Data Kumpulan Puisi
Judul buku: Keajaiban Bulan Ungu
Penulis: Tjahjono Widijanto, W. Haryanto
Penerbit: Dewan Kesenian Surabaya,
Surabaya.
Cetakan: I, 2000
Tebal: 34 halaman (17 puisi, 2
esai)
Gambar Sampul: Saiful Hadjar
Desain Sampul dan Layout: Bengkel
Press
Diterbitkan untuk Acara Forum
Sastra Dewan Kesenian Surabaya, 16 Oktober 2000
Esai: W. Haryanto (Membaca “Epos”
Tjahjono Widijanto: Dunia Jadi Sebuah Cerita yang Tak Utuh) dan Tjahjono Widijanto
(Sajak-sajak W. Haryanto: Sajak-sajak Gelisah dalam Kosmologi Hiruk-pikuk)
Sepilihan puisi Tjahjono Widijanto dalam Keajaiban Bulan Ungu
KABA DARI NEGARA SENJA
Bersama detak jam aku menghayuti alirmu
memecah-mecah heningmu dengan fantasi selaskar-laskar pasukan
bertaring hiu memetiki bunga-bunga di lekuk gambut yang kusinggahi
inilah, telah dibuatkan mantra-mantra baru buat dewa-dewa:
bernama peta pengganti sesaji di altar-altar tua
tempat anak-anak dan pertapa disembunyikan
Matahari akan menyimpan malam sebelum sempat memandikan bumi
orang-orang mencoba berkaca diiringi derap sepatu lars
kita menari bersama roti, anggur, dan sesobek bendera kusam
juga bedil bersanding mawar lengkap dengan duri-durinya,
pertapa-pertapa suci itu akan berkata:
– sebuah pentas digelar para dewa!
siaplah jadi pemain!
Pada tiap tasik kusebarkan benih
kelak ia akan mengarang-ngarang cerita
kisah bapa-bapanya bertaring hiu metiki bunga-bunga
lalu ibu – perempuan itu – direbutnya jadi miliknya sendiri
rahimnya melahirkan karang-karang, batu-batu,
fosil yang meriwayatkan epos-epos seratus tahun perjalanan
dengan bahasanya sendiri (dan kau takkan bisa mengerti)
Apa yang bisa dilakukan di sini?
samadi, menerka silir angin, menjumpai lumut-lumut
perlahan mengerak di pungung-punggung batu
sementara kita cuma bisa mendulang cerita
bertukar legenda, epos-epos keramat
– cobalah kembali cium jejaknya!
Pada sebuah tasik dengan fantasi selaskar-laskar pasukan
bertaring hiu memetik bunga-bunga di lekuk gambut
kita dapat kembali merangkakinya
bersama jarum kompas yang patah
di sebuah negeri senja bersama sejarah yang luka
dimana kampung-kampung kita berubah
jadi belukar yang memaksa kita mengigil
pasrah pada kehendak musim
Lawu, 1998/1999
