Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Sabtu, 13 April 2013

UPACARA BULAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Upacara Bulan
Penulis  : Korrie Layun Rampan
Cetakan : I, 2007
Penerbit : bukupop, Jakarta.
Tebal : xviii + 127 halaman (101 judul puisi)
ISBN : 978-979-1012-17-1

Beberapa pilihan puisi Korrie Layun Rampan dalam Upacara Bulan

Aku Memilih

Aku memilih tanah
Tapi ayahku berang
Ia memberiku sungai,
“Datangi sumbernya di udik sana,
Yang mancur di antara akar dan batu-batu.”

Aku memilih arus
Tapi abang memberiku air
“Ikuti arusnya sampai muara,”
Suaranya menghentak jiwa.

Aku ragu saat kudengar suara ibu
Yang mana harus kupilih
Muara atau sumbernya.
“Kau harus pilih kehidupan,”
ibuku tersenyum sambil meraba cahaya harapan

Aku gagu melangkah di antara tasik dan pegunungan
Di manakah kehidupan?
Adikku berseru, “Kau harus pilih hati dan cinta
Sumber segala cahaya.”

Di antara enggan dan keinginan
Aku bertanya rumah cinta
Di mana?

“Yang bersih hanya kasih,”
Kakekku berkata menunjukkan benih
Aku tengadahkan dada
“Di sini?” aku menunjukkan kepala

“Bahagia selalu ada di dalam sepi dan ramai,”
Nenekku menimpali sambil membersihkan kuali
Adakah kehidupan berbiak di antara tungku
Di dasar nyala api?

Aku menyusuri segala mula jadi
Fajar di kaki: di mataku jalan panjang sekali!



Serulingmukah Menghanyutkan Tongkang

Serulingmukah menghanyutkan tongkang
Menggapai sungai
Menambur di arus deras
Menghamburkan lagu ke cakrawala bebas

Segala perih dini hari
Membersihkan beranda
Tanpa restu
Bayang wajahmu yang menunggu

Kelap-kelip mimpi yang diburu
Seperti penantian
Seperti perkawinan
Rahasia kado kehidupan

Waktu pun memuja
Sunyi yang tua
Segalanya padang rawa
Kematian tanpa kata-kata

Perpisahan tiada
Perih nadi, arus, dan air
Lidah yang dahaga
Duka anyir

Serulingmukah mengalun dalam tongkang
Mendarah luka
Segala fana menderai sungai
Menunjuk-nunjuk pelayaran muara


Upacara Bulan

Upacara bulan di ranting-ranting jiwa
Memelihara serangga
Lalu matahari esok hari
Mendirikan kemah-kemah semut api

Para bidadari menarikan birahi
Di gerbang-gerbang kehidupan
Kaudengar ketukan demi ketukan
Di pintu-pintu hati kita?

Yang diserukan sauh pada lautan
Kapal dermaga kita
Yang diserukan mercusuar
Nyawa cinta yang gemetar!

Adakah kaudengar telepon hati
Yang berbicara tentang kejujuran budi
Dunia kita
Tentang sakit dan derita?

Upacara matahari di pusaran waktu
Memelihara padi
Di ladang-ladang berdarah
Di kota-kota kesangsian

Kecemasan purba melekat di dahi dan ubun kita
Tanda di pundak-pundak sejarah
Kaulihat langit merendah
Menyerbumu dengan kesangsian derita!


Roh Angin

Roh angin mencari akar pohon
Yang tertanam di pusat bumi
Sementara pohon-pohon hilang dari rimba
Meninggalkan luka zaman

Musik tanah menangisi kuburan
Menangisi gurun padang kesuburan
Kesetiaan diuji dunia yang tuli dan buta
Lewat derita dan kematian

Roh malam memburu sayap rindu
Mengejar kereta pulang
Sayup lagu “gugur bunga”
Tak alang kepalang

Tangkai-tangkai rahasia
Menulisi kegelapan tebing
Di nisan-nisan di batu-batu
Mengurai kecewa

Di halaman yang beku oleh derita
Roh pagi bangkit bersama cinta
Memanggilmu dalam doa
Mengubur luka

Roh segala roh bersatu dalam jiwa
Berenang bersama anak-anak bulan
Melepas lambaian keranda ke wilayah gulita
Mengusap tolakan gerimis keabadian!


Kuala Lumpur

Suara seperti kehilangan suara
Antara lidah melayu dan logat eropa
Lift dan tandas
Banjir ilusi: hujan kota menderas!

Antara gedung dan oto menderu
Antara rumah dan sungai itu
Suara pesawat dan kereta api lalu
: Kita bertemu

Panjangnya garis sejarah
Memintas masa silam
Musim demi musim yang runcing
: Patah di tengah

Kini banjir kenangan
Negeri kuyub waktu
Seribu tamu para antrean
: Mengetuk pintu!


Manila

Batu tengah kota
Air melimpah

Merembes tanah
Luka di dada

Gunung api
Pelabuhan sepi

Franky*
Rayap di tengah buku

------- 
* Sastrawan F. Sionil Jose


Epitaf
kepada (alm) soesilo murti

Serasa masih ada yang berkata-kata
Menyeru seperti lagu
Seperti sosok wajah tertawa
Bayang-bayang yang berlalu di pintu

Datang pada hidup dan pergi
Meninggalkan meja ruang hampa
Luruh bunga tak kembali
Pada rumah dan kawan sekerja

Lugas dalam tugas pekerjaan
Perihnya membenih dan menanam
Sumringah dalam laku kehidupan
Biru langit dan matahari terbenam

Ada kata-kata ada suara tersimpan
Ada kenangan ada gairah kerja menanti
Ada sepi ada duka tak terucapkan
Yang luruh diam-diam pada dataran hati

Yang berdiri depan pintu mengucapkan salam
Yang duduk di kursi melukiskan kata diam
Yang melangkah sendiri di jalan pulang
Yang menanam bunga kuntum-kuntum kasih sayang

Segala silam dalam cinta
: Indahnya kehidupan
Di atas jalan tak bertabur bunga


Katekisasi

Hatiku yang hitam telah memetik bedil
Dengan tangan kekasih
Di ujung pelarian aku masih coba memandang: nihil
Terlihat dalam diriku pertempuran kaum salih

Dengan hati merah aku membakar matahari
Menggulir bola-bola nestapa
Tuhan terus memetik kecapi di hutan-hutan sunyi
Membungkas jiwa yang diam, o, sang pertapa

Kekasih terus bertanya tentang harga kesetiaan
Tentang kejauhan arasy-Mu
Aku menunjuk ke puncak terus ke bawah ke dataran
Kepada hidup dan jawaban yang tersimpan dalam kalbu

Kita berhenti pada luka
Tepi hari-hari mati
Kupersembahkan hati, jiwa semesta
Ayat-ayat fana, jantung tertidur pagi hari


Letupan Bambu, Tambur Upacara

Letupan bambu, tambur upacara
Menyala di air
Kaki-kaki telanjang
Giring-giring
Malam menari
Bulan

Bulan di langit-langit
Lou
Seribu ancak
Lilin
Pisang dan ubi
Balai-balai permandian
Daun lenjuang
Getang
Tarian malam
Mengupas malam

“Yang sakit bawa ke sini
Yang muntah dan mandul
Yang pekung dan lepra
Bawa ke sini
Yang kehilangan …
Seribu satu penyakit badan dan jiwa!”

Tambur mengeras
Dalam malam keras,
“Segala penyakit pergi
Encok, koreng gatal
Lumpuh dan penyakit mata
Jantung demam kura
Pergi semua
Ke hutan-hutan tak bertuan!”

Sepuluh penari
Sepuluh mangkuk lilin
Menari dalam gelap

Beras kuning
Terbang ke udara
Beras putih-hitam
Terbang ke udara
Sukma pulang ke sukma

Ancak piring upacara
Tambur leluhur
Lemang ketupat tumpi
Dibagi baki
Panggang ayam panggang babi
Salawat api
Yang merecik di dapur dupa
Akar wangi
Yang menutup serapah upacara
Balian mulut waktu,
“Pulang semua pulang
Yang tinggal punggawa
Penjaga badan jiwa!”

Malam mengucapkan tanah
“Hari! Hari!”


Ada

Ada belantara dalam diri kita
Durinya amat lebat
Ada laut dalam diri kita
Derunya tak kenal waktu
Ada api dalam diri kita
Nyalanya membakar segala
Ada dengki dan cemburu dalam diri kita
Perihnya mengiris dinding hati
Ada cinta dalam diri kita
Tumbuh dalam taman bunga-bunga terlarang
Ada yang tak terkatakan dalam diri kita
Ada: …!


Kubiarkan
           
Kubiarkan tulang-belulangku
Mengadu kepada langit
Kubiarkan kuku dan rambutku
Mengadu kepada bulan
Kubiarkan mataku
Mengadu kepada matahari
Kubiarkan darahku
Mengadu kepada bumi

Kubiarkan! (adikku terus menari!)

Segala mengadu kepada tiada
Celaka!
Gerak batin dan jiwa
Mengadu kepada cuaca
Segala mengadu kepada keabadian

Kubiarkan! (hanya secercah isyarat dian!)

Segala gerhana di mulut
Segala gempa di telinga
Segala kerongkongan dahaga

Kubiarkan segala!

Kota-kota tak henti berjudi
Perawan kehilangan angin
Lalu matahari membela hawa

Terbakar jurang kehidupan!

Siapa namamu?
Kesunyian?
Siapa namamu?
Kematian?

Serempak segala mengadu pada darah
Siapkah?
Ibu atau wanita pujaan dunia?

Siapkah?
Kubiarkan!
Kau atau aku?


Sisi Malam

Sisi malam seperti belati
Seperti rampok
Mabuk kelaparan
Gadis yang ngidam tanpa suami

Perempuan yang memahat-mahat bahagia
Mengasah rahasia bunga
Menertawakan kesedihan
Di pintu marabencana

Sisi kehidupan yang tajam
Setajam pasar dan rupiah
Roh layang-layang kehidupan
Kecambah puisi para bedebah!

Lagu kabut derita yang padat
Mempermalam kota
Rahasia hitam di lorong-lorong
Menanak kengerian di ruang-ruang jiwa

Lalu cakrawala dan bintang kejora
Lalu lautan dan gelombang dunia
Tumpah di ladang-ladang minyak terbakar
Tahun-tahun tanpa akar

Sisi hari yang tajam
Lumpur gerak cahaya
Perjalanan di atas duri
Gadis yang ngidam tanpa suami


Mantra Perkawinan Anyeq Haling Ubung Do dengan Wau Nuking Ung*

Inilah adat aveq, upacara perkawinan
Anyeq Haling Ubung Do dengan Wau Nuking Ung
Putra yang diturunkan Tamai Tingai Buring Aring
Dengan putri kayangan
Yang menjelja jadi manusia
Seperti kita.

Tamai Tingai Buring Aring
Dan semua arwah leluhur seperti kakek dan nenek
Datuk dan buyut kita
Sampai ke atas ke silsilah ketujuh belas
Yang memandang dari kejauhan
Ini kami menyapa dengan beras
Nyawa yang menjelma dari alam raya
Sumber kekuatan di dalam kehidupan
Beras yang berasal darimu
Kami hitung sampai delapan

Dengan daun savang akan menghilangkan
Dengan daun ureu akan melenyapkan
Noda dan beban yang melekat
Daki yang mengotori
Badan dan pernikahan agung
Anyeq Haling Ubung Do dengan Wau Nuking Ung

Segala kesialan dan derita,
Segala sakit penyakit dan malapetaka
Lepas dan lenyaplah bersama mendung hilang,
Seiring terbenamnya matahari
Yang pergi ke balik bumi
Kami dipulihkan menjadi putih bersih
Murni kembali seperti sediakala

Ini saya mengait dengan kawit aveng
Saya kait dengan kawit deset
Harap kami pada Tamai Tingai Buring Aring
Nasib dan kehidupan baik
Kelayakan sempurna dalam kehidupan
Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Kekal selama-lamanya

******
Minumlah dari tuwung bambu
Air yang diciptakan Tamai Tingai Buring Aring
Air yang menyejukkan badan
Air yang memberi kehidupan
Air yang sejuk dan dingin
Yang mendinginkan sendi-sendi kehidupan
Agar Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Damai bahagia selama-lamanya
Bersama damai bumi yang setia
Menerima segala tiba

******
Kini saatnya mengikat gelang manic
Pada pergelangan tangan pengantin
Ini ikatan nasib mujur kebaikan
Mengikat suasana kekeluargaan
Semuanya menyatu dalam kehidupan
Kukuh kuat tegar
Seperti manik yang indah
Melingkar di pergelangan tangan
Pengantin kehidupan

Tiba masa pengantin untuk menyantap
Nasi dan garam
Nasi yang memberi napas
Garam yang mengawetkan
Sehingga hidup jadi kekal kebajikan
Karena terlepas dari ketidakpastian
Semua keturunan lebih berarti
Laksana cahaya suar di gelap malam
Tak akan pudar
Seperti cahaya lentera damar api
Abadi
Selama-lamanya

*****
Inilah waktu kehadiran yang ditunggu
Bagi keluarga Anyeq Haling Ubung Do
Dengan Wau Nuking Ung
Menginjakkan telur
Menginjakkan dupa wangi
Menginjakkan kaki di tanah leluhur
Yang penuh rezeki
Gembur subur
Manusia dan tanah menyatu
Dalam kehidupan
Seperti tapak kaki
Menandai kehadiran
Di muka bumi pemberian para dewa
Bersatu untuk menerima berkat
Yang ditarik dari darat
Yang dihela dari sungai kita
Dari huma leluhur semua
Untuk kebaikan kehidupan

Seperti doa yang manjur
Kami sampaikan nasar
Demi umur
Bersama kehadiran Tamai Tingai Buring Aring
Pengantin menerima kemaslahatan
Yang abadi
Tanah ini adalah tanah janjian
Yang mengalirkan harapan
Kebajikan
Pengantin telah menyatu
Dalam kehidupan
Seperti awan menyatu dengan lautan
Seperti asap menyatu dengan api
Semuanya senasib sepenanggungan
Bersama berkat yang berlimpah
Tumpah ruah
Di dalam kehidupan
Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung
Hadir kesejukan abadi
Seperti aliran sungai kekal
Dalam kerukunan dan kedamaian
Yang terikat di bumi
Dan di langit keabadian
Tuhan.

*Anyeq Haling Ubung Do dan Wau Nuking Ung diyakini merupakan cikal bakal suku Dayak Bahau yang kini mendiami pehuluan Sungai Mahakam, Kutai Barat, Kaltim.


Tentang Korrie Layun Rampan
Biodata penyair ini saya kutip sebagian besarnya dari laman ini (http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/438/Korrie%20Layun%20Rampan). Korrie Layun Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay- Edau Rampan. Korrie telah menikah dengan Hernawati K.L. Rampan, S.Pd. Dari pernikahannya itu Korrie dikarunia enam orang anak.
Semasa muda, Korrie lama tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub-- sebuah klub sastra-- yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Suyono Achmad Suhadi, R.S. Rudhatan, Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti, Naning Indratni, Sri Setya Rahayu Suhardi, Slamet Riyadi, Sutirman Eka Ardhana, B. Priyono Sudiono, Saiff Bakham, Agus Dermawan T., Slamet Kuntohaditomo, Yudhistira A.N.M. Massardi, Darwis Khudori, Jabrohim, Sujarwanto, Gunoto Saparie, dan Joko S, Passandaran.
Pengalaman bekerja Korrie dimulai ketika pada 1978 ia bekerja di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sentawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di samping itu, ia juga mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009. Di legeslatif itu Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I.
 Sebagai sastrawan, Korrie dikenal sebagai sastrawan yang kreatif. Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello.
Novelnya, antara lain, Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997).
Beberapa novelnya Upacara (Pustaka Jaya, 1976); Api Awan Asap (Grasindo, 1999), Wanita di Jantung Jakarta (Grasindo,2000), Perawan (Balai Pustaka, 2000), Bunga (Grasindo, 2002), Lingkaran Kabut (Grasindo, 2002), Sendawar (diterbitkan sebagai cerber di Tabloid Nova, 2003).
Kumpulan cerpennya tercatat di laman ini ada 31 buku, beberapa di antaranya adalah  Malam Putih (PD Mataram, 1978, Balai Pustaka, 1981), Kekasih (Nusa Indah, 1982), Perjalanan Guru Sejarah (Bahtera, 1983),  Hitam (Balai Pustaka, 1993), Rawa (Indonesia Tera, 2000), Tarian Gantar (Indonesia Tera, 2002), Tamiang Layang, Lagu dari Negeri Cahaya (Balai Pustaka, 2002), Teluk Wengkay (Kompas, 2003), Percintaan Angin (Gramedia, 2003), Kayu Naga (Grasindo, 2005), Daun-Daun Bulan Mei (Kompas).
Kumpulan puisinya antara lain Matahari Pingsan di Ubun-Ubun (Walikota Samarinda, 1974), Putih! Putih! Putih! (bersama Gunoto Saparie, Yogyakarta, 1976), Sawan (Yayasan Indonesia, 1978), Suara Kesunyian (Budaya Jaya, 1981),  Nyanyian Kekasih  (Nur Cahaya, 1981), Nyanyian Ibadah (PD Lukman, 1985), Undangan Sahabat Rohani ( Yogya, 1991), Mata Kekasih (bukupop).
Korrie Layun Rampan juga banyak menulis buku esai dan kritik sastra, buku teks dan kamus, dan cerita anak-anak.


Catatan Lain:
Korrie Layun Rampan membuka kumpulan ini dengan tulisan Jejak tak Bertapak di Dalam Puisi Indonesia. Di antaranya ia menulis: “Sampai sekarang saya sendiri tak tahu pasti berapa jumlah puisi sudah saya tulis. Seingat saya puisi pertama yang dipublikasi berjudul “Solitude”, dibacakan oleh Hamdi AK, BA di RRI Samarinda pada tahun 1964 saat saya berusia sebelas tahun dan duduk di kelas satu menengah pertama.” Penyair ini telah menulis sejumlah puisi, cerita pendek dan drama saat masih SD. Berlanjut hingga sekolah di Samarinda dan saat mukim di Yogyakarta tahun 1971.
            Korrie melanjutkan tulisannya: “Pada awal saya terjun ke dunia kepengarangan saya lebih banyak menulis puisi. Salah satu pengalaman yang memacu keberanian saya mengirim tulisan ke media massa bergengsi saat itu adalah dorongan seorang teman sesama mahasiswa, Arwan Tuti Artha. Mungkin sengaja memanas-manasi saya atau tidak, ia menunjukkan kepada saya amplop tebal puisi-puisinya yang diretour majalah sastra Horison.” Sejak itu penyair yang tak pernah punya nyali mengirimkan karya-karyanya itu ngebut mengetik sejumlah puisi dan tulisan lainnya.
            Korrie berkata lagi: “Menulis puisi bagi saya adalah sebuah tantangan dan pertaruhan. Meskipun sejumlah puisi saya ada yang dipilih untuk beberapa antologi bergengsi seperti yang dilakukan oleh Linus Suryadi AG dalam Tongggak 4, dan beberapa antologi lainnya namun saya tetap menganggap saya bukanlah penyair, sehingga saya merasa saya telah melakukan langkah tak bertapak di dalam perpuisian Indonesia modern. Saya menulis puisi karena kebutuhan jiwa untuk berkomunikasi dengan cara yang sederhana, efisien, namun estetis. Bagi saya, puisi sebenarnya bukanlah hanya kata-kata, ia sesungguhnya roh kata-kata, sehingga puisi memungkinkan penyairnya menyampaikan gagasan, kritik, anekdot, analisis, cercaan, pembelaan, curahan perasaan, dan sebagainya secara kritis, padat, indah, dan tajam dengan keunggulan estetika.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar