Senin, 25 Desember 2023

M. Anton Sulistyo: BELUM DALAM LUKAMU!

 

 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Belum Dalam Lukamu!
Penulis: M. Anton Sulistyo
Penerbit: Penerbit Buku Sastra Digital, Cimahi.
Cetakan: I, 2013 (edisi digital, 2019)
Tebal: xviii + 137 halaman (92 puisi)
Foto Sampul: M. Anton Sulistyo
Dessain Isi dan Sampul: Sastra Digital
Prolog: Cecep Hari
ISBN: 978492799849
 
Sepilihan puisi M. Anton Sulistyo dalam Belum Dalam Lukamu!
 
PEREMPUAN DARI SUROKARSAN
 
Perempuan itu pohon yang purba
Ada sejuk tersimpan di daun-daun
Ketika kemarau mengeringkan telaga
Di mata anak-anak
 
Ada mazmur mengalun
Dari ranting-ranting yang patah
Ketika angin menggugurkan mimpi
Di hati anak-anak
 
Burung-burung letih hinggap di dahan
Menanam benalu yang menjanjikan luka
 
Matahari mengirimkan bayang-bayang mata pisau
Di tangan lelaki yang menyiapkan risau
 
Perempuan itu pohon yang purba
Jarum jam telah menunjuk waktu cemas
Tapi tak mengganggu nyanyiannya
Pada senja yang teduh
 
Yk, 1984
 
 
PERUT
 
Jika perutku lapar
aku kehilangan moral
Jika perutku kenyang
aku menjadi moralis
 
Antara lapar dan menjadi moralis
Tersisa sedikit ruang fatamorgana
Kadang membuatku menangis
Kadang membuatku tertawa
 
Pati, 2009
 
 
SOLILOQUI – 1
 
Tak ada bunga barang sekuntum
Tapi wewangian itu masih keras tercium
Di tembok kamarmu. Kalender sunyi
Dan tik-tak jam mengalunkan Maskumambang*)
 
Sehari demi sehari
Rembulan melenggang lewat di depan jendela
1000 jarum yang dihembuskan angin
Menusuk-nusuk tulang setiap malam
 
Kemudian kau dengar kabut berderai
Menuruni lembah di belakang rumah
Kemudian kau dengar tarikan nafas panjang
Atau gumam yang tiba-tiba terpatah
 
Belum dalam lukamu! – hardik kesunyian,
Sang Pencoba itu kembali melukaimu
Sekaligus menyembuhkanmu.
 
Oktober 1986
*) Maskumambang salah satu tembang mocopat untuk mengungapan hal bersifat “nlangsa”, sedih, memilukan. Cocok untuk melukiskan perasaan sedih, memilukan hati.
 
 
DI HUTAN BAMBU MENIKMATI REMBULAN
 
Sendirian duduk di hutan bambu
Malam sesenyap di dunia hantu
Angin membuat suara ratapan pilu
 
Di hatiku, berkecamuk selaksa persoalan
Rindu yang tajam. Lapar yang panjang
Dendam yang geram dilecehkan kehidupan
 
Jalan keluar hanya berkiblat ke langit
Alamat terakhir bagi keluh dan rasa sakit
Yang tak kuasa ditentramkan sinar rembulan
 
Tuhan seperti biasa menyodorkan pilihan
Dalam kelebat bayangan saat mata terpejam
Dalam bisikan lembut saat mata terpejam
 
Ah, surga kuraih
hanya dengan mata terpejam!
 
1986
 
 
SKETSA RUANG TUNGGU PANTI RAPIH
 
Di tiap ambang pintu mulut ternganga
Kadang jerit tertahan, lalu kembali sepi
Sepotong bulan tergelincir hujan
Di kaca jendela. Dunia terasa muram
 
Di tiap langkah menuju kamar si sakit
Bayang-bayang putih, malaikatkah?
Bayang-bayang kelam, siapakah?
 
Di tiap bangku orang-orang gelisah menunggu
Tertulis di tembok, kalimat dingin dan kaku
“Pengunjung diharap tenang”
 
Ah, mengapa bergegas pergi
Mengapa lekas jemu di sini?
 
Yk, 1988
 
 
MENJELANG MUSIM GUGUR
 
          -1-
Menjelang musim gugur
Daun bermimpi:
Reinkarnasi
 
          -2-
Rumput bersujud
Danau tepekur
Mengalun tembang Pangkur*)
 
          -3-
Pohon bergumam
Ranting berbisik
Maut ternyata lembut
 
          -4-
Khazanah flora
Riang menunggu
Kematian yang mesra
 
Agustus 2011
*) Pangkur, salah satu tembang mocopat dalam hal meraih sesuatu yang lebih tinggi atau agung. Jika dalam hal asmara maka asmara yang membara namun sakral.
 
 
TRUNYAN
 
Wangi kemenyan
Orang yang bulan
Lelap di dekat makam
 
Rindu menggigil
Memuja sunyi
Bunga bermimpi abadi
 
Angin perlahan
Meniupkan mantra
Kehijauan niskala
 
November 2012
 
 
NEW YORK
 
Di sini batinku geram
Dilecehkan harga-harga
 
Kepala pening diterjang dehidrasi
Musim panas memanggang bulan Juli
 
Tiba-tiba punggungku menggeram
Serangan encok kembali datang
 
Rasa terpencil. Rasa terlantar
Menjadikan New York terlihat sangar
 
Seharusnya kota ini kuanggap sebagai pacar
Biar pun hatinya sudah kupatahkan berulang kali
 
Suatu ketika pasti akan kembali
Mengajak terbang memetik bintang di atas ranjang
 
Segala perih kami ludahkan
Dari jantung kami masing-masing
 
Jantung yang menebarkan harum madu
Kerinduan dan kebencian paling semu
 
N.Y., Juli 2013
 
 
DI PINGGIR EAST RIVER
 
Kesepian ini kerap menyergap
Di jalanan sunyi, di pinggir East River
Hanya 5 menit sebelum kudengarkan
Nyanyianmu membuka kesibukan pagi
 
Di ambang pintu, getaran rindu
Dan insomnia berminggu-minggu
Runtuh seperti serbuk gerimis
Yang menamatkan kemarau panjang
 
Di kotamu, Arianna
Aku belum pernah menerima apa-apa
Kecuali kesepian dan terasing
Di antara maniak pengejar mimpi
 
Kesepian itu kerap menyergap
Di jalanan sunyi, di pinggir East River
Kujumpai anak tangga pertama
Menuju hening yang mencerahkan
 
Agustus, 2013
 
 
PENARI
 
Aku menari bedoyo di atas panggung kehidupan
Diiringi para nayaga gaib yang tak kelihatan
 
Aku menari dengan sangat perlahan
Agar tersamar jika tubuhku gemetar
Saat dirasuki roh keindahan
Atau diterjang lapar
 
Aku akan terus menari
Tanpa terlalu mengharap untuk dipuji
Sambil menanti priyayi agung menjemputku
Untuk membereskan seluruh persoalan perut dan birahi
 
Aku masih akan setia menari
Sampai gong keabadian dibunyikan
Oleh penabuh kehidupan
 
Solo, 2009
 
 
NYANYIAN KETERASINGAN
 
Di Jakarta aku kehilangan minat bertanya
Bahkan pada diri sendiri. Jawaban tak diperlukan
Bagi jiwa yang memimpikan ketentraman samadi
Atau hati yang menyembunyikan dendam membatu
 
Luka bertahun-tahun memusnahkan rasa keingintahuan
Tawuran di jalanan membuat sensasi kematian hilang
Pesonanya. Kesepian menyelusup ke selangkangan
Ciuman kekasih tak meninggalan kenangan
 
Makna kebahagiaan terpotong-potong. Perjumpaan
Singkat melahirkan percintaan yang tergesa-gesa
Kebisingan techno-music mengacau jadwal menulis buku harian
Kalender di dinding kamar menegaskan ketakpastian
 
Jejak sejarah mengapung di antara plafon dan kasur
Angan-angan menggerogoti otak pada jam-jam tidur
Kantuk tak pernah dapat bercampur dengan kecemasan
Mata pisau mengendap-endap di kegelapan malam
 
Di Jakarta aku merasakan angin berhembus perlahan
Daun-daun harapan berguguran dari dahan kehidupan
 
1997
 
 
CATATAN MUSIM PANAS
 
Kejemuan menempel di dinding kamar hotel
Dari kaca jendela yang selalu berembun
Sungai Seine merambat dari timur ke barat
Berkelok-kelok sepanjang 13 kilometer
Mengiris keteduhan kota Paris
 
Langit cerah kebiruan. Bianglala di kejauhan
Suasana riuh mempertegas kesendirian
Burung-burung bersliweran di udara
Menebarkan suara rindu akan masa lalu
 
Awan musim panas seputih kapas
Diterbangkan angin ke arah tenggara
Dan menyihir serombongan manusia
Berbondong-bondong memburu kehangatan
Di pinggiran pantai laut mediteranian
Tapi di batin kesepian tajam menggores
 
Aku tiba-tiba berada di tengah kerumunan
Hanyut di antara pengagum matahari
Sekedar menjadi orang lain
 
2006
 
 
AMSAL DAUN
 
Apa artinya mati
Sudah dipahami
Oleh dedaunan
Jauh sebelum gugur
 
Apa artinya abadi
Tak perlu dicemaskan
Lantaran kehijauan
Selalu kembali lagi
 
(Surokarsan, 1984)
 
 
LANSKAP PINGGIR KALI
 
Sebuah perahu kosong dan angin mati
Di pinggir kali. Sebuah lagu tanpa nama
Kusiulkan sekedar memecah sepi
 
Sekawanan pipit melintas cepat sekali
Ketika sebait sajak tentang lapar
Tercipta di dalam hati. Sepagi ini
 
Seorang perempuan asing menimang-nimang
Sekuntum mawar. Sementara matahari bergerak
Dan menghardikku untuk berhenti bermimpi!
 
Juni 1985
 
 
MENAMPUNG PEDIH SAMUDRA
 
Airmata dan darah
Semakin sering mengotori wajah
Kenapa tak segera Kau seka
Sebelum kepedihan ini mencair, Kekasih?
 
Karena kegeraman itu akan menggumpal
Seperti awan berarak ke mana-mana
Dan sorot mata letih siap membakar
Kota yang mati di dalam hati
 
Fragmen kelabu dan nyanyian pilu yang panjang
Telah merampas ketentraman sebuah ranjang
Kenapa tak segera Kau tamatkan
Sebelum tidur kehilangan kantuk, Kekasih?
 
Punggung orang-orang telah melengkung
Pengembara batin tersungkur dan tiarap
Antara bersujud dan semaput
Didera kemurungan yang berlarut-larut
 
Kenapa tak segera Kau buka
Selubung dukacita ini, Kekasih?
Sampai cadar pengertian tersingkap seluruhnya
Sampai sumur cinta sanggup menampung pedih samudra
 
Maret 1999
 
 
DOA MALAM MENJELANG REFERENDUM
 
doaku ingin meminjam mulut mawar
mengumandangkan harum nyeri ke udara
lukaku ingin meminjam jerit dedaunan
mengundang rintik hujan tanpa suara
 
biarlah angin yang meneruskan kabar pilu
kabut kecemasan terlanjur menguasai mata
di sekitar rumah. Di sekeliling kota
di mana-mana hari bergetar. Diguncang rindu
 
diterjang angan-angan. Ditangisi anak-anak
dari hari ke hari berkhayal hidup tenteram
menyayikan lagu puji-pujian tentang kematian
dan roh yang riang melayang di taman kesejukan
 
doaku ingin meminjam sayap malaikat. Terbang
memanjat tangga ke langit. Memanjat kedamaian!
 
Maret, 1999
 
 
DI KATEDRAL ST. PATRICK
 
Di tengah gemuruh Madison Avenue
Aku terdampar di keheningan
Katedral tua St. Patrick
 
Sesudah tanda salib
Surga mengerdip
Di ujung nyala ratusan lilin
 
Aku sejenak terlelap
Berada dalam ketakterbatasan
Serta tak berjejak
 
Seperti vampir
Kulihat bayanganku
Tak ada di cermin
 
Dunia dari balik mimpi
Seperti butir-butir pasir
Menetes dari gelas waktu
 
Kudengar ratapan masa lalu
Terperangkap dalam puisi
Tak sanggup melepaskan diri
 
Aku ingin terus terlelap
Berada dalam ketaktebatasan
Dan berdiam di sana
 
Menangis sambil membersihkan karma
 
N.Y., Juli 2013
 
 
Tentang M. Anton Sulistyo
M. Anton Sulistyo lahir di Jember, Jawa Timur, pada 2 Maret 1958. Lulus dari Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta tahun 1980 dan Computer System Analysis & Design tahun 1982 di Jakarta. Menulis puisi sejak 1976 di beberapa majalah dan koran di Jakarta, Bandung dan Yogykarta. Menerima Anugerah Buku Puisi, Festival Hari Puisi 2014.
 
 
Catatan Lain
          Halaman x-xviii berisi catatan pengantar oleh Cecep Hari. Judulnya Momen dalam Puisi M. Anton Sulistyo. Saya gak tahu, apakah Cecep Hari dengan Cecep Syamsul Hari adalah orang yang sama. Mestinya sama. Mungkin cuma kelupaan meletakkan Syamsul di tengah. Di dalam tulisannya itu, Cecep mengaitkan momen-momen pribadi penyair dengan proses “individuasi”, sebuah terminologi dari Carl Gustav Jung.
            Halaman kutipan berisi kata-kata dari George Eliot. Pakai bahasa Inggris: Don’t let us rejoice in punishment, even when the hand of God alone inflicts it. The best of us are but poor wretches, just saved from shipwreck: can we feel anythingg but awe and pity when we see a fellow-passenger swallowed by the waves? Begitu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar