Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sapardi Djoko Damono. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 November 2016

Sapardi Djoko Damono: AYAT-AYAT API



 
Data buku kumpulan puisi

Judul : Ayat-ayat Api
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : II, 2008 (cet. I, 2006)
Penerbit : PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta.
Percetakan (cet. II) : PT. Temprina, Bekasi.
Tebal : viii + 149 halaman (54 puisi)
ISBN : 978-979-444-437-5
Perancang sampul dan vignet : Budi Indra Cahaya

Ayat-ayat Api terdiri atas 3 bagian, yaitu ayat nol (15 puisi), ayat arloji (33 puisi) dan ayat api (6 puisi).

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Ayat-ayat Api

ADA POHON BERNAPAS

ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap helaannya seratus burung pulang
mendengar cericit anak-anaknya

ada pohon bernapas jauh dalam diri kita
di setiap hembusannya seratus warna bunga
berhamburan menyambut godaan cahaya


SONET: KAU BERTANYA APA

                                                                        untuk Wing Kardjo

Kau bertanya apa masih ada harapan. Mungkin masih,
di luar kata. Di dalam kata terdengar tak putus-putusnya
suara orang berkotbah, berceramah, dan berselisih.
Sementara kita mengemis, mencuri, berebut jatah.

menjarah, atau menjadi gila; sementara kita menyaksikan
rumah-rumah terbakar, jaringan telepon putus,
pohon-pohon tumbang – di dalam kata masih saja
setiap aksara dipertanyakan asal-usulnya, setiap desis

diusut keterlibatan maknanya. Konon, dulu,
di dalam kata pernah terdengar desau gerimis kecil,
cericit anak-anak burung, suit daun jatuh,
dan langkah kabut pagi. Konon, dulu, pernah terdengar kita

saling berbisik. Kau bertanya apa masih ada harapan.
Ada yang menunggu kita di luar kata, mudah-mudahan.

Minggu, 02 November 2014

Sapardi Djoko Damono: HUJAN BULAN JUNI





Data buku kumpulan puisi

Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: PT Grasindo, Jakarta
Percetakan: PT Gramedia, Jakarta
Cetakan: I, 1994
Tebal: x + 104 halaman (96 puisi)
ISBN: 979-553-467-X
Perwajahan: Nono S. / Albertus
Sampul depan: Kunta Rahardjo

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni

Hujan, Jalak, dan Daun Jambu

Hujan turun semalaman. Paginya
jalak berkicau dan daun jambu bersemi;
mereka tidak mengenal gurindam
dan peribahasa, tapi menghayati
adat kita yang purba,
tahu kapan harus berbuat sesuatu
agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka
tidak pernah bisa menguraikan
hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu
kapan harus berbuat sesuatu, agar kita
merasa tidak sepenuhnya sia-sia.

1992


Dalam Diriku
Because the sky is blue
It makes me cry
    (The Beatles)

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

1980

Senin, 02 September 2013

Sapardi Djoko Damono: PERAHU KERTAS


Data Buku Kumpulan Puisi

Judul   : Perahu Kertas
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : I, 1983
Penerbit : PN. Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 50 halaman (42 puisi)

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Perahu Kertas

Pertapa

Jangan mengganggu: aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah
     gua, atau sebutir telur, atau sepatah kata — ah, apa pula
     bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar,
     sudah merupakan benih, sudah mencapai makna — masih
     beranikah kau menyapaku, Saudara?


Yang Fana adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
     “Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

Rabu, 02 Januari 2013

Sapardi Djoko Damono: dukaMu Abadi


Data Kumpulan Puisi

Judul : dukaMu Abadi, Sajak-sajak 1967 - 1968
Penulis  : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : II, 1975 (Cet. I, Bandung, 1969)
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal : 52 halaman (42 puisi)
Gambar jilid : Popo Iskandar

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam dukaMu Abadi

Prologue

masih terdengar sampai di sini
dukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
sewaktu dingin pun terdiam, di luar
langit yang membayang samar

kueja setia, semua pun yang sempat tiba
sehabis menempuh ladang Qain dan bukit Golgota
sehabis menyekap beribu kata, di sini
di rongga-rongga yang mengecil ini

kusapa dukaMu jua, yang dahulu
yang meniupkan zarah ruang dan waktu
yang capai menyusun Huruf. Dan terbaca:
sepi manusia, jelaga


Kepada Istriku

pandanglah yang masih sempat ada
pandanglah aku: sebelum susut dari Suasana
sebelum pohon-pohon di luar tinggal suara
terpantul di dinding-dinding gua

pandang dengan cinta. Meski segala pun sepi tandanya
waktu kau bertanya-tanya, bertahan setia
langit mengekalkan warna birunya
bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata

Jumat, 04 Mei 2012

Sapardi Djoko Damono: MATA PISAU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Mata Pisau
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 66 halaman (51 judul puisi)
Perancang Sampul : Hanung Sunarmono SD

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Mata Pisau

Telor

Ada sebutir telor tepat di tengah tempat tidurmu yang putih rapih,
        Kau, tentu saja, terkejut ketika pulang malam-malam dan
        melihatnya di situ. Barangkali itulah telor yang kadang hilang
        kadang nampak di tangan tukang sulap yang kautonton sore
        tadi.
Barangkali telor itu sengaja ditaruh di situ oleh anak gadismu atau
        isterimu atau ibumu agar bisa tenteram tidurmu di dalamnya.


Taman Jepang, Honolulu

inikah ketentraman? Sebuah hutan kecil:
jalan setapak yang berbelit, matahari
yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air
yang membuat setiap jawaban tertunda


Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung
        berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
        kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara
        desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan
        menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Jumat, 02 September 2011

Sapardi Djoko Damono: KOLAM




Data buku kumpulan puisi

Judul : Kolam
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : I, 2009
Penerbit : Editum, Jakarta
Tebal : 120 halaman (51 judul puisi), 14,5 x 21 cm
ISBN : 978-979-19766-0-2
Cukilan kayu pada sampul dan isi buku: Jeihan


Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Kolam


Pohon Belimbing

Sore ini kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh
yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang
lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan
kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya.
            Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya
di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena
konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan
menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau
jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?
            Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa
belimbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami
adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika
ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin
bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon
belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur?
            Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi
tua juga akhirnya?


Jumat, 11 Maret 2011

Sapardi Djoko Damono: ARLOJI


Data buku kumpulan puisi Arloji

Judul : Arloji
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : 2009
Penerbit : Editum, Ciputat.
Tebal : tanpa halaman (33 judul puisi)
ISBN : 978-979-19766-8-8


Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Arloji


Tukang Kebun

Setelah beberapa kali ketukan,
pintu kubuka; rupanya ada tamu
yang, katanya, menjemputku sore hari ini
Apakah aku sudah pernah mengenalnya?

Waktu kutanyakan pergi ke mana,
jawabnya ringkas, “Ke sana, ke samudra raya!”
Ditunjukkannya pula rajah di lengannya:
gambar jangkar, tengkorak, dan kata tak terbaca.

Aku ini tukang kebun tua yang lahir dan dibesarkan
di pedalaman, sepanjang hidup hanya belajar
menghayati rumput, pohon, dan tanah basah,
mengurus pagar dan membersihkan rumah.

Aku tak mampu apa dan bagaimana lagi.
Pandanganku tinggal sejengkal,
dan telingaku? Suaraku sendiri pun tak dikenal.
Tamu itu membelalak ketika kupersilahkan duduk.

Tuhan, aku takut. Tolong tanyakan padanya
siapa gerangan yang telah mengutusnya.