Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Senin, 06 Januari 2014

KOTA YANG BERSIUL




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Kota yang Bersiul
Penulis : Ariffin Noor Hasby
Cetakan : I, Juli 2012
Penerbit : Tuas Media, Kertak Hanyar, Kalimantan Selatan.
Tebal : xviii + 90 halaman (85 puisi)
ISBN : 978-602-7514-15-7
Editor / Desain Isi : Zurriyati Rosyidah
Desain cover : Dian Arlika
Ilustrasi sampul : Ananda Perdana Anwar
Desain sampul : Tim Tuas Media
Pengantar : Tajuddin Noor Ganie

Beberapa pilihan puisi Ariffin Noor Hasby dalam Kota yang Bersiul

Kenangan Biru Kepada Guru

siapakah mereka
yang membalikkan mimpi-mimpi bocah
di dinding-dinding sekolah
dan menatap langkah-langkah kecil
di tiap pelataran negeri ini:
aku sangat merindukan mereka
ingin menganggukkan kepala
sebagai tanda hormat padanya

di tengah belantara, kudengar sayup
anak pedalaman selalu memanggil mereka
dengan suara lantang dan bangga
bahkan di sepanjang lautan
suara penuh harap
seakan mendekap batu karang
dan menggemakan lagu masa depan

dari setiap rumah tangga
pernah kutangkap percakapan
tentang orang-orang memberi salam
kepada mereka
sepanjang jalan cita-cita!



Lanskap Laut

seribu laut memantulkan rindu di garis pantai
membagi bayang-bayang dan kenangan
pada cakrawala, angin dan ombak yang gairah
dalam gigil malam yang mengusik sukma

sementara kucoba mengeja gemuruh ombak
yang menjulang, rindu berarak di dalam jiwa
rapuh. oh, serapuh daun-daun gugur, rinduku
terseret arus ke berbagai penjuru mata angin!

Banjarbaru, 5 Agustus 1984


Kota Sungai

kota sungai inilah yang
mengalirkan rinduku ke bandar-bandar
jauh. Rinduku yang liar dihempas
ombak besar;
ia mengalir tanpa kapal sambil
mengusik lanting-lanting kenangan
yang menghilir dari pedalaman
Dan akhirnya rinduku menjelma anak sungai
di mana sampan purba melintas sunyi
mimpi-mimpi jadi kayuhnya

kota sungai inilah kota prahara
yang menghanyutkan rinduku
ke tepi dunia; di mana jejak
kita kehilangan tujuan
karena jalan-jalannya tanpa nama
inilah kota yang senantiasa
menatap sibuk dan galauku
karena rindu yang malang
selalu datang dan pulang
di sini;
kota sungai yang terpencil
di lubuk jiwa
tempat sampan-sampan merapat
bila rindu tiba atau berangkat

Banjarbaru, Juni 84


Sumur Jiwa

kuturuni sumur jiwaku sedalam-dalam
keyakinan. Kucari makna kedalamannya
di kebeningan sinar nurani yang memancarkan
rahasia suara. O, perlahan kurayapi tepi-tepinya
ada dingin langit dalam sunyi yang melingkari
gerak-gerikku. Angin terjatuh di tanganku yang
bergetar, menyaksikan kulit jiwa terbakar
di sepanjang jejak suara: menyebut kebesaran-Mu
yang Maha!

Banjarbaru, Sept 1991


Ekstase Kota

menerjemahkan mabuk kota dalam igauan manusia
huruf-huruf jiwa menyala di belantara jalan
jejak-jejak suara menirukan gerak fikiran

barangkali kita mesti meluruskan keyakinan
keterasingan bukanlah bahasa taman hiburan
tapi isyarat yang dibentuk dalam rahasia tatapan
dan gairah pertemuan

memihak pada siapakah cakrawala, o matahari
bila keyakinan kita dimabukkan kesempatan
mereguk darah kota yang meluap di jalan-jalan

menerjemahkan mabuk kota dalam igauan manusia
huruf-huruf ingatan berlompatan di luar percakapan
orang-orang pun diam-diam ditusuk kesimpulan
kota masih mabuk dalam perjalanan!

Banjarbaru, Maret 1991


Surat Perahu

Surat perahu dibaca di sungai-sungai termangu
beratus kalimat meriak dalam jantungku
menyimak sekian irama di dalamnya
memanggil: "ibu, ibu! Ikan telah menjadi batu"

surat perahu mengajakku berbincang
tentang kayu dan cinta yang membesarkan waktu
betapa manis matahari masa lalu, katanya
ketika kilau sungai dengan riangnya
merenangi pagi hari
sebelum kita berangkat mandi

surat perahu ditulis karena rindu, katanya
telah mengubah wajah sungai
selalu gelisah menatap waktu

surat perahu renungkanlah di tanah negeri
sebelum rumah berangkat mengejar hari
barangkali engkau pun akan mengerti
suara yang mengayuhnya adalah hati nurani

Banjarbaru, 01 Desember 1989


Fragmen Kota

kota yang liar
batu-batu jalanan memendam gemuruhnya
dalam dingin rindu
setelah kabut pertama
merobek pandang kembara

ngilu angin kemarau
menjalari tulang-belulang kota yang liar
jalan-jalan menemukan belantara terbakar di sana
ketika anak-anak aksara tersesat
dalam belukar pikiran kita

setelah pengalaman itu, kita mengadukan
sungai-sungai yang menghanyutkan cintamu
padahal kota yang liar ingin menghilirkan
kenangannya, ke muara waktu
dan kita mengiringnya dengan tatapan cinta!


Kota yang Bersiul

kota yang bersiul di malam hari itu
mengingatkanku pada rimba kenangan
tanah leluhur yang memikul gemuruh peradaban

bayang-bayang rindu yang biru
menggenapkan makna perjalananku;
sepi yang panjang!

sementara beribu catatan purba
tentang riak budaya, pijar belantara
dan misteri manusia
seperti terbuka sendirian
menantang wajah sejarah yang merah padam

o, siapakah yang terjaga
dalam barisan kata-kata yang bertulang itu
cakrawala tak mengirimkan isyarat kepadaku
walau kota senantiasa bersiul malam hari
mengalunkan kesetiaan tak bosan-bosan
entah mengapa aku tak juga dapat mengerti
kapan suara itu tiba atau berangkat
dari pintu pendengaran?

FISIP Unlam, Agt 1987
(nb. pernah dimuat di SKH Pelita Jakarta, Minggu, 13 September 1987)


Monolog Belantara

akulah hutan yang meminum gelombang
belantara yang mengajakmu berfikir menyiasati
pasang surut lautan
sebelum musim manusia berzikir ketakutan
walau tak mengerti gelisah cuaca di seberang mata
kurenungkan juga kota-kota yang bersiul keasingan
kubayangkan betapa sukarnya membaca tanda-tanda
rimba
di depan rumah-rumahnya

akulah hutan yang selalu gelisah membaca surat perahu:
bercerita tentang kayu yang hanyut ke hulu waktu
membawa kenangan burung-burung bersayap murung
seandainya cuaca mengizinkan akan kutulis surat balasan
mengabarkan tentang anak sungai yang tak lagi
mampu merenangi pagi hari, ikan-ikan yang bersisik
kecemasan
sepanjang hari, atau pantai yang berpasir kesepian
di bawah matahari

akulah hutan yang setia mengasuh perkampungan tak
bernama
sampai ia dewasa lalu pergi mengembara entah ke mana
begitulah aku pun kecewa ketika suratnya tiba:
aku akan ditawarkannya ke jantung kota!
berulang kusimak maknanya penuh tanda tanya
kehidupan
tanda tangannnya mengingatkanku pada lekuk gelombang
            yang pernah kuminum di gelas kenangan

(nb. pemenang III Lomba Puisi Indonesia 1989/1990)


Kesaksian

kesaksianku atas kota ini adalah
kesaksian yang berpuluh tahun menyimpan
luka kemiskinan. Berat dan ringan impian
selalu jadi pertimbangan pengembaraan
membaca fikiran di keriuhan jalan

kesaksianku, seperti yang tertulis di batu-batu
menjadi nyanyian keterasingan
air mata pun tergadai di lipatan waktu
menunggu kedatangan sapaanmu

atas nama kerinduan pada masa kanak kotaku
kuterjemahkan tengadah wajahmu pada keluasan sunyi
langit masih demikian sulit dibaca
kalimat demi kalimatnya selalu saja tak selesai
mencatat kesaksianku

Banjarbaru, 1991


Tanah tak Bermusim

Di tanah tak bermusim itu pabrik-pabrik mengucapkan
gelisah hutan
yang bertahun menyesatkan muara sungai
sampai kudapat kabar tentang rumah-rumah perahu
letih menunggu janji-janji percakapanmu
tapi kota-kota yang menderaskan hujan polusi
tak habis menggenapkan warna darah matahari

Di tanah tak bermusim itu kaukah yang memindah batas
hutan-hutan yang mabuk gelisah
sebelum nyanyian langit mengeruhkan airmataku
o, betapa letih tanah moyang kita
menggambarkan ingatan hutan berabad ketakutan
pada pohon-pohon yang disihir jadi baja dan beton

Banjarbaru, Oktober 1992


Pada Sebuah Taman

Pada sebuah taman kulihat gadis-gadis sebaya
bercakap tentang cinta, masa depan dan kerja.
Bunga-bunga yang mendengarnya membaca nama-nama
lelaki di hatinya.
"Ada namamu disebutnya," ucap bunga pada kekasihnya.
Aku terkejut mendengarnya, lalu pingsan
Tak sempat menyimpan kecemburuan...


Pada Sebuah Kantor

Pada sebuah kantor kutemukan ruangan-ruangannya
termenung sendirian. "Karyawannya sedang keluar
mencari sesuap nasi," ucapnya. Aku cuma mendengarkan
dengan hati yang perih. Tak kusadari, di pintunya
tertulis sepotong sunyi: dicari pekerja
yang tak mengerti makna korupsi


Nyanyian Kecil

menggenapkan hari-hari rindu, o, laut
seperti gelombang aku di sini
menghempas kenangan demi kenangan
di muara mimpi kudapatkan sisa tatapan
entah siapa yang menyimpan rahasianya
tak kuhiraukan kantuk atau jaga
terus kugenapkan hari-hari rindu
walau tak pernah mengerti siapa yang mesti
kurindukan

bayangan manismu o, laut
adalah pantulan kilau bianglala
yang menggelisahkan perjalanan
diburu bayang perpisahan

Banjarbaru, 1989


Tentang Ariffin Noor Hasby
Ariffin Noor Hasby lahir di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada 20 Februari 1964. Mulai menulis sejak 1982. Tersebar di berbagai media massa lokal dan nasional. Juga terdapat di berbagai antologi bersama, beberapa yang tercatat terbit di luar daerah al. Pariwisata Indonesia dalam Puisi (Jakarta, 1991), Cerita dari Hutan Bakau (Jakarta, Jakarta 1004), Jakarta dalam Puisi Mutakhir (Jakarta, 2000), Narasi 34 Jam (Jakarta, 2001), Perkawinan Batu (Dewan Kesenian Jakarta, 2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), Pedas Lada Pasir Kuarsa (Bangka Belitung, 2009). Kota yang Bersiul adalah kumpulan puisinya yang pertama. Salawat Laut adalah kumpulan puisinya yang kedua.


Catatan Lain
Buku ini, terbit setelah 30 tahun Ariffin Noor Hasby malang melintang di dunia sastra Indonesia. Menurut penuturan penulis, semua puisi dalam buku ini pernah dipublikasikan di media cetak dalam kurun waktu 1982-1992. Saya pada 2007, ditemani Harie Insani Putra, pernah berkunjung ke rumah penyair ini dan sejak itu beberapa kali bertemu. Tapi saya yakin, penyair ini tak kenal saya karena saya bukan seorang aktifis sastra. Saya bukan orang panggung, saya menikmati dan mencintai puisi dari dalam kamar.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar