Penulis: Dodong Djiwapradja
Kastalia terdiri dari 5 bagian: Jalan Setapak (1948-1949) – 10 puisi, Getah Malam (1951-1959) – 12 puisi, Kastalia (1960) – 24 puisi, Jari-jemari (1961-1963) – 7 puisi, dan Lahir di Tanah Air (1970-1973) – 18 puisi
Sepilihan puisi Dodong Djiwapradja dalam Kastalia
Makna Sebuah Sajak
Makna sebuah sajak
arti sebait syair
Kata indah yang bulat,
ialah tanah air
Makna sebuah kata
arti sebaris kalimat
Inti segala perjuangan,
ialah rakyat
Makna sebuah lagu
arti sebuah nyanyian
Musik yang paling merdu,
ialah perdamaian
Makna dari segala makna
arti dari segala arti
Dan suara yang paling nyaring,
ialah kemerdekaan
1960
Pak Tua
(sajak akhir tahun 1960)
Dengan angin di kuduknya, tersampoklah muka keriputnya
Berderak dahan-dahan usia, gemeletuk buluh-buluh
lututnya
Dan dari batang-batang yang doyong
Diangkutnya nafas sisa, perlahan, jangan sampai bolong
Tiada mimpi atas kepalanya, hanya pecahan duka
Tajam merasuk antara dada:
Pak Tua, mana tongkatmu?
Pak Tua, mana topimu?
Pak Tua, mana arlojimu?
Pak Tua, mana kacamatamu?
Dan mana pula anak-cucumu?
Tidak! Tidak!
Tak satu pun di kantung celana
Kecuali tembakau sisa,
apak – sebab lama
Malam bergumam di dagunya, bagai laba-laba
Merayap dalam jaring-jaring uban hidupnya
1961
Penerbit: PT. Dunia Pustaka Jaya
Cetakan: Pertama, 1997 (cetakan 4, 2013)
Tebal: 122 halaman (73 puisi)
Desain sampul: Ayi R. Sacadipura
Pengantar: Rendra (Penyair yang Waspada)
Kastalia terdiri dari 5 bagian: Jalan Setapak (1948-1949) – 10 puisi, Getah Malam (1951-1959) – 12 puisi, Kastalia (1960) – 24 puisi, Jari-jemari (1961-1963) – 7 puisi, dan Lahir di Tanah Air (1970-1973) – 18 puisi
Sepilihan puisi Dodong Djiwapradja dalam Kastalia
Makna Sebuah Sajak
Makna sebuah sajak
arti sebait syair
Kata indah yang bulat,
ialah tanah air
Makna sebuah kata
arti sebaris kalimat
Inti segala perjuangan,
ialah rakyat
Makna sebuah lagu
arti sebuah nyanyian
Musik yang paling merdu,
ialah perdamaian
Makna dari segala makna
arti dari segala arti
Dan suara yang paling nyaring,
ialah kemerdekaan
1960
Pak Tua
(sajak akhir tahun 1960)
Dengan angin di kuduknya, tersampoklah muka keriputnya
Berderak dahan-dahan usia, gemeletuk buluh-buluh
lututnya
Dan dari batang-batang yang doyong
Diangkutnya nafas sisa, perlahan, jangan sampai bolong
Tiada mimpi atas kepalanya, hanya pecahan duka
Tajam merasuk antara dada:
Pak Tua, mana tongkatmu?
Pak Tua, mana topimu?
Pak Tua, mana arlojimu?
Pak Tua, mana kacamatamu?
Dan mana pula anak-cucumu?
Tidak! Tidak!
Tak satu pun di kantung celana
Kecuali tembakau sisa,
apak – sebab lama
Malam bergumam di dagunya, bagai laba-laba
Merayap dalam jaring-jaring uban hidupnya
1961