Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 06 Januari 2014

KE PINTU




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Ke Pintu
Penulis : Atasi Amin
Cetakan : I, November 2004
Penerbit : Prive bekerjasama dengan Pustaka Latifah, Bandung.
Tebal : xxii + 96 halaman (70 puisi)
ISBN : 978-979-98259-2-6
Editor : Yus R. Ismail
Setting isi : Yusman
Desain sampul : Bramantyo
Kulit muka dan drawing : Diyanto
Prolog : Prof. Jakob Sumardjo
Epilog : Ahda Imran

Beberapa pilihan puisi Atasi Amin dalam ke Pintu

Panggilan

Tiba tiba
Atasan memanggil anak buahnya

Dan tiba tiba
Yang Di Atas memanggil kita

Siap?

2001


Anjing 1

di hari hari sibuk
aku lihat kau
di pasar anjing

anjing anjing dipilih
anjing anjing diadu
anjing anjing disuap

si buldog anjingnya si Jhon
si herder anjingnya si Shagi
si blacky anjingnya si Mia

lalu kau,
anjing siapa?

1998



Kota

Seruni, Mawar, Melati
tumbuh subur di pusat kota
sewaktu bapakmu muda

Seruni, Mawar, Melati
Susanti, mereka ke mana
sejak kota berganti wajah

semua telah berubah
kecuali nasehat bapak
kepada anak-anaknya

: jangan ke kota

2001


International Monetary Fund

Ironis, IMF
Sekali tepuk
Krisis moneter

1998


Kantong

Banyak ruang
Banyak AC
Banyak uang
Banyak ACC

1998


Sajak Daripada

Dari pada nonton
Omong kosong politik

Dari pada nonton
Demo para provokator

Dari pada nonton
Hukum jungkir balik

Dari pada nonton
Gonjang ganjing moneter

Dari pada ....
Dari pada .....

Mending nonton mimpi,
Mimpi sendiri lebih realistis

Dan hidup!


Nilai Nilai

adalah seorang wanita paruh baya
memandang angka angka pada timbangan
membilang kalori yang ia makan

adalah seorang tuan majikan
memandang angka angka pembukuan
membilang rugi dan untung

adalah seorang pesakitan
memandang angka angka kalender
membilang hari demi hari

adalah seorang siswa pelajar
memandang angka angka ujian
membilang soal jawab

adakah angka angka yang berpikir
tentang manusia yang tak berpikir,
nilai kemanusiaan


Layang
- Ar

Biru untuk langit
Hijau untuk rumput
Kemboja bagimu

Bagai bulan menjelma sabit
Darahi tubuh mudamu
Beruntun menaburi bumi

Selagi wangi mengembang
Tak disangka layu, kemboja
Menutur tidur panjangmu

Sementara anak anak
Mengejar layang layang
: kekalahan itu

13 Mei 2000


Suara Suara Kecil

di mana suaramu
hanya pemimpi bermimpi
tentang padang yang jauh

bunga bunga diam
nunggu hujan
sedang api lilin
masih pada pendirian

mana suaramu
hanya suara suara kecil
dan aku harus lebih dekat

dari luka
yang tak kunjung sembuh

2004


Mistis

biru laut
kelam
matahari
tenggelam

mistis
bulan sabit
di atas perahu
mistis

1998


Ke Pintu

Ke pintu
mestinya kita pulang
setelah pertengkaran sengit
sebab paham

Ke pintu
malah kau makin menjauh

2002


Musim Haji

ketika memasuki masjidil Haramain
jutaan manusia menciptakan gerakan
satu arah, sebalik jarum jam kelilingi Ka'bah
untuk satu hal: Kau adalah Maha

aku coba pahami ke belakang, waktu
yang menggeliat membawa cerita lain:
aku masuk ke kedalaman-Mu, bayangan kita

dalam doa doa, airmata dan getaran
semua akan berpulang pada Yang Maha
dan hati selalu berbisik lembut

Tuhan, kita cuma ada dalam rasa

1999


Kekasih

datanglah kepadaku, kekasih
biarkan buih belai rambut
dan bukit tempat aku menepi

membilang debur ombak
nyanyian laut yang menang
antara karang dan buritan

berharap datang dari sumber
dan hidup dalam cahaya
sabar camar yang jaga

di sepanjang pantai
penyair memunguti senja
bermil mil perjalanan air mata

akankah jadi cerita roman
tertuang indah oleh bibir yang basah
ataukah rasa salah

datanglah kekakasih
temukan

2001


Menunggang Senja

1
karena akhirnya pergi
harapan mengetahui lagi
yang hilang

limpahan percakapan
jarak berbatas oleh satu
kekasih yang tersisa

2
dengan cerlang jiwa dibaringkan
merupa buah berisi misteri
pengaruh saat saat masyuk
mengenang gurun
yang puitis itu
mengalir luas
merambah bukit satu

3
di antaranya adalah jiwa
ketenangan, kebebasan
dambaan yang benar
berburu di masa hidup

dekati sumber

4
meski berada di simpang jalan
ini tak akan berlangsung lama
sebab saat kemudian tak diduga
berlalu dengan menunggang senja

5
pandangan yang tersembunyi
antara langit dan bumi
melalui pori pori
tentang diri

selama ini dicari cari
ternyata ada sendiri

6
manusia, sangat mendalam
banding sungai yang sangat besar

tak terhingga sebagai batin
menyingkap yang benar

jalan bukit yang paling tinggi
tentang dalamnya akar

karena manusia
lebih dalam
akal dan pikirannya

7
kebenaran mengalir kecil
dikenal sebagai kumpulan
yang kembali ke muara

melukiskan arah pulang
di masa berpisah

8
kekasih masuk
bulan keluar
diam diam

sama dengan rindu
kembali datang
memutus malam

9
benci menyesali banyak mau,
gembira bertemu saat akan berpisah
sebagai masalah

jarak perjalanan

10
hari ke hari jelang
kekasih mendekat
saat paling mendalam

besaran cinta
menjauh di badan

11
selama kami diam
lalui dataran luas
yang mula hilang

kini kembali mengenal
sebagai zikir
bergabung pada upacara ini

12
kami dipandang pada pucuk
melalui pengembangan ajar

pengembaraan daun terakhir
memilih peran ranting

bulan penuh menarik masa

13
sejak rindu yang luar biasa ini
mencoba dalami sumber

lebih jauh lagi
salahkan api dunia

2004


Tentang Atasi Amin
Atasi Amin lahir di Bandung 21 Juni 1966. Menulis puisi sejak sekolah dasar, dipublikasikan antara lain di Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Jurnal Renung. Juga terdapat dalam antologi Laut Merah (2000) dan Muktamar (2003)


Catatan Lain
Buku ini saya beli saat ada bazar buku di depan Perpustakaan Banjarbaru, Desember 2013 lalu. Harganya kalau tak salah Rp. 10.000,- . Kalau dihitung di daftar isi, maka ada 69 judul puisi, namun jika dicermati lagi, maka ada 70 puisi. Ada satu puisi yang tak berjudul di halaman 61 yang terlewatkan oleh daftar isi.
            Dalam pengantar kumpulan ini, yang ditulis oleh Prof. Jakob Sumardjo, kita akan memperoleh informasi bahwa penyair ini adalah anak pelukis terkenal Jeihan (baca halaman xvii). Kata Prof: "Pada awalnya nampak pengaruh bapaknya dalam puisi-puisinya, yakni gaya Mbeling. Kesukaan gerakan ini adalah penggunaan ironi dan parodi yang menggigit kecerdasannya..."
            Di bagian penutup, ada tulisan Ahda Imran. Dikatakan, puisi Atasi Amin menemukan kekuatannya ketika mengeksplorasi peristiwa-peristiwa keseharian, pengalaman-pengalaman kecil yang dekat. Di situ puisinya menjadi lepas. Berkebalikan dengan itu, ketika sajaknya berbicara dalam tema sosial-politik. Dalam bahasa Ahda, terasa ada pemaksaan pada kata untuk melayani hasrat-hasrat tematik yang dibebankan padanya. Kata dianggap hadir sebagai objek yang diperintah, kendaraan untuk sampai pada gagasan, bukan sebagai subjek otonom dengan dunianya sendiri. Ahda menduga, persoalannya terletak pada relasi antara pengalaman dan wilayah biografis. Dengan kata lain, wilayah biografisnya tidak di situ namun ada hasrat untuk merepresentasikannya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar