Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Jumat, 01 Januari 2016

ROSE




Data buku kumpulan puisi

Judul : Rose (Antologi puisi dwi bahasa)
Penulis : Rida K Liamsi
Cetakan : I, 2013
Penerbit : Yayasan Sagang, Pekanbaru, Riau.
Tebal : xxx + 255 halaman (55 puisi)
Translate and edited by : Ali Mamiya, Murparsaulian, Rida K Liamsi
Pelaksana penerbitan : Armawi KH
Layout : Rudi Yulisman
Pengantar : Soetardji Qalzoum Bachri

Beberapa pilihan puisi Rida K Liamsi dalam Rose

Hai Rasa Kepingin yang Lelah

Hai rasa kepingin yang lelah
kau telah sampai pada akhir semua cawanmu
kembali pada gua nasibmu

Istirahatlah
sambil meminumkan sisa anggur lukamu
dan sekatkan diri dari umbai mimpi siamu
jangan bilang
sia
sia
nangiskan rasa
di rasa yang tak nangis
sedihkan siapa
yang tak sedih

kau sudah di luar hitungan waktu
disisihkan dari halaman buku-buku
siapa menyapamu
selain sajak yang kau tulis
atas kening
yang suratkan rahasia
dalam rahimmu
selain puisi yang kau tikam
di ulu hati

selain kata pertama yang kau pungut
di rumput
yang kau takut sebut

Hai rasa kepingin yang lelah
kau sudah masuk dalam perangkap
yang Adam pun khilaf
Istirahatlah !
Sambil meminumkan sisa anggur lukamu
kau sebut namamu
yang kau adalah siapa yang pernah
kau halau
lewat seribu pintu
yang derau langkah kau
menghimbau
dari selaksa jangkau

(1977/2001)



Di Borobudur

Di batu relief aku membaca sebuah perjalanan
ke keabadian
di tengah keheningan
di bawah keteduhan
di antara kealpaan
di antara huruhara

Tetapi wajah yang arif itu seakan memberi tahu
perjalanan memang takkan pernah sudah
takkan pernah sampai
dan kita memang tak tahu
di manakah keabadian itu

Di depan stupa, aku menyaksikan kemurkaan cuaca
yang mengikis jejak sejarah
yang sekerat demi sekerat
meluncur ke kesunyian waktu

Adakah lagi sesuatu
yang terpahat di situ
mengingatkan zaman
tentang kenisbian?

(1977)


Tangan
(Kepada Melayu)

Jangan bilang punya tangan
Kalau cuma bisa tadah
cuma bisa garuk
cuma bisa raba
cuma bisa kocok

Sebab tangan barulah Tangan
kalau bisa jadi TANGAN
bisa tangkap
bisa tepis
bisa sepak
bisa tumbuk
bisa tampar

Sebab Tangan barulah Tangan
Kalau tidak jadi t-a-n-g-a-n
Sebab tangan barulah tangan
Kalau malu pada Tuhan
Sebab Tuhan tak tegah

Tangan jadi parang
asal tak sembarang tetak
jadi pedang
asal tak sembarang tikam
jadi besi
asal tak sembarang keras

Sebab Tuhan sudah Phuah!
Sebab Tuhan sudah bilang Nah!
Sebab Tangan adalah Anugerah
Maka jangan sembarang Ah!

(1981/1997/2000)


Di Tebing Lauttawar

Di tebing Lauttawar, kita ternyata bisa menyaksikan hari bangkit
dengan warna pagi yang berseri, meski ombak yang berdesir, dan
angin gunung yang layap, seakan tetap menggugat: Sejarah apa
yang ingin kalian tulis, dengan bedil dan bau mesiu? Kami telah
mengusir penjajah dengan rencong, setelah mereka kami biarkan
menanam teh di bukit-bukit kosong.

Di tebing Lauttawar, ternyata hari lewat dengan lebih hangat
karena uap kopi yang gurih, suara jaring yang ditebar, dan geliat
ikan yang menggelepar, telah menyisihkan berita televisi dan
keletah surat kabar. Di puncak Takengon, gempa masih kerap
menggampar, tapi pucuk-pucuk pinus masih bisa berkelakar: Di
sini Tuhan memang lebih sabar!

Di tebing Lauttawar, ketika bulan penuh, dan kabut malam
mengendap, memang masih kerap terdengar bunyi panser dan
peluru menyambar. Sesekali, di lobby hotel para tamu disuguhi
kisah Tengku Bantaqiyah di Beutong Bawah. Tapi di gelap
malam, para hansip masih ronda dengan pentung dan rencong di
pinggang. Dan di bibir pekebun teh dan pelancong Eropa, malammalam
menjadi lebih berona. “Di sini, kemerdekaan milik semua,
dan bedil di simpan di bawah jendela”

Di tebing Lauttawar, warung nasi, tetap menggulai rending. “Rasa
Aceh, resep Padang” dan sambil menonton liga Italia, si Buyung
melenggang: Ma baju Ronaldo tu?

Di tebing Lauttawar, di bawah bayang-bayang potret Cut Nyak
Dien dan Teuku Umar, sebelum kabut menghilang, kita masih
bisa berkelakar : Di sini kerasnya rencong memang masih bisa
ditawar

(2005)


Di Masjid Amir Hamzah

Sehabis magrib
Aku ratib dan meletakkan setangkai bunga di nisannya
Tuhan, singkirkan rasa benci dan aniaya
Tak ada daya, tak ada daya, tanpa kehendak-Mu
Dan maut menjemput, pun saat jiwa bersujud
Dan maut wangi bagai setanggi dibakar lumut

(2005)


Kedidi Kini Sendiri Pergi Mencari

Kedidi
Kini sendiri
Pergi
Mencari
Mencari jalan pulang
Mencari jejak datang
Mencari tanda musim
Mencari arah angin

:           Rasanya dari sini aku datang
Tapi pantai semakin landau
Rasanya ke sini aku pergi
Tapi desir ombak semakin derai
Rasanya di sini berahiku hanyut
Gairahku luput
Tapi hari hanya menyisakan lupa
menyisakan alpa
menyisakan luka
Ke mana suka
Ke mana dahaga
Ke mana sukma
Rasanya di sini aku menawar waktu
memaku mauku
memeta jalanku
menyendu mimpiku

Tapi jam sedingin batu
Hati sepedih sembilu

Kedidi
Kini sendiri
Pergi
Mencari
Mencari sisa-sisa musim
Mencari sisa-sia mimpi
Mencari sisa-sisa berahi

Kedidi
Kini sendiri
Pergi
Menyusur pantai, menyisir ombak, mencari jalan pulang
Akan sampai?

Sampai lepai
Sampai sansai
Sampai pada wahai?

Kedidi
Kini sendiri
Pergi
Mencari
Mencari!

(2007/2008)


Jejak Hujan

Rasa rinduku padamu
adalah jejak hujan
yang aku tak tahu di mana luruhnya dan ke mana akan
bermuara
dan aku hanya ingin mencatat
di sisa-sisa kelelahan musim
aku memandang sebuah keteduhan di terang matamu
dan aku terdampar di samuderanya

(2010)


Rose (I)

Rasa rinduku padamu ROSE
adalah kuda
di padang terbuka
tak henti lari
tak siang tak malam
tak panas tak hujan
tak perih tak luka
tak satu tak dua
tak
tak
tak
tak nyerah
tak kalah
tak menyimpan pedang
tak gantung kapak
tak kemas tali
tak kubur mimpi
tak sebelum rinduku
tenggelam dalam kalbu
tidur dalam nadimu

Rasa rinduku padamu ROSE
adalah kembara
di padang terbuka
lupa batas
luruh waktu

tak pagi
tak petang
tak manis
tak pahit
tak
tak
tak
tak haus
tak lapar

tak kira
beribu lie
beribu sungai
beribu jam
beribu hari
beriburibu mimpi
harap dan dendam
t e r p e n d a m

Rasa rinduku padamu ROSE
adalah panah
yang melesat melintas cakrawala
tak putus asa

memburu
demi detik
demi napas
demi lelap
demi sirap denyut nadiku
menunggu
menerkam

tiap langkah
tiap jangkau
tiap cekam
tiap jemari

tuliskan cinta
tikamkan sembilu
rinduku

Rasa rinduku padamu ROSE
adalah pahit
di padang anggur
bagai cuka
bagai racun
bagai maut

kutabung
tiap tetes
tiap hirup
tiap hela nafas
ketika mulutku katup
menyebut rinduku
membunuh cintaku
padamu

(1977/2000)


Secangkir Teh, Sejentik Tari

Secangkir sake, sejentik tari, Kiyoko san
Angin sungai, dan suara gendang, menerobos bedakmu
Aku menghirup rupa, menghirup wangi, menghirup tradisi
Menangkap makna di balik kelebat payung jinggamu
Mencari suara-suara abadi di balik kimonomu
Kau kah itu kiyoto san
di balik gemuruh
Play Station
dan
keletah Sincan
Ketika aku mabuk dan kikikmu
tertahan

(1999)


Mengingat Kalian

MAK
Mak kau adalah samudera, maka alangkah :
Alangkah luas, alangkah dalam, alangkah biru, alangkah teduh
Dan Aku berenang di dalamnya bagai seekor lumbalumba
Berenang memburu pelangi, mengibas ekor mengejar angin
Dan kau menggelitik punggungku : Teruslah ! Kejar angin,
Kejar Ingin!
Jadilah Paus biru, karena bisa menjelajah lautan
Melawan badai, menenggelamkan perahu

Ketika aku menyalip haluan, kau bilang :
Tiang dan layar, tanda mereka akan sampai KE MANA
Tapi harus ada angin, harus ada ingin
Dan angin bisa mempermainkan ingin. Mengirim dingin,
mengubah musim
Jangkar melingkar, tanda mereka akan sampai Di MANA
Tapi harus ada karang, harus ada pancang
Dan karang bisa merubuh pancang menggendang arus,
mengirim badai

Aku lumbalumba manja. Terus bermain, mengejar angin.
Memburu ingin
Dan kau samudra alangkah, membasah punggungku,
menantang angin ku

BAH
Mereka bilang kau karang, maka alangkah :
Alangkah keras, alangkah tegar, alangkah kukuh
Dan aku berdiri di pundakmu menatap musim
Mendengar ombak, mengeram badai, meluruh sauh

Dengarlah gemuruh gelombang, katamu
Karena gelombang mengajarkan arti bimbang
Bimbang akan mimpi, bimbang akan sampai
Bimbang akan jejak, bimbang akan cari, bimbang akan dapat

Rasakanlah getaran badai, karena dia mengajarkan arti andai
Andai mimpi kau berketai, andai jejak kau tak sampai
Andai kau teluk, andai kau adalah ceruk
Andai kau adalah pasir, andai kau adalah desir
Andai kau segalanya hanya pantai, hanya badai
Hanya sansai

Dengarlah keletah laut
Kadang laut sunyi dan ombak berdesir
Kadang malam gelap, dan laut menggigil
Kadang kau bilang, karang adalah mercu yang menjulang
Suar kapal mengatur arah, mengemudi tuju, mengira
sampai
Kadang, malam kelam, dan maut datang tanpa memberi
salam
Tapi laut, tak pernah selesai disebut dengan rasa takut...

(1996/2002)


Dan Sejarah pun Berdarah
Soneta Cinta untuk H

1.
Phuih!
Aku telah dizalimi sejarah
(Mentari lebam. Pagi menghisab sisa embun. Tanah basah, habis
dilapah. Kau berkacak segak, menghala haluan. Memandang
daratan, menatap langit, mengira angin, menakar musim
Nakhoda, bentangkan layar, tinggalkan negeri penuh dengki!)

2.
Andaikan Aku Tun Teja
Andaikan Aku Tun Fatimah
Andaikan Aku Putri Retno Dumilah
Adakah mereka akan mencampakkan Aku bagai lampin buruk
Melengos Aku bagai serampin busuk
Menistakan Aku bagai janda tua di katil tersuruk
(Perahu berlayar. Selatan mengerang. Renyai tiba dan siang
meratap: Wahai Peri sejarah! Telah Kau tumpahkan seluruh asa
agar marwah bangsa tercacak tersurat indah. Telah kau sekat bara
cinta, agar garis zuriat tak bertumpah darah. Telah Kau humban
dengki, telah Kau peram luka. Agar Sang Raja, tegak memerintah.
Mengapa kini kau menyerah? Mengapa kini Kau rela mengalah?)

3.
Tak pernah Aku menyerah. Tak pernah Aku mengalah.
Karena Telah kusauk pusaka. Telah kupeti nafiri. Telah kusambar
Sirih Besar. Telah kuputus jejak tamaddun Raja bertegak.
Phuih!
Tak sehelai selendang boleh dipegang. Tak seulas pinang
boleh dikenang. Tak selipat sirih boleh dipilih. Tak akan
adat boleh merempat. Biarkan mereka menurunkan bahtera.
Biar mereka mengarak meriam. Biar mereka menghela lela.
Aku takkan berganjak!
Biar hulubalang berhulu jembia. Biar dukun menyedu racun.
Biarkan mereka mengasah siasah mengalahkan sejarah
Takkan pernah aku boleh disergah!

(Camar melintas. Buih putih menindih perih. Kecapi Parsi
mencakar hati: Engku Bijak, Engku Perkasa, Engku ranggih
berhati besi, adakah negeri berdiri dengan hati? Adakah tahta
tegak dengan cinta? Adakah sejarah ditulis dengan madah?)

4.
Aku tahu tak ada tahta tanpa serdadu
Aku paham, Tak ada Raja tanpa meriam
Aku ingat, tak ada Menteri tanpa hianat
Aku sadar, tak ada permaisuri di balik kelambu, tanpa tersedu
Tapi hidup mewariskan rasa, mengkekalkan resa: Tentang cinta,
Tentang setia, tentang rela, tentang pasrah, tentang padah.
Maka sejarah menyisakan luka, maka siasah menumpahkan darah
Maka sejarah selalu hitam, maka cinta menghamparkan dendam

(Petang berpendar, elang menukik, dan lelumba berselancar.
Angin mati, menurunkan layar: Cinta bukanlah cinta jika hanya
tahta memenuh resa. Setia bukanlah setia, jika cinta bertahan
dengan jembia. Maka, wahai kerelaan yang lapang, rebahkanlah
perihmu, di lengan kesendirian. Biarkan gerai rambutmu, dibelai
angin. Biarkan musim mendingin bahang bencimu. Biarkan laut
mendendangkan gazal, menaut kenangan kembali surut)

5.
Mereka memang telah meramu racun, agar kasih dan kehormatan
tak beralih. Mereka memang telah meracik fitnah, agar jejak
dan kekuasaan tak tergoyah. Tapi Aku telah menyulam cinta,
menjelujur setia, mengelim rela, agar Sang Raja, selalu tegak di
atas singgasana. Agar bila berkata Ya, maka Ya lah negeri. Bila
berkata Tidak, maka selamatlah negeri, Agar, saat malam tiba, dan
kelambu diselak, Baginda memunggah rindu seluas samudera,
dan mendesah rindu bagai gelombang Selat Malaka.

Mereka memang telah menyemai dendam. Mereka memang
telah menulis dengki. Mereka memang telah menyelak kain
dan menghunus belati. Tapi, Ya Rabbi, tak Kau beri aku jerat
cinta, Tak Kau beri aku zuriat tahta. Tak Kau beri aku semangat
untuk melumat hianat. Tak Kau beri aku waktu menguras racun,
melebur dendam, meluruskan sejarah. Padahlah!

6.
Phuih!
Angin mati, pasangkan dayung,
Rempuh Barat, taklukkan tanjung
Tambatkan pencalang, sebelum rembang

(Samudera kasih, biarkan beribu sedih menumpahkan perih di
riba mu. Junjungan telah pergi. Tetapi negeri perlu Seri. Kuasa
memerlukan kata. Kata mesti di kota tahta ternganga tanpa daya.
Raja tegak tanpa mahkota. Sejarah berdarah. Istiadat diludah)

Phuih!
Aku telah berjaga separuh usia
Aku telah mencatat seluruh isyarat
Tapi mestikah tahta tegak dengan dusta
Mestikah kuasa tegak tanpa Regelia
Padahlah!

7.
(Indrasakti sunyi. Pekik bayan seperti gering. Tingkap ke selat,
meratib nasib: O, Engku yang ranggi! Telah kau tegah angin agar
tak mengirim ingin. Telah kau cacak ijuk, isyarat menghapus
semua bujuk. Tapi dapatkah kau tahan waktu yang bagai sembilu
mengerat urat, menyimpulkan tahan marahmu)

Mengapa Aku harus bijak, bila mereka yang berkata tidak?
Mengapa Aku mesti menarik langkah, padahal mereka
mendedah barah?
Ah! Padahlah!
Jangan biarkan tangga berderak karena datang yang
berkehendak
Jangan biarkan tirai terselak, karena datang bujuk yang tak mau
ditolak
Biarkan para serdadu baris di pintu
Biarkan Hulubalang lelah bersila
Biarkan Panglima tewas berjaga
Biarkan Raja Muda, mencabut keris, mengacung jembia
Aku tak akan berganjak!
Sebab Akulah panglima. Sebab Akulah laksamana.
Sebab Akulah kuasa
Akan kutiup nafiri bagi Pelindung isi Negeri
Akan kuhantar Sirih Besar, bila tahta layak bergelar
Akan kupadan persalinan, bila mahkota layak bercogan
Karena Akulah kehendak, yang berkata Ya, yang melaung Tidak
Karena Akulah yang menabuh tambur, yang memukul ketawak

8.
(Wahai Engku. Sri segala permaisuri. Dengarkan gemuruh langkah
para Menteri. Menegak destar, meluruskan kaki :
Punai terbang menyongsong angin
Elang hinggap membuat sarang
Sang Raja datang memohon ingin
Apakah disambut genderang perang?)

Padahlah !
Sebab Akulah Engku Puteri
Sebab Akulah penyangga marwah, penjunjung Negeri
Berlututlah!
Jangan acungkan pedang kalian
Jangan tembakkan peluru kalian
Jangan kuakkan durhaka kalian
Sebab takkan ada marwah bagi kuasa yang diraih dengan paksa
Sebab takkan ada tuah, jika Panji ditegak dengan salah
Berlututlah!

9.
Maka sejarahpun berdarah, karena mereka datang dengan
perang. Maka sejarahpun memendam amarah karena mereka
menyambar Sirih Besar dengan pedang. Maka seluruh nadi
negeripun mengerang, karena Tahta ditegakkan dengan
senapan. Maka Negeri pun tenggelam dalam lautan benci, karena
Nafiri dicuri dengan belati. Maka para syuhada pun berkabung,
karena mereka datang mengantit perabung dengan beliung.
Maka sejarahpun penuh dusta, Karena mereka telah menista
sang penjaga Regelia, wanita ranggi berhati besi, wanita tua yang
menjaga marwah sejarah dengan hanya seribu kata.

10.
Phuih!
Rampaslah segalanya, tapi kalian hanya merampas dusta
Rampoklah segalanya, tapi Kalian hanya menggenggam nista
Dan berpalinglah! Maka kalian akan menyaksikan petaka
Datang bagai badai dan akan menenggelamkan semua Bahtera
Semua Tahta!
Semua Negeri punya Seri
Semua Marwah punya tuah
Semua Tahta punya Bala
Semua janji punya benci
Semua benci punya sumpah
Padahlah!

11.
(Di tingkap menghadap selat,
angin terkesiap dan
tirai tersingkap
menangkap luka Cinta yang telah berhenti berharap)

Nakhoda, naikkan layar
Bongkar sauh,
Dan biarkan Kita berlayar jauh! JAUH!

(2006/2008)


Tentang Rida K Liamsi
Rida K Liamsi jika dibaca dari belakang (kanak ke kiri) maka akan muncul nama Ismail Kadir. Itulah nama sebenarnya dari penyair ini. Juga pernah menggunakan nama pena Iskandar Leo.  Lahir di Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943. Pernah menjadi guru Sekolah Dasar, sebelum terjun menjadi Jurnalis. Delapan tahun jadi wartawan Tempo, lima tahun di harian Suara karya, kemudian ke Riau Pos, hingga menjadi CEO Riau Pos Group (RPG). Kumpulan puisinya: Ode X (1971) dalam bentuk stensilan, Tempuling (2003). Novelnya Bulang Cahaya (2007). Mendirikan Yayasan Sagang, di mana sejak 1997 telah menerbitkan Majalah Budaya Sagang. Dan setiap tahunnya, sejak 1996, memberikan penghargaan kepada Seniman dan budayawan, karya-karya budaya, institusi budaya, penelitian budaya serta jurnalisme budaya yang bernafaskan budaya Melayu, yang diberi nama Anugerah Sagang.


Catatan Lain
Di bagian belakang buku ini ada tiga tulisan, yaitu Catatan Pengarang, Catatan Penerjemah (oleh Ali Mamiya) dan Catatan Editor (oleh Murparsaulian). Begini kata pengarang tentang Rose: “ROSE adalah mahakata yang selalu membuat saya terbakar dan melihat hidup dengan gairah.” (hlm. 242).
            Oya, kumpulan Rose ini juga memuat puisi-puisi dari kumpulan sebelumnya, yaitu Tempuling dan Perjalanan Kelekatu. Tampilan terjemahan dikerjakan per halaman, bukan per puisi. Artinya tampil satu halaman teks berbahasa Indonesia dulu, kemudian halaman selanjutnya tampil teks berbahasa Inggris. Jadi kalau ada puisi yang jumlah halamannya lebih dari satu, maka tampilan teks terjemahan dan teks asli akan hadir berselang-seling. Dan bukan hanya puisi yang diterjemahkan, prolog dan catatan-catatan yang ada di bagian belakang buku juga diterjemahkan.   
            Oya, ada sedikit ketidakkonsistenan (yang entah penting atau tidak) terhadap penulisan nama penyair yang menulis pengantar di buku ini. Di sampul depan, sampul dalam (hlm. vii), dan halaman identitas buku (hlm. viii), penulisannya adalah Soetardji Qalzoum Bachri. Namun memasuki tulisan pengantarnya yang diberi judul Sekilas Komentar tentang Puisi Rida, (hlm. x, xi) maka nama yang muncul adalah Sutardji Calzoum Bachri (ini nama yang biasa saya kenal atau disingkat SCB). Dan di Daftar Isi (hlm. xxvi) muncul nama yang lain lagi: Soetardji Calzoum Bachri. Walaupun ketiga nama itu beda, kayaknya orangnya sama saja. J Salam puisi.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar