Tampilkan postingan dengan label Muhammad Daffa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammad Daffa. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2018

Muhammad Daffa: SUARA TANAH ASAL



Data buku kumpulan puisi

Judul : Suara Tanah Asal
Penulis : Muhammad Daffa
Cetakan : I, Juni 2018
Penerbit : Teras Budaya, Jakarta Selatan.
Tebal : viii + 76 halaman (70 puisi)
ISBN : 978-602-5780-07-3
Desain cover : Teras Budaya Art
Pengantar : Remmy Novaris DM

Sepilihan puisi Muhammad Daffa dalam Suara Tanah Asal

CERITA DAUN

“daun-daun tak pernah membosankan untuk sekadar bercerita”
“seperti dua kuntum mawar di sebuah pagi, mekar atas dunia”

2017


DELAPAN SAJAK YANG ENGGAN MENYATUKAN

“Akulah sajak, yang tak gampang disatukan. Seseorang akan
menulisku lagi dalam halaman lain
Dua hari dari sekarang.”

“Tapi aku penyair, dan delapan pijak majas sudah kudapatkan demi
mengubahmu jadi sajak.”

“Akulah sajak, yang menantikan halaman lain membuka diri. Bukan
padamu tempatku menjadi.”

“Tapi aku melankolia, yang mudah memutuskan rindu dan sekelumit
cinta masa muda.”

“Sajak-sajakku yang tak pernah bisa selesai, dengarlah niatanku
menyelesaikanmu.”

2017

Rabu, 02 Agustus 2017

Muhammad Daffa: TALKIN


Data buku kumpulan puisi

Judul: Talkin
Penulis: Muhammad Daffa
Penerbit: Teras Budaya, Jakarta Selatan.
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal: viii + 68 halaman (53 puisi)
ISBN: 978-602-1226-74-2
Desain cover: Teras Budaya Art

Beberapa pilihan puisi Muhammad Daffa dalam Talkin

PADA SEBUAH KEMARAU PUTIH

Tempiaslah kemarau dari robeknya musim hujan di penghujung
            suatu bulan
Tempiaslah musim dari udara tegak
Merapat pada cuaca di hari ini

Begitu putihnya ia, betapa putih kemarau itu mengayunmu ke
pelukan abadi
Tidak kunjung dilepasnya.

Pada sebuah musim lainnya, kau akan mengeja makna adanya
Tumbuh mengekang hari
Suara dari dunia lain yang terasing
Tak dikenal sebagai apa pun

Tempiaslah kemarau ke jantung
Lepaslah hujan dari sela-selanya

Betapa putih, betapa putihnya ia
Mengada ruang di tubuhmu, seketika bersimpuh
Mengingat dosa lama tak diampun Tuan

Tempiaslah segala
Dari kubangan kemarau

Tempiaslah; suara-suara

2016


TALKIN

Seseorang berdoa di sebuah mihrab. Ie mendengar bunyi asing
Mungkin angin, yang mengepak dekat jendela. Utas doanya
begitu putih dieja
Sumringah sewaktu melihat senyum terakhir simpul. Berduka
Ketika ada mata rabun diangsur-angsur kematian

Kemarin hari, di panggung bawah langit sana
Kata-kata yang disusunnya masih bening
Terucap dan dilantun sebagai nyanyi

Sebentar kau mengelana jauh
Singkat berjalan memanggul usia
Prahara mana mengelabuimu
Di ujung cerlang
Dan kedip ajal?

Usia gegas lenyap ke arah kesunyian paling rajah
Tergugup kau tengadah
“Duh, hamba yang sendiri. Berlalu kah ia mengalun langkah
Jauh melayar umur, tanpa disertaimu Baginda?’’

Kenduri kami dipenuhi sedu dan separuh isak tertahan
Lewat berapa lama tak sudah-sudah
Melalui berapa hari ke depan tak juga berakhir
Dikenang-kenang begitu lama kepergian
Begitu jauh kau kelana kesunyian
Mengalun langkah sendiri
Begitu singkat mekar usia

Esok kita pulang, esok kita pulang
Hari yang gersang
Terlepaslah terang

2016