Tampilkan postingan dengan label koleksi Perpustarda kota Banjarbaru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koleksi Perpustarda kota Banjarbaru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2012

KEBUN MAWAR RAHASIA



Data buku kumpulan puisi

Judul : Kebun Mawar Rahasia
Penulis : Sa’duddin Mahmud Syabistari
Cetakan : I, Agustus 2001
Penerbit : Risalah Gusti, Surabaya
Tebal  : xvi + 154 halaman; 17,5 cm (72 puisi)
ISBN : 979-556-044-1
Penerjemah dari Bahasa Inggris : Ribut Wahyudi
Perancang sampul : Mas Ong
Judul asli : Gulshan-i-Raz (bahasa Persia), diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Florence Lederer menjadi The Secret Rose Garden.

Beberapa pilihan puisi Sa’duddin Mahmud Syabistari dalam Kebun Mawar Rahasia

Anggur Pesona

Anggur, yang terbakar oleh cahaya
dari wajahnya,
menyemburkan gelembung-gelembung
sebagaimana dunia materi dan dunia-jiwa
yang muncul laksana selubung-selubung
bagi para wali
Nalar semesta yang menyaksikan
begitu terheran
Jiwa Semesta runtuh ke penghambaan

Teguklah anggur! Karena mangkok itu
sesungguhnya wajah Sahabat.
Teguklah anggur! Karena piala
adalah matanya, yang mabuk dan
melayang-layang oleh anggur.
Teguklah anggur! Dan lepaskan
diri dari bekunya kalbu,
karena seorang pemabuk lebih baik
dari sang pemuas-diri

Minggu, 05 Februari 2012

H.B. Jassin: DARAH LAUT


Data buku kumpulan puisi

Judul : Darah Laut, Kumpulan cerita pendek dan puisi
Penulis : H.B. Jassin
Cetakan : I, 1997
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : xvi + 88 halaman (15 puisi)
ISBN : 979-666-048-2
Pengantar : Sapardi Djoko Damono
Penyunting : Venus Khasanah
Desain Sampul : Mas’ud

Beberapa pilihan puisi H.B. Jassin dalam Darah Laut

Kesasar di dalam Pikiran

Pernah kubaca, manusia angkuh berkata:
“Akulah puncak segala yang sudah.
Dan mengandung segala yang datang.”

Sunglap kata, sunglap pikiran,
Ahli pikir, ahli penyair, pujangga-pujangga.
Semua mereka berputar-putar
Ke sasar di dalam pikiran
Semua suara ‘lah pernah kudengar,
Yang bodoh, yang bijaksana,
Yang bijaksana sebijaksananya,
Berpuluh abad sudah tuanya.
Tiada ubah-ubahnya,
Ah, membosankan belaka,
Permainan khayal bagi orang tiada bekerja,
Melupakan dunia yang nyata.

1943


Ciptakan Dunia Bahagia

Alangkah rapuh badan manusia
Walau seabad hidup di dunia
Hanya sedetik di samudra masa,

Lebih lama waktu terasa
Lebih hebat menderita raga dan jiwa
Oleh dikacau nafsu kebendaan,

Di atas bumi sedang berputar
Hilangkan angkara murka
Ciptakan bahagia di stasiun antara
Dari keabadian ke keabadian

1945

Jumat, 03 Februari 2012

Beni Setia: LEGIUN ASING


Data buku kumpulan puisi

Judul : Legiun Asing, Tiga Kumpulan Sajak
Penulis : Beni Setia
Cetakan : III, 1993 (Cet. I - 1987)
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 60 halaman (48 puisi)
ISBN : 979-407-085-8
Gambar kulit dan vignet : Motinggo Busye

Beberapa pilihan puisi Beni Setia dalam Legiun Asing


di trotoar bersama orang pulang kerja
aku jadi orang ketiga. Juga bagi diri

bersama. Berjalan dan membayang pada etalase
aku merasa tak bersama dengan yang mengada
pada kaca. Dengan galauan dan gegasan kota

orang-orang bergumam, orang-orang membungkam,
orang-orang tak saling menandai. Aku menangis

terkadang seperti ada yang mengawasi dari langit
menyimak dengan kebisuan tak berperasaan
dengan dugaan-dugaan asyik dalam benak

di trotoar ada yang berjalan-jalan. Melangkah
dan meludah. Melangkah dan meludah

1980


Kamis, 05 Januari 2012

Ajip Rosidi: PANTUN ANAK AYAM


Data buku kumpulan puisi


Judul : Pantun Anak Ayam
Penulis : Ajip Rosidi
Cetakan : III, 2008 (cetakan I, 2006)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal : 40 halaman (29 judul pantun)
ISBN : 978-979-419-337-2


Beberapa pilihan puisi / pantun Ajip Rosidi dalam Pantun Anak Ayam

Pantun Musim Rontok

Di musim rontok daun berubah warna
menjadi kuning, merah, lalu berguguran;
Dalam hidup tak terasa usia menjadi tua
sedang denganmu tak sempat berteguran

Angin dingin mulai keras meniup
suhu menurun dari hari ke hari;
Jalan berliku sepanjang hidup
ketentuanmu penuh misteri

Di musim rontok di musim momiji*
udara dingin daun pun gugur;
Kurenungi nasib penuh misteri
kasihmu tak henti mengucur

* momiji, saat ketika daun-daun berubah warna sebelum gugur pada musim rontok