Tampilkan postingan dengan label koleksi alm. Eza Thabry Husano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label koleksi alm. Eza Thabry Husano. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

Bambang J. Prasetya: SULUK TANAH PERDIKAN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Suluk Tanah Perdikan, Kumpulan Sajak 1987 - 1993
Penulis : Bambang J. Prasetya
Cetakan : I, Oktober 1995
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tebal : xvi + 62 halaman (52 judul puisi)
ISBN : 979-8581-33-4
Pengantar : Bakdi Soemanto

Beberapa pilihan puisi Bambang J. Prasetya dalam Suluk Tanah Perdikan

Nyanyian Zabil

Kau kandung api
pijaran samadiku
muara sajak-sajakku
yang mengilhami pencarianku
di kota mati

Seperti lukisan sunyi di padang bumi
nyanyian malam menderai pagi
lalu engkau mengketuk-ketuk rahim ibumu
mengibarkan bendera zabil
di taman bunga
yang disiram sembilan purnama
sepuluh malam
Seribu mata panah
kau sayatkan pintu garba
sampai luka terbuka
perih pedih
masih kau seret petir
lewat mulutmu

1992


Gumam Jejak Duka

Bau kuburan di plataran rumah-Mu
menyesatkan kesangsian
melacak jejak nabi-nabi

Rembulan berlayar
menggigil kabut
menawar kembali gairah meruak-ruak sepi
beri nama apa
waktu berwajah jelaga ini?
Juga sajak yang tak mampu
menampung gema yang mendengung

Senin, 03 September 2012

Abdul Hadi W. M.: MEDITASI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Meditasi, sajak-sajak 1971 - 1975
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN. Balai Pustaka
Tebal :  71 halaman (31 judul puisi)
Perancang kulit : Budiono

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Meditasi

Sehabis Hujan Kecil

Retakan hujan yang tadi jatuh, berkilau
pada kelopak kembang yang memerah
Antara batu-batu hening merenungi air kolam
angin bercakap-cakap, sehelai daun terperanjat dan lepas

1972


Gerimis

I
Seribu gerimis menuliskan kemarau di kaca jendela
Basah langit yang sampai melepaskan senja
Bersama gemuruh yang dilemparkan jarum jam, kata-kata
bermimpilah bunga-bunga menyusun kenangannya
dari percakapan terik dan hama

“Kau toreh bibirnya yang merkah,” kata hama
“Dan kuhisap isi jantungnya yang masih merah”

II
Kenapa ia tak terkulai
dan masih bertahan juga
Dan bersenyum pada surya
yang mengunyah-ngunyah air matanya

III
Untukku ingar itu pun senantiasa menyurat
Atau mimpi
Tapi angin masih saja menggigil
mendesakkan pagi

IV
Tuhan, kau hanya kabar dari keluh

V
Burung-burung pun
asing di sana
karena jarak dan bahasa

1971

Rabu, 01 Agustus 2012

CATATAN SUASANA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Catatan Suasana
Penulis : Slamet Sukirnanto
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta.
Tebal : 80 halaman (55 judul puisi)
Rencana kulit : Hanung Sunarmono

Beberapa pilihan puisi Slamet Sukirnanto dalam Catatan Suasana

Jackpot

Hidup ini: adalah jackpot dimainkan
Logam demi logam masukkan. Tarik –
Sebatang kretek dinyalakan. Asap-asapmu
Berhari. Berbulan. Bertahun. Dan selanjutnya –
Sebelum. Dan sesudahnya selesai semua!

1970


Petani

Seorang bapa
meneteskan air mata
di pojok rumah.
Kandang kerbau kosong
Setahun sudah. Ia tabah
(lelaki jangan menangis)
Namun: kini
sampailah batas
memandam gejolak dalam
Meraih samar
Hari-hari tiada makar
Membuah dalam diri. Menyerah?
Ia menyatu hati
Dengan padas, batu dan besi
Kerikil hanyut –
di dasar arus hatimu!
Sambil mengacungkan golok bermata dua
Ia teriak ke penjuru angkasa
Gemanya memantul dinding langit
Ada dendam kukuh menggigit!
Pada ihwal yang datang
Ia berlarian sejak subuh
Langkah panjang menghentak lantai
menyilang menggapai
dari ujung ke ujung
dusun dan ngarai!
Ke mana tempat bertanya?
Belum usai luka –
ia kehilangan lagi
Rumput
semak
ilalang – dan padang tandus ini!

1976

Kamis, 05 Juli 2012

Afrizal Malna: ARSITEKTUR HUJAN


Data buku kumpulan puisi

Judul  : Arsitektur Hujan, Empat Kumpulan Sajak Afrizal Malna
Penulis : Afrizal Malna
Cetakan : I, November 1995
Penerbit : Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta
Tebal : xiii + 98 halaman (53 puisi)
ISBN : 979-8793-06-4
Disain cover : Erik Prasetya, berdasarkan Instalasi dari Agus Suwage

Beberapa pilihan puisi Afrizal Malna dalam Arsitektur Hujan

Chanel OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983



Kebiasaan Kecil Makan Coklat

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat  di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni  peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan  kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994

Sabtu, 02 Juni 2012

D. Zauhidhie: HARI SUDAH SENJA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Hari Sudah Senja
Penulis : D. Zauhidhie
Cetakan : I, 1986
Penerbit : BKKNI dan HIMSI Prov. Kalimantan Selatan
Tebal : 47 halaman (32 judul puisi)
Ilustrasi : Ajamuddin Tifani
Pengantar : Hijaz Yamani

Beberapa pilihan puisi D. Zauhidhie dalam Hari Sudah Senja

Le Pensiur

hentikan kepak
burung di langit
gagalkan hinggap

kembalikan daun
ketika gugur

tampik maut
urung berbalik

engkau masih
termangu
duduk bertopak
dagu

Jumat, 01 Juni 2012

Eza Thabry Husano: SURAT DARI LANGIT


Data buku kumpulan puisi

Judul : Surat dari Langit
Penulis : Eza Thabry Husano
Cetakan : I, 1985
Penerbit : Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Prov. Kalimantan Selatan
Tebal : 45 halaman (40 puisi)
Sampul : M. Muchtar AS
Pengantar : Hijaz Yamani

Beberapa pilihan puisi Eza Thabry Husano dalam Surat dari Langit

Aku ingin jadi Seruling Bambu

Aku ingin jadi seruling bambu
bersiul tiap mengerling
Melepas kusut segala benang
di pintalan sang matahari

Seruling sekedar suara
menampar ke batas bunyi
meremas dinding kaca
yang mengurung segala luka

Aku ingin jadi seruling
yang berangkat dari rumpun bambu
mengalir di lorong waktu
deru menderu atas nama Mu.

1983

Jumat, 04 Mei 2012

Abdul Hadi W. M.: ANAK LAUT ANAK ANGIN


Data buku kumpulan puisi

Judul : Anak Laut Anak Angin
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Cetakan : -
Penerbit : -
Tebal : 137 halaman (106 judul puisi)
Tata rupa dan grafiti : Mochtar Apin

Beberapa pilihan puisi Abdul Hadi W. M. dalam Anak Laut Anak Angin

Sajak Samar

Ada yang memisah kita, jam dinding ini
ada yang mengisah kita, bumi bisik-bisik ini
ada. Tapi tak ada kucium wangi kainmu sebelum pergi
tak ada. Tapi langkah gerimis bukan sendiri

1967


Madura

Angin pelan-pelan bertiup di pelabuhan kecil itu
ketika tiba, dengan langit, pohon, terik, kapal
dan sampan yang tenggelam di pintu cakrawala
Selamat pagi tanah kelahiran
Sebab aku tak menghitung untuk ke berapa kali
Kapan saat menebal pada waktu
Sebab aku tahu yang paling berat adalah rindu
Sangsi selalu melagukan hasrat dan impian-impian
Dan adakah yang lebih nikmat daripada bersahabat
dengan alam, dengan tanah kelahiran, dan
dengan kerja serta dengan kehidupan?
Aku akan mengatakan, tapi tidak untuk yang penghabisan:

Ketenangan Selat Kamal
adalah ketenangan hatiku
membuang pikiran dangkal
yang mengganggu sajakku

kurangkul tubuh alam
seperti mula kelahiran Adam
sedang sesudah mengembara
baiklah kita rahasiakan

dari perjalanan ini
aku membawa timbun puisi
bahwa aku selalu asyik mencari
keteduhan mimpi

kebiruan Selat Kamal
adalah kebiruan sajakku
dan terasa hidup makin kekal
sesudah memusnah rindu

Sapardi Djoko Damono: MATA PISAU


Data buku kumpulan puisi

Judul : Mata Pisau
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Cetakan : I, 1982
Penerbit : PN Balai Pustaka, Jakarta
Tebal : 66 halaman (51 judul puisi)
Perancang Sampul : Hanung Sunarmono SD

Beberapa pilihan puisi Sapardi Djoko Damono dalam Mata Pisau

Telor

Ada sebutir telor tepat di tengah tempat tidurmu yang putih rapih,
        Kau, tentu saja, terkejut ketika pulang malam-malam dan
        melihatnya di situ. Barangkali itulah telor yang kadang hilang
        kadang nampak di tangan tukang sulap yang kautonton sore
        tadi.
Barangkali telor itu sengaja ditaruh di situ oleh anak gadismu atau
        isterimu atau ibumu agar bisa tenteram tidurmu di dalamnya.


Taman Jepang, Honolulu

inikah ketentraman? Sebuah hutan kecil:
jalan setapak yang berbelit, matahari
yang berteduh di bawah bunga-bunga, ricik air
yang membuat setiap jawaban tertunda


Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung
        berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
        kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara
        desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan
        menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”

Acep Zamzam Noor: DI ATAS UMBRIA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Di Atas Umbria
Penulis : Acep Zamzam Noor
Cetakan : I, November 1999
Penerbit : Indonesia Tera, Magelang
Tebal : viii + 82 halaman (44 judul puisi)
ISBN : 979-95428-7-1
Lukisan cover : Acep Zamzam Noor
Disain Cover : Si Ong Harry Wahyu
Epilog : Dr. Faruk (Puisi, Pengembaraan, Kesia-siaan)

Beberapa pilihan puisi Acep Zamzam Noor dalam Di Atas Umbria

Pastoral

Kabut yang mengepungmu
Telah runtuh menjadi kata-kata
Rumah kayu hanya menyisakan dinginnya
Dan sunyi mengendap di sana

Maut bukanlah kabut yang mengendap-endap
Tapi salju
Yang berloncatan bagai waktu
Dan menyumbat pernapasanmu

Beranjaklah dan jangan menengok
Ingin kusaksikan tubuhmu telanjang
Tanpa mantel keyakinan
Menjauh dan semakin menjauh

Kubah mesjid dan runcing menara katedral
Tenggelam di balik perbukitan
Senja mengental dalam gelas kopiku
Dan kureguk sebagai puisi yang pahit

Beranjaklah dan jangan menangis
Obor malam akan mengantarmu pergi
Melintasi jalan kesabaran
Menerobos hutan

Maut bukanlah kata-kata
Tapi doa
Yang memancar bagai cahaya sorga
Dan membakarku tiba-tiba

1991

Kamis, 03 Mei 2012

Maman S. Tawie: KEBUN DI BELAKANG RUMAH


Data buku kumpulan puisi

Judul : Kebun di Belakang Rumah
Penulis : Maman S. Tawie
Cetakan : I, 1995
Penerbit : Pusat Pengkajian Masalah-masalah Sastra (PUSKAJIMASTRA), 
Kalimantan Selatan
Tebal : 51 halaman (38 puisi)
Gambar kulit : Maman S. Tawie
Prolog : Drs. Tarman Effendi Tarsyad

Beberapa pilihan puisi Maman S. Tawie dalam Kebun di Belakang Rumah

Kesuma

Sampai di sini kita, Kesuma
Tiang layar patah dan tumbang
Sampai di sini kita
Di atas bulan tenggelam

Putus semua
Kita bentang lagi temali
Dengarlah, Kesuma
Kecup gelombang sunyi
Di atas bulan lantunkan lagu

Dengarlah, Kesuma
Matahari muram di atas bayang-bayang kita

Sampai di sini kita, Kesuma
Wahai, yang berlalu itu bulan
Di ujung jalan
malam hitam

1975