Jumat, 17 November 2023

Indrian Koto: PLEIDOI MALIN KUNDANG


 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Pleidoi Malin Kundang
Penulis: Indrian Koto
Penerbit: Gambang Buku Budaya, Sleman, Yogyakarta.
Cetakan: I, April 2017
Tebal: vii + 77 halaman (46 puisi)
Desain Isi: Kun Andyan Anindito
Desain Sampul: Yopi Setia Umbara
ISBN: 978-602-6776-43-3
 
Pleidoi Malin Kundang terdiri dari Dari Tengah Kampung  (17 puisi), Ziarah Laut (14 puisi) dan Kota Lama (15 puisi)
 
Sepilihan puisi Indrian Koto dalam Pleidoi Malin Kundang
 
Mimpi
 
barangkali kematian berlangsung
seperti bangun dari tidur
kau hanya mampu mengingat mimpi semalam
sepotong demi sepotong
 
bisa jadi
kalian hanya mimpiku saja
dunia dan seluruh semesta yang kukenali ini
karang-karangan sederhana
yang ditulis penyair setengah mabuk setengah ngantuk
lalu begitu aku bangun
tak ada perang, tak ada yang terbunuh
tak ada tangisan, tak ada yang kehilangan
 
bahkan agama, bangsa dan benua
dan segala yang disebabkan olehnya
bisa jadi istilah baru ketika bangun nanti
suatu hari yang rasanya dekat sekali
 
2011
 

Fitri Nganthi Wani: JANGAN MATI SEBELUM BERGUNA

 

 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Jangan Mati Sebelum Berguna
Penulis: Fitri Nganthi Wani
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cetakan: I, April 2020
Tebal: x + 137 halaman (96 puisi)
Penyelia naskah: Teguh Afandi
Desain sampul: Ivana Kurniawati
Penata letak: Fitri Yuniar
ISBN: 978-602-06-4058-7 (PDF)
 
Sepilihan puisi Fitri Nganthi Wani dalam Jangan Mati Sebelum Berguna
 
MENJADI BUDEG KADANG PERLU
 
perjuangan itu salah satunya
berupaya keras untuk tetap bertahan hidup
tanpa harus menyusahrugikan orang lain
 
yang seperti ini agaknya sering luput
dari padangan para pengamat hidup
terkadang bukan dukungan yang didapat
justru nyinyir sindir hujan hujat
dan teori konspirasi yang tak berkesudahan
 
menjadi budeg itu kadang perlu
untuk menyikapi mereka
yang tak punya kapasitas untuk mendengar
 
11 Oktober 2014
 
 
UTAMA
 
bahkan ketika kamu harus sendirian
tetaplah memihak kebenaran
 
2014
 

Ni Made Purnama Sari: KAWITAN

 

 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Kawitan
Penulis: Ni Made Purnama Sari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cetakan: I, 2016
Tebal: x + 78 halaman (42 puisi)
Editor: Mirna Yulistianti
Ilustrasi sampul: Natisa Jones
Setter: Nur Wulan Dari
ISBN: 978-602-03-2788-4
 
Kawitan terdiri dari Muhibah Tanah Jauh (25 puisi) dan Kampung Halaman (17 puisi)
 
Sepilihan puisi Ni Made Purnama Sari dalam Kawitan
 
Lewat Rotterdam Tengah Malam
 
Lewat Rotterdam tengah malam
Kukira Hatta bersamaku di kereta
Bagai dua siswa sekolah mula
          tempuh ujian akhir tahun:
ia menulis sajak, aku gubah sejarah
tak boleh saling contek
 
Kami pandang langit, cari-cari inspirasi
rasanya baru saja bintang jatuh
memintas kanal dan puing kota
menemani peti-peti buku kiriman
di samudera tanah jajahan
                        jauh ke bandanaira;
melesat lewati kereta seratus kilo per jam
yang bikin lampau kota Rotterdam
 
Puisi yang ditulis Hatta
          tak kutahu tentang apa
Sejarah yang aku buat
          entah akan akhir bagaimana
Kami tak punya apa-apa
          kecuali nasib buruk yang tanpa jemu
          menikung langkah di setiap kesempatan
 
Dilanda kebosanan, diam-diam kami tukar karya
membacanya dalam hati
          tak henti membacanya dalam hati:
Berdua memisah arah
Ia turun di stasiun, aku laju ke masa yang nun
Puisi kami, sejarah kami
Entah akan pernah sejalan lagi
 

Avianti Armand: MUSEUM MASA KECIL


 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Museum Masa Kecil
Penulis: Avianti Armand
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cetakan: I, 2018
Tebal: 147 halaman (39 artikel)
Ilustrasi: Kristin Monica
Desain sampul dan isi: Kristin Monica
ISBN: 978-602-03-8424-5
 
Akhirnya museum itu dibuka kemarin. Tak banyak yang datang.
Alamatnya agak susah dicari: Hujan, Gelas Susu Ke-3,
satu belokan sebelum pagi. Di dalamnya dideretkan
yang hilang dan yang ditemukan
dari masa kecil.
 
Sepilihan puisi Avianti Armand dalam Museum Masa Kecil
 
GRAVITASI
 
Hari ini kita akan berjalan dan menjelma gema
badai pasir –
 
Seorang lelaki menyentuhkan ujung jarinya
ke tanah yang memanggil namanya dan mengingatkan ia
tentang asal dan takdirnya. Sesudah itu,
ia akan tinggal.
 
Tapi kita akan terus berjalan.
 
 
 
 
16:29
10.03.2007
 
 
KAKTUS DI JENDELA LANTAI LIMA
 
Kaktus itu membiarkan bunganya mengering
sekali lagi.
 
Di trotoar seorang lelaki mendongak
lalu pergi.
 
 
 
 
01:58
29.12.2016
 

Norman Erikson Pasaribu: SERGIUS MENCARI BACCHUS

 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Sergius Mencari Bacchus
Penulis: Norman Erikson Pasaribu
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Cetakan: I, April 2016
Tebal: xii + 70 halaman (33 puisi)
Ilustrator, desainer sampul, dan penata letak isi: Leopold A. Surya Indrawan
ISBN: 978-602-03-2789-1
 
Sepilihan puisi Norman Erikson Pasaribu dalam Sergius Mencari Bacchus
 
BERTEMU LEO
 
Di puncak tangga ia belum tahu bahwa
punggung putih di balik pintu kaca adalah Leonya
 
Umurnya dua puluh empat
dan ia menulis surat cinta untuk dirinya sendiri
 
Ia belum tahu bahwa paska-pintu ia berhak
menyebut hidupnya hidup
 
Dan ia tak perlu lagi menabung umur
agar tak terlalu tua ketika ajalnya tiba
 
 
SERGIUS MENCARI BACCHUS

Seperti ular, kau melepaskan kulitmu yang tak baka,
dan memulai/meneruskan perjalanan. Kini sinar dari atas sana

melewatimu. Kau semi-bening berpendar, dan jauh di barat,
di Kota Roma yang sekarat, Galerius tak menyadari ajalnya telah dekat.

Kau akan mencari seseorang yang berharga bagimu, yang
dalam tubuh peraknya mengunjungimu di penjara, dan berbisik, Bertahanlah

sebab aku akan terus memperhatikanmu. Bersamanya
kau akan naik ke surga, dan merasa familiar

untuk kali pertama. Kalian berdua akan berpegangan
tangan, dan mengenalkan satu sama lain ke hadapan tiap-tiap orang.