Tampilkan postingan dengan label Nirwan Dewanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nirwan Dewanto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 November 2015

Nirwan Dewanto: JANTUNG LEBAH RATU




Data buku kumpulan puisi

Judul: Jantung Lebah Ratu
Penulis: Nirwan Dewanto
 Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cetakan : I, April 2008
Tebal : vi + 94 halaman (46 puisi)
ISBN : 978-979-22-3666-8
Tata letak dan desain : Sijo Sudarsono
Foto penulis : Adrian Mulya
Gambar halaman dalam bertolak dari G.E. Rumphius

Jantung Lebah Ratu terdiri dari tiga bagian, yaitu kantung kesatu: Biru Kidal (15 puisi), Kantung Kedua: Kuning Silam (15 puisi) dan Kantung Ketiga: Merah Suam (16 puisi)

Beberapa pilihan puisi Nirwan Dewanto dalam Jantung Lebah Ratu

Fajar di Galena

Malam menarik kafan untuk mayatnya sendiri, setelah betapa
renta ia berupaya menerangi sebatang jarum dalam mimpimu.
Berapa lama sudah kau terbangun? Seraya mencari sisa putih
mori ke arah rumpun kana, kau berkata kepada sebutir batu
gamping di jalan setapak itu, “Mereka mencintaimu, sebab kau
tak menderita insomnia.” Dengarlah, namaku matahari, aku
perawat kuburan di tepi Mississippi, maka aku tak akan ter-
kelabui oleh kata-katamu.

(2007)


Mawar Terjauh

Kau benih hujan pagi hari,
aku payung yang lama iri.
Kau airmata di ujung jari,
aku saputangan matahari.

Jika kau dalam gaun merah,
aku bekas tangan di perutmu.
Tapi kau juga genangan darah,
ketika aku urung mencintaimu.

Kau cermin terlalu menunggu,
aku wajah yang memurnikanmu.
Tumpahkanlah tilas semua dara,
sampai jantungmu serimbun bara.

Kau pemilik hujan sepenuh hari,
aku payung terlampau sembunyi.
Mari, lekaslah kelabui Januari,
sebab aku terkulai ke tepi nyanyi.

(2007)

Kamis, 08 September 2011

Nirwan Dewanto: BULI-BULI LIMA KAKI




Data buku kumpulan puisi

Judul : Buli-buli Lima Kaki
Penulis : Nirwan Dewanto
Cetakan : I, November 2010
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 168 halaman (55 judul puisi)
ISBN : 978-979-22-6443-2
Gambar sampul : karya instalasi Joko Dwi Avianto, Gajah, bahan bambu apus, 
di Festival Salihara 2010


Beberapa pilihan puisi Nirwan Dewanto dalam Buli-buli Lima Kaki


Apel dan Roti

Di balik dua butir apel selalu ada sekeping matahari
Hijau, sehingga pisaumu tentu akan tersipu malu
Menatap merah yang selalu padam itu.

Di antara dua potong roti selalu ada selapis jantung
Kuning, sehingga lidahmu pasti akan berhenti
Sebelum mencapai putih yang menyala itu.

Di antara hijau dan kuning selalu ada ekor rubah
Abu-abu, yang empunya hanya mampu bertahan
Di balik gaunmu, sebelum menerkam sajakku.

Di antara perutmu dan piring yang termangu, lapar
Bisa juga bernama bianglala, yang segera berakhir
Ketika aku menumpahkan sajakku ke mejamu.

Sungguh lapar dan birahi tak akan terlihat oleh mata
Yang tersembunyi dalam sajakku yang terlalu lama
Tersimpan dalam lemari es di sudut dapurmu

Di luas meja yang telanjur basah oleh umpama itu
Terkecoh oleh si matahari dan si jantung, rubahmu
Makan hitam berulam mata. Mataku barangkali.

(2009)