Data buku
Judul : Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda
Penulis : Multatuli (adalah nama samaran dari Eduard
Douwes Dekker 1820-1887, yang bermakna = aku telah banyak menderita)
Tahun terbit buku : 1860
Penerjemah: H.B. Jassin (langsung dari Bahasa
Belanda)
Penerbit : Djambatan, Jakarta.
Cetakan : IX, 2005
(Cet. I: 1972)
Percetakan : Ikrar
Mandiriabadi
Tebal : xxi + 359 halaman
ISBN : 979-428-586-2
Pendahuluan dan
Anotasi : Dr. Gerard Termorshuizen
“Ya, aku bakal
dibaca!//Jikalau tujuan itu tercapai, maka puaslah aku. Sebab aku bukan hendak
menulis baik,… aku hendak menulis
begitu rupa, sehingga didengar, dan seperti orang yang berteriak :’tangkap
maling itu!’ tidak perduli gaya ia menyampaikan ucapannya yang spontan kepada
publik itu, maka akupun tidak perduli bagaimana orang menanggapi cara aku
meneriakkan: ‘tangkap maling itu!’.// Buku itu isinya aneka macam, tidak
beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak nampak keahlian;…tidak
ada bakat, tidak ada metode…. //Baik, baik,… semuanya itu benar,… tapi orang
Jawa dianiaya!//Sebab, orang tidak bisa
membantah maksud utama karyaku.”
(Multatuli, hlm 347)
Puisi-puisi dalam buku Max Havelaar karangan Multatuli alias Eduard Douwes Dekker
Kembalikan Dulu Ibuku Padaku
Ibu, jauh memang tempat ku lahir,
Negeri
tempat kulihat cahaya mentari,
Airmataku
berlinang pertama kali,
Kau besarkan aku dalam bimbingan;
Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin
Penuh
kasih sayang seorang ibu
Setia
kau mendampingiku
Kau angkat jika ku jatuh; –
Nasib
kejam memutus hubungan kita
Tapi hanya lahirnya saja…
Sendiri
aku berdiri di pantai asing
Seorang diri,… dan Tuhan…
Namun,
ibu, apapun menggelisahkan hati,
Yang menyenangkan maupun menyedihkan
Janganlah
ragu cintanya beta
Cinta puteramu di dalam hati!
Belum
ada empat tahun yang silam
Aku berdiri penghabisan kali nun di sana
Tanpa kata di tepi pantai
Menatap
jauh ke masa depan;
Kubayangkan segala yang indah
Yang
menunggu di masa depan,
Kelecehkan
masa kini dengan berani
Kuciptakan surga firdausi;
Hatiku tak gentar menempuh jalan
Melanda segala hambatan,
Yang
melintang di depan mata,
Ku
rasa dunia bahagia semata…
