Tampilkan postingan dengan label Iverdixon Tinungki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iverdixon Tinungki. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Februari 2014

Iverdixon Tinungki: AKU LAUT, AKU OMBAK



Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Aku Laut, Aku Ombak
Penulis : Iverdixon Tinungki
Cetakan : I, Oktober 2009
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Tebal : x + 110 halaman (61 puisi)
Penyunting : Ahmad Syubbanuddin Alwy
Penata Aksara : Edeng Syamsul Ma’arif
Pra cetak : Hidayat Muhammad Arif
Layout : Muhammad Syahri Romdhon
Design cover : Aminuddin TH Siregar
Gambar cover : “Stuck in Reverse” karya J.A. Pramuhendara (teknik Charcoal di atas kertas tahun 2006)
ISBN : 979-975830-8
Pengantar : Meilia Handoko Kolondam

Beberapa pilihan puisi Iverdixon Tinungki dalam Aku Laut, Aku Ombak

Sambo Ghenggona

Tuhan sajak bungabunga, bungabunga sajak Tuhan
            Dalo dalo ia medalo mesuba Ruata
sembah syairsyair nafas, nafas syairsyair sembah
            Ghenggona Langi Duatang Saruruang
kelip bintang tepi duka, duka di kelip bintang
            Iamang ianang Fattimah magenda putung
amuk ombak samuderasamudera, samudera amuk ombakombak
            Su hiwang Baginda Aling
pujaan sajaksajak laut, laut sajaksajak pujaan
            Dalo dalo ia medalo
Keperkasaan semesta mata ibu, ibu mata semesta keperkasaan
            Ghenggonalangi medadingan su gaghenggang
hati lepuh cair diratap mantra, mantra ratap dilepuh hati
            Iamang ianang Fattimah magenda putung
ya Esa... esakan duniaku, dunia esa ya... Esa
            Su hiwang Baginda Aling
dari arasaras jalan menikung, menikung jalan arasaras
            Dumaleng suapeng nanging
menuju denting surga, surga harapan denting hati
            Manendeng mbanua mbanua Duatalangi
menuju kupu menafsir cahya, dan cahya menafsir kupu
            Sole tama sole buntuang taku makibang
yang mencari pagi punya matahari, karena matahari punya pagi
            O, Biabe sukakendagu Ruata, e

2008
* Sambo (Sasambo) adalah syair pemujaan dan pengajaran (sasasa). Sejak Nusalawo masa purba sasambo dinyanyikan dengan menggunakan Tagonggong (alat tetabuhan). Ghenggona (Ghenggonalagi = Ruata) adalah ilahi pencipta semesta dan pemimpin para moyang tertinggi (dewa). Pesambo (orang yang menyanyikan sasambo) biasanya mengubah syairnya secara spontan mengikuti cita rasa hatinya. Syair itu dibawakan secara berbalasan antara beberapa pesambo. Estetika sasambo terletak pada ornamensi kanon dan rima bunyi, bukan pada makna diksi.