Rabu, 01 Juli 2015

Bagus Burham: MONOLOG ANGIN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Monolog Angin
Penulis : Bagus Burham
Cetakan : I, Mei 2014
Penerbit : Garudhawaca, Yogyakarta.
Tebal : 122 halaman (83 puisi)
ISBN : 978-602-7949-29-4
Desain sampul dan lay out : Jalu Sentanu

Beberapa pilihan puisi Bagus Burham dalam Monolog Angin

Di Makam Sosrokartono

cahaya-cahaya menerobos tirai-tirai bambu
dan kita menemukan jam serupa daun-daun
gugur melintasi tanah keheningan
bacalah wahai waktu, pohon-pohon menjatuhkan
tangan mereka yang telah kering seperti engkau
melepaskan detikmu tanpa percuma kepadanya

misalkan kita berjalan di ruang kolonial, maukah kau
atau aku, atau mungkin kita, membawa diri untuk
memenangkan pertarungan lewat darah dan tinta?
meski cinta pada akhirnya cuma diingat lewat nama
kita berbaring untuk sekian masa menunggu hari akhir
zikir malam pecah seperti biji tasbih yang terlempar

sebuah alif besar menjalari hidup yang bersih
di bawah pohon teduh dan puluhan lainnya
berkumpul menaungkan tubuh ke tanah pembaringan
sang mandor terbenam dalam kedamaian
bacalah hingga akhir waktu, meski nama telah dialpakan
seusai cahaya-cahaya hanya dapat menampung doa
melarungnya ke langit tujuh lapisan yang jauh



Michael Buble Jam 11 Pagi

kudatangkan ia. dari jauh musik borjua
atau di bawah akar blues merdeka
kudatangkan tanpa sesiapa buat berbagi
sebab kesepian adalah diri penyair
setelah ini, setelah musik bermusim sunyi
kularung apa yang kudengar darinya

bernyanyi, irama orang-orang parlente
yang berjalan dan memandang angkuh
tapi kudatangkan ia, pada gubuk semesta
yang diinjak berkali-kali angin-angin tinggi
di gendang telinga, di hidup kesekian kali

pagimu,tuhan. pagi kita semua. suara-suara
betah tertawa seperti bocah yang kedapatan
asyik mengeja kenangan angkasa layang-layang
aku orang dari satu-satunya bocah tanpa suara
yang ingin menyimpanmu lama-lama

kudatangkan kalian, maujud dalam suara
musikmu musiknya kita telah jadi sama
tapi kamu dan aku selalu sendirian, tuhan
di langit dan di bumi yang kutiduri


Blues

maka, kembalilah lidah dari diam ke bahasa
perbincangan antara teh dan kopi robusta
di luar hujan tak surut meleleh di atas tanah

disini kata-kata tersambung menjadi kalimah
tak sampai selesai, terpotong suara desis gerimis
tak berunjung noktah, tertumpuk suara hibuk
orang-orang yang mencari kehangatan musim

saksopon mengalun merdu, serupa adagio
langkah kaki dari yang basah, masuk tanpa permisi
menelusuri meja dan memesan segelas kopi

kau tangkap perbincangan, meruncing ke inti
kemari, kita terus mengurai pecahan tanya
dari mulai basa basi hingga serius yang berarti
percakapan yang memakan bibir dan hati

kau, tak mengerti betul. tentang lidah yang tumpul
menghadapi dingin musim di luar kafe
semestinya, tempias kecil yang berlelehan di kaca
telah membangunkan deras diri hujan

tiang lampu sepi sendiri bergerimis hujan
dan payung yang kau sandarkan di pojok kafe
tetap menguncup, meski hujan semakin menyusup

angin menyingkap musik yang berdetak lembut
mengusik daun-daun, berdesik namun tak jatuh
rona lampu, berteduhlah para serangga
kita berdua, melompat pada rimisnya drama
yang mungkin tetap tak berarti apa-apa

kau masih betah, kan di sini? detik tetap hujan
akan tumbuh banyak luka di kayu lapuk
sekelompok laron di pendar lampu yang menumpuk

kuli dan penyair selau sama
mereka letih. mencoba mengartikan
semua tanda. tetapi penyairlah yang lebih derita

hujan tak ingin berhenti
kali ini, ada yang coba ia katakan
kepada bumi, sebelum ia masuk ke tanah
menginginkan sesuatu dari sini, tapi masih semu


Doa

bulan pucat
langit berkabut
datanglah padaku
malam ini, tuhan
aku ingin bercerita

gembira ada pada
mata yang cahaya
ada pada mereka
yang alpa dirimu
ada pada selain aku

tapi, bulan pucat
langit mengabut
kubiar angin
menghantam dada
ketika hidup
ada pada luka


Serenada

entah kapan kumenemukan cahaya bulan
bintang-bintang nampak, langit mendung
lolong anjing lapar menggarit telinga

menelusuri garis malam burung sunyi
bersahut di lindap pohon, daun-daun kapuk
gugur, angin selatan berkibar menggeseki
entah kapan aku menemui lagi rembulan
bintang-bintang tampak di dalam kelam

kesepian membakar hidup yang merdeka
wajahmu selalu menertawakanku
untuk setiap kebodohan yang kubelah
dalam tajam tumpul kata-kataku

entah kapan, kapan datang waktu
yang benar-benar menggusurmu
seperti ingsut pasir sebab angin
mengubur bangkai camar
di tepi pantai


Diwan Sajak 2

anggur malam menggantung di langit
udara magribi, burung-burung kembali
pada pulang, pada hasrat mengeram
sayup kemelut azan menghasut angin
suara-suara tanpa wajah dalam celah
tuhan, kesyahduan ini adalah nikmatku
dalam dosa ada juga di sana nikmat
tapi ini tak seperti salah, inilah itu;
yang dicari-cari sehabis petang barat

kuda-kuda isya dalam benteng troya
terbang membawa puja-puji namamu
bayi-bayi telah ditidurkan rembulan
dalam karpet layang aladin yang baik
kisah seribu satu malam diceritakan
sebagai kesaksian dari langit,
mungkin satu malaikat mengintip kami
bermain-main dosa di kegelapan

langit lagi berkata, selalu jendela
menghadap miringnya padaku
dan sekalian malam, membagi cahaya,
manusia kanak mendongak ke aku
mengharap ada bintang berlayar.
lalu gerimis membisik pada  tanah
pelan tapi mengersik dalam udara

menyerbuk basah di angkasa,
rizki telah tumpah darimu


Gadis Jepara

siapa yang berjalan di antara malam
yang berganti cepat dengan fajar
orang-orang kartini punya semacam senyum
yang bisa kamu simpan berabad-abad

yang bergemuruh jika mendengar
lain-lain bicara tentang kehidupan
demikian pantai mengusik kita. supaya
mencelupkan kaki, bergembira selamanya
aku sadar mereka adalah kamu yang paham
bagaimana menaklukkan gelombang di dada
ketika mata bertemu mata
gemetar dan degup sekadarnya
bisa dinamakan cinta

rembulan langit kotamu senantiasa
mengingatkan kepada kami harus kembali
sebelum malam jadi sumengit dan hanyut
dalam eros. dalam kutuk sebagaimana chairil
telah sangat tersiksa

jejak-jejak hapus buih ombak pantaimu
berpulang kepada waktu di lepas samudra
para pecinta merindukan  di lepas sore
menginap dalam naungan suara gelombang
agar tiap kali mengusung tandu kepedihan

sebab patah hati seperti mendung menggarit
matahari bulan juli. hujan berjatuhan bagai jarum
menusuk kalbu kami. kami bisa bersiap
menjatuhkan jisim cinta dalam tandu itu

mata kami jatuh menelusup dirimu
sebelum kamu sadar, sebagai nasib
yang mesti dipertaruhkan karena ingin
mengejar sesuatu yang tak bisa kami dapatkan
kamilah adam-adam yang menghujat tiap
dinding malam dan berteriak-teriak kegirangan
kerena kesepian menjadi sajak yang bisa
kami hidupkan di dadamu


Sajak Cinta

ladang meniupkan angin
dari balik awan-awan
di situ, hujan tangis
membasahi segala hijau

pintu-pintu terbuka itu
paham mengamalkan kepulangan
ia yang kamu panggil
majnun yang sedih
karena menunggumu

ia tak bisa mendengar apapun
selain suara-suara
yang kamu gemakan

di lengkung pelangi
sehabis riuh hujan
tersandung pucuk rumput
melebur airmatanya


Memorabilia

aku selalu senang menyimak hujan
yang berjalan atas kemauannya menuruni genteng
mengeluarkan bunyi tempo yang teratur
pada cekungan-cekungan tanpa penutup
seperti tik tok memainkan detik-detiknya

di luar, daun-daun, rintik riang
membasahi tanah dari lintasan tubir terjatuhnya
merambati dindingmu menjadi dingin
kau akan mengambil selimut yang disisakan kenangan
masa kecil
: mendengarkan dongeng yang dinaungi hujan dari mulut
ibu
dan sebuah kecupan pengantar mimpi

gemuruh dan kita terbangun
dari jendela, diketuk tempias-tempiasnya
mereka ingin membawamu basah
berhujan-hujan tanpa jeda
seperti kemarin-kemarin
seperti usia yang lampau
seperti kanak-kanak tanpa kesedihan


Pak Peno dalam Refrain

terang bulan langit masjid
melepas angin magribi
anak-anak bersepeda
mengumpulkan kenangan
orang dewasa duduk-duduk
di beranda
jalan raya hening isya hampir tiba
sekarang ia datang, kembali
menjemput mereka yang ingin
mencicipi kebahagian sebagai
satu-satunya tiruan bulan di panci
yang matang, bersukacitalah

mata bocah, jernih. cahaya
nampak di setiap mimpi mereka
berkejaran melupa dunia
di langit-langit penuh lirih adzan
anak-anak bersarung, berjilbab
sebelum shalat
merasakan bahagia meluncur
ke lidah mereka
dan ia datang, dengan sepeda onta
dikayuh, selepas kumandang isya
kepada kanak yang telah tumbuh, akan tumbuh
menjadi dewasa, menjelma orang tua mereka


Obituari Tanpa Kematian

jika engkau memanggul kematian, sebelum tutup mata,
bawalah rahasiaku: kata-kata dengan borok membusa
kalau-kalau, alamatmu ke dunia bawah, menemu anjing api
dan menyayatkan urat nadi untuk engkau tinggalkan
mewarnai sungai dan tumbuh-tumbuhan

kuangkat batu-batu, beku-beku yang cadas dan berat
di lereng-lereng gunung menuju puncak terjal
bergelinding untuk kembali terangkat jari-jari beban

pulanglah sebelum petang menyalami wajah sebelah dunia
sesudah burung-burung terlalu lelah untuk terbang dan kembali
hiburlah aku, layaknya seorang perempuan memberi tuak cinta
berlama-lama menjadi tembikar yang retak, berkesudahan


Untuk Sara Bareilles

di mana kau temukan aku?
ruang waktuku kotak dalam sangkar
belenggu hujan-hujan airmata
orang-orang menanam sangsi padaku
akulah si papa yang sesungguhnya
laron-laron pesta cahaya
dan jalanan menangkap gaya bicaraku
: gelandangan dengan sajak

di sudut-sudut terpencil dari jaman
benarkah detik mengurai waktu
dan menua berkali-kali tapi abadi
hingga ajalku jadi sangat tak berarti
aku ingin mengarunginya dengan cepat

kuketuk tiap sempat aku membuka
pintu-pintu remaja dalam sebak rambut dara
biar kunci jantungku menemu pangkal
jadi mursal yang ramah kepada luka
entah, terbilang berapa, kapak-kapak
telah biasa mengoyakku; berbelah-berbagi

jika kau bisa mendapatiku
rembih garam itu telah lama tak berputus-putus
kota-kota kulewati untuk terus bersembunyi
rumahku adalah ibu dalam ibu kandungku
yang mengeramiku dari segala keropos musim
aku telah lama mengenal kesepian
dan tarian lampumu, selalu menyengat bagai lebah
yang hibuk mencari madu di taman bunga

di mana kau bisa temukan aku?
barangkali pada lagu yang kau ramu


Jelaga

hamba dari segala kesesalan: aku. inilah yang kumaksudkan:
bilamana petang bersembunyi di lidah malam, burung-burung
kembali memutari senjakala, kita sudah mesti bingkas
dan meninggalkan masing-masing dari diri, menuju ke luas
ke tapal batas. angkasa yang pura-pura tak melihat kita
merangkak dengan gegas mendaki udara memenuhkan diri

sebelum memecah jutaan butir kerinduan pada angin
pada bentuk yang tak berbentuk. Aku aminkan hidup
dari pembakaran cinta akyu dengan sulut panas api
kesederhanaan mengulangkan arti cinta yang sejati
bertemu dengan debu dan memadukan diri dalam-dalam
kita sudah sangat tenang-tentram tak ada lagi kemasygulan

panjatkan doa hablur ini. pada musim yang selalu bergerak
dan kebisuan berteriak mengetahui panjang usia hanya menit
setelah urusan-urusan yang tak terbataskan waktu singkat
hanyalah terus memanjat memenuhi udara dan tersapu lembut

jika kematian datang tanpa perlu menyiksa, aku bersyukur
malaikat-malaikat penuh seperti pasir. hisap aku dengan cepat
dan layarkan ke dunia bawah menumpang charon.
tempat, yang barangkali aku bisa teduh mengikuti
cahaya kunang-kunang


Nocturno

bintang tak ada malam ini, kembalilah kunang-kunang,
menemui semak yang remang, bertombak cahaya
di relung-relung tak berterang, palung paling gulita
jika malam ini, gerimis membawa semacam tanda:
pura-pura rumput menari dalam kesedihan kemarau

rimis gerimis, serupa undangan kereta dari rel-rel
yang membawa segudang musik dan sedepa partitur
meracik hujan dalam-dalam. arus menggelombang
memperbincangkan wajah gemawan yang murung

cahaya-cahaya menyilang warna dalam riak
berkubang, berhentilah dan berkumpul di sebuah lubang
sementara orang-orang menunggumu pulang,
disekap waktu yang terlalu. menghentikan ini malam


Jam Weker Realitas

di waktu-waktu yang ini
orang-orang belum kembali
jutaan gerimis berpindah
dari langit-langit lepas pagi
ke berahi lumpur

bunyi-bunyian pinta tolong
memekakkan telingaku
udara pucuk lumut tembok
mendapati kamu di sebuah mimpi lemas
sedang menengadah ke langit keropos
bertanya dalam bahasa yang tak bisa kutiru

bahkan masuk ke dalam. jauh lebih dalam
ratusan pandom meniru putaran matari
di horison jendela sore

pintu yang menganga
sepasang sepatu telanjur keluar luar
mengejar sepasang kupu-kupu
di sepasang pohon, saling berbagi udara
yang diserbuk dari kejauhan

di waktu-waktu yang ini
orang-orang tak pernah kembali
dialog angin dengan lembar-lembar daun
menyingkap musim berganti


Carla Bruni

secangkir kopi, menonton tv, menggoreng omelet
mendengar engkau bersiul. gitar menari,
sudah cukup bagiku pagi ini. perancis dingin
dalam wallpaper. seseorang mengayuh
sepeda sebegitu semangat menghadapi matahari
musim-musim menjatuhkan daun-daun jeruk

jemari pemetik gitar berpadu dengan wanita
bertopi gatsby. tepuk tangan menghampiri
ah, sekarang aku tahu, setiap iklan sabun itu diputar,
ada suaramu sebagai latar, detik bersebentar
bernyanyilah seperti konser kaum gitana
yang menghibur jalanan batu-batu, lesu-lesu
menjadi gembira, le plus beau du quartier 

kilau embun di esok yang buta. angin menerjang
membawa aroma daun-daun, basahan syahdu
selalu, kamu benarkan korpus suasana itu


Tentang Bagus Burham
Bagus Burham lahir di Kudus, Jawa Tengah, 31 Agustus 1992. Mahasiswa PGSD Universitas Muria Kudus. Puisinya tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama. Kini bergiat di komunitas sastra Jenang.


Catatan Lain
Penyair menulis pengantar di bagian awal buku. Yang unik, jarang-jarang halaman persembahan ditujukan untuk eyang dan mbah seperti buku ini. Halaman persembahan ada di halaman 3, berbunyi singkat: Untuk Eyang dan Mbah Uti. Oya, nama Bagus Burham juga mengingatkan saya pada nama kecil pujangga Jawa, Ronggowarsito. Sepertinya, ia memang diinginkan dan ditakdirkan menjadi pujangga J.  
Oya, ternyata ada 2 versi sajak Carla Bruni, satunya, tentu saja saya temukan di internet. Tapi lupa lagi di mana sumbernya. Bunyinya kira-kira seperti ini:

Carla Bruni (versi 2)

secangkir kopi, menonton tv, menggoreng omelet
mendengar engkau bersiul dan gitar menari,
sudah cukup bagiku pagi ini. prancis yang dingin
dalam wallpaper. seseorang mengayuh
sepeda begitu semangat menghadapi matahari
musim-musim menjatuhkan dedaun jeruk

jemari pemetik gitar berpadu dengan wanita
bertopi gatsby. tepuk tangan desibel membanjiri
ah, sekarang aku tahu, setiap iklan sabun itu diputar,
ada suaramu sebagai latar, detik berusaha sebentar
bernyanyilah seperti konser kaum gitana
yang menghibur jalanan batu-batu, lesu-lesu
menjadi gembira, le plus beau du quartier 

segantang embun yang buta. angin menerjang
membawa aroma daun-daun,basahan syahdu
selalu, kamu benarkan korpus suasana itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar