Tampilkan postingan dengan label Ali Syamsudin Arsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ali Syamsudin Arsi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2016

Ali Syamsudin Arsi: BUKU SETENGAH TIANG




Data buku kumpulan puisi

Judul : Buku Setengah Tiang
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Cetakan : I, Juni 2015
Penerbit : Framepublising, Yogyakarta
Tebal : xii + 120 halaman (93 puisi)
ISBN : 978-602071443-2-3
Desain isi : Frame-art
Desain cover : Nur Wahida Idris

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi dalam Buku Setengah Tiang

Diskusi Para Datu

memungut kata-kata berserak
di lantai tanah berpijak
menyusuri jejak
di ketinggian jarak

kita tidak sedang terjaga
sebab di ujung kepedulian
hilang sapa

orang-orang di luar terlalu sibuk
mencari lupa
aku di balik kamar
kehilangan air mata

puah mantra datu-datu
lenyap ke mana
ketika berwujud aksara

/asa, Juni 2004-Januari 2015


Suka-suka Minggu Raya

o ya ya, o ya ya , kita jumpa
o ya ya, o ya ya , kita bicara
o ya ya, oya ya , di mingguraya

bila hatimu sedang duka lara
langkahkan kaki cepat segera
kami tunggu di mingguraya
saling sua saling bicara

mingguraya, titik temu kita semua
mingguraya, jabat erat kita jumpa

buang resahmu buang segera
kita sama saling cengkrama
dendangkan lagu irama suka
angkat jari tanganmu ke udara

mingguraya, o ya ya, semua kita gembira
mingguraya, o ya ya, semua kita suka-suka

/asa, mingguraya 2013

Minggu, 01 Maret 2015

Ali Syamsudin Arsi: GEMURUH, PUISI DARI KALIMANTAN




Data buku kumpulan puisi

Judul : Gemuruh, Puisi dari Kalimantan
Penulis : Ali Syamsudin Arsi
Cetakan : I, April 2014
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta.
Tebal : xxii + 164 halaman; 13,5 x 20 cm (74 puisi)
ISBN : 978-979-16848-9-7
Penyelia akhir : Raudal Tanjung Banua
Desain isi dan cover : Frame-art
Gambar cover : Darvies Rasyidin
Ilustrasi : Moses Oyes
Catatan apresiasi : Dimas Arika Mihardja dan Sumasno Hadi

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi dalam Gemuruh, Puisi dari Kalimantan

Hutan Kalimantan

anak-anak riang ceria
di arena sebuah lomba

kita sekarang menggambar kembali:

hutan kita yang hilang

/asa, banjarbaru, 14 juli 2013


Sungai di Kalimantan

wahai sungai, mengalirlah sebagaimana kalian mengalir sejak lama seperti yang aku pahami dalam kekinian dan pengertianku sendiri tentang sejarah masa silam, wahai sungai, meliuklah sebagaimana engkau meliukkan badan dalam jeram-jeram dalam tebing-tebing dalam hutan-hutan, wahai sungai, di atas riakmu pula ada banyak kabar dari satu titik ke titik lain dan ketika pecahan riak menuju gelombang maka saksikanlah bahwa kecipak ikan-ikan dengan ekor selalu bergerak dari satu hentak ke hentak lainnya, wahai sungai dalam rimba belantara wahai hutan dalam gelombang dan wahai sungai dalam pijar dendam membara-bara, wahai sungai keruh yang kian membuncah-buncah, wahai sungai, atas dasar berpasir batu dan kulit kerang juga tanah liat tanah lempung campuran lumpur serta batu-batu, wahai sungai; meluaplah, meluap sampai keluh kesahmu naik di puncak ramai sampai ke pucuk tugu dan tiang-tiang bendera, wahai sungai; saksikan olehmu keangkuhan menara dan banyaknya tiang-tiang istana, istana rapuh yang ditancapkan di mana-mana atas dasar apa, wahai sungai, sampai di mana diam kita bila semua arus telah dengan sengaja disumbat di mana-mana

/asa, banjarbaru, desember, 2013

Minggu, 01 Juni 2014

TUGU BUNDARAN KOTA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tugu Bundaran Kota
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru bekerjasama dengan Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Cetakan : I, November 2010
Desain sampul : Binudi
Layout : Hery S
Tebal : iv + 218 halaman (169 puisi)

Beberapa pilihan “puisi anak” dalam Tugu Bundaran Kota

Kabar dari Lubang Galian

kabar dari lubang galian
kadang membawa kebahagiaan
kadang membawa kesedihan
bagi para pendulang intan
bila mendapat intan para pendulang
sangatlah senang
bila tidak mendapat intan para pendulang
sangatlah sedih
akan tetapi
mereka tak pernah putus asa
untuk menghidupi keluargaku

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Di Balik Cempaka

menggali tanah yang dalam
tak peduli panas atau hujan
tetap mereka lakukan
untuk menafkahi keluarga

hasil yang mereka dapatkan
hanya membayar
sejumput kelelahan mereka

namun bagi mereka
itu hasil yang besar

andai aku bisa membantu mereka
aku tak akan mungkin berdiam di sini
membiarkan mereka

yah,
begitulah
di balik cempaka

Cempaka, 10 Desember 2009
(karya Aulia Azizah, lahir di Cempaka, 18 Februari1996, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Desa Cempaka

desa cempaka
adalah tempat kelahiranku
tempat aku menghirup udara
udara yang bersih dan sehat
aku senang tinggal di desa cempaka ini
akan tetapi
pada suatu hari aku menangis
karena aku harus meninggalkan desaku ini
tetapi sampai mati pun
aku tidak akan pernah
melupakan desa cempaka
selama-lamanya

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)

BUNGA-BUNGA LENTERA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Bunga-bunga Lentera
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit : Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru
Cetakan : I, 2009
Supervisi : Ogi Fajar Nuzuli dan Hamami Adaby
Pemeriksa aksara : M. Mus’ab
Tebal : xiv + 166 halaman (137 puisi)

Beberapa pilihan “puisi anak” dalam Bungas-bunga Lentera

Kupu-kupu

kupu-kupu
sayapmu begitu indah
dengan warnamu yang menarik
saat kumelihatmu
terbang di atas bunga mawar
yang indah dan terayun pada tangkainya

memandang bunga-bunga
berwarna-warni
sangat lincah terbangmu
kian ke mari

senja mulai tiba
kau pun beterbangan
di antara pepohonan
untuk kembali pulang

Cempaka, April 2009
(karya Wahdaniah, lahir di Marabahan, 13 November 1996, SDN Cempaka 2)

Selasa, 01 April 2014

Ali Syamsudin Arsi: PESAN LUKA INDONESIAKU


Data buku kumpulan puisi

Judul: Pesan Luka Indonesiaku
Penulis: Ali Syamsudin Arsi (Asa)
Cetakan: I, Oktober 2005
Penerbit: Swakelola Satu Warna, Banjarbaru.
Tebal: 61 halaman (13 puisi)
Sampul dan Perwajahan isi : Harie Insani Putra

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi (ASA) dalam Pesan Luka Indonesiaku

Orang-orang Hilang Dalam

orang-orang hilang dalam
gelembung sabun di ujung jemari ibu-ibu
perempuan yang tetap setia melahirkan
anak-anak di hempasan riak
memperderas arus dari luncuran embun pada
tangkai dahan bulir-bulir merunduk padi
hari-hari menjadi sedih mendanaukan luka di air mata

orang-orang hilang dalam
lapisan kulit kayu hutan dari ranting tanpa akar
tercerabut di gelak tawa dengan bibir retak tengadah
berwajah kayu; mempersombongkan getah daun berderak
ketika dendam dahan yang ternista
tinggal menunggu hitungan; alasan demi alasan
di persembunyian rebahan duri-duri
telinga pun membatu mata pun membatu tangan pun membatu
nadi pun membatu jantung pun membatu hidung pun membatu
darah pun membatu selangkang pun membatu otak pun membatu
bibir pun membatu tulang pun membatu; nama-nama membatu

orang-orang hilang dalam
selongsong mesiu di reruntuhan pijarnya matahari
kehilangan bayang ketika senyap memperlambat jalan
pernyataan-pernyataan yang terpahat di tingkah
muka-muka kayu, dari ketinggian tempat kaki berdiri
yang lain adalah sepi
kokok ayam di pagi-pagi pun dianggap sepi
kedut ujung mata sendiri pun dianggap sepi
desir air di celah batu pun dianggap sepi

orang-orang hilang dalam
lembar-lembar kusam catatan sejarah; kata-kata berdarah
ayat demi ayat mempertontonkan bulu mata terbakar
ucap demi ucap merentangkan nurani terbakar
menggunungkan tingginya keangkuhan di bukit khotbah
walau dalam kesabaran bumi tetap tak bisa diterima

orang-orang hilang dalam
ketajaman kilau mata luka belati; angin membias dilibas
mengatasnamakan percik darah kecurigaan
di rerimbun buangan anak sungai pembalasan

orang-orang hilang dalam
gegap-gempitanya kepalan tangan
di tengah persekongkolan

orang-orang hilang dalam
kardus-kardus kaca penyeludupan
di tengah raung kemiskinan

orang-orang hilang dalam
lubang-lubang hutan menganga di tengah ketidakadilan

banjarbaru, desember 2003

Selasa, 14 Februari 2012

Ali Syamsudin Arsi: BUNGKAM MATA GERGAJI



Data buku kumpulan puisi

Judul : Bungkam Mata Gergaji
Penulis : Ali Syamsudin Arsi (Asa)
Cetakan : I, Februari 2011
Penerbit : Framepublishing, Yogyakarta
Tebal : xiv + 148 halaman (40 judul)
ISBN : 978-979-16848-4-7
Desain isi : Indrian Koto
Gambar cover  : Darvies Rasjidin (Pintu Larangan)
Desain cover : Nur Wahida Idris

Beberapa pilihan puisi Ali Syamsudin Arsi (Asa) dalam Bungkam Mata Gergaji

Semakin Terbuka

Bersuaralah tanpa ada batas-batas, menulislah tanpa ada titik-titik. Jangan biarkan tekanan demi tekanan menyelimuti sampai akhirnya tersungkur karena bentangan garis pembatas. Bersuaralah tanpa harus melihat ke kiri atau ke kanan, menulislah sampai tak tampak lagi apa yang seharusnya disampaikan. Mimpi yang terkepung dengan semua hasrat berjalan sendiri-sendiri di kerikil cadas semilir angin berhenti dalam. Sunyi kembali. Kalimat terpotong. Sunyi kembali. Wacana tak ada yang dapat diterima. Yang di luar dari kepentingan, enyah sajalah sebelum diusir secara kasar, demo tak ada ujungnya, protes tak akan didengar juga. Berdiri di titik saling berhadap-hadapan adalah kata sepakat, tapi paling sakit dari segala langkah. Malam datang engkau tetap termangu dalam menunggu. Hei, ada berita bahagia atas segala pinta, Chairil Chairil Chairil, menyebut sebuah nama yang rasa-rasa sulit dilupakan, Tardji Tardji Tardji, sejak itulah orang-orang semakin mempersempit jalan dan melayang di tatap matanya Rendra Rendra Rendra.
Keterbukaan yang menyeruak ke akar-akar ternyata membentuk kotak-kotak cahayanya sendiri dengan memisahkan bagian-bagian dan sampai pada akhirnya tidak mau menerima apa pun yang dilakukan oleh orang lain, oleh segala sesuatu yang berada di luar dari bagiannya. Kebersamaan seperti orang-orang pesimis memandang lurus harapan dibentang, tetapi kata sepakatnya adalah harus melebihi kepentingan orang lain karena ada tujuan terselubung di balik layar lebar sebagai tontonan, masa depan adalah kami, masa kini lebih dari sekedar kami, dan masa lalu biarlah kalian yang memiliki, seperti mimpi-mimpi itu sendiri. Terjerat di sudut kelambu. Kami terlalu pahit merasakan
kami terlalu sakit dibebankan. Ranjang kami pun dirampas paksa. Kursi goyang kami pun dijarah dengan bentakan sekeras halilintar. Kompor kami ditendang tanpa dapat memunguti isinya yang tumpah ke parit-parit. Kami adalah orang-orang tersingkir dari tanah negeri kami sendiri. Kami lebih rendah dari sampah yang masih ada memunguti