Tampilkan postingan dengan label Bode Riswandi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bode Riswandi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2016

Bode Riswandi: MENDAKI KANTUNG MATAMU




Data buku kumpulan puisi

Judul : Mendaki Kantung Matamu
Penulis : Bode Riswandi
Cetakan : I, Februari 2010
Penerbit : Ultimus, Bandung
Tebal : xvi + 84 halaman (63 puisi)
ISBN : 978-602-8331-17-3
Gambar dan desain sampul : Nazarudin Azhar
Pengantar : Prof. Jakob Sumardjo

Beberapa pilihan puisi Bode Riswandi dalam Mendaki Kantung Matamu

MENDAKI KANTUNG MATAMU
                                   
: buat WS. Rendra

Mendaki kantung matamu rakyat dengan darah selabu
berlari tak tentu. Siapa lagi yang terbunuh? Darah kami
tinggallah selabu. Rumah kardus, bayi-bayi yang resah
amuk pemuda di jalan raya, dan babu-babu pribumi
dipalu ketakutan yang tak perlu. Seberapa samodrakah
luas kantung matamu? Menampung resah dari juru-juru
Ia memberikan tuhan bagi mereka seperti yang di langit
atau yang di dada.

Lemak-lemak bolamatamu kau gembalakan di cakrawala
menampar setiap gebalau suara-suara yang menuju renta
Kita tidak boleh tua sebab dera juga manisan maut apapun
tapi lahir seruncing gigi anjing tanpa majikan manapun

Mendaki kantung matamu rakyat menghangatkan darah
saban waktu. Matanya tungku dan hatinya cahaya api
Jika kelam tiba mereka khatam nyulut tubuh sendiri
jadi fajar atau matahari: bumi dan langit milik kita
untuk ditanami jagung atau padi.

2009


TENUNG RINDU

(1)

Selalu lewat jendela aku memahamimu dan selalu rindu
yang minta ditulis dengan darahmu. Hari-hari berpendar
ke rumah yang lain, ke dasar dada dan kebun-kebun jiwa
Engkau jadi seperti alamat tenung atau serupa kemuskilan
yang diciptakan, tapi melulu aku bertamu saban waktu

(2)

Saban waktu aku mendatangimu dengan tubuh yang pucat
Tapi kau menulisnya ketika darah badan tinggal segurat

2009