Tampilkan postingan dengan label Arsyad Indradi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsyad Indradi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Februari 2013

Arsyad Indradi: ANGGUR DUKA



Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Anggur Duka
Penulis : Arsyad Indradi
Cetakan : I, 2009
Penerbit : Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, Kota Banjarbaru
Tebal : 69 puisi (titimangsa 2009: 23 puisi, 2008: 21 puisi, 2007: 25 puisi)

Beberapa pilihan puisi Arsyad Indradi dalam Anggur Duka

Masih Membaca Malam
Rindu Yang Dalam

Seperti juga aku
Masih seperti malam yang lalu
Membaca syair bersuluh kunangkunang
Angin dingin memaksaku berkalikali
Membunuh rindu
Bilamana matamu menetesi sukmaku
Maka bergegas menengok awan

Sebisabisanya kutengadahi langit
Adakah walau sebiji bintang ?

Syair membasah di jelagamalam
Untaidemiuntai kujemur di ayatayatzikir
Kujemur segala duka

Banjarbaru, 2008


Reruntuhan Hujan

Pagi tak jadi sempurna. Menatap pintu langit
Siapa berlari bebasah perih di sana?
Di dalam hujan. Mestinya tak perlu risau..
Di dalam rindu. Mestinya tak perlu duka.
Tapi siapakah yang menggetargetar padang ilalang
yang kehilangan rimba?
Anggur

Lelayap pohonnya terdiam kaku
Setangkai menetesnetes merahnya
mataku luka bertuak
Aku mabuk dalam impian
Aku rebah di bawah reruntuhan harapan

Banjarbaru, 2008

Minggu, 01 Januari 2012

Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, Hamami Adaby: TIGA KUTUB SENJA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tiga Kutub Senja
Penulis : Arsyad Indradi, Eza Thabry Husano, dan Hamami Adaby
Cetakan : I, Juli  2001
Penerbit : Kilang Sastra Batu Karaha, Banjarbaru
Tebal : x + 70 halaman (masing-masing penyair 15 judul puisi)
Gambar sampul : Arsyad Indradi
Editor : Eza Thabry Husano
Catatan penutup: Hijaz Yamani


Beberapa pilihan puisi Arsyad Indradi dalam Tiga Kutub Senja

Zikir Senja

Tak terbaca lagi ayatayat
Yang Kau hampar sepanjang perjalanan
Menuju rumahMu
Tak mungkin kembali
Menangkap AlipLamMim dari pintu bumi
Kandang dombadomba yang lapar
Semakin jauh berjalan
Kucurigai langit
Menyembunyikan bintangbintangMu
BulanMu bahkan matahariMu
Kucurigai laut
Menyentuh kakiku
Buihbuih merajah pausMu yang kian punah
Jasadku untaunta
Rohku kafilahkafilah
Di gurungurun bukit Thursina
Kucurigai rumahMu lengang
Kucurigai mengapa Kau tunggu aku
Di Jabal Rahmah
Aku
Anak Adam
Yang tersesat di sajadahMu

Banjarbaru, 2000