Pengantar Bulan Maret 2017

Pengantar Bulan Maret 2017
Bulan Maret 2017, menyapa kita sepilihan puisi dari 5 buku di atas. Salam Puisi.

Rabu, 02 Mei 2012

CARI MUATAN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Cari Muatan
Penulis : Ajip Rosidi
Cetakan : II, 1975 (cet. I, 1959)
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 88 halaman (31 puisi)
Gambar kulit : Oesman Effendi

Beberapa pilihan puisi Ajip Rosidi dalam Cari Muatan

inilah penyair dengan darah
di matanya

inilah penyair dengan bulan
di tangannya

ia melihat kepadaku
jalan dan kota yang pengap
terbayang

ia merenungi kaca jernih
malam terus menyala
penuh duka

hujan turun gerimis
lidah api menari
jadi kikis


Jante Arkidam

Sepasang mata biji saga
Tajam tangannya lelancip gobang
Berebahan tubuh-tubuh lalang dia tebang
Arkidam, Jante Arkidam

Dinding tembok hanyalah tabir embun
Lunak besi di lengkungannya
Tubuhnya lolos di tiap liang sinar
Arkidam, Jante Arkidam

Di penjudian di peralatan
Hanyalah satu jagoan
Arkidam, Jante Arkidam

Malam berudara tuba
Jante merajai kegelapan
Disibaknya ruji besi pegad
ean

Malam berudara lembut
Jante merajai kalangan ronggeng
Ia menari, ia ketawa

Mantri polisi lihat ke mari!
Bakar meja
judi dengan uangku sepenuh saku
Wedana jangan ketawa sendiri!
Tangkaplah satu ronggeng berpantat padat
Bersama Jante Arkidam menari
Telah kusibak ruji
besi’

Berpandangan wedana dan mantri polisi
Jante, Jante Arkidam!
Telah dibongkarnya pegad
ean malam tadi
Dan kini ia menari’

‘Aku, akulah Jante Arkidam
Siapa berani melangkah kutigas tubuhnya
batang pisang,
Tajam tanganku lelancip gobang
Telah kulipat ruji
besi’

Diam ketakutan seluruh kalangan
Memandang kepada Jante bermata kembang
sepatu

Mengapa kalian memandang begitu?
Menarilah, malam senyampang lalu!’

Hidup kembali kalangan, hidup kembali penjudian
Jante masih menari berselempang selendang
Diteguknya sloki kesembilan likur
Waktu mentari bangun, Jante tertidur

Kala terbangun dari mabuknya
Mantri
polisi berada di sisi kiri
‘Jante, Jante Arkidam, Nusa Kambangan!’

Digisiknya mata yang sidik
‘Mantri
polisi, tindakanmu betina punya!
Membokong orang yang nyenyak’

Arkidam diam dirante kedua belah tangan
Dendamnya merah lidah ular tanah

Sebelum habis hari pertama
Jante pilin ruji penjara
Dia minggat meniti cahya

Sebelum tiba malam pertama
Terbenam tubuh mantri
polisi di dasar kali

‘Siapa lelaki menuntut bela?
Datanglah kala aku jaga!’

Teriaknya gaung di lunas malam
Dan Jante berdiri di atas jembatan
Tak ada orang yang datang
Jante hincit menikam kelam

Janda yang lakinya terbunuh di dasar kali
Jante datang ke pangkuannya

Mulut mana yang tak direguknya
Dada mana yang tidak diperasnya?
Bidang riap berbulu hitam
Ruas
tulangnya panjang-panjang
Telah terbenam beratus perempuan
Di wajahnya yang tegap

Betina mana yang tak ditaklukkannya?
Mulutnya manis jeruk Garut
Lidahnya serbuk kelapa puan
Kumisnya tajam sapu injuk
Arkidam, Jante Arkidam

Teng tiga di tangsi polisi
Jante terbangun ketiga kali
Diremasnya rambut hitam janda bawahnya

Teng kelima di tangsi polisi
Jante terbangun dari lelapnya
Perempuan berkhianat, tak ada di sisinya
Berdegap langkah mengepung rumah
Didengarnya lelaki menantang:
‘Jante, bangun! Kami datang jika kau jaga!’

‘Datang siapa yang jantan
Kutunggu di atas ranjang’

‘Mana Jante yang berani
Hingga tak keluar menemui kami?’

‘Tubuh kalian batang pisang
Tajam tanganku lelancip pedang’

Menembus genteng kaca Jante berdiri di atas atap
Memandang hina pada orang yang banyak
Dipejamkan matanya dan ia sudah berdiri di atas tanah
‘hei, lelaki mata
badak lihatlah yang tegas
Jante Arkidam ada di mana?’

Berpaling seluruh mata ke belakang
Jante Arkidam lolos dari kepungan
Dan masuk ke kebun tebu

‘Kejar jahanam yang lari!’

Jante dikepung lelaki satu kampung
Dilingkung kebun tebu mulai berbunga
Jante sembunyi di lorong dalamnya

‘Keluar Jante yang sakti!’

Digelengkannya kepala yang angkuh
Sekejap Jante telah bersanggul

‘Alangkah cantik perempuan yang lewat
Adakah ketemu Jante di dalam kebun?’

‘Jante? Tak kusua barang seorang
Masih samar, di lorong dalam’

‘Alangkah Eneng bergegas
Adakah yang diburu?’

‘Jangan hadang jalanku
Pasar kan segera usai!’

Sesudah jauh Jante dari mereka
Kembali dijelmakannya dirinya

‘Hei lelaki sekampung bermata dadu
Apa kerja kalian mengantuk di situ?’

Berpaling lelaki ke arah Jante
Ia telah lolos dari kepungan

Kembali Jante diburu
Lari dalam gelap
Meniti muka air kali
Tiba di persembunyiannya.


Tanah Air

Ada hijau pegunungan
Ada biru lautan
Ada hijau
Ada biru
Langit dan hatiku

Adalah aku pucuk tatapan
Ada pucuk
Ada tatapan
Ada pucuk senapan
Mengarah ke dadaku

Hijau pegunungan biru lautan
Bukannya harapan adalah ketakutan
Hijau pegunungan biru lautan
Bukanlah ketentraman adalah ancaman

Adalah karena cintaku
Adalah karena kucinta
Langit merah jalan berdebu
Rumah musnah jalan terbuka

Bunga merah bunga biru
Kembang wĕra kembang jayanti
Tanah yang kujejak rindu
Kan kurangkum dalam mati


Dari Jakarta

kesadaran tumbuh di Jakarta
kalau tiada Jakarta hidup betapa hitamnya
karena panggilan tinggal terpendam
(sedang darah menyala-nyala: derap kuda
berpacuan di dalam rongga)

kemesraan paling dalam dikumur dalam dada
karena cinta bergalau kemualan
oleh kesudian paling terkutuk


Surat Wasiat Penyair Komeng Komarudin

Ada segenggam sajak yang hidup di nadimu
Bersamamu ia lahir dan mengisap madu dari bunga
Bersamamu ia hidup dan memeluk cinta dengan percaya
Lama sebelum segala sajak yang lahir dari duka
Menigas cahya yang disinarkan tawa sehari-hari

Ada sejumput kata kehilangan makna
Dan tidak lagi yakin akan hal yang sendiri kuucapkan
Karena hianat dan hidup siksa
Karena kacapi dan carita pantun
Yang pernah kudengar kala malam mulai turun

Ada setapak tanah berwarna hijau di mana kau
Kan menyelesaikan nyawa dalam cinta
(seperti aku pun pernah sia-sia)
Pula kan kubangunkan suatu mimpi buat mereka
Yang sedesah senapas denganmu
Dan mencoba bisa percaya
Pada kepastian makna tiap kata


Istri tak Setia

Cinta. Pulanglah pada suami sepi menunggu
Sebelum pagi pecah sebelum malam lalu
Sebelum ia sampai tahu

Biar busah darah masih berlonjakan
Biar mata bersitatapan di maniknya hitam
Besok pun menjanjikan pula malam
Kelam dan kita kan bersarang padanya

Pulang istri tak setia
Waktu fajar menjelang tiba

Sebelum ambang rumah ia pijak
Dan sebelum pintu daunnya terkuak
Tertancap mata suami
Membuatnya terpukau berdiri

Sebelum ke luar kata barang sepatah
Dan sebelum debar dada tenang kembali
Tertancap hulu belati
Di jantung melumurkan darah

Istri tak setia berdarah air kali
Mengalir di lekuk liku jemari
Betapa ia memandang tanpa bicara
Dan beku di lorong tubuhnya


Wasil

I
api merah malam terang karenanya
menjilat habis rumah dan suaminya saluki
wasil ingat anaknya lelap di kamar
tinggal abu dan puing-puing api

wasil kehilangan semua
berangkat – kapan kembali dan ke mana

II

kota! hidupnya melingkar-lingkar di satu pusaran
ada teman karib tetangga sedesa sinah dan wasti
wasil duduk-duduk di warung datang lelaki padanya
‘orang baru matanya begitu bening
dan tubuh segar dadanya keras dan besar’
wasil dilandanya dan ia mengalah saja

o, saluki suami pertama cintanya
dia telah berangkat mati dia lelaki kecintaan
kenangan wasil rumah kebun sawah mereka
dan anaknya seorang terbakar di kamar

III

kota! banyak lelaki dan begitu ganas
mereka pergi mengucap ‘haram jadah!’
dengan rel dingin di pantatnya wasil menunggu
buram malam dan gerimis pun turun

masih dingin rel dan besi kereta api
masih dingin dadanya belum dibuka

habislah hidupnya dan ke mana ia menyuruk
tubuh reot dan lelaki tak mau lagi padanya
habislah hidupnya dan akan ke mana ia terlempar
wasil kehilangan pasaran dan ia mengalah saja


---------

ia bertengger pada dahan
alam lepas burung terbang

ia tersenyum pada bulan
langit biru mengerdip bintang

segala mendengar pada nyanyinya
segala senyap segala tenang

ia pun dahan ia pun burung
merpati mengepak dalam sarang


Burak Siluman

Seorang jejeka alangkah tampan
Hanya kakinya telapok kuda
‘Bunda, apa nasib menimpa ananda
Kakiku bukan kaki manusia’

‘Anakku seorang hanya!
Ayah bertahta di Kerajaan Siluman
Anakku seorang hanya!
Bundamu dikutuknya, bundamu terlunta’

‘Mengapa ayah tak pernah datang
Mengapa tak menjenguk anaknya seorang?’

‘Kita terusir dari halaman istana
Karena bunda ingkar pada janji
Lewat tengah malam bunda belum pulang
Ke Kerajaan ayahmu Negara Siluman
Mengayuh subuh bunda terkenang
Kan pulang sebelum tengah malam

Lewat dinari bunda pulang
Tapi jalan kehilangan arah
Kan kembali ke kampung orang
Bunda lenyap di mata manusia

Dua belas bulan kau bunda kandung
Lahirmu matahari tertutup mendung
Tangismu diantar guruh mengguntur
Malamnya pada bangkit mahluk kubur’

Seorang jaka alangkah tampan
Tapi lahir beralaskan daun bakung

‘Kauwarisi paras ayahanda, tampan
Dan wasiatnya yang bunda dengar dalam mimpi:
Adalah menjadi mangsamu perawan
Yang tengah hari sendirian turun ke pancuran’

Seorang jaka alangkah gagah
Tapi kakinya telapok kuda


Ulang Tahun dalam Penjara
Kepada Saikin dan Alibasah

I
Telah setahun yang lalu
Depan dan belakang putih bisu
Tapi suaramu jernih riang

Telah setahun yang lalu
Harapan dan impian hanya dinding
Tapi matamu menyorotkan kepastian

II
Sebuah rangka rumah
Hitam menjadi arang
Asap putih membubung tinggi

Sebuah danau hijau
Kecipak perahu di dayung
Gelombang lemah di dasar hati

III
Jalan berkelok dan mendaki
Terjal tanah berbatu
Dari rumah menuju pancuran

Jalan berkelok dan mendaki
Licin tanah berlumpur
Hidup kini menuju hari depan

IV
Alangkah tenangnya hutan
Kicau burung menyongsong pagi
Alangkah hijaunya hutan
Kicau burung menyongsong hari

Alangkah megahnya hari depan
Kita daki gunung tinggi
Alangkah megahnya kebanggaan
Menunjuk ke dada sendiri

V
Sebuah gunung hijau
Kini gundul saja
Kampung-kampung lumat, hutan tinggal abu
Api merah, darah pun merah

Sebuah lembah subur
Kini gersang, riak-riak siang hari
Ternak musnah, rumah musnah
Kolam ikan retak-retak dasarnya

VI
Ingatkah kau kepada tawa dan teriak anak-anak
Yang mengacungkan tangan serentak, “Hurip!”
Ingatkah kau kepada sorot mata meminta perlindungan
Yang menadahkan tapak tangan, “Kasihan …?”

Meski menadahkan tangan, percuma saja
Sia-sia mereka meratap, “Kasihan …”
Tiada lagi yang tertawa, tiada teriakan
Tiada lagi yang mengacungkan tangan, “Hurip!”

VII
Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kurangkul bumi hitam yang kucintai
Memeluk bencana yang mengintip usia
Degupan tresna mendebar keras
Mendera tubuhku bangkit kembali

Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kuteriakkan sesak dada padat nestapa
Melengking ke ujung lembah
Menggaung ke punggung gunung
Yang menyeringai, menista

Kadang-kadang kecewa dan putus asa
Kulari ke keamanan rumah
Namun sesak terasa
Kudengar rintih anak-anak diterkam srigala
Memanggil daku, ayahnya

VIII
Kadang-kadang masih kusangsi
Jalan yang telah kutempuh menuju Matahari
Namun impian menyadarkan daku dari impian

Kadang-kadang masih kusangsi
Telah kususun batu-batu pendiri hari depan lebih baik
Namun kenyataan menyadarkan daku melihat kenyataan

IX
Kalau kamarmu gelap dan depek
Udara mengganggang angin mati
Kalau jendelamu sempit dan bulat
Dirimu terpanggang, kecewa pun menjadi

Kalau kau teraling dinding tinggi
Langkah terhambat, pandangan terhambat
Kalau pintumu hitam dan berat
Dirimu terasing, dendam pun bangkit

X
Meski duniaku hijau dan terang
Dedaunan berdesir, angin menyilir
Dinding lebih tinggi dari segala dinding
Menghadang langkahku, mematikan suaraku

Setiap sepuluh langkah ke depan
Dan sepuluh langkah ke samping
Setiap sepuluh kata kuucapkan
Berdiri sebuah dinding

XI
Telah setahun yang lalu
Depan dan belakang putih bisu
Tapi suaramu jernih riang

Telah setahun yang lalu
Harapan dan impian hanya dinding
Tapi langkahmu menandakan keyakinan


Tentang Ajip Rosidi
Ajib Rosidi lahir 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Sejak SMP Ajip sudah menekuni dunia penulisan dan penerbitan. Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971); Menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981). Ajip yang tidak pernah menamatkan pendidikan SMA-nya itu pernah menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran, Bandung (1967); Pengajar tamu di Osaka Gaikokugo Daikagu, Osaka, Jepang (1981); Guru Besar Luar Biasa pada Tenri Daigaku, Nara (1983-1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku, Kyoto (1983-1996). Saat meraih gelar Doktor Honoris Causa dari Unpad, Ajip Rosidi berujar, "Memajukan Kebudayaan Sunda Bukan Provinsialistis". Untuk melihat daftar karya-karyanya, silakan baca postingan “Pantun Anak Ayam”. J

Catatan Lain
Buku kumpulan puisi Cari Muatan terdiri dari 4 bagian yaitu Cari Muatan (10 puisi), Kota demi Kota (7 puisi), yang tak satu pun diberi judul, hanya di daftar isi ditulis menurut penggalan baris pertama, seperti dalam puisi pertama di blog ini: dijuduli Inilah Penyair, Surat Wasiat Penyair Komeng Komarudin (7 puisi) dan Di Puncak Gunung Paling Tinggi (7 puisi).
Di perpustakaan dan arsip daerah Prov Kalsel, saya juga menemukan cetakan ketiga dari Cari Muatan, bertahun 1998. Tapi saya tetap ngambil buku ini, karena tentu saja ia lebih klasik. Bahkan kalau ketemu yang cetakan I tahun 1959 barangkali saya akan lebih memilih itu. Meskipun pakai ejaan lama.   
Dalam kata pengantar, Ajib Rosidi bercerita tentang pengalamannya pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta dari Jatiwangi, tahun 1951. “Hari sudah malam dan hujan gerimis tatkala saya menginjakkan kaki yang telanjang di atas tanah Jakarta. Ketika itu saya belum lagi mengenal sepatu,” tulis Ajib. Dari sana cerita berkembang. Merembet ke mana-mana hingga menyinggung kebudayaan daerah. Tulis Ajib: “Kekayaan kebudayaan daerah belum lagi cukup digali dan diungkap dalam kesusastraan Indonesia. Dalam mencari keindonesiaan, kebanyakan para seniman dan sastrawan banyak menangguk dari kajanah kebudayaan dunia, tetapi sedikit sekali yang ingat kepada kebudayaan daerah sendiri.”  
Jangan sampai, tulis Ajib, kebudayaan daerah dibiarkan menjadi obyek ilmiah yang mati, tapi mesti dihidupkan kembali. Ajib juga mengenang masa kanak di mana ia sering mendengarkan juru pantun bercerita dalam bahasanya yang prosa liris dengan diiringi kacapi. Apa yang oleh Ajib disebut sebagai carita pantun itu banyak mengisahkan balada percintaaan, keperwiraan, kesaktian, dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar