Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 06 Januari 2014

BAHAYA LATEN MALAM PENGANTIN




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Bahaya Laten Malam Pengantin
Penulis : Aslan Abidin
Cetakan : I, Juni 2008
Penerbit : Ininnawa, Makassar.
Tebal : xv + 114 halaman (75 puisi)
Penyunting : Anwar J Rachman
Tata letak : TanahindieSign
Pemeriksa aksara : Anzhu Rahim
Sampul : Muzakkir AM
Lukisan sampul : Firman Djamil, Playing with Butterfly (2005)
ISBN : 978-979-98499-3-9
Esai Pengantar : Ian Campbell

Beberapa pilihan puisi Aslan Abidin dalam Bahaya Laten Malam Pengantin

Walennae

ketika senja turun dan
cahaya menyerbuk di antara pohon-pohon
lontar, aku kenang sungai ini sebagai lengkungan
taman para bissu, gaib dan sunyi.

di tepinya, gadis-gadis mandi dan pulang
menjunjung tempayan bersama gairah
dan aroma kewanitaannya yang mengembang
dari kembannya yang basah.

"di sungai walennae kasihku,
adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu,
tenang dan dalam."

ketika ujung-ujung ilalang meliuk
melambai kepada senja, dan bangau di pucuk-
pucuk bambu bersiap masuk sarang, di setapak
menyusur walennae, lelaki-lelaki memikul tong
bambu pulang dari menyadap nira.

"rumah kami di kaki bukit, beratap ijuk
dan dapurnya selalu menguapkan aroma gula,
mampirlah bila ada waktu. kami pantang tak
bersikap manis kepada tamu."


saat malam mengurung dan
rembulan mengapung samar di permukaan
walennae, di langit yang kelabu
terdengar jerit elang, seperti rindu
yang perih dan jauh.

di rumah-rumah beratap ijuk,
di atas balai bambu, gadis-gadis menggeliat:
teringat dongeng tentang pangeran baik hati
yang dikutuk penyihir jahat jadi buaya di
sungai walennae.

"di walennae kasihku, aku terperangkap janji
yang tak mungkin aku tepati."

di antara hening daun ketapang tua
yang berguling lepas dari rantingnya,
walennae merayap ke laut. di dasarnya aku
hanya dapat mengenangmu,
mengawasimu setiap pagi dan sore ketika mandi,
menunggu saat aku menjalani
kutukan: menerkam dan menelanmu.

"di sungai walennae kasihku, adakah kau
tahu, mengalir cintaku padamu:
suci dan terluka."

makassar, 2001
- walennae: sungai terpanjang di sulawesi selatan
- bissu : waria pemimpin upacara animisme di tanah bugis


Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian

ketika engkau
lahir dan ummi shibyan mencubitmu
agar menangis pertanda hidup, bersama kilau
cahaya pertama yang menyusup ke biji matamu,
kematian datang menjelma bayanganmu
agar dapat terus mengikutimu.

ia menguntitmu ke mana pun engkau
pergi. ke puncak gunung tertinggi atau
ke palung laut terdalam. sepanjang hidupmu
ia bertengger lekat di tengkukmu.

meski tak mencemaskanmu,
ia bergidik-menyeringai juga ketika engkau
menatap jurang yang dalam.

meski ia agak gemetar pula,
tapi suka menggodamu ketika
engkau menyeberang jalan yang ramai.

tak seperti lelaki murahan atau
perempuan hidung belang yang telah menipumu,
ia setia, tak pernah ingkar janji, dan selalu
tepat waktu.

ketika engkau berteriak girang
atau terpekur sedih setelah lelah bertualang
ke lekuk-penjuru seluruh bumi, kematian akan
berdiri tersenyum di hadapanmu.

ia merentangkan
tangan memperlihatkan
rahasiamu yang selama ini ia simpan sambil berkata:
"tinggal kematian petualangan yang tersisa."

tak ada yang mencintaimu setulus kematian.

2003
- ummi shibyan: iblis yang mencubit bayi hingga menangis ketika lahir
- "tinggal kematian petualangan yang tersisa": ucapan james hook dalam film peter pan


Gadis Kurban

- sejak ayahnya
ditemukan telungkup di atas tubuhnya,
ia tak pernah lagi dapat bicara -

gadis bisu berbaju biru, bibirmu ungu
nasibmu haru.

kita bertemu tak sengaja di sebuah
pagi pemotongan kurban yang gerah.

aku mengisahkan padamu
tentang ibrahim, bapak agung dari
ur. "tuhan pernah nyaris membuatnya jadi
pembunuh anak sendiri."

kau menatapku miris,
matamu membendung begitu banyak tangis.

kisah panjang kemuliaan
kaummu menjadikan kau sesembahan,
juga bencana dari pualam tubuhmu saat dijadikan
jadi altar persembahan.

celakalah lelaki karena menyatu cinta
dan birahinya, ia penyembah juga pemangsa.
begitu pula aku yang terus terkenang
pada matamu: seperti telaga yang menimang
wajah bulan di malam-malam purnama.

gadis bisu berbaju biru, bibirmu ungu
nasibmu haru

daging kurban di tanganmu, untuk siapa?

2003
- ur, konon negeri muasal ibrahim, sekarang masuk wilayah irak.


Kawan Berbagi Keabadian

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian. aku membayangkan
diriku membacanya kelak di taman
firdaus: tempat semua mimpi terlahir.

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian. ia membayangkan
dirinya terukir indah di batu nisan
makamku: tempat segala mimpi berakhir.

lalu di ufuk mataku yang makin sunyi,
senja pun jatuh dan mengelupas jadi
gelap. hingga lahat dan akhirat, ahli
warisku yang pasti, membagi
mayat dan nyawaku.

sesekali, kau mungkin akan
ziarah pada nisan dan sajakku. dan
membayangkan mungkar menyiksaku
di neraka: mengerat kemaluanku.

aku dan sajakku adalah kawan
berbagi keabadian.

makassar 2003
- "kawan berbagi keabadian," kalimat akasha dlam film queen of the damned


Sajak Pengantar Jenazah

bersama selafal talkin dan selembar kafan, aku
bawa sebujur jasad kaku ini padamu.

wahai tanah lahat, terimalah
ia sebagai petualang yang menyerah
pulang setelah mengembara jauh bersekutu
dengan air, api, dan udara untuk mengkhianatimu.

dengan hati tergenang cuka dan tubuh
sekujur gemetar, aku surukkan mayat beku
ini ke liangmu.

wahai tanah lahat, terimalah
ia sebagai darah dagingmu yang telah
lari dari rumah dan lama kau nanti
untuk kau dekap dan urai ke azali.

wahai tanah lahat yang dingin dan
gelap. kelak, di waktu yang mungkin
tak jauh dari sekarang, diiringi pengantar jenazah
yang lain, aku pun pasti datang padamu: menagih
seluruh janjimu.

2002


Malam Pengantin

di luar kamar, suara samar
orang bercakap beranjak lipur.

di dalam kamar,
sepasang pengantin perlahan lebur.
ranjang seperti telaga dengan debur
tertahan, hati bergemuruh debar.

dalam dirimu, setangkai bunga
padma yang menyimpan mutiara
pun mekar, basah dan bergetar.

kau telusuri batang kodratku yang
panjang, dan aku masuki lorong
takdirmu yang dalam.

di luar jendela, embun
dan cahaya bulan menitik dingin.

parepare 2002


Ada yang Tertembak di Halaman Kita

suara tembakan di televisi
mengguntur hingga ke jendela. tetapi
terlambat, selalu saja kita terlambat
menutupnya. aroma mesiu dan mayat
terbakar selalu lebih cepat menampar
wajah kita, hingga bibir
kelu membiru.

ada seorang yang melintas
tertatih di halaman, menjerit-miris:
"tolong, aku tertembak!" dan di depan televisi,
kita hanya tersenyum kecut, seperti
dilakukan penonton
televisi yang lain.

makassar 1994


Tahun Baru, Selamatkan Jiwa Kami

penghujung tahun selalu saja sama di
kota kami. gerimis di sepanjang hari,
kelip lampu natal di etalase pertokoan,
dan polisi menarik pungli di pojok jalan.

di pantai losari, kami ramai berkumpul.
jerit parau terompet, kembang api mungil
di tangan anak kecil, dan pidato pejabat
menjemukan, memulai pertunjukan dangdut.

lembar almanak tahun lama segera tamat.
kami menganga menghitung mundur menit
ke titik nol dan memandang api suar
yang ditembakkan ke udara yang samar.

seperti meminta pertolongan ke penguasa
jagad: wahai waktu yang bergulir, bawa
pergi nasib kami yang getir, hidup kami
yang terpuntir dihajar sepi.

penghujung tahun selalu saja sama di
kota kami. gerimis dan pungli polisi,
jerit terompet dan pejabat menjemukan,
kami yang disuap dangdut memabukkan.

makassar 2003-2004


Rakyat Perah

tiba lagi saatnya para komplotan
pemerah dan penunggang itu datang.
mereka berpawai menguasai jalanan
dan bergerombol memenuhi lapangan.

mereka datang bergemuruh sekali lima
tahun, seperti wabah berkala. mereka
membujuk kami agar kami pilih jadi penguasa.
mereka beri banyak janji, dan selalu saja
kami percaya.

"pilihlah kami, pilihlah kami!" kata
mereka sambil mengacungkan tanda
gambar ke wajah kami dan menyihir kami
jadi pengikut. kami pun berubah jadi sapi
atau kuda.

kami kini adalah perahan
dan tunggangan. tapi tak akan
mereka dengar lenguh keluh kami, tak
akan mereka dengar ringkik
rintih kami.

kamilah bangsa sapi dan kuda
yang paling setia di dunia.

"keadilan dan kesejahteraan ada
di tangan kami!" kata mereka
ramah: wajahnya bersih matanya
jernih, tanduknya gagah taringnya
putih.

kami pun memilih mereka:
para pemimpin yang agung, junjungan
kami yang selalu jujur dan benar.

kami tahu semua janjinya
tulus dan ikhlas: murni keluar dari lubuk
duburnya yang paling dalam.

2003


Memang, Seperti Katamu

memang pertemuan itu sepele saja.
seperti dusta yang tak terencana, atau suara
tawa yang iseng. seperti katamu. tapi mengapa
tertinggal rindu yang memekik bagai suara
tuter yang ditekan tak sabar?

memang cinta itu masih ada.
seperti katamu. tapi pada bagian mana
di hati kita ia tergeletak?

percintaan kita sebentar saja memang.
seperti katamu: bagai lolong anjing
di kejauhan. hanya untuk kita merapatkan selimut.
atau denting tiang listrik yang dipukuli orang
di ujung gang, sekadar untuk memperjelas larut

tapi mengapa kita
mencari-cari tempat melambai ketika
berpisah?

memang pada saat itu, kita tak berkata apa-apa.

makassar 1996


Generasi Batu

hujan batu kembali turun di kota kami.
memecahkan kaca jendela, menghancurkan
bola lampu, dan mengotori bak mandi.

orang-orang menyambutnya dengan
memasang kecemasan di pintu. hujan batu selalu turun
di kota kami, membawa orang-orang berwajah
hijau yang membunyikan sirene kebakaran. mengubah
angin jadi debu, membuat air mengalirkan darah.

di kota kami, rasa benci
dapat kami pesan di kantin-kantin, di laci
meja para pegawai, dan di kantong para pejabat. kami
telah memecahkan cermin di meja rias kami
untuk melongok ke dalamnya mencari-cari
wajah sendiri. tapi hujan batu selalu turun di
kota kami.

kami memasang atap yang dibuat para tentara,
di bawahnya kami sembunyi, pacaran, menikah,
dan bercinta. kelak anak-anak kami akan punya
kenangan tersendiri kepada kami:
para generasi jaman batu.

makassar 1995


Lirisme Buah Apel yang Jatuh ke Bumi

pada suatu tengah malam, seusai menikmati
gravitasi di atas tubuhmu, kita bercerita tentang
newton dan buah apel yang jatuh ke bumi.

"jangan tinggalkan aku, apalagi di bumi ini,"
katamu dengan kerongkongan kering.

tapi tuhan adalah penguasa
atas kemurungan dan keriangan. dan dengan selera
humornya yang aneh, melerai cinta kita.

dan inilah kemurungan itu kekasih. kau
pergi bermil-mil dari lukaku. sementara aku
harus beranjak dari seluruh kenanganku tentangmu.

"jangan tinggalkan aku, apalagi di bumi ini."

masih aku kenang itu sebagai
lirisme yang jauh. juga tuhan, pencipta tragedi
dan komedi. dan sang waktu kekasih, kini tengah
mengincar jasadku untuk dia urai jadi tanah.

"suatu saat kelak, seusai lelaki
lain menikmati gravitasi di atas tubuhmu, maukah
kau mengenang buah apel yang jatuh ke bumi?"

makassar 1999


Sajak untuk Sebuah Jalan

akan ada saatnya, kami turun ke jalan.
menorehkan luka di tembok-tembok, menjeritkan
ketakutan-ketakutan ke langit, atau mungkin
sekadar memukuli tiang-tiang listrik.

mungkin akan ada saatnya kita bersama turun
ke jalan. melihat perempuan-perempuan
yang menjinakkan nasib buas dengan mengangkangkan
kedua paha.

melihat lelaki-lelaki
kurus pulang tengah malam sambil menendangi
kaleng-kaleng kosong -- sementara istri-istri mereka di
rumah, dengan bajunya yang longgar, terisak menyusui
harapannya.

mungkin akan ada saatnya
kita bersama turun ke jalan. bukankah cinta
kasih dapat membuat kita lebih dekat, meski
kita dipenjara tembok-tembok? lihatlah, di jalan ini
aku begitu takut lelah mengibar bendera,
aku begitu cemas jenuh berteriak merdeka.

semoga akan ada saatnya kita bersama turun ke jalan.
mendengar percakapan seorang penyair dengan
seorang bocah yang menggambar di pasir:

"siapa yang kau gambar, dik?"
"aku menggambar ayah."
"tapi mengapa bertanduk dan berkaki empat?"
"entahlah, aku memang tak pernah melihatnya."

lalu si bocah kembali bermain:
berlari mengejar debu.

makassar 1993


Prometheus
- buat seorang perempuan asing

di pelabuhan
yang dikepung melankoli - di antara bau bacin
dan cemas kecopetan - aku lepas kau ke negerimu di
utara. aku cium pipimu kiri-kanan; angin berkesiur di
telingaku. aku tepuk pundakmu; angin menggerai
anak-anak rambutmu.

"aku suka negerimu. tapi aku
tak ingin tinggal. aku takut harus memeluk satu
agama, dan percaya bahwa surga ada di akhirat
aku ingin kembali ke negeriku. tempat
surga sedang dibangun," katamu.

di sudut pelabuhan,
tertambat sebuah kapal peti-kemas, tua dan
kesepian. di rusuknya ada tulisan berkarat:
navieras de puerto rico. mungkin pengangkut
rempah-rempah atau budak, apa bedanya.
semua bangsa rasanya telah menjelma
penjajah di kepalaku.

juga laut di depan mataku, seperti
kemaluan seorang pelacur: menganga dilayari
kapal-kapal dan lelaki-lelaki ke negeri-negeri
jauh.

"ikutlah ke negeriku," bujukmu. "di sana - bahkan
setelah tua sekalipun, di setiap akhir tahun -
kau masih dapat jadi sinterklas, membayangkan
dirimu naik kereta salju yang ditarik kijang bertanduk
panjang dan menipu ribuan anak-anak."

tapi kapal yang meraung bagai
monster kesakitan itu telah membawamu.
seperti kau, aku ternyata tak melambai.
tak ada yang hilang apalagi kosong di dadaku.

aku hanya tiba-tiba merasa ingin seperti
nuh: menjadi satu-satunya nakhoda yang berlayar di
atas bumi yang tenggelam.

makassar 1998


Tentang Aslan Abidin
Aslan Abidin lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan, pada 31 Mei 1972. Menyelesaikan kuliah kesusatraan di Universitas Hasanuddin Makassar 1997. (Saat buku ini diterbitkan) mengerjakan tugas akhir sebagai mahasiswa pascasarjana UGM Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Pare Pos, Tribun Timur dan Pedoman Rakyat di Makassar. mengetuai Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST) Makassar. Karya puisinya banyak tersebar di berbagai media massa dan antologi puisi bersama, juga sering mengikuti / diundang dalam even-even kesusastraan.


Catatan Lain
Sebuah kumpulan puisi yang tak terbagi-bagi dalam sub-sub judul. Kata Ian Campbell tentang puisi Aslan: dia berterus terang. Ia ingin mengejutkan para hadirin dan pembaca-pembaca. Dia mau merebut perhatian penuh kita! Adapun komentar Nirwan A Arsuka: "Untaian sajak Aslan yang dibuat sepanjang 13 tahun ini, mungkin terasa bagai gulungan benang gelasan: tajam, lengket, meliuk. Di ujung gelasan yang tak selalu halus dan bisa jenaka itu, layangan-sobek-kemanusiaan bergelut resah menahan deru angin-buruk-sejarah." Juga ada di buku itu, komentar Katrine Bandel dan Hasan Aspahani. 

2 komentar:

  1. Puisinya sangat membangkitkan semangat!
    Good Work!

    Please visit us:
    http://www.holis-satriawan.com/puisi/puisiku.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mas Holis. Suatu saat saya pengen puisi-puisi sampeyan juga ada di sini. Jika sampeyan mengijinkan tentunya. :D. Dah saya kunjungi website sampeyan, masih belum bisa mengakses buklet puisi sampeyan. Mudahan lain kali bisa diakses.

      Hapus