Tampilkan postingan dengan label Multatuli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Multatuli. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

Multatuli: MAX HAVELAAR



  
Data buku

Judul : Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda
Penulis : Multatuli (adalah nama samaran dari Eduard Douwes Dekker 1820-1887, yang bermakna = aku telah banyak menderita)
Tahun terbit buku : 1860
Penerjemah: H.B. Jassin (langsung dari Bahasa Belanda)
Penerbit : Djambatan, Jakarta.
Cetakan : IX, 2005 (Cet. I: 1972)
Percetakan : Ikrar Mandiriabadi
Tebal : xxi + 359 halaman
ISBN : 979-428-586-2
Pendahuluan dan Anotasi : Dr. Gerard Termorshuizen

“Ya, aku bakal dibaca!//Jikalau tujuan itu tercapai, maka puaslah aku. Sebab aku bukan hendak menulis baik,… aku hendak menulis begitu rupa, sehingga didengar, dan seperti orang yang berteriak :’tangkap maling itu!’ tidak perduli gaya ia menyampaikan ucapannya yang spontan kepada publik itu, maka akupun tidak perduli bagaimana orang menanggapi cara aku meneriakkan: ‘tangkap maling itu!’.// Buku itu isinya aneka macam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk, tidak nampak keahlian;…tidak ada bakat, tidak ada metode…. //Baik, baik,… semuanya itu benar,… tapi orang Jawa dianiaya!//Sebab, orang tidak bisa membantah maksud utama karyaku.”
(Multatuli, hlm 347)

Puisi-puisi dalam buku Max Havelaar karangan Multatuli alias Eduard Douwes Dekker

Kembalikan Dulu Ibuku Padaku

      Ibu, jauh memang tempat ku lahir,
Negeri tempat kulihat cahaya mentari,
Airmataku berlinang pertama kali,
      Kau besarkan aku dalam bimbingan;
      Jiwa sang anak kau isi dan kau pimpin
Penuh kasih sayang seorang ibu
Setia kau mendampingiku
      Kau angkat jika ku jatuh; –
Nasib kejam memutus hubungan kita
      Tapi hanya lahirnya saja…
Sendiri aku berdiri di pantai asing
      Seorang diri,… dan Tuhan…

Namun, ibu, apapun menggelisahkan hati,
      Yang menyenangkan maupun menyedihkan
Janganlah ragu cintanya beta
      Cinta puteramu di dalam hati!

Belum ada empat tahun yang silam
      Aku berdiri penghabisan kali nun di sana
      Tanpa kata di tepi pantai
Menatap jauh ke masa depan;
      Kubayangkan segala yang indah
Yang menunggu di masa depan,
Kelecehkan masa kini dengan berani
      Kuciptakan surga firdausi;
      Hatiku tak gentar menempuh jalan
      Melanda segala hambatan,
Yang melintang di depan mata,
Ku rasa dunia bahagia semata…