Tampilkan postingan dengan label Afrizal Malna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afrizal Malna. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2017

Afrizal Malna: KALUNG DARI TEMAN


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul: Kalung dari Teman
Penulis: Afrizal Malna
Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
Cetakan: I, 1999
Tebal: x + 158 halaman (85 puisi)
ISBN: 979-669-547-2
Kata penutup: Dami N. Toda
Penyunting penyelia: Pamusuk Eneste
Penyunting naskah: Djony Herfan & Tri Marganingsih
Desain Sampul: A. Kunta Rahardjo
Perwajahan isi: Suwarto

Beberapa pilihan puisi Afrizal Malna dalam Kalung dari Teman

Tanaman Tahun

Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Pohon tumbuh sendiri, sapi berjalan sendiri
Kemarin aku berjanji menjengukmu
Nonton bersama
Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Tak ada halaman lain pada tubuhmu
Waktu telah jadi bentangan kain
Potongan-potongan baju, ke Selatan ke Utara
Jam 10 malam, toko-toko telah tutup
Satu dua orang datang satu dua orang pergi
Siapa yang mau menunggu di sini
Orang-orang berlalu
Halaman rumah belum disapu
Semua orang datang semua orang pergi
Besok aku berjanji menjengukmu
Tanpa dirimu lagi
Di situ

1983

Senin, 06 Januari 2014

Afrizal Malna: MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN



Data buku kumpulan puisi

Judul : Museum Penghancur Dokumen
Penulis : Afrizal Malna
Cetakan : I, April 2013
Penerbit : Garudhawaca, Yogyakarta
Tebal : 110 halaman (53 puisi)
ISBN : 978-602-7949-01-0
Foto cover : Sartika Dian Nuraini

Beberapa pilihan puisi Afrizal Malna dalam Museum Penghancur Dokumen

daftar indeks

dan berjalan. Dan tidur. Dan melupakan. Dan menyapu. Dan makan.
Dan mengambil jemuran. Dan memotret pernikahan orang lain di
sebuah kafe di Shanghai. Dan membaca. Dan memotong kuku. Dan
memotret kucing kawin di rumah Lely. Dan menengok kuburan
temanku di surabaya. Dan anaknya sudah kuliah. Dan anaknya men-
girim sms, siapa bapakku? Dan anaknya tidak tidur dalam kamar
ibunya. Dan namanya Dya Ginting. Dan membakar sampah. Dan
memotong rumput. Dan mengambil kantong plastik yang dibuang
orang di pinggir jalan. Dan mencium anak anjing. Dan menengok
teman yang menangis di depan laptopnya. Dan ingin hidup dalam
suara Maria Callas. Dan tak punya uang. Dan menunggu honor dari
puisi. Dan bertemu mayat Caligula dalam bahasa. Dan mandi. Dan
ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah mengatakannya.

Kamis, 05 Juli 2012

Afrizal Malna: ARSITEKTUR HUJAN


Data buku kumpulan puisi

Judul  : Arsitektur Hujan, Empat Kumpulan Sajak Afrizal Malna
Penulis : Afrizal Malna
Cetakan : I, November 1995
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Tebal : xiii + 98 halaman (53 puisi)
ISBN : 979-8793-06-4
Disain cover : Erik Prasetya, berdasarkan Instalasi dari Agus Suwage

Beberapa pilihan puisi Afrizal Malna dalam Arsitektur Hujan

Chanel OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983



Kebiasaan Kecil Makan Coklat

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat  di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni  peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan  kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994