Data Kumpulan Puisi
Judul buku: Duka Manis
Penulis: Hasan Aspahani
Penerbit: DIVA Press, Yogyakarta.
Cetakan: I, Mei 2018
Tebal: 208 halaman (99 puisi)
Penyunting: Tia Setiadi
Tata Sampul: Ferdika
Lukisan Sampul: Hasan Aspahani
Tata Isi: Kayla
Pracetak: Antini, Dwi, Wardi
ISBN: 978-602-391-537-8
Sepilihan puisi Hasan Aspahani dalam Duka Manis
Sajak dengan Beberapa Bait yang Satu
Sama Lain Tidak Ada Hubungannya
SEBAGAI ikan, aku tak harus bernaung dari hujan,
merenangi kesepian, selamanya, tuli dari bising suara
kalian.
INI bukan bulir embun, tapi air mata mataku yang
rabun. Kabut kesedihan, betapa betah bertahan.
Menunda, mempermalukan hujan.
SEPERTI kuliah pertama ilmu pembentukan permukaan
bumi, kesedihan adalah hujan ratusan bulan,
menggerus kesendirian, mengurat parit, kepahitan.
DI tepian kesepian, ada perahu kuminta menunggu,
kukira tak akan cukup untuk kita berdua, atau kau mau
kita karam saja di kanal itu?
KALAU kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar
riaknya akan sampai ke seberang, ke tepian kesendirianku?
Tak Semata Mata dan Metafora Lainnya
MATAMU sepasang taman. Kelinci-kelinci
kecil berlompatan, seperti air mataku, jika
aku menangis dulu. Bulu matamu, pagar pandan.
Rambutmu serat-serat hujan malam. Aku
menenun dengan tangan. Sepasang balam
berdiam di pagar titian mataku-matamu.
Lidahmu hiu kecil merah jambu, bersirip ajaib,
yang mengecipakkan kata-kata mantra,
saat ia merenangi di teluk teduh: mulutku.
Alismu kebun buluh. Sebatang kutebang,
kucuri waktu petang. Nanti, di tengah sunyi,
aku mengendap datang: memancing bimbang.
Telingamu kupu-kupu. Kepaknya mengonserkan
partitur warna sayapnya. Ada yang ia bisikkan
selalu: larva rindu. Kelak menetas di hatimu.
Bibirmu kawanan angsa merah. Berenang
melingkari danau, bening dan hening. Aku?
pemburu piatu, busurku patah, habis anak panah.
Dadamu padat kubis, kupuja tumbuhnya
selapis-selapis. Warna putih itu, kutabung
dari terang bangkit, fajar pertama.


