Pengantar Bulan DESEMBER 2017

Pengantar Bulan DESEMBER 2017
Selamat menikmati sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Selasa, 01 Mei 2012

TIRTA KAMANDANU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tirta Kamandanu: 104 sajak pilihan 1971-1996
Penulis : Linus Suryadi AG
Cetakan : I, Maret 1997
Penerbit : Yayasan untuk Indonesia, Yogyakarta.
Penyunting : Landung R. Simatupang
Editor bahasa : Andi Setiono dan Ana Samhuri
Desain sampul dan gambar isi : Alex Luthfi R
Lukisan :  Rizki Tegar dan Alex Luthfi R  
Tebal : xi + 148 halaman (104 puisi)
ISBN : 979-8681-10
Catatan kaki : Drs. Bakdi Soemanto, SU.

Beberapa pilihan puisi Linus Suryadi AG  dalam Tirta Kamandanu

Kemudian Senyap,
Kemudian Gelap

Kemudian senyap, kemudian gelap
engkau berjalan demikian tegap
Jika hari, engkau tahu, berayun
dalam lena kabut-kabut terbantun

Jatuh di tanah-tanah yang anggun
jatuh kita yang sangsi: Kenapa di sini
Kenapa engkau dan aku bersendiri
suara pun menebak: suaramukah ini?

1971


Baron

Engkau dengarkah di sini: dentum ombak dan karang
gugusan pantai selatan, tepi jurang-jurang dalam
Horison yang jauh , lengkung langit berawan
membias ke laut, dalam, membiaskan permukaan

Engkau dengarkah di sini: dentum ombak dan karang
menembus sungai perlahan, susut muara tenggelam
Gempuran yang bertahan, angin semesta mengemban
perpaduan kasih, dalam, perpaduan dendam

1974



Elegi
- pemuda 

Pemuda itu memetik gitar
dunia guramnya sendiri
Udara sekitarnya gemetar
menjalin Dukamu Abadi*

Seorang gadis telah pergi
dengan sakramen dan hosti

Seorang gadis telah pergi
menggoreskan luka kembali

Seorang gadis telah pergi
ketabrak bis di Purwosari

Seorang pergi, seorang pergi
bertumpuk surat tak ada arti

Pemuda itu memetik gitar
dunia guramnya sendiri
Ia berkisah, jelas kudengar
hanya sunyi menabiknya kini

1978
* Dukamu Abadi: kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono


Dari Gunung Sion
- prosesi advent

Jika dari gunung Sion
ke jantung kota Jerusalem
arak-arakan yang panjang
pada rangkaian hari Pondok Palem

Bagaikan pergi ziarah
ke kubur-kubur di bukit
dalam gaung-gema nyanyian
menyibak kesunyian batu granit

Para putri ngapu rancang
betapa jauh iringan
betapa terjal jalan
dengan sekelumit doa pengharapan

Jika saja musim balau
dari puing-puing bayang
Kita pun usah mengigau
berlindung di bawah Tiang Berpalang


Petruk Kumat

“Padi PB, padi IR, padi PB, mbahmu
Hama wereng saja tidak doyan
Lha kok orang, disuruh makan”
Gerutu Kantong Bolong sambil ngeloyor

Si Jangkung kalung sarung manggul pacul
Tangan kirinya menangkap keranjang
Tangan kanan njepit rokok lintingan
Dan sabit terselip di belakang pinggang

Dan Mas Petruk jelalatan: “Kamu paham,
Tanah pun hancur makan obat tanpa aturan”
Matanya merah, tampaknya kurang tidur
“Masih grundelan? Babat kontolmu sisan

“We lha trembelane. Petruk kumat mendem
Pikir Gareng: “Semalam dia kalah gaple”
Jaman dijajah kere. Jaman merdeka idhem
Kaum tani tak pernah genah. Terbengkalai

1983
Sisan : sekalian
Trembelane: sialan, keparat
Mendem: mabok
Kere: miskin
Idhem: idemdito, sama saja


Nocturno

Malam beranjak
dilepas lagu
Tercium segrak
aroma rindu

Dentang-denting
dentang jantung
Arloji nyaring
di rumah suwung

Apa yang samar
di antara kita
Perihal jarak
tak tembus mata?

Tapi lirih
terdengar Talu
Suara kasih
yatim piatu

Bagaikan sekuntum
molek mawar
Mekar harum
tergolek di altar

1983
Suwung: kosong
Talu: Patalon: nama gending karawitan Jawa yang dimainkan sebelum pentas wayang purwa


Mimpi Bisma

“Tak bisakah cari pria lain?” ujar Bisma
Ia pun balik bersandar ke pohon munggur
Angin silir mengipas batinnya yang papa
Resi Talkanda itu terlena. Ia pun tidur

Ada sasmita gaib dibisikkan oleh Narada
Ada prajurit wanita. Ia dandan senapati
Bisma kaget: betapa ia mirip Dewi Amba
Lenggang-lenggoknya tangkas dan merak ati

“O, biang cerewet. Kau datang nagih janji
Lepaskan panah itu. Tepat ke dada kiriku!”
Sambutnya, seolah tidak sabar bersendiri
Alangkah setia bayang kasihnya menunggu

Bisma pun kaget. Ia terbangun dari mimpi
Dan mengucek matanya. Ia ngungun berdiri:
“Ditolak malah tapa. Uh, wanita. Rela mati
Yaya, kapan kusongsong panah Wara Srikandi?”

1983
Merak ati: menawan hati


Betlekhem

Di tumpukan jerami di kandang
sapi dan domba, kuldi dan onta
Kudengar jeritan penuh pesona
jeritan purba di jagad lengang

Tangisan adalah suara pertama
suara yang tersua pengembara
Sebentar, peceh tawa gembira
si wajah kembar yang tua pula

Kudengar jerit cenger suara bayi
kudengar segar, polos, dan sunyi
Bergelung-gelung di rongga malam
o, kudengar jerit batinku sendiri

1980


Kangaroo Valley

(1)
Padang rumput
penuh ilalang
Angin semiyut
kering kerontang

Pada keluasan
jagad beredar
Dalam sepuhan
matahari bersinar

Seperti kemarin
tahun sekarang
Hujan dingin
pun ingkar datang!

Di atas dahan
pohon Ekaliptis
Ada kegelisahan
mengais-kais

Burung Kukabara
di ketinggian
Serak terbata-bata
menagih awan:

Welcome, welcome
come, come, come, ...”

(2)
Kita pandang
matahari bundar
Mirip tampah
tembaga terbakar

Hawa panas
gurun mati
Lintas lepas
bersuhu tinggi

Hutan pinus
berhektar-hektar
Gelisah aus
angin menggelepar

Kuda dan sapi
haus dan lapar
Mencari kali
hijau semak belukar

Di kota-kota
tepian benua
Orang pun kungkum
di pantainya

(3)
Angin gunung
terus turun
Bergelombang
di daerah Farm

Rumputan ranggas
oleh musim
Nasib naas
bangsa Aborigin

400 Celsius
suhu tercapai
Hutan pinus
tinggal bangkai!

Ah, di mana
gema kharismamu
Sedang Victoria
lama nunggu

Di mana mantram
nenek moyangmu
Di New South Wales
di Kangaroo Valley

1983


Arjuna di Padang Kurusetra

Arjuna menyisih ke pinggir gelanggang
Ia bingung menghadapi musuhnya seorang
Separohnya cemas dan separohnya gemas:
“O, kenapa wanita ikut terlibat perang?”

Ia cantik dan cerdas. Ia pun pintar berhias
Dan pandang matanya merampok nalar Arjuna
“Kresna, setankah masuk ke dalam batinnya?”
Di kereta angkasa dewa-dewi menahan Sabda

Tapi para pendeta sibuk di sanggar pamujan
Asyik membakar dupa. Khusuk masyuk berdoa:
“Pandawa dan Kurawa tak letih, harus milih
O, kutuk siapa! Kenapa bukan cintakasih?”

“Murdaningsih,” kata Arjuna: “Yang mana:
Panah sakti Pasopati atau panah Asmara?”
Satunya racun maut, satunya api hidup
Pada kita, keduanya pun saling berebut.

1983


Nocturno

Bagaimanakah kau hendak memotret rasi-rasi bintang
yang berguling dalam gelombang cahaya langit malam?
Bagaimanakah kau hendak menghitung galaksi Bima Sakti
yang warna-warni dan timbul tenggelam dalam kelam?

Ya, bagaimanapun kau hendak merekam gelagat insan
yang sarat dogma kitab-kitab dan rahasia penciptaan

1992


Jurang

“Monika!” teriak seseorang di tebing kanan
“Merdeka!” balas seorang di tebing kiri
Lalu keduanya melambai-lambaikan tangan
Mereka merasa bahwa salamnya kesampaian

1975


Tentang Linus Suryadi AG
Linus Suryadi AG lahir di dusun Kadisobo, Sleman, Yogyakarta, pada 3 Maret 1951. Merupakan putra ke 2 dari 10 bersaudara, dari keluarga petani Jawa. Setamat SMA 1 BOPKRI tahun 1970, sempat mengenyam kuliah di ABA jurusan Bahasa dan Sastra Inggris dan IKIP Sanata Darma, namun hanya sebentar untuk kemudian otodidak. Selanjutnya karirnya berkisar di redaktur majalah dan Dewan Kesenian Yogyakarta, terakhir menjadi redaktur majalah kebudayaan Citra Yogya sejak 1987 hingga sekarang (setidaknya sampai terbit buku ini). Kumpulan puisinya: Langit Kelabu (1980), Pengakuan Pariyem (1980), Perkutut Manggung (1986), Rumah Panggung (1988), Kembang Tunjung (1988), Lingga-Yoni (belum terbit), puisi bersetting wayang dan watak dalam Ramayana dan Mahabrata, Yogya Kotaku (belum terbit). Juga menulis beberapa buku esai sastra dan menyunting Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern, sebanyak 4 jilid yang terbit tahun 1987.


Catatan Lain
“Seingat saya, pertama kali menulis puisi pada tahun 1969 atau 1970, ketika saya tamat SMA,” demikian pengakuan Linus mengawali catatan penyairnya. Penyair yang identik dengan prosa lirik Pengakuan Pariyem ini (yang sayangnya tidak dimuat dalam buku ini), menguraikan bahwa puisi-puisi di dalam buku ini diambilkan dari sejumlah buku puisi yang pernah terbit sebelumnya: kumpulan puisi tunggal, antologi puisi, dan puisi-puisi yang sebagian pernah dimuat di media massa atau sama sekali belum pernah dipublikasikan. Yang jelas, puisi-puisi tersebut dibagi-bagi menurut subjudul: Langit Kelabu (1971-1974; 17 puisi), Perkutut Manggung (1975-1982; 23 puisi), Rumah Panggung (1973-1987; 16 puisi), Kembang Tunjung (1983-1984; 11 puisi), Lingga dan Yoni (1983-1996; 33 puisi) dan Sajak-Sajak 1990-an (4 puisi).
            Dalam catatan kaki yang dijuduli Catatan Gombal-Gambul Embel- Embel, Bakdi Soemanto berusaha mencari etiologi dari kata Tirta Kamandanu. Ternyata menurut tiga ahli budaya Jawa yang dimintai keterangan oleh Bakdi, kata Kamandanu ternyata kata mengalami pergeseran ucap dan penulisan dari Kamandhalu. Pada huruf Jawa, huruf La pada kamandhalu dan huruf besar Na pada Kamandanu berwujud mirip. Kegiatan salin menyalin naskah yang terjadi pada masa lalu dituding membuka jalan ke arah perubahan itu. Namun, lanjut Bakdi, apa pun yang terjadi dengan pergeseran ini, Tirta kamandanu yang dijadikan judul puisi ini mengisyaratkan jagad pikir Jawa tentang air kehidupan. Tirta kamandanu sendiri adalah judul puisi dalam kumpulan Kembang Tunjung (1983).
            Bakdi juga menulis ini: “Pada awal kepenyairannya, sajak-sajak Linus menunjukkan gejala puisi lirik murni, yang mungkin, mengingatkan orang akan imagist poetry, seperti sajak-sajak Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Kata, dalam sajak seperti itu, tak sepenuhnya mewakili atau menunjuk suatu pengertian tertentu, tetapi disulapnya menjadi alat pencipta suasana.” 
            Bakdi melanjutkan, “Hanya saja, selepas period Langit Kelabu, Linus mulai meninggalkan kecenderungan kemurnian lirik dan mulai menggali unsur-unsur kosmologi Jawa sebagai pembangun citraannya, yang biasanya dihadirkan dalam bentuk tokoh-tokoh wayang atau menyajikan pandangan dunia Jawa dengan memasukkan begitu saja kata-kata Jawa tanpa tanggung-tanggung.” 
               Catatan yang perlu saya tambahkan dalam penampilan kali ini: di kumpulan Kembang Tunjung, ciri puisi yang dominan adalah baris-baris pendeknya, yang berkisar 2-3 kata saja. Contoh yang ditampilkan adalah Kangaroo Valley dan Nocturno. Nocturno sendiri hadir kembali sebagai judul puisi lain di bagian Sajak-sajak 1990-an. Jadi ada dua Nocturno di dalam buku ini. Adapun kisah-kisah pewayangan terkumpul di bagian Lingga dan Yoni.
Linus Suryadi AG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar