Pengantar Bulan Desember 2016

Pengantar Bulan Desember 2016
Bulan Desember 2016, menyapa kita sepilihan puisi dari 7 buku di atas. Salam Puisi.

Minggu, 03 Juli 2016

ANGSA-ANGSA KETAPANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Angsa-angsa Ketapang
Penulis : Bernard Batubara
Cetakan : II, November 2013
Penerbit : Indie Book Corner, Yogyakarta
Cetakan I oleh Greentea Publising (2010)
Tebal : 110 halaman (67 puisi)
ISBN : 978-602-1599-30-3
Proof Reader : Anindra Saraswati
Layout : Irwan Bajang
Desain sampul : IBG Wiraga
Prolog : Hasan Aspahani (Surat untuk Sajak-sajak Bernard Batubara)

Angsa-angsa Ketapang terdiri dari 3 bagian, yaitu Pada Tepi Daun, Embun, dan Mata (48 puisi), Haruskah Sajak Ini Kuberi Nama (12 puisi) dan Angsa-angsa Ketapang (7 puisi).

Beberapa pilihan puisi Bernard Batubara dalam Angsa-angsa Ketapang

Angsa-angsa Ketapang

aku tak bisa membayangkan diriku, adik perempuanku, dan
adik lelakiku sebagai tiga ekor angsa yang hidup di rumah
kami, karena kami tak membagi dada kami untuk dijadikan
sebaskom kecil nasi sisa dan kami lahap bersama, kami tak
berjalan subuh hari menembus pagar rumah yang rusak,
mencari sekawanan embun berkilau yang beterbangan
setiap sehelai daun ketapang jatuh dari rantingnya, kami
tak pernah melompat menceburkan diri ke kolam ikan
dan berseru kegirangan, mengibas-ngibaskan sayap di
dalam air berwarna kuning, berharap sekawanan ikan
kecil berenang mendekat, kami bukan tiga ekor angsa yang
tahu kapan harus pulang kembali ke kandang, kandang
kecil tempat seharusnya kami tidur bersama, dan aku tak
bisa membayangkan diriku sebagai angsa tertua yang
melebarkan sayapnya, memeluk dua ekor angsa lain, meski
seluruh daun di pohon ketapang yang lahir di rumah kami
berguguran dan tak akan pernah tumbuh lagi.

tapi angsa paling bungsu sudah telanjur tidur pulas sekali, ia
tersenyum, sayapku tak ada di sana.



25 Baris Januari
: seorang wanita

januari, masihkah kau kini menenun sapu lidi
dari bening benang embun yang kian layu dan pasi

sebab pagi kali ini datang terlalu dini
dan aku tak mendengar lagi suara sapu lidi

januari, kau tak pernah selesai dan aku belum juga memulai
perjalanan kaki mencari kaki, perjuangan hati meniti hati

fajar melepas selimut, bangun dengan muka masai
mengambil kabut, menjemput gelap, mengelap rantai

aku masih menunggu malaikat maut datang dengan damai
januari, kau gelisah mendaraskan doa tak hendak berhenti

januari, waktu hanya drama tempat seluruh sandiwara beraksi
aku bukan aktor, kau bukan aktris, kita tak bakat berkomedi

januari, pagi kian dekat ke pergi
dan kering masih mengintai dasar perigi

apakah sudah habis rontok rambutmu yang lama lepai
aku belum siap menadah, aku masih enggan melambai

januari, pasti hidungmu terasa lengar habis menghirup air kali
sebab ke sana air bekas mandiku mengalir, menghanyutkan diri

tapi jangan kau dan sangit air itu hendak bercerai
dua anakmu (satu di surga) tak mau jadi pelerai

januari, ini serangkai doa bukan untuk menebus diri
manalah bisa ujung jalan dicari, hanya pucuk galah disigi

tapi sambut dan dekaplah, aku hendak menghempaskan diri
dan biar aku bertanya kepadamu sebaris saja dalam puisi ini

kalau aku pergi, apakah kau akan menyuruhku kembali?


Mitos Pohon

selalu ada yang menunggu untuk suatu kehadiran selalu ada
yang menghadirkan untuk suatu penantian demikian kau
bergumam pelan kepada hamparan tanah selalu ada yang
mencari tak selalu menemukan selalu ada yang menemukan
tak selalu dengan mencari kau berbisik pelan kepada angin
kemudian angin menghampiri langit mengatakan sesuatu
lalu turun ke tanah menyampaikan sesuatu dan tanah
membentuk sebagian darinya menjadi serabut-serabut
kayu tipis dan tebal lantas langit menarik sebagian dari itu
keluar tanah hingga ada yang tumbuh menjulang lalu angin
bersiul-siul merayakan kelahiran mencuatkan kayu-kayu
kecil yang tumbuh menyebar tapi kau menatap saja semua
kejadian tanpa hendak tahu apa yang disampaikan angin
kepada langit apa yang dipesankan langit kepada tanah
sebab kau merasa cukup berdiam saja dan kau mengerti
akan tiba Waktunya


Adegan Film: Burung Gereja
: reynald chossy narpa’ togu batubara

ketika magrib baru saja lahir
dari gema azan, di anjongan

kau pergi keluar, menyusuri pasar
– tiang-tiang listrik terpancang

ratusan burung gereja, bertengger di kabel-kabel
sebagian berdiam saja – sebagian terlihat begitu risau

o, burung gereja, teman-asingku
apa yang kau tunggu begini petang?

o, burung gereja, pendatang-baru
apa yang kau cari seterlambat ini?

*
kau berjalan pelan, menengadahkan kepala
menyaksikan ratusan burung gereja lalu-lalang

sejenak kau seperti melihat mereka
menjadi sebuah kalung mutiara hitam

yang sangat panjang

entah kepada leher siapa mereka
hendak terbang-mengalungkan diri

ataukah mereka hanya menyamarkan
pandanganmu dari yang sebenarnya
ingin kau cari?

o burung gereja, kau hitamkan langit
dari mata ia yang memutihkan apa saja

o, burung gereja, kicau kecil yang ramai
nyanyikan sebuah lagu – agar ia pergi dalam damai

*
mungkin magrib akan menangis – sebentar lagi
setibanya kumandang azan di penghujung lafal

sebab kau harus segera pulang, menanggalkan
napas dan tawa yang panjang, meninggalkan

ratusan burung gereja di tiang-tiang

mungkin aku akan menghampirimu – sebentar lagi
mengalungkan mereka ke lehermu, menemanimu

pergi menuju suara yang memanggilmu

setibanya azan itu usai
sebentar lagi


Kepada Buku
: kafe baca biblioholic

kami sedang memoles kata-kata retak di bibirmu dengan
pelangi kecil dari huruf-huruf yang kami tahu dan sungguh
kami tak mengerti kenapa ada jendela seluas langit di
matamu sebab kami terisap sekali lagi sambil berharap kali
ini bisa menjadi ribuan kalimat di tubuhmu.


Kres

waktu telah memainkan luka, hingga ke nada
yang lebih tinggi, dawai menyimpan mimpi,
denting menanam rindu entah di petik yang
mana, ah, langit telah menyala…

suara tak lagi, ada bisik yang lebih
lengking, napas begitu kering, apa yang
bunyi terdengar begitu api, di sini
jemari membakar, ah, teriak telah berkobar!


Mol

rendah, rendahkan o belahan jari, pagi
sudah tak tahan bermimpi, embun, o
biarkan dia yang melanjutkan nada

berikutnya, sebab bunyi pada waktu ini
sudah tak sama, bapa ada
di surga, kenapa tak kita juga?

rendah, o rendahkan lagi bunyi ini, di
beranda rumah sepasang kursi, hai sangkar
burung yang telah ditinggal pergi, biarkan,

biarkan mereka yang melanjutkan mencari,
sebab luka pada waktu ini sudah tak lagi,
kenapa tak kita Mati?


Bar

betapa kita hanyalah tubuh yang runtuh, o ruang
yang mengarung nada-nada, tanda-tanda, o
duka yang terselip di setiap jeda, o tuah

yang mengalir di belahan lagu, romansa
bunyi masa lalu, aroma sedap malam dari laut
mati dalam simfonimu membawa maut, o jemari

yang lihai melantun luka, menatah luka
menyusun luka, o tubuh yang runtuh,
betapa kita hanya ruang yang rubuh, ruang yang rubuh…


Dua Sajak yang Kutulis Setelah Mengunjungi Dua Pantai

Di Pantai Siung

seperti alis untuk sepasang mata hitam milik seseorang

di Pantai Siung, ada dua sisi karang melengkung  ke dalam
seperti senyum seperti pelukan dahulu terkikis dari benak

tapi dihantam berkali-kali oleh ombak panjang dan garang

ahai, berdiri di tengah-tengah rentang hampar pasir ini
sungguh jantungku ingin terbang, lalu jatuh tergeletak

agar disambut oleh buih laut, dan hanyut saja perlahan
menyaksikan bening air, liuk rumput laut dan bebatuan

tapi ada yang memanggil-manggil dari kejauhan dari ujung

seperti memanggil pulang seperti menolak kenang
di Pantai Siung, ada butir pasir yang tak sekalipun larung

seperti bintik air di sepasang mata hitam milik seseorang


Di Pantai Sadranan

luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah seperti langit
di Pantai Sadranan kali ini, aku duduk saja mematung

di pondokan bambu  beratap daun rumbia, aku melihatmu
melambai melayang-layang di atas laut yang kadang biru

namun seringkali jadi hijau di mataku, hanya di mataku

luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah seperti pasir
di Pantai Sadranan, itu sebabnya aku duduk saja di sini

di pondokan bambu bertuliskan nama-nama, tak berani
turun dan menginjakkan kaki, menghampiri halus lembut

sebentang bak tikar panjang tempat biasa kau datang

tapi bukan di sore seperti ini, saat ombaknya tak lagi
menjilat, tak lagi ada hasrat untuk mengecup bibirmu

hanya menyenggol pulau-pulau kecil dan batu karang
hanya menunggu aku turun dan kau turun di tepian

di Pantai Sadranan, bukan aku yang tersedu kepada
merah langit di kejauhan, hanya saja kau selalu ada

sebab luka tak pernah sekalipun senja, tak pernah
seperti lembut pipimu dari jauh kau letak di bibirku


Sajak Daur Ulang: Yang Bertalang Betung, Yang Berpagar Lalang
: esha tegar putra

di semak rambutmu sajak merabuk, sajak mengurai
diri menjadi cadik, menjadi layar perahu yang
menepis asin angin dan pahit laut
barangkali kalu telah berjanji kepada kekasihmu,
wanita yang berdiam dalam deras gerimis batu
kau akan pulang dari negeri jauh, tempat kau
mengais tanah, mengubur api tungku
dan menahan liur tersebab matahari pecah
tapi tungkai kakimu adalah sayap, menolak
kau kembali pulang ke ladang, bersetubuh
dengan miang lebat lalang
ia memilih untuk terus terbang, bersitatap
dengan lembab udara, membentang selebar kata-kata
dalam sajak dalam rambutmu yang perak
membumbung dari buih embun batang buluh
yang memancing kau turun, menjemput
bunyi rindu yang jauh

tapi kekasihmu telah bertenun hujan, berselimut
rumput, bersikeras menampik kilau rekata
meski seringkali di tengah malam buta ia meranyau
tentang lelaki yang lupa jalan pulang,
lelaki berambut perak yang patah sayapnya,
lelaki yang tersesat di ladangnya sendiri

dan bukankah kau yang dahulu menikamkan
pucuk belati ke ulu dada perempuan itu,
perempuan yang berdiam dalam gerimis batu?


Pada Tepi Daun, Embun, dan Mata

pada tepi daun, embun adalah sebuah mata,
dan sepi terkurung dalam rapuh tulang-tulangnya

pada tepi mata, daun adalah sebutir embun,
ada cuaca pagi, dan warna hijau yang kabur dan basah

pada tepi embun, mata adalah selembar daun,
ke dalam pandang sepi telah penuh, luruh, dan sudah


Mengapa Dalam Sajak Ini Ada Sebatang Lilin yang Tak Ingin Seutas Sumbu Dalam Tubuhnya Terbakar Api

bagaimana kita bisa menerangi
ruangan kecil dan gelap ini

kalau kau tak membiarkan
api itu mendekat dan memelukku

kau itu sebatang lilin
tempat aku tegak berdiri

aku ini seutas sumbu
tak perlu lagi kau lindungi

memang takdirku untuk hidup
dan habis terbakar

sedang kau semata saksi
dalam ritual sunyi ini

tapi kalau kau bersikeras
menepis malam yang kalut

atau mengusir dingin angin
dan kelebat kabut

biarkan aku saja yang habis
terbakar api

tak perlu kau jemput
tak perlu kau ikut


Siapa

engkau tersamar
di antara wangi asap
ladang yang dibakar
di sela tunggul-tunggul
padi hangus
dan selisih depa
petak sawah
yang ditanami
pasir dan bata

engkau kerinduan
gigil sebuah sungai
akan muara
yang pernah lama
menyambut
dan memeluknya hangat
sungai berwarna merah
yang mengalir
dari mata anak-anak
tertidur di bawah
tenda-tenda darurat
dan puing-puing
rumah sewa

engkau yang longsor
dari perut
perempuan, bunda
bumi yang tengah
melahirkan
bebatuan
engkaukah pula
getaran itu?

engkau sayup suara
di antara teriakan
ratusan manusia,
tapi kenapa
aku mendengarnya
seperti jerit bahagia?

engkau injakan kaki-kaki
yang berlari buta,
kaki-kaki
yang setengah mati
mencoba
meloloskan diri
dari sergapan malaikat
maut
dan tak menyadari
tengah menuju ke sana pula
lagi

engkau benak yang curiga
tak ada hikmah
bisa diambil
dari musibah ini

engkau pemain
dalam lakon paling lucu
yang pernah tercipta
dan tak pernah berhasil
membuat dirimu sendiri
tertawa

sementara engkau pula
berdiri
di antara barisan
penonton
yang tergelak
tak mengerti
apa yang selama ini
disaksikan

engkau penguasa negeri pembalut ini!
tahan dipakai
hingga empat-lima kali bocoran

engkau itu
apakah kau

apakah tuhan

apakah aku?


Daun-daun Ketapang

1
dalam tidur sehelai daun ketapang, ia bermimpi
menjadi seikat sapu lidi
ia sedang menyapu kekasihnya sendiri

2
kenapa kita tumbuh bercabang-cabang
dan banyak sekali? tanya sebatang ranting
kepada sahabatnya

ia tak tahu, sahabatnya itu ingin sekali
menjawab pertanyaannya dengan menggugurkan
seluruh daun kering di tubuhnya

3
tarian daun kering adalah sebuah maharana
dalam batin sebatang ranting

ia tak ingin selesai melihat gemulai indahnya
tak pula mau daun itu dipetik angin

4
di mata sehelai daun ketapang, angin adalah
kertau yang mengancam cintanya

maka sejak musim gugur mulai datang, ia berdoa
agar hujan saja yang turun membunuhnya

5
aku mendengar ibuku sedang menyapu, kata
sehelai daun ketapang yang baru saja lahir

bukan, ia sedang dibawa pergi darimu, ujar
seikat sapu lidi yang matanya tiba-tiba berair

6
ia ingin sekali bertemu kekasihnya
tapi tubuhnya belum kuning
dan angin belum menjemputnya jua

7
ia merasa tubuhnya limbung
matanya berair
yang lain sudah lama berguguran


Di Dalam Sajak

engkau terbaring saja
ketika kata demi kata mulai masuk
dan larut
di dalammu

hening masuk dengan menyusup
luka datang dengan tertawa
sepi hadir begitu saja

engkau diam
begitu tenang, seperti sangat menikmati
saat-saat mereka mulai saling mengenal
dan meleburkan diri

kadang luka yang keras kepala
tak mau mengalah
hingga engkau menjadi pekat dan kental
merah seperti darah

kadang hening membawa serta kawanannya
yang terlalu ramai
engkau menjadi pucat dan masai

tapi sepi tak berminat
untuk berebut tempat

sajak, engkau begitu ringan
seperti bulu-bulu angin, bening
seperti uap hujan

tapi O sajak, cahaya matamu
selalu rahasia


Iklan: Obat Tetes Mata

kolam ikan yang kering, berlumur-lukamu

cukupkah kau turun ke dalam
mengair matakan matamu?

biar ada yang berenang
di pelupuk

menggenangkan kenang
sejernih waktu


Kita

kita adalah dua batang tubuh
di kursi taman itu

kita adalah dua kelebat bayang
yang saling mencari diri masing-masing,

di selembar daun, kita adalah
dua butir embun yang akan segera menguap

secepat luka, meresap-mengalir lagi
menjadi air mata, kita dua sulur air mata

yang entah tersesat
di wajah siapa

kita adalah dua batang tubuh
di kursi taman
di malam yang jauh
di temaram bulan


Tentang Bernard Batubara
Bernard Batubara lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, Kalimantan Barat. Menamatkan studi Teknik Informatika di Universitas Islam Indonesia. Menulis puisi, cerpen dan novel. Karyanya tersebar di berbagai media massa dan antologi bersama seperti Teka-teki tentang Tubuh dan Kematian (2010), Tuah Tara No Ate (2011), Pedas Lada Pasir Kuarsa (2009), Percakapan Lingua Franca (2010), dll. Kumpulan Cerpennya Milana (2013) dan Novelnya Surat untuk Ruth.


Catatan lain
Di sampul belakang buku, bertengger petikan puisi “Angsa-angsa Ketapang”. Testimoni teman hadir di halaman pertama begitu kita membuka buku, yaitu dari M. Aan Mansyur dan TS Pinang. Begini kata Aan : “Musik, mitos, mimpi, dan memori. Pernahkah anda membayangkan seorang fotografer memotret hal-hal itu? Itulah yang dilakukan Bernard Batubara. Dia menunjukkan kepada kita bahwa puisi-puisi yang kuat dalam ‘Angsa-angsa Ketapang’ adalah foto-foto yang dia dapatkan dari memotret keempat hal tersebut.”
            Buku ini dipersembahkan untuk sang adik, atau dalam bahasa Bernard : “untuk adik yang sudah pergi/dengan senyuman paling tenang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar