Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 04 Mei 2014

SUMPAH SARIPAH


Data buku kumpulan puisi

Judul: Sumpah Saripah
Penulis: Rieke Diah Pitaloka
Penerbit: Koekoesan, Depok.
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: vi + 99 halaman (19 puisi)
ISBN : 978-979-1442-40-4
Penyelaras akhir : Damhuri Muhammad
Perancang sampul : Gudang Ide Advertising
Tata letak : Hari Ambari

Beberapa pilihan puisi Rieke Diah Pitaloka dalam Sumpah Saripah

Soli Gadis Sumba

aku lihat soli gadis sumba
di terminal tiga soekarno hatta
matanya redup

“aku soli gadis sumba
jadi babu sekaligus gembala lembu
di gurun pasir berdebu…”

mata soli membara
ingat bertahun tak berupah
malah serapah
juga
majikan lelaki yang berulah

tahun berlalu
lalu
kucari soli
kucari soli di padangpadang rumput lamboya
kucari soli di ladangladang mete wejewa
kucari soli di sawahsawah subur waikelosawa

lalu
kucari soli
kucari soli di sungaisungai jernih kodi
kucari soli di pantaipantai pasirputih rua

lalu
tak kujumpai soli
yang kujumpai gadisgadis kecil
perut buncit rambut jagung
yang kujumpai gadisgadis kecil
baju merahputih tanpa alas kaki


lalu
gadis-gadis kecil berlari kecil di jalanan berbatu
berlari
menuju kampung besar:
tosi, keretana,
ranggabaki, waenyapu
kampungkampung yang kau jumpai
di dunia maya
mengundang manusiamanusia
bermata biru atau coklat

lalu
gadisgadis kecil itu tatap lensa
gusti!
mata gadisgadis kecil itu mata soli
apakah soli ina kalian?
gadisgadis kecil menarikku ke dalam mimpi
mimpi soli kecil jadi barbie
bajunya sutra dan linen
tenun ikat jadi keset

soli kecil menari
mimpi soli kecil jadi putri raja
soli kecil berdendang
mimpi soli kecil jadi permaisuri

tahun berlalu
lalu
datang lelakilelaki bule beli bukit bangun istana
datang lelaki-lelaki bule pinang solisoli remaja

ternyata
soli hanya jadi babu
pemuas nafsu pembersih kamar
sekaligus tukang cuci sekaligus koki
bertahun tak berupah
hanya serapah
juga
suami bule yang berulah

lalu
lahir soli kecil
soli kecil serupa barbie berhidung pesek
lalu
soli kecil dibawa pergi
lalu
soli
ditinggal
sendiri
dengan rindu memanah hati
pada soli barbie berhidung pesek

lalu
tinggal
soli
sendiri
seperti sumba yang sepi

kecuali di istanaistana punya lelakilelaki bule
seratus soli ada di sana
bukan jadi putri atau permaisuri
seratus soli hanya jadi babu
pemuas nafsu pembersih kamar
sekaligus tukang cuci sekaligus koki

seratus soli duaratus soli
jadi babu di sumba

lalu
soli tak lagi ada di sumba
seribu soli jadi babu di negeri jiran
sejuta soli jadi babu di gurun pasir

bertahun berlalu
lalu
kujumpai seorang gadis
di terminal empat soekarno hatta
matanya gelap
namun
kutahu pasti
ia soli gadis sumba

“aku soli gadis sumba!”
di dalam tas soli
ada kepala lelaki yang menyeretnya jadi babu

sumba, 303010


Perempuanperempuan Indramayu

I
namaku ngatinem
pedagang rumba di pasar tegal gubug
dua anak
tiga orang cucu
suami kuli bangunan
tbc
mati

II
namaku raisem
janda
tiga orang anak
pembantu
mbok pedagang rumba di pasar tegal gubug
pergi ke arab dua tahun lalu

III
namaku surtini
anak pertama dua adik
pernah sekolah sampai kelas satu smk
mbokku raisem
nenekku ngatinem
nenek pedagang rumba di pasar tegal gubug
mbok pembantu di arab
bapakku kawin lagi dengan sintren

IV
namaku ningsih
kelas dua smp
anak kedua satu kakak satu adik
nenekku pedagang rumba di pasar tegal gubug
mbok pembantu di arab
kata yayuk bapak kawin lagi dengan sintren
seingatku
bapak lelaki yang mulutnya bau anggur
matanya selalu merah
seingatku
bapak lelaki yang bicara seperti
geledek
pergi siang
pulang pagi
marahmarah
mendengkur
makan
pergi lagi
pulang
pergi
tak pulangpulang

V
namaku mariani
anak terakhir dua kakak
nenekku pedagang rumba di pasar tegal gubug
aku tak tahu rupa bapak
aku tak ingat wajah si mbok
kata yuk tini bapak sudah mati
kata yuk ning bapak kawin lagi dengan sintren
kata nenek tak perlu kupikirkan
mana yang benar
yang benar si mbok jadi pembantu di arab
tapi kenapa si mbok tak pulangpulang?
katanya si mbok pergi biar kami bisa sekolah
tapi kenapa yuk tin berhenti sekolah?
katanya si mbok pergi biar kami bisa sekolah
tapi kenapa yuk ning tak bisa bayar uang ujian?
yang benar si mbok sudah tak kirim uang
yang benar si mbok sudah tak kirim surat
yang benar si mbok masih jadi pembantu di arab?
yang benar
yuk tini minggu depan
akan pergi ke arab
yang benar yuk tini akan jadi pembantu
yang benar yuk tini akan cari si mbok
yang benar yuk tini jadi pembantu
katanya
biar yuk ning biar aku bisa sekolah

yang benar yuk?

yang benar aku tak mau yayuk pergi
yang benar aku mau yayuk di sini saja
yang benar aku tidak mau sekolah
tapi yayuk lalu hilang seperti si mbok

yang benar aku takut…

biar di sini saja yuk
kita sama-sama
bantu nenek jual rumba di pasar tegal gubug
kita sama-sama
tunggu berita dari si mbok

menurutku itu yang benar…

ruang komisi IX 300910


Good Boy Good Boy

sepotong pisang goreng
membawa
secangkir teh tubruk
mengajak
selinting tembakau
dan
pagi jadi hangat
meski berita masih saja menyengat

tentang lelaki itu
ia masih saja berkutat
dengan
surat
yang sarat dengan
syarat
dari bos besar
good boy, good boy!

di perjalanan dinas
atau
jelang senja di beranda belakang
lelaki itu
tulis berlusin syair tentang negri
yang
katanya
amat dicintai

berlusin syair direkam
dibawakan biduanbiduan ternama

lelaki itu senang
sementara
bos besar
keruk perut buminya
sementara
lelaki itu marah besar
karena
kasetnya dijual di pasar gelap
di pinggir jalan kota

sementara
tempat hiburan dan karaoke
masih hidup sampai pagi
dan
kakikaki perempuan
melintas mengajak kencan
dan
lapaklapak vcd bajakan
dirazia polisi pamongpraja
dan
perempuanperempuan menangis histeris
karena gerobak mereka digaruk petugas
perempuanperempuan menangis histeris
karena dipaksa naik ke mobil patroli

di mata perempuanperempuan itu
berbayang
anakanak di rumah
tertidur dengan sabar
anakanak yang lelap tutupi lapar
tanpa mimpi tentang sekolah

citacita
jadi tabu ditanyakan pada mereka

sementara
lelaki itu marah besar
karena kasetnya dijual di pasar gelap
sementara
bos besar masih keruk isi buminya
sementara
perempuanperempuan
menangis histeris
sementara anakanak tak punya mimpi

dan
citacita
jadi tabu ditanyakan pada mereka

cerita ini
tak pernah ada di syair lelaki itu
cerita ini
hanya ada di koran kuning
yang singgah
di pembungkus
sepotong pisang goreng
membawa
secangkir kopi tubruk
memanggil
selinting tembakau

dan
pagi tetap hangat
meski kabar masih saja menyengat
tentang lelaki
yang masih saja bekutat
dengan surat
yang sarat dengan syarat
dari bos besar

good boy good boy!
sit boy sit boy!

si bos besar eluselus kepala lelaki itu
lelaki itu kibaskibaskan ekornya
sepotong tulang sudah membuat senang

padahal
si bos besar pergi
bawa isi perut bumi
dengan tenang

good boy good boy!

depok-kukusan 020210 20:33


Tentang Toa Masjid dan Raskin

toa masjid tebar kabar:
raskin sudah datang
di kelurahan
bisa diambil
dua ribu limaratus satu kilo

tapi
tak seorang pun datang
ke kelurahan

karena
kampung kosong
perempuanperempuan
jadi babu di arab
lakilaki jadi tukang
di kebunkebun sawit malaysia
anakanak jadi pengemis di kotakota

maka
atas inisiatif pak lurah
raskin dijual ke pasar kecamatan
tiga ribu satu kilo
katanya
warga tak ada yang minat
katanya
buat kas desa

raskin sudah datang
namun toa tak lagi tebar kabar
petugasnya sudah pergi
jadi tukang cuci di singapura
pak lurah
tak lagi jual raskin
ke pasar kecamatan
pak lurah pergi
jadi abk
di kapal nelayan korea
katanya
gajinya lebih besar dari kas desa

katanya
raskin sudah datang
berkarungkarung
terkatungkatung
di pinggir jalan

headline suratkabar hari ini:
stok beras dalam negeri aman


Sumpah Saripah

tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada ibu yang dihisap putingnya
hingga kering susunya
hingga kerontang payudaranya
hingga nanah yang tersisa
untuk adik yang busung
yang lahir saat bapak mati diteror tbc

tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada bapak
yang dirampas ladangnya
hingga rumah mesti digadai
hingga cangkul jadi kayu bakar
hingga nisan yang tersisa
untuk adik yang kurus
yang lahir saat dusun makin miskin

tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada dusun
yang digusur jadi pabrik
hingga embun dibunuh asap
hingga kali jadi bau dan pekat
hingga sampah yang tersisa
untuk adik yang lapar
yang lahir saat aku pergi mengadu nasib

tak akan berhenti di sini
terlanjur kutoreh ikrar
pada diri
yang bertahun jadi babu

hingga punggung penuh luka
hingga kuping tersumpal cacian
hingga sumpah yang tersisa
untuk adik yang menunggu
menunggu aku pulang
menunggu oleholeh parang
      buat penggal tuan berhati arang!

jakarta-wisma mampang 170305


Surat Ari-Ari

sepucuk surat kuterima di hari jumat,
pengirimnya tak bernama tak beralamat
bau duka menyambar cepat saat kurobek sisinya
untaian huruf  yang kukenal tancapkan kenangan
hidup yang tak gampang, maut yang dirajut
hingga urung menjemput.

mata basah jatuh di tinta, merebak jadi bercak:
jejak tak terlacak tak terlacak meski bertahun-
tahun telah lewat: cerita tentang jasadjasad
yang mengambang di bengawan solo
hingga rusuh timor hingga porak jakarta

sepucuk surat kuterima di hari jumat,
pengirimnya tak bernama tak beralamat,
kurobek sisinya kubaca isinya:
sejak dalam rahim kutiupkan harga diri
lewat ariari
jangan kau buat aku malu!

sepucuk surat kuterima hari jumat, pengirimnya
tak bernama tak beralamat
tapi untaian hurufnya sungguh kukenal:
surat dari ibu!

jakarta-cik ditiro 150509


Senin Pagi di Pasar Minggu

pagi di depan taman makam pahlawan kalibata
namanya
jalan pasar minggu

senin pagi di pasar minggu
bocah lelaki menghitung uang
di pintu belakang metromini

mengapa senin pagi begitu sepi
padahal jalan berjejal
apakah orang-orang berhenti naik bis kota?

bocah lelaki masih menghitung uang
di pintu belakang metro mini
jangan tanya padanya
di mana baju
merah putih
bapaknya sudah lama mati
ibunya joki three in one

tak pernah ada sarapan di pagi hari
tak ada pekerjaan rumah
yang diperiksa pak guru
biar saja
adik manis yang berangkat sekolah

bocah lelaki masih menghitung uang
di pintu belakang metromini

lima menit lagi
sampai pancoran
dua orang pekerja naik di lampu merah

tuhan ijinkan aku
belikan adik manis tas baru!

bocah lelaki tak berseragam
di pintu belakang metromini
di pasar minggu

manggarai! manggarai!

bis masih kosong
barangkali tuhan masih sibuk
di selsel para koruptor

manggarai! manggarai!

pasarminggu, 120410 08:30


Londo Ireng

di timur
tak ada matahari
barat mengemasnya jadi:
sebungkus burger
sekaleng soft drink
sekerat steik
segelas wine

di timur
tak kujumpai matahari
barat mengunyahnya

barat menelannya
barat memuntahkannya
jadi:
limbah kemiskinan

dan tanah
dan air
yang di atas
yang di bawah
di dalam bumiku
sudah digadai
budakbudak
kulit coklat
otak putih

di timur
matahari tak lagi terbit
barat mengunyahnya
barat menelannya
barat memuntahkannya

jadi:

kami makin miskin

tol jagorawi 170305 19:26


Hio Merah
tentang khoyen dan tante memey

ada pijar lilinlilin besar
di pasang di tiap pilar
membias di antara gumam para biksu -
bising pedagang - kata akhir ternak yang pasrah
di ujung pisau jagal

perempuan itu genggam jemari kecilku
menapak di dingin tegel kelenteng
bau dupa temani langkah
bukan mengurai doa-doa
sekedar sua saudara sepedih

di bawah atap naga emas
perempuan itu ajarkan tentang cinta
dari kisah perjalanan-dongeng pelarian:
salemba, nusakambangan, buru

abu hio merah tinggal satu inci mencium lidi
jadi tanda kembali ke sarang

pasar garoet sudah sepi
derap tapal kuda mengantar pulang
tuk tak tuk tok
tuk tak tuk tok
tuk tak tuk tok…

saat malam turun
perempuan itu bernyanyi
kantuk membuat lirik terputus-putus

bangkitlah kaum yang tertindas
bangunlah kaum yang lemah

***
hangat menyusup di selimut kusam
mimpi memutus syair

saat pagi datang
perempuan itu goreskan
lembar-lembar pelajaran hargai derita
penindasan bukan dalih jadi cengeng!

perempuan itu sebarkan makna
di ayuhan tukang becak
di bahu kuli sayur
di cangkul petani
di keringat buruh pabrik tenun

tembangnya berkumandang di pasar baru,
terminal ciawitali, mandalagiri, pasar ceplak –
senandungnya menggaung di giriawas, singajaya
selecta, pasirwangi, dayeuhmanggung

trauma derap serdadu tak berarti rapuh!

perempuan itu sudah dijemput ajal
matinya dengan kepala tegak
senyum terakhir membuat ngeri dursasana
dan dasamuka

perempuan itu
kupanggil
Ibu!

Kukusan, 071104


Tentang Rieke Diah Pitaloka
Rieke Diah Pitaloka lahir di Garut, 8 Januari 1974. Lulus dari Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia dan Program Pasca Sarjana Ilmu Filsafat di Universitas yang sama. Terlibat dalam gerakan mahasiswa 1998, pekerja seni dan aktivis perempuan yang aktif dalam gerakan buruh di Indonesia. Menjadi anggota parlemen di komisi perburuhan periode 2009-2014. Buku puisinya: Renungan Kloset; dari Cengkeh sampai Ulrecht (2003) dan Ups!(2006)

Catatan Lain
Entahlah, saya tak bisa melepaskan sosok penyair ini dari Oneng, seorang istri lugu dalam Komedi Situasi Bajaj Bajuri. Entah ini sebuah anugerah (keberhasilan acting) atau malah kutukan. Yang jelas, puisi-puisinya, mau tidak mau, akan dibanding-bandingkan dengan puisi-puisi sejenis dari generasi terdahulu macam puisi Rendra atau Wiji Thukul atau mungkin juga F. Rahardi. Setidaknya penyair ini sudah menyumbang tiga buku. 

3 komentar:

  1. Saya kenal Keke saat ia menjadi artis dan saya wartawan hiburan. Di sebuah seminar, ia pernah memperlihatkan puisi-puisinya kepada saya, yang ia tulis rapih di sebuah buku. Ketika saya pindah desk ke politik, saya lihat ia berada di antara mahasiswa UI yang tengah bersiap melakukan long march dari Depok ke Lenteng Agung. Ia sosok wanita yang gigih melawan ketidak-adilan dan segala bentuk penindasan terhadap kaum marginal.Kini ia kader PDIP dan anggota DPR/MPR.Semoga Senayan tak mengubah pribadinya. Terima kasih 'Kepada Puisi'.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Semoga niatnya tulus dan tindakannya mencerminkan itu. Tentang puisi yang ditulis rapih di buku, sepertinya bagus juga. Maksudnya, kenapa tidak diterbitkan dalam tulisan tangan sekalian. Biar para ahli grafologi juga bisa menilai kepribadiannya...Hehe. Makasih dah berbagi di sini.

      Hapus