Tampilkan postingan dengan label Abdul Hadi W. M.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abdul Hadi W. M.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juli 2017

Jalaluddin Rumi: SEMESTA MAULANA RUMI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Semesta Maulana Rumi
Penulis : Jalaluddin Rumi
Penerjemah : Abdul Hadi W.M.
Cetakan : I, Februari 2016
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta.
Tebal : 276 halaman (143 puisi)
ISBN : 978-602-391-117-2
Editor : Rusdianto
Tata sampul : Ong Hari Wahyu
Tata isi : Violetta
Pracetak : Antini, Dwi, Wardi

Semesta Maulana Rumi dibagi ke dalam 2 bagian, yaitu Matsnawi (39 puisi) dan Diwan Shamsi Tabriz (104 puisi)

Beberapa pilihan puisi Jalaluddin Rumi  dalam Diwan Shamsi Tabriz

73

Bulan puasa telah datang, larangan raja mulai
berlaku; jauhkan tanganmu dari makanan, hidangan
rohani telah tersedia.

Roh telah terbebas dari pengasingan dirinya dan
membekuk tangan tabiat; hati sesat telah kita taklukkan
dan pasukan iman telah sampai.

Bila pendengkur telah angkat-tangan siap ditawan,
dari api penyala api jiwa datang dengan ratapan.

Sang lembu begitu molek, Musa bin Imran muncul;
melalui ia si mati hidup kembali bila badannya telah
menempuh upacara korban.

Puasa adalah upacara korban kita, ia adalah
kehidupan bagi jiwa kita; mari kita korbankan badan
kita, karena jiwa telah datang menjadi tamunya.

Iman yang teguh adalah awan lembut, kearifan
adalah hujan yang tercurah darinya, karena di bulan
iman ini Al-Qur’an diwahyukan.

Bila jiwa badani dikendalikan, roh akan mi’raj ke
langit, bila pintu penjara dirubuhkan, jiwa sampai ke
pelukan Kekasih.

Hati telah menukar tabir gelapnya dan mengepak
sayapnya ke angkasa, hati, yang berwujud malaikat,
sekali lagi tiba di tengah mereka,

Tangkap cepat tali dari badannya; di atas perigi
teriakkan, “Yusuf dari Kana’an telah tiba!”

Ketika ‘Isa tercampak dari keledainya maka doanya
diterima Tuhan, cucilah tanganmu, karena Hidangan dari
langit telah datang.

Cuci tangan dan mulutmu, jangan makan atau
bercakap-cakap; carilah kata dan suapan nasi yang
diturunkan bagi ia yang diam.

Minggu, 01 Juni 2014

Abdul Hadi W. M.: MEREKA MENUNGGU IBUNYA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Mereka Menunggu Ibunya
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Penerbit : PN. Balai Pustaka, Jakarta
Cetakan : I, 1983
Tebal : 51 halaman (31 puisi)
BP No. 3152
Ilustrasi Kulit : Abdul Hadi W. M.
Perancang kulit : Hanung Sunarmono

Keterangan buku: Bahan sajak-sajak nasehat lama dari Negeri Cina ini diambil dari Chinese Poems on Ahimsa, Dr. Raghu Vira, International Academy of Indian Culture, Nagpur, 1964. Dicipta kembali oleh: Abdul Hadi W.M.

Beberapa pilihan puisi anak gubahan Abdul Hadi W. M. dalam Mereka Menunggu Ibunya

Tolong-Menolong

Di tepi kali yang deras
seekor kepiting merintih keras
ia tak bisa berjalan buat pulang ke liang
seluruh kakinya putus di batu karang

Jerit pilunya terdengar kawan-kawannya
Hingga berdatangan
“Ada apa gerangan kawan?” tanya kawannya
“Kakiku retak lalu patah dihantam gelombang,” ujarnya

Lalu dua ekor kepiting yang kuat maju
Mereka angkat dan gotong si malang
Penuh cinta dan kasih sayang
Tolong-menolong adalah lambang kedamaian dan kemanusiaan

Aku lantas termenung
Kalau kepiting si makhluk kecil kurang beruntung
Punya rasa belas dan bisa tolong-menolong
Kenapa kita makhluk yang mulia tidak?

Selasa, 01 April 2014

Abdul Hadi W. M.: POTRET PANJANG SEORANG PENGUNJUNG PANTAI SANUR

 

Data buku kumpulan puisi

Judul: Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur, Kumpulan Sajak (1967-1971)
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan: I, 1975
Penerbit: PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Seri: PJ 167
Tebal: 68 halaman (39 judul puisi)
Gambar jilid: Popo Iskandar
Dicetak oleh: Yamunu, Jakarta

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur

Langit di Mana-mana

Langit berjalan atas pohon-pohon. Di mana-mana
bayangan mereka di atas air, di atas pasir
dan gelap. Bintang-bintang seperti lampu-lampu yang ditaruh para
nelayan
dan bunyi-bunyian. Ditabuh senja pada batu karang
lapar itu, haus itu! Dan awan cair
menembus hatimu
Ayolah buyung, kaubaringkan tubuhmu
Tak ada bulan, tak ada nyanyian, bagi tumbuhan di bumi
Kami kan tidurkan kamu pada ranjang kayu
muara sungai dan musim kemarau
Ayolah buyung kautembangkan pucung belum tidur
baik di atas mimpimu, putri-putri buih naik ke badan
tengah malam dan jika bintang-bintang menembus sunyi para nelayan
perahu-perahu dagang yang tua, membersihkan laut, bayangan
Mereka di mana-mana. Dan gelap
Ayolah buyung tidur. Ombak sudah siap
menelan lelahmu. Dan dongengmu teramat bagus
Seperti penunggu muara sungai yang ramah itu
Dan bergegaslah pergi, ke mana-mana
Sebab langit di mana-mana. Dan mimpimu di mana-mana
Tanah air di mana-mana

1969

Senin, 03 September 2012

Abdul Hadi W. M.: MEDITASI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Meditasi, sajak-sajak 1971 - 1975
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN. Balai Pustaka
Tebal :  71 halaman (31 judul puisi)
Perancang kulit : Budiono

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Meditasi

Sehabis Hujan Kecil

Retakan hujan yang tadi jatuh, berkilau
pada kelopak kembang yang memerah
Antara batu-batu hening merenungi air kolam
angin bercakap-cakap, sehelai daun terperanjat dan lepas

1972


Gerimis

I
Seribu gerimis menuliskan kemarau di kaca jendela
Basah langit yang sampai melepaskan senja
Bersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-kata
bermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannya
dari percakapan terik dan hama

“Kau toreh bibirnya yang merkah,” kata hama
“Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah”

II
Kenapa ia tak terkulai
dan masih bertahan juga
Dan bersenyum pada surya
yang mengunyah-ngunyah air matanya

III
Untukku ingar itu pun senantiasa menyurat
Atau mimpi
Tapi angin masih saja menggigil
mendesakkan pagi

IV
Tuhan, kau hanya kabar dari keluh

V
Burung-burung pun
asing di sana
karena jarak dan bahasa

1971

Jumat, 04 Mei 2012

Abdul Hadi W. M.: ANAK LAUT ANAK ANGIN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Anak Laut Anak Angin
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan : -
Penerbit : -
Tebal : 137 halaman (106 judul puisi)
Tata rupa dan grafiti : Mochtar Apin

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Anak Laut Anak Angin

Sajak Samar

Ada yang memisah kita, jam dinding ini
ada yang mengisah kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri

1967


Madura

Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil itu
ketika tiba, dengan langit, pohon, terik, kapal
dan sampan yang tenggelam di pintu cakrawala
Selamat pagi tanah kelahiran
Sebab aku tak menghitung untuk ke berapa kali
Kapan saat menebal pada waktu
Sebab aku tahu yang paling berat adalah rindu
Sangsi selalu melagukan hasrat dan impian-impian
Dan adakah yang lebih nikmat daripada bersahabat
dengan alam, dengan tanah kelahiran, dan
dengan kerja serta dengan kehidupan?
Aku akan mengatakan, tapi tidak untuk yang penghabisan:

Ketenangan Selat Kamal
adalah ketenangan hatiku
membuang pikiran dangkal
yang mengganggu sajakku

kurangkul tubuh alam
seperti mula kelahiran Adam
sedang sesudah mengembara
baiklah kita rahasiakan

dari perjalanan ini
aku membawa timbun puisi
bahwa aku selalu asyik mencari
keteduhan mimpi

kebiruan Selat Kamal
adalah kebiruan sajakku
dan terasa hidup makin kekal
sesudah memusnah rindu