Asep Sambodja: BALLADA PARA NABI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Ballada Para Nabi
Penulis : Asep Sambodja
Penerbit : Bukupop, Jakarta.
Cetakan : I, Januari 2007
Tebal : vi + 126 halaman (46 puisi)
ISBN : 979-1012-09-1
Perwajahan : Nanok K.
Gambar sampul karya Nadhifa Ditya Ardacandra

Beberapa pilihan puisi Asep Sambodja dalam Ballada Para Nabi

Pada Sebuah Kata

rahasia yang tak pernah terungkap
adalah kata
yang melahirkan kita ke bumi jelata


Ismail dan Sumur Zamzam

sarah, istri ibrahim yang cantik
dan setia
merasa kasihan pada ibrahim
karena mereka tak punya anak
meski usia senja

sarah izinkan suaminya
menikahi hajar, yang
selama ini membantu mereka

tak lama lahirlah ismail
anak ini demikian lucu
ibrahim sangat sayang padanya
hampir setiap hari
perhatian ibrahim tertuju pada hajar
dan anak semata wayang

sarah pun cemburu
ia minta ibrahim
menjauhkan hajar dan ismail
dari dirinya
ia tak tahan mendengar
tangis bayi

ibrahim, hajar, dan ismail
tinggalkan palestina
menuju ke sebuah lembah

di tengah gurun yang panas
unta yang mereka naiki
tak mau berjalan lagi
mungkin ini pertanda
hajar dan ismail
harus ditinggal di tempat itu
dengan berat hati
dan doa yang dalam
ibrahim pun kembali

di bawah terik matahari
ismail menangis
karena lapar
karena haus
kerongkongan kering

hajar tak bisa menyusui
karena susunya pun
kering

hajar berlari
dari bukit shafa ke bukit marwah
bolak-balik
hingga tujuh kali
hingga letih sekali
tapi air tak juga ditemukan
pada saat itulah
datang malaikat jibril membantu
dari bekas telapak kakinya
muncullah sumber air zamzam

air itu terus mengucur
para kafilah yang berlalu
di tempat itu
senantiasa mampir minum
dan banyak yang bermukim
di kota itu, makkah
begitu pun burung-burung
turun ke sumur
sekadar mampir minum

air zamzam itu terus mengalir
hingga kini



Dzulkifli yang Ramah

buah jatuh
tak jauh dari pohonnya
sikap anak
terkadang mencerminkan
sikap ayah dan ibunya

demikianlah dzulkifli
menjadi orang yang sabar
seperti ayahnya, ayyub

dzulkifli terbiasa
berpuasa di siang hari
beribadah di malam hari
dan tak pernah marah

ia membawa islam yang ramah
bukan islam yang marah

suatu kali,
dzulkifli mendapat perintah
untuk berjihad
menegakkan agama allah

tapi, kaum rum, bangsanya
menolak berjihad
mereka bilang,
“kami ini kaum yang senang hidup
dan tak senang mati
sedang jihad
adalah penyebab kematian
karena itu, kami usul
hendaknya paduka nabi
mohon pada allah
agar kami diberi panjang umur
dan tidak mematikan kami
kecuali kalau kami yang minta.”

dzulkifli memohon pada tuhan
apa yang diminta kaumnya

dan allah memberikan mereka
panjang umur
bahkan teramat panjang
mereka hidup sangat lama
punya banyak anak
hingga tumpat pedat
dan kekurangan makan

akhirnya orang-orang itu
capai sendiri
mereka lelah hidup terus-menerus
sampai jompo
dan tak sanggup
melakukan apa-apa lagi
kecuali tidur
bernapas
tapi tak bergerak
hidup tak mati-mati
rambut memutih
wajah dan kulit
keriput
hidup yang panjang dan melelahkan
tapi tak mati
hanya terkapar di kasur
mendengkur
mungkin jadi parasit
bagi anak cucu

dan akhirnya
terucap sendiri dari mulut mereka
bahwa terkadang manusia sangat membutuhkan
mati


Kudeta

ketika daud menjadi raja
ia berlaku adil
hukum ditegakkan,
politik bukan panglima
dan ia persiapkan sulaiman, anaknya
sebagai putra mahkota
karena sulaiman selalu berlaku adil

terhadap dua pihak yang bersengketa
sulaiman selalu memberi keputusan
yang bisa diterima kedua pihak
ia tidak memihak
sama sekali tidak

tapi, absyalum, anak sulung daud
tidak bisa terima
ia merasa sebagai anak pertama
sudah selayaknya jadi putra mahkota
lalu ia kerahkan warga desa dan kota
menghimpun kekuatan
melakukan konspirasi
untuk mengkudeta ayahnya sendiri

setelah pasukan siap
absyalum mengepung istana
meminta ayahnya bertekuk lutut
inilah kudeta pertama di dunia
yang dilakukan anak terhadap bapaknya

daud tak ingin tumpah darah di negerinya
ia tak ingin terjadi perang saudara
– perang keluarga
ia pun menyingkir ke pinggir
ke bukit zaitun

absyalum naik takhta
ia menjadi raja di yerusalem
pesta pora suka-suka
setiap saat

daud berduka
bukan karena kehilangan takhta
tapi mengingat rakyatnya
yang kian sengsara
di bawah kekuasaan anaknya

kursi itu panas, absyalum!

daud dan sulaiman
serta pengikut setia
kembali menghimpun kekuatan
untuk menyerbu yerussalem

istana dikepung
tapi absyalum kerahkan pasukan
perang saudara tak terbendung
banyak darah mengalir
dan absyalum tewas
dalam perang itu

daud kembali menjadi raja
hingga usia tak sanggup memikulnya
dan ketika daud mati
sulaiman sudah siap mengganti

kursi itu panas, sulaiman!


Harta Karun

karun yang bergelimang harta
adalah sepupu nabi musa
tapi ia terlalu aniaya
pada diri sendiri

allah memberinya harta berlimpah
yang terkunci rapat
yang kunci-kuncinya sungguh berat
meski dipikul orang-orang kuat

janganlah terlalu bangga,
kata sahabat musa,
karena allah tak menyukai
orang-orang yang membanggakan diri
orang yang angkuh

“sesungguhnya aku mendapat harta
dari hasil keringatku sendiri
karena kepintaranku, dan
tingginya ilmu yang kumiliki,”
kata karun

dan ia keluar rumah
dengan kemegahan
diiringi pengawal,
hamba sahaya, dan
inang-inang pengasuh
ke tengah kota
sekadar show of force

ada yang kagum,
ada yang ingin menirunya
tapi, orang-orang pintar bilang,
“pahala allah tetap lebih baik
bagi orang-orang yang beriman
dan beramal saleh
dan yang bersabar.”

maka allah benamkan
karun beserta rumahnya
ke dalam bumi
dan tak ada satu golongan pun
yang dapat menolongnya
tak juga harta karun


Pencari dan Pembuat Tuhan

ibrahim dibesarkan di goa
ia hidup bersama alam
ia melihat bintang, bulan
matahari, dan langit
dan ia bertanya siapa
yang mencipta

ibrahim kecil lalu berpikir
pasti ada yang mencipta semua ini
dan pastilah ia tuhan yang esa
sang pencipta
—yang patut disembah

aazar, ayah ibrahim
tinggal di babilonia, irak
dan berprofesi sebagai pematung
atau pembuat patung
patung itu dijual
dan disembahnya
sudah tradisi, katanya

ibrahim mengingatkan
tapi, justru ia diusir
dari keluarga
ibrahim lelaki jalanan
hidupnya bersama alam

suatu hari
ia bertanya pada tuhan,
bagaimana tuhan bisa
menghidupkan kembali
orang mati
di kemudian hari

tuhan menjawab
pertanyaan ibrahim
yang kelewat serius itu
“hai ibrahim,
tangkaplah empat ekor burung
potonglah kecil-kecil
burung-burung itu
kumpulkan potongan daging
yang kecil-kecil itu
jadi satu
lalu bagilah menjadi empat bagian
setiap bagian
letakkan di atas empat bukit
yang saling berjauhan
setelah itu,
panggillah keempat burung itu.”

dan tuhan perlihatkan kekuasaannya
burung-burung itu datang
mendekati ibrahim
dalam keadaan utuh kembali
seperti semula
burung-burung itu
hinggap di depan ibrahim

sejak itu
kuatlah iman dan keyakinannya
hilang segala ragu
hati tenteram
tak gelisah
benar-benar yakin
sepenuhnya
tak bisa
ditawar
lagi


Kapal Besar Nuh

di tengah orang-orang sibuk
menyembah patung
menyembah karya seni
kehadiran nuh terasa asing
karena ia menyeru keesaan tuhan

orang-orang memandang sebelah mata
karena ia miskin
sementara mereka kaya
karena ia bersahaja
sementara mereka merasa
lebih pintar
dan tahu segalanya

sudah ratusan tahun berdakwah
hasilnya sia-sia
nihil
lebih banyak yang tak mendengarnya
lebih banyak yang melecehkannya
tak terhitung yang durhaka
pada allah
—mereka menertawakan azab
bahkan ingin melihat azab
secepatnya, seperti
memesan makanan siap saji
—serba instan!

nuh merinding
bahkan anak sulungnya, kanaan
tak menggubrisnya

“nuh, buatlah kapal
untukmu dan keluargamu
serta pengikut-pengikutmu
dan binatang yang ada
di muka bumi
sepasang-sepasang,”
perintahnya

nuh dan umatnya
menepi ke hutan
menebang pohon
mewujudkan ide besar

atas petunjuknya
ia merakit kapal besar
—semacam kapal induk
atau kapal laksamana cheng ho,
tapi lebih besar dari itu—

inilah kapal pertama
yang ciptakan manusia
di dunia
yang harus dicatat
dalam guinness book of record

orang-orang yang merasa pintar itu
menuduh nuh gila
sinting!
mana mungkin, katanya, sebuah kapal
dibikin di daratan yang jauh
—teramat jauh dari laut
memang seperti pekerjaan sia-sia
“azabnya mana?” ledek mereka

nuh tetap merakit kapalnya
bahkan semakin intens
semakin khusyuk
seperti sedang sujud padanya
kerja kreatif
seringkali dianggap gila

setelah kapal jadi
nuh dan umatnya
memasukkan segala binatang
—termasuk monyet,
nenek moyang darwin—
sepasang-sepasang
ke dalam kapal

semakin bingung saja orang-orang
yang angkuh itu
mereka mengira nuh
akan tamasya
atau melakukan perjalanan wisata
ke gurun-gurun
dan lembah-lembah
dengan kapal pesiar

tapi, rencana allah sudah pasti
di hari yang ditentukan
hujan besar itu tiba
setetes demi setetes air
jatuh ke bumi
semakin lama semakin deras
menghujam bumi

orang-orang itu mencoba
menyelamatkan diri
masuk ke rumah-rumah mereka
yang mewah
mereka merasa aman
berlindung di balik pintu
bersama harta dan kemewahan
tapi hujan tak juga berhenti
bahkan menjadi-jadi
semakin lama semakin tinggi
air di permukaan tanah
dan mereka mulai gelisah

hujan dan senantiasa hujan
rumah-rumah mewah mereka
ternyata tak mampu
melindungi
mereka tinggalkan rumah-rumah
yang tenggelam
mereka menuju gunung
barangkali mereka mujur

hanya nuh dan kaumnya
yang merasa nyaman
karena kapal yang mereka buat
seperti ada manfaatnya
dan mereka bersyukur
dan mereka berdoa
terus-menerus
semakin deras hujan
semakin deras doa dipanjatkan

satu per satu rumah tenggelam
dan membusuk
ditinggal pemiliknya
harta memang terbukti
tak ada gunanya
ketika kematian
datang menyapa

kota menjelma samudera
sepanjang mata memandang,
hanya laut
sepanjang mata melotot,
hanya laut
dan yang tampak dari kejauhan
hanya sebuah kapal
yang berlayar menerjang gelombang

nuh teringat kanaan
anak tersayang—
ia berdoa
untuk keselamatan anak sulung
yang membangkang

tapi, allah menegur
“hai, nuh!
sesungguhnya dia bukan lagi
keluargamu
dia bukan termasuk orang-orang
yang kami janjikan
untuk diselamatkan
kami hanya menolong
orang-orang yang beriman saja
maaf!”


Kitab Maryam

di sebuah sendang,
maryam menanggalkan pakaian
udara gerah
meski air tenang
di bawah pohon rindang

tanpa suara
datang lelaki itu,
tampan dan rupawan
tapi menggelisahkan

“tenang maryam!
aku utusan allah
datang kemari untuk memberimu
seorang anak laki-laki.”

maryam, 13 tahun, gemetar
“kalau kau seorang mukmin
yang bertakwa, enyahlah!
jangan kau ganggu aku!”

“aku utusan allah
percayalah, aku kemari
untuk memberimu seorang anak,
laki-laki.”

“bagaimana mungkin?
itu mustahil
aku belum pernah tersentuh
tubuh laki-laki
aku bukanlah perempuan jalang
aku bukan perempuan nakal.”

“ya, demikianlah
tuhan berfirman, ‘demikian itu mudah bagiku!”
kata pemuda itu,
yang tak lain adalah jibril

dan maryam pun pasrah
seperti daun diterbangkan angin
seperti bumi yang merengkuh cahaya
matahari

yusuf, kerabat dekat maryam,
yang selalu bersama
dalam suka dan duka
dan saling percaya,
akhirnya curiga
“maryam, apakah kamu…?”

“ya, aku hamil.”

“maryam!
sungguh memalukan
dan memilukan
ayahmu, imran, adalah orang saleh
keluargamu orang baik-baik
dan kau, sepengetahuanku, gadis suci.”

“saudaraku, tidakkah engkau tahu
allah menciptakan adam
dan istrinya
tanpa bibit laki-laki
dan bibit perempuan?”

ditemani yusuf, maryam pun menyepi
ia melahirkan bayi laki-laki
dan allah memberinya kemudahan
buah kurma untuk dimakan
dan air bening sungai untuk diminum

sejak itu, maryam puasa bicara
orang-orang heboh
bahkan ada yang hendak melempar batu
“hei, maryam!
ayahmu bukanlah berandal
dan ibumu bukan pelacur
tapi, engkau seperti itu?
engkau menggendong anak
sementara kau masih gadis
siapa ayah si anak?
dengan siapa kau berbuat?
najis!”

maryam menunjuk bayinya
ia enggan bicara
apalagi pada mereka yang telah
ditutup hatinya

ia, bayi itu, bicara
—meski usianya baru 40 hari—
“sungguh
aku adalah hamba allah
aku diberi kitab oleh allah
dan aku dijadikan nabi
aku selalu diberkahi
di mana pun aku berada
dan allah berpesan padaku
agar shalat dan berzakat
semasa hidup
dan harus berbakti pada ibu
allah tidak menjadikanku
sebagai orang yang kejam
dan durhaka
keselamatan tetap melekat padaku
saat aku dilahirkan
saat aku mati
saat aku dibangunkan dari mati.”

mereka terbengong-bengong
mendengar bayi bicara
dan sarat makna

sementara hirdaus, penguasa negeri syam
tak senang, tak tenang
mendengar kehadiran isa
ia ingin membunuhnya

yusuf yang baik
tak tega membiarkan isa terbunuh
ia membawa Maryam
dan anaknya ke mesir
hidup menyepi lagi
dari sepi ke sepi

setelah 30 tahun berlalu
isa tampil di depan publik
sampaikan firman-firman allah
sampaikan perintah allah
ia bisa berjalan di atas air
bisa menyembuhkan orang sakit parah
—meski tak sekolah kedokteran
dan ia sangat dicintai umatnya

tapi orang-orang yahudi membencinya
mereka ingin membunuh isa
karena isa
menyampaikan kebenaran

hari itu allah mengangkatnya ke langit
untuk diturunkan kembali
menjelang hari akhir
menjelang kiamat nanti


Berteman Allah

kutemui batu
yang rapuh
oleh tetes
demi tetes
air

kutemui bunga
yang keriput
menunggu angin
mengantar runtuh
di bumi
yang
sedih

bertemu mereka
tak abadi
dengan kau penuh warna

kutemui kau
di masjid
yang lapang
mendekap
hati!


Bencong-bencong Kota Saduum

laki-laki mencintai laki-laki
perempuan mencintai perempuan
luth tak habis pikir,
ini zaman edan!

luth mencoba pakai logika
adam diberkahi hawa
untuk bercinta
dan berkembang biak
mengisi semesta raya
tapi laki-laki kota saduum,
ada sodom, lebih suka
sodomi dengan sesama lelaki
bencong deh!

kata-kata luth
tak mempan, bahkan istrinya
lebih merayakan kemaksiatan
bersama bencong-bencong
kota saduum
“jangan ganggu banci…
jangan ganggu banci…”
katanya

sebagai nabi
luth tak berdaya
mempermak moral para bencong,
pemuja homoseksual
—dan juga kaum lesbian—
suaranya lindap,
persis kaleng kosong yang dilempar
ke tengah gerombolan anjing liar
dan srigala
bahkan banyak banci gugat
yang ingin membungkamnya

adakah jalan terbaik
selain menghancurkan kota
yang sarat bencong
dan lesbong?

allah mengutus dua malaikat ganteng
untuk mengajak luth
dan keluarga
dan sedikit pengikutnya
meninggalkan kota saduum
yang pucat,
sebelum fajar tiba

bencong-bencong kota saduum
mengepung rumah luth
karena tahu ada dua pemuda ganteng
di dalam rumahnya
—siapa lagi yang membocorkan
kalau bukan istri luth sendiri
ember!—

bagai hyena yang lapar
mereka dobrak rumah luth
dan seketika itu pula
mereka buta
tak mampu melihat apa-apa
gelap gulita!
mereka saling tabrak
dan saling tubruk
seperti yang biasa mereka lakukan
tapi tak melihat!

buta!
buta!!!
au ah, gelap!

luth dan keluarga
dan sedikit pengikutnya
mengikuti malaikat itu
tinggalkan saduum
meski hari gelap

petir menyambar
guntur bergemuruh
dan bumi di bawah kota saduum
menggelegak
rumah-rumah rubuh
rumah-rumah terbalik
orang-orang rubuh
orang-orang terbalik
kepala di bawah
kaki di atas
laki-laki menindih laki-laki
perempuan menindih perempuan
batu-batu menindih laki-laki
batu-batu menindih perempuan
satu-satu mati terkubur
balok dan batu

“luth, jangan melihat ke belakang
berjalanlah lurus ke perbatasan,”
titah malaikat

tapi istri luth
tak ingin melupakan kenangan
dibuang sayang
ia menoleh ke belakang
dan ia membatu
seperti kena kutukan
—bagi pendurhaka

menjelang fajar
lingga-lingga kota saduum
rubuh
patah


Sang Guru

sebenar-benarnya guru
adalah khidir
ke mana pun kaki melangkah
menghijau jejak yang ditinggalkan
dan ia selalu menguji kesabaran
setiap muridnya

ia nabi yang dilebihkan allah
ghaib, tak tahu datang
dan perginya
tak tahu hidup dan matinya
tapi musa pernah berjumpa
di antara dua lautan
yang bertemu
dan pernah melihatnya
duduk di atas air

banyak yang tahu
khidir keturunan nuh
tapi lebih banyak yang tak tahu
kenapa ia selalu menghindari perempuan
tak ada yang tahu kenapa–
ia ingin hidup tanpa goda perempuan

ketika musa berguru padanya
tak satu pun pelajaran yang lulus
meskipun musa seorang nabi
“pelajaran yang kuberikan
tak memerlukan pertanyaan
cobalah kau terima
dengan kesabaran
itu saja.”

dalam perjalanan
musa dan khidir menaiki perahu
nelayan miskin
begitu mulai berlayar
khidir melubangi perahu itu
musa terkejut dan bertanya,
“khidir, kenapa kau lubangi perahu?
bukankah berbahaya?”

ujian pertama yang gagal
musa minta maaf,
meski tak mengerti

mereka melanjutkan pelajaran
dengan meneruskan perjalan
hingga ke sebuah kampung

khidir memanggil seorang anak kecil
yang tengah asyik bermain
anak itu datang menemui khidir
betapa terkejutnya musa
melihat khidir membunuh anak kecil itu
“khidir, kenapa kau bunuh anak ini?
bukankah ia tak berdosa?”

ujian kedua yang gagal—
musa diingatkan tentang syarat pelajaran
tentang kesabaran
musa minta maaf kedua kali,
meski tetap tak mengerti
mereka pun melanjutkan pelajaran
meneruskan perjalanan
ke kampung lain

musa dan khidir sampai di sebuah negeri
dengan lapar dan haus
mereka minta segelas air
atau sebiji kurma
sebagai penawar lapar dan dahaga
tapi tak seorang pun memberi
tak ada yang sudi menjamu

ketika khidir melihat sebuah rumah tua
yang hampir rubuh
di pinggir negeri,
ia perbaiki dengan tangannya sendiri
ia renovasi rumah itu
hingga layak huni
“khidir, kalau kau mau
kau bisa dapat upah
dan bisa memberi sesuatu,”
kata musa

musa, kau terlalu banyak bertanya
inilah saatnya kita berpisah
ingatkah kau, apa yang kulakukan
pernah kau alami?
bukankah kau pernah berada dalam peti
yang dibuang ke sungai?
bukankah kau pernah membunuh fatun
keturunan firaun?
bukankah kau pernah membantu putri syuaib
dan tak mengharap upah?
kenapa kau bertanya?
kenapa kau tak berpikir?

baiklah, kujelaskan padamu
seandainya perahu itu tidak kubocorkan
maka di tengah laut
ia akan dirampok
dan perahu itu
– satu-satunya sumber kekayaan
nelayan miskin itu—
akan dirampas pula!

seandainya anak itu tidak kubunuh
kelak ia akan menyesatkan
kedua orangtuanya
padahal keduanya beriman pada allah
dan tahu, saat anak itu mati
sang ibu tengah melahirkan
seorang anak perempuan
yang kelak menghormati
dan sayang pada orangtua

kenapa rumah itu kuperbaiki
sementara penduduk negeri kikir?
rumah itu milik dua anak yatim
– ayahnya dulu seorang yang saleh
dan di dalam rumah itu ada harta
yang terpendam
yang bisa menyejahterakan
kedua anak yatim

“khidir, kini jelas bagiku,
terima kasih, dan maafkan aku
tapi, sebelum berpisah, wasiatlah
padaku,” pinta musa

musa, nabi allah,
jangan kau mencari ilmu
hanya untuk jadi bahan pembicaraan
– sekadar prestise
tapi carilah ilmu
untuk diamalkan

jadilah orang yang selalu tersenyum
bukan tertawa
tinggalkan sikap keras kepala
dan jangan berjalan tanpa tujuan
wahai anak Imran,
jangan mencela kesalahan orang lain
tapi seringlah menangisi
kesalahan diri sendiri

wahai musa,
orang tidak pernah jemu menasihati
tapi orang jemu dinasihati
karena itu, jangan berlama-lama
menasihati kaummu

hati ibarat bejana
yang harus kau rawat
dan pelihara
dari segala hal yang meretakkan
dan memecahkan

kurangi usaha duniawi
buang jauh-jauh di belakangmu
karena dunia bukanlah alam
yang kau tempati selamanya
kau diciptakan
untuk mencari pahala
sebagai bekal di akhirat nanti
ikhlas dan bersabarlah
menghadapi kemaksiatan

musa, tumpahkanlah seluruh ilmumu
karena tempat yang kosong
akan terisi ilmu yang lain

bersikap sederhanalah
kesederhanaan akan menghalangi aib
dan akan memudahkan allah
memasukkan taufik dan hidayah

jangan masa bodoh
melihat sekitarmu
jika ada yang mencacimu
redamlah secara dewasa
dengan hati yang teguh

hai putra imran,
sadari bahwa ilmu allah
yang kau miliki
hanya sedikit saja
sungguh, menutupi kekurangan
dan sewenang-wenang
hanya menyiksa diri sendiri

jangan kau buka pintu ilmu
yang kuberikan
jika kau tak bisa menguncinya
dan jangan kau kunci pintu ilmu
jika kau tak tahu cara membuka

musa, siapa yang menumpuk harta
akan mati tertimbun harta
dan akan merasakan akibat
kerakusannya

mereka yang bersyukur
akan segala karunia allah
dan memohon kesabaran
patut diteladani
karena mampu mengalahkan
nafsu syahwat
dan godaan setan

orang seperti itulah
yang akan memetik buah
dari ilmu yang dicari

hai putra imran,
jadikan zikir dan pikir
sebagai pakaianmu
suatu hari
kau tak akan mampu
mengelak dari kesalahan
karena pada suatu saat
akalmu akan melanggar larangannya
maka mintalah keridhaan allah
dengan berbuat kebajikan

omonganku ini tak akan sia-sia
kalau kau menurutinya, musa


Keajaiban Isa

isa adalah keajaiban
dunia—

datangnya
dan perginya
senantiasa menyisakan
tanda Tanya

dalam kebimbangan
orang-orang harus percaya
tentang maryam,
perempuan suci itu
yang mendapat seorang putra,
seorang nabi
tanpa ayah

kun fayakun!
kata gusti allah
dan isa lahir tanpa ayah
dan bayi itu
bisa bicara layaknya orangtua

dalam kekalutan
orang-orang harus percaya
isa diangkat oleh allah
sebelum penangkapan itu
dan allah
menyerupakan yahuda,
pengkhianat itu,
dengan isa

bisakah allah
mengubah wajah yahuda
menjadi wajah isa?

bagaimana mungkin?

pertanyaannya memang bukan “bisakah”
tapi, apa yang allah tak bisa lakukan?

ia maha pencipta
maha kuasa
allah mendinginkan api
yang menjilati ibrahim
allah membelah laut merah
demi musa dan bani israil
allah menciptakan adam
tanpa pertemuan ovum dan sperma
allah menciptakan isa
dari rahim perempuan suci
yang tak pernah tersentuh
tubuh lelaki

lalu siapa yang disiksa
tentara kolonial romawi itu?

perginya isa
senantiasa menyisakan
pertanyaan bagi siapa saja
karena isa
adalah keajaiban
dunia
akhirat


Rasul Allah

abdullah bin abdul muththalib, 18 tahun
menikahi aminah binti wahbin
di sebuah senja

dua bulan kemudian
aminah hamil
dan abdullah melakukan perjalanan ke luar kota
ke negeri syam
dan meninggal di perjalanan
ketika hendak pulang
di pun dikebumikan di madinah
saat usia kandungan aminah
dua bulan

senin, 20 april 571
muhammad lahir di makkah
dan hanya mendapat kasih sayang ibu
dalam waktu yang singkat

ketika muhammad berumur 6 tahun
sang ibu meninggal
ia pun diasuh kakeknya

ketika muhammad berumur 8 tahun
kakeknya, abdul muththalib pun meninggal
lalu muhammad diasuh pamannya,
abu thalib

saat berumur 12 tahun
muhammad diajak berdagang
pada usia 25 tahun
ia sudah mahir berdagang
dan menikah dengan khadijah, 40 tahun
janda beranak satu

saat berusia 35 tahun
muhammad turut memugar
ka’bah, baitullah, rumah allah
yang dibangun ibrahim dan ismail
nenek moyangnya

memasuki 40 tahun
tepatnya februari 610
muhammad menerima wahyu
pertama, bertepatan dengan
nuzulul quran, turunnya
alquran
pada 17 ramadhan
di goa hira

“bacalah!
bacalah dengan nama tuhanmu
yang menciptakan,
yang menciptakan dari segumpal darah
bacalah!
dan tuhanmu yang mulia
yang mengajar dengan pena
mengajar manusia
yang tidak mereka pahami.”

sejak itu,
selama 23 tahun
wahyu datang terus-menerus
hingga muhammad meninggal
pada 8 juni 633

tidak seorang pun
sahabatnya yang tidak bersedih
dan abu bakar siddiiq berkata,
“ingat tuan-tuan!
barangsiapa menyembah muhammad
kini sungguh muhammad telah mati,
dan barangsiapa menyembah allah
sungguh allah hidup selama-lamanya
dan tidak mati.”


Kalimat Allah

seandainya pohon-pohon di bumi
menjadi pena
dan laut menjadi tinta
ditambah tujuh laut lagi
sebagai tinta
niscaya tak kan ada habisnya
menulis kalimat allah
—ilmu dan hikmahnya

kepunyaan allah
yang di langit dan di bumi
allah maha kaya
maha terpuji
maha perkasa
maha bijaksana

allah menciptakan manusia
dan membangkitkannya dari kubur
seperti menciptakan dan membangkitkan
satu jiwa saja

yang demikian itu
amat mudah baginya


Tentang Asep Sambodja
Asep Sambodja lahir di Sala, 15 September 1967. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia, FSUI, Depok, dengan skripsi berjudul “Parikesit, Interlude, dan Asmaradahana: Telaah Isi Sajak-sajak Goenawan Mohamad” (1993). Puisinya tersebar di berbagai media massa dan kumpulan puisi bersama. Kumpulan puisinya: Menjelma Rahwana (1999), Kusampirkan Cintaku di Jemuran (2006). Ballada Para Nabi (2007) adalah kumpulan puisinya yang ketiga.


Catatan Lain
Di halaman 125, ada bibliografi. Ada 19 buku yang dirujuk. Buku paling tua karangan K.H. Bisri Mustofa berjudul Ringkasan Sejarah 25 Nabi dan Rasul, terbitan Menara Kudus tahun 1976. Ada juga terjemahan Al-Qur’an oleh H.B. Jassin, Bacaan Mulia, terbitan Yalco Jaya, 2002. Dan pengarang yang paling banyak bukunya dirujuk adalah Ismail Pamungkas. Ada 10 (sepuluh) buku yang ditulis pengarang itu, semuanya terbitan Remaja Rosdakarya, Bandung. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar