Tampilkan postingan dengan label Wiji Thukul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wiji Thukul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Wiji Thukul: PARA JENDRAL MARAH-MARAH




Data buku kumpulan puisi

Judul : Para Jendral Marah-marah, - Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian -
Penulis : Wiji Thukul
Penerbit : PT. Tempo Inti Media Tbk, Jakarta (Suplemen khusus/bonus buku).
Cetakan : I, Majalah Tempo edisi 13 – 19 Mei 2013
Tebal : (49 puisi)
Ilustrasi : Yuyun Nurachman

Kumpulan puisi Para Jendral Marah-marah terdiri dari 3 bagian, yaitu Puisi Pelarian (21 puisi), Puisi Jawa (12 puisi), dan Puisi Lepas (16 puisi).

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Puisi Pelarian

Apa Penguasa Kira

apa penguasa kira
rakyat hidup di hari ini saja

apa penguasa kira
ingatan bisa dikubur
dan dibendung dengan moncong
tank

apa penguasa kira
selamanya ia berkuasa
tidak!
tuntutan kita akan lebih panjang
umur
ketimbang usia penguasa

derita rakyat selalu lebih tua
walau penguasa baru naik
mengganti penguasa lama

umur derita rakyat
panjangnya sepanjang umur
peradaban

umur penguasa mana
pernah melebihi tuanya umur batu
akik
yang dimuntahkan ledakan gunung
berapi?

ingatan rakyat serupa bangunan
candi
kekejaman penguasa setiap jaman
terbaca di setiap sudut dan sisi
yang menjulang tinggi

Minggu, 03 Maret 2013

Wiji Thukul: AKU INGIN JADI PELURU



Data buku kumpulan puisi

Judul : Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis : Wiji Thukul
Cetakan : I, Juni 2000
Penerbit : IndonesiaTera, Magelang. Diterbitkan atas bantuan Perwakilan KITLV di Indonesia (Koninklijk Instituut voor Taal -, Land-en Volkenkunde)
Editor : Dorothea Rosa Herliany
Ilustrasi sampul : Sudwinarno (Duweck)
Disain Sampul : M. Iqbal Azcha
ISBN : 979-9375-07-X
Tebal : xix + 176 halaman
Esai pengantar : Munir, SH

Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Buku ini memuat 5 kumpulan puisi, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi)

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Ketika Rakyat Pergi

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986