Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 01 Juni 2015

JEJAK CERMIN SUATU SENJA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Jejak Cermin Suatu Senja
Penulis : Rustam Effendi, Sukrani Maswan  dan A. Rasyidi Umar
Cetakan : I, 1989
Penerbit : Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI), Komisariat Kalimantan Selatan.
Tebal : xii + 64 halaman (57 puisi)

Jejak Cermin Suatu Senja adalah kumpulan puisi bertiga, secara berurut, Rustam Effendi (18 puisi), Syukrani Maswan (15 puisi), A. Rasyidi Umar (24 puisi). Judul puisi diambil dari puisi masing-masing penyair, yaitu Jejak karya A. Rasyidi Umar, Cermin karya Syukrani Maswan dan Suatu Senja karya Rustam Effendi.

Beberapa pilihan puisi Rustam Effendi dalam Jejak Cermin Suatu Senja

Suatu Senja

Langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kuning tembaga di atasnya

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
ada segumpal putih
terbirit ke sana

langit yang bagai cungkup
tinggi sekali
kadang tak terperi

langit yang bagai cungkup
mengurung hamba di sini
kenapa hamba baru mengerti



Negeriku I

berbatas surga
sungai perak mengalir sejuk
ikan pik-pik di dalamnya
tangkap olehmu sesukamu

di ujung sana
hutan bentara
di atasnya buah surga
ambil olehmu
sesukamu

itu di sana
gunung beledru
benteng perkasa
nyawa kami


Negeriku II

bila malam
gelap semua
juga swara

toleh ke atas
bulan terus purnama
juga bintang yang menabur cerita

wahai pohon-pepohonan
tahan olehmu cahya itu
kecuali seberkas dan seberkas
yang mengukir cerita suci
tentang cinta kepadanya

wahai berkas cahya bulan purnama
cahya bintang yang lip-lip
yang mengukir cerita suci
kudekap isteriku
kupeluk anakku


Aku

aku
adalah doa ayah bunda
yang tangannya cekung
menadah ke atas
yang penuh harap
yang matanya nanar
kadang berair


Pengemis

masih terasa
ketika tangan yang terakhir
menadah dan lunglai
orang-orang berdesak lalu
cepat sekali tak sempat tahu
ada juga yang mengerling sebentar

nafasnya terengah
ketika tangannya yang kosong
rebah bersama tubuhnya


Hujan Turun Lagi Anakku

hujan turun lagi anakku
tentu pohon para basah lagi
dan pucuk-pucuk ilalang
terasa menusuk-nusuk jantung ini

hujan turun lagi anakku
apa yang kau makan pagi ini
sepotong umbi pun jadilah
tapi, angin pun telah lama
sembunyi ke kota

hujan turun lagi anakku
hanya satu yang tersisa pada bunda
semoga malaikat datang segera
membawa sepotong umbi
pun
jadilah


Kemarau Datang Lagi Anakku

kemarau datang lagi anakku
tangan ini semakin kaku
dan ulu cangkul olehku
bara terasa
dan tanah ini batu dan bata

kemarau datang lagi anakku
lihat tanaman tak berpucuk
dan mata cangkul yang mengerang
membacok batu dan bata

kemarau datang lagi anakku
apa yang kau makan siang ini
lihat tanaman tak berpucuk
di tangan bapak ada batu dan bata


Seorang Anak

seorang anak
menoleh sayu
pada temannya
yang mengerat
sepotong daging
yang menyanyi ria
makanan bergizi
dan imunisasi


Beberapa pilihan puisi Sukrani Maswan  dalam Jejak Cermin Suatu Senja


Cermin



diri

ketika senja

kita tak lagi dapat berkaca

karena bayang-bayang telah luka





Kepasrahan Diam



Kulihat kau malam-malam

melaju di jalan aspal diburu

bayang-bayang yang ketakutan



Sampai kapankah malam mau menguntitmu

atau telah kau pasrahkan pada bayang-bayang

kesetiaan yang mau berhenti jika kau diam





Satu Episode



Sempat aku berkencan menunggu magrib

Menyilang hidup tua

Di tempat yang bernama dosa

Tak juga kufahami itu,

kalung isteriku jatuh ke lantai





Selamat Pagi Sungai Martapura



Selamat pagi Sungai Martapura

Selamat pagi wasiatku yang hilang

pagi lalu. Tuan telah membawanya, dan

sungai ini telah menghanyutkan Tuan

ke muara. Sungai ini pangkal cinta saya.

Berenang saya pada airnya. Telah saya reguk

sepanjang usia. Tak juga saya pernah lepas

dahaga. Tapi Tuan tak juga mau mengerti.

Sebentar tuan akan pergi. Kapan pun tak

akan kembali. Saya percaya, saya yakin

Tuan tak kembali. Tuan pulang, pada negri

tak berjanji. Air ini, diri kini, sekarang

dan lusa adalah dua kehidupan yang berseberangan

Lalu Tuan pun akan tenggelam dalam air, entahlah

akan jadi apa.



Selamat pagi Sungai Martapura

Cinta saya mereguk airnya





Karasmin



Tanah air dan udara

yang memberi hidup

Suatu ketika

sengsaralah yang diberinya



Tanah adalah gumpalan hikmat

dan air selalu meluncur tak kembali

tinggalkan siapa-siapa dengan caci maki

Dalam rugi sepi dan sendiri

kecuali bekas bercinta yang luruh pada suatu

sisi

Seperti ambul seperti apa

Semua tidak seperti



Udara adalah nafas yang selalu meniup

ubun-ubun dengan suara gemetar

Menyungkal ulu hati, meniarapi jasmani

Lalu dibaginya tanpa belas kasih

Tiada juga waktu diulur



Busur bertatah emas hanya warna sukma suara

yang datang dari nista parigal

Nanti saatnya jendela ditutup hampalah udara

Tanah tak lagi memberi warna alami

Karasmin pun diusaikan dengan rasa menyesal



Beban inilah parigal yang memburu karasmin

Senantiasa ia panahkan





Menangis Malam



Di istirah malam

Tak terpadamkan lentera

Meski hati dan mata terpejam

Lantaran gundah oleh duka dosa



Di istirah malam

Menangis seribu sesal bergayutan

yang menular dari keyakinan asal

Pada tasbih mengucur deras

La Ilahaillallah

Tatkala teringat beribu pasang kealpaan



Menangis malam

Istirah hari tua

Manifestasi hakiki yang terlalu kelam

Ampunilah aku ya Tuhan





          Panggalaman



Ada tempat sunyi, panggalaman

Saudaraku bermukim di sana

Di tempat rawa berpasir putih

Ia menimba nasibnya

tanpa angan-angan



Saudaraku menangguk nasibnya

menyelam ke dasarnya

lalu tak lagi tiba di permukaan




Beberapa pilihan puisi A. Rasyidi Umar dalam Jejak Cermin Suatu Senja

JEJAK

akhirnya takluklah Adam
di kaki khuldi
pupus nafas surgawi

jejaknya menggores dalam
menikam-nikam Qabil

meninggalkan tangan hitam
menyilang takdir :

dalam sepi begini
khuldi semakin punya arti


DALAM RINDU ADA PERTEMUAN
DALAM SAYUP ADA HARAPAN

kutangkap dalam riak
debar-debar kerinduan
pada-Mu

serata gelombang
yang berpendar
dan bersatu jajar
menatap setia uji yang dilalui
berkejaran mencapai garis batas
kasih-Mu berbalas

tiara yang kujunjung
terasa semakin menekan

oh, segalanya kian rapuh
tepian merapat semakin jauh

dalam riak
satu dari seribu
adakah terelakkan pecah jadi pilu


PEMAKAMAN

Ke mana lagi kalau bukan di tempat ini
tanahnya yang wangi dan hangat
antara pohon-pohon, kelapa tua
dan kerabat saling damba

Di sini darah kita mengalir
tak pernah kering rasa dukana
menyisih miang
o, tanah tersayang

Kapan lagi kita sama menanti
bercakap dalam bayang, bisik renyah
Antara rumpun kambat
kita menangkap isyarat
tak ada kepulangan yang terlambat
duka dan duka saling dekap

Ke mana lagi kalau bukan di sini
janji itu pun terpenuhi


GERHANA

Lembaran itu telah gugur
butir-butir tanah
mengerogoti hingga tinggal kenangan
dan bayang-bayang
sosok terbanting

Topan bertindih prahara
di bawah tukik matahari
membenamkan nafas redup
kehidupan

Adakah yang lebih perih
dari curah kasih
terkikis dari
kehidupan ini


DI MESJID

di mesjid tua ini
berapa banyak asma
yang kembali ke asalnya
dan betapa
yang sia-sia
menyentuh pintu
ridla-Mu


KETIKA TUHAN BICARA TENTANG KUN

Bukalah pintu hatimu
ketika Tuhan bicara tentang
Kun
segalanya jadilah :
mula-mula adalah noktah
mengasing di jagat raya
kabut susu pada alur tata surya

Kemudian bertautan
Dan diam
dan dingin
dan sepi

Mula-mula adalah noktah
sel paling kecil
bersatu menguak sepi

Maka khalifahlah ia
yang baginya seisi bumi dicipta

Ketika firman itu diturunkan
warna-warni pun bermunculan: cerah dan kelam
Suara-suara sipongang berbantah
antara ragu dan menyambut titah

Ketika Tuhan bicara tentang Kun
datang dari dan kembali
pada-Nya tak ada kepastian nisbi

adaptasi Yasin : 82-83


NELAYAN

digerainya bingkai laut dan mulailah merambah buih
gelombang menghantar ke tengah medan
berlaga menebar jala menjaring nasib
menyapa laut yang tak selalu akrab

anak dan isteri membekali salam dirangkai doa
dan bulan pun membenah dirinya

kerinduan akan laut membenturkan setiap godaan
jangat yang hitam dan anak-anak telanjang
bayang bahagia semakin jauh jaraknya

ditorehnya pekat malam
garis teriris kemudi, pencalang menuding langit
kerinduan akan laut yang berulang bangkit

digerainya bingkai laut yang tak selalu akrab
dengan tabah menjaring nasib
di dada padat doa ingat akan beban di pundak
siutan angin merdu nyanyi sukma
karena laut telah menggarami hatinya

Kotabaru, 1980


KETIKA BERPENDAR MUTIARA
DAPATKAH KUTANGKAP SELAIN KILAUNYA

Di malam Ramadlan
seperti saat Al Quran dinuzulkan
berbilang abad silam
tapi dalam gaung era revolusi elektronika
Layar monitor menangkap bayang transparan
lalu frekuensi gelombang Iman dan pengabdian
menampak nyata saat seorang sahabat
bersimpuh di hadapan Junjungan
merangkai manikam menyimak makna
butiran mutiara

Lewat transformasi waktu dan peristiwa
kutangkap kembali kalimat kaya makna :
TELAH BERWASIAT KEPADAKU
KEKASIHKU
YANG IA LEBIH KUCINTA
DARI DUNIA BESERTA ISINYA
“KUATKAN KAPALMU
SESUNGGUHNYA LAUTAN
SANGATLAH DALAM”

Duh, Rasul Junjungan
Kapalku hanya secepuk kayu lapuk
yang peka gelombang
Jangankan gonjang ganjing gelora
di raungan topan angkara
Sesepoi angin, selarik riak
menerpa kapalku oleng
nyaris membuatnya tenggelam
Kecuali dengan syafaatmu ya Junjungan
yang memberinya sayap
meleset kapalku atas lautan
menuju dunia seberang

“INGATLAH WAHAI HAMBA ALLAH
PERBANYAKLAH BEKAL KARENA PERJALANAN
MASIH JAUH”

Junjungan
Bekal kebajikan yang kuperoleh selalu tandas
bagai setumpuk abu di atas batu
sehabis hujan badai yang menggebu
Kalau kebajikan kuhimpun satu demi satu
dalam gandaan deret ukur
dosaku menghapuskan
dengan kecepatan deret hitung
sebuah komputer
Ya, Junjungan
menghimpun bekal seperti menapak bumi

jengkal demi jengkal
sementara itu usiaku tak henti berlari
Atau seperti memasukkan biji sawi
dalam kantung penuh lubang
Kecuali kalau karunia Yang Maha Kuasa
menambalnya hingga laba hidup utuh sempurna

“WAHAI MANUSIA
RINGANKAN BEBAN YANG MENEKAN PUNGGUNGMU
KARENA PERJALANAN TERAMAT BERAT
BERLIKU”

Aku sadari, ya Junjungan
hidup ini hanya setara bernaung di kerindangan pohon
seperseribu detik dari tak
terbilang waktu perjalanan
seperseribu kilas dari keabadiaan

Dari hari kesehari kucoba lepaskan ikatan beban
yang membelenggu pundakku
Tetapi ganda berganda problima
meluruk bagai tersedot mahnit ribuan watt
atas tubuh yang semakin rapuh
Hidupku ya Junjungan, tak bersih lingkungan
jadi diri yang tak berkembang murni
merajakan pribadi, bius dun-yawi
jadi rekaman Sijjin dan Illiyin
tak terhapuskan sepanjang zaman
kecuali dengan izin Maha Rahman
melepaskannya sebagai tanggungan
Akhirnya, mutiaramu ya Junjungan
bermakna kunci dari nilai hakiki perilaku insani
“IKHLASKAN AMALMU HAI ANAK ADAM
KARENA MATA PENGONTROLNYA
TERASA TAJAM”

Duh, Junjungan
kapankah terasa saatnya amal ibadahku
terkikis dari noda
bagai kaca bening tanpa jelaga?
Sedang sebelum niat hati dijalankan
membuahkan kebajikan
mulutku telah mengiklankannya
di delapan penjuru angin
Sedang sebelum tangan
mengulur kasih buat si miskin
seluruh anggota gerak meraup hak si papa
dengan rakusnya
Sedang sebelum ditegakkan amaliah pengabdian
bayang-bayang atasan promosi jabatan kutarik
liriknya seluruh isi kota untuk memuja
akulah ahlul ibadah ?

Di malam penuh berkah, ya Junjungan
kutayangkan kembali kata demi kata
dengan gerak lambat, seraya meluruskan teraju
menghitung detik-detik berlalu
menimbang mutu hidupku
sebelum Perhitungan Agung tiba saatnya

Duh, Junjungan
kereta hidupku tak selalu berjalan
pada rel yang kau rentang
bahteraku tak selalu berlayar pada alur
yang kau rambukan
sedang kapalku rapuh, bekalku kurang, punggung
penuh beban dan amaliahku teraling bayang
akankah bisa kutarik grafik menaik
pada sisa perjalanan sebelum memasuki pelabuhan
yang pasti tiba walau tak kutahu saat tepatnya

Ya Rasul Junjungan
mutiaramu permata berharga tak bertara
dapatkah kutangkap selain kilaunya

ramadlan 1408


MANTRA

kembang tujuh rupa
  kelapa merah tampuknya
    menyan putih
      minyak boreh
        semata pisau
          secupak pukau
            di ambang berkaki tunggal

            kun jada
            kun jadi
            ah!
            jadilah:

            beku jadi bara
            bara jadi api
            asap jadi topan
            kelapa jadi sapa
            kemenyan jadi kenangan
            pisau jadi pukau
            berbunga hatinya
            padaku
            huuuuuu, huuuuuu, huuuuuu

api membakar rasa topan jadi bara memukau rasa
membuah sapa menikam kenangan jadi buku dalam
tubuhku menyatu jadi rusukku menemu pucuk dengan
pangkal kembali ke asal merasuk akal hilang
malu menuju pada

: Ku

ah!
datanglah

1980


Tentang Rustam Effendi
Rustam Effendi lahir di Limpasu, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalsel. Menyelesaikan Sarjana Muda fakultas Keguruan Unlam tahun 1974, Sarjana FKSS IKIP Malang tahun1980, Akta Mengajar V tahun 1986. Sejak tahun 1980 menjadi salah seorang anggota peneliti untuk penelitian bahasa dan sastra daerah di bawah naungan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Kalimantan Selatan. Sekarang, Rustam Effendi adalah Lektor Muda pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Tentang Sukrani Maswan
Sukrani Maswan lahir di Banjarmasin tahun 1945. Menamatkan pendidikan sarjana muda pendidikan bahasa dan sastra Indonesia FKG Unlam tahun 1976 dan sarjana tahun 1982. Sejak tahun 1976 menjadi salah seorang anggota peneliti untuk penelitian kebudayaan daerah di bawah Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah dan Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Kalimantan Selatan. Mengajar di FKIP Unlam dan Fakultas Teknik Unlam.

Tentang A. Rasyidi Umar
A. Rasyidi Umar lahir di Kandangan, 3 Juni 1947. Setamat PGAN tahun 1965, masih sekolah di PGSLP jurusan Bahsa Indonesia, tamat tahun 1973. Menamatkan Sarjana Muda di FKG Unlam jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tahun 1977. Membuka nuansa baru penulisan puisi dengan puisi adaptasi terjemahan al Qur’an yang disalurkan lewat LPTQ. Menjadi anggota peneliti kebudayaan daerah melalui Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Kalsel. Bekerja di Departemen Agama, bagian Tata Usaha. Menggeluti puisi, cerpen, teater.


Catatan Lain
Di buku ini, di bagian awal akan kita temukan pengurus Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) pusat 1987-1990 dan Pengurus HISKI Komisariat Kalimantan Selatan. Di tingkat pusat, misalnya, segelintir yang saya kenal, adalah Sapardi Djoko Damono sebagai Ketua Umum dan Bidang Peningkatan Mutu Akademik adalah Riris K. Toha Sarumpaet. Yang menjadi pelindung salah satunya adalah Prof. Dr. Fuad Hassan. Di tingkat Kalsel, deretan penasihat ada nama seperti Djantera Kawi, Yustan Azidin, M.P. Lambut, Durje Durasid dan Baseran Noor. Yang jadi ketua adalah Rustam Effendi dan sekretaris adalah Sukrani Maswan.
            Ada sebuah Pengantar yang sedikit panjang, yang ditulis Januari 1989. Bagian yang saya suka misalnya begini: “Mencipta puisi berarti menekan ke titik rendah kesibukan dan mengangkat ke titik tinggi kadar kekhusukan. Kekhusukanlah yang memungkinkan terciptanya sebuah puisi.” (hlm. iv). Pengantar juga mengemukakan dan menjelaskan panjang lebar 5 syarat bagi penciptaan karya sastra. Pertama, pengalaman yang kaya (komprehensif dan dalam-intens). Kedua, pengalaman nalar. Ketiga, ada sifat khayali (fictionality). Keempat, ada nilai-nilai seni (esthetic values) dan Kelima, ada penggunaan bahasa yang khas (special use of language). Tak jelas siapa yang menulis pengantar, hanya ada inisial RSR.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar