Data buku kumpulan puisi
Judul : Hujan Kopi
dan Ciuman
Penulis : Kurnia Effendi
Cetakan : I, September
2017
Penerbit : BASABASI,
Yogyakarta.
Tebal : 144 halaman
(101 puisi)
ISBN : 978-602-6651-40-2
Penyunting : Tia
Setiadi
Tata letak : Amalina
Tata isi : Violetta
Pracetak : Kiki
Sepilihan puisi Kurnia Effendi dalam Hujan Kopi dan Ciuman
Tubuh Ibu
Malam memasang jubah sunyi, ketika tubuh Ibu menjelma
rumah dengan banyak kamar. Detik berjatuhan serupa merjan yang
lepas dari ikatan. Bergulir menjauh, merepih bunyi yang tak
sungguh sampai pada telinga.
Seiring gumpalan waktu yang diseret maut,
satu per satu benda-benda dalam tubuh Ibu pamit:
pankreas, ginjal, empedu, hati, paru-paru, batang otak, dan jantung.
Seperti penjaga yang menunaikan tugas, satu demi satu
ruang dalam tubuh Ibu memadamkan lampu.
Gelap itu sampai ketika pagi memercikkan cahaya matahari
Tubuh Ibu bercakap-cakap dengan mesin yang seolah serbatahu
Di ambang pintu, malaikat telah menunggu. Napas yang tersisa pada
serabut kusut di balik dada Ibu mulai dilepas terbang. Dan doa
berenang pada genangan udara, meraih tepi, yang
membatasi antara terjaga dan mati suri.
Kini ruh beringsut dari jemari kaki ke lutut, dari paha ke perut, dari
dada ke rambut. Meninggalkan suhu yang menyusut. Selembut
kasihnya sepanjang tujuh puluh satu tahun, tak terhindar rasa sakit
saat meninggalkan raga tempatnya berdiam. Kernyit sejenak di
antara kedua mata Ibu merupakan isyarat perpisahan.
Aku tak pernah tahu, ke mana ruh itu pergi: utara atau tenggara
Ia menjauh dari tubuh Ibu mungkin dengan rasa pilu yang
dititipkannya kepadaku
Slawi, 2011






