Tampilkan postingan dengan label Iyut Fitra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iyut Fitra. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2025

Iyut Fitra: SINAMA


 
Data Kumpulan Puisi
 
Judul buku: Sinama (buku puisi ketiga dari trilogi merantau)
Penulis: Iyut Fitra
Penerbit: Kabarita, Kota Padang.
Cetakan: I, 2020
Tebal: xiv + 62 halaman (39 puisi)
Penata letak: Yonox
Foto dan disain sampul: Ijot Goblin
ISBN: 978-602-51957-9-2
Prolog: Fariq Alfaruqi (Mengayuh ke Hulu Sinama)
 
Sepilihan puisi Iyut Fitra dalam Sinama
 
jalan air
 
air meninggalkan hulu. kini terhempas di kelok-kelok
menyusur lembah, lekuk serta lurah
adakah rindu tersimpan. adakah ingatan terpulang
 
setelah jauh mengalir tujuan tak lebih dari muara
sebuah tempat berjanji
entah damai entah luka
 
bila tak sampai pada jalan terakhir
pesan-pesan dititipkan biar menjadi suara sayup saja
bahwa sepanjang batang angin saling setia dengan desir
 
kian jauh pergi semakin terasa dekat
tempat pulang
apa lagi akan dijemput?
 
di atas sampan orang-orang mengulang dendang
menitip gelisah pada batu-batu,
pasir juga air
 
sudah petang harilah senja. anak gembala
menghapus peluh. jalan terbentang
bila kan tiba. malam datang hatilah rusuh
 
hulu, muara, hanya cinta tak sudah
pergi lalu kembali
siapa mencatat entah
 
dari kampung orang-orang terus pergi
kendati tak lagi berpedati
dari rantau satu-satu kembali pada janji tak pasti
 
ke mana akan pulang
apakah pada mitos, legenda, atau sejarah?
dari hulu air terus mengalir
 
 

Senin, 02 Februari 2015

Iyut Fitra: DONGENG-DONGENG TUA




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul : Dongeng-dongeng Tua
Penulis : Iyut Fitra
Cetakan : I, Januari 2009
Penerbit : AKAR Indonesia, Yogyakarta.
Tebal : 138 halaman (70 judul puisi)
ISBN : 978-979-19004-3-0
Supervisi : Joni Ariadinata
Penyunting : Raudal Tanjung Banua
Setting : Adi Samawa
Desain cover : Nur Wahida Idris
Gambar cover : diolah dari lukisan “Yang Abadi”, (145x160), acrilik, 2007 dan Instalasi “lets come here to comfortable”, 2007 karya Dalbo Swarimbawa

sungguah cilako jalan basimpang/awak sairiang dipisahkannyo
(Sajak Palayaran, Iyut Fitra)

Beberapa pilihan puisi Iyut Fitra dalam Dongeng-dongeng Tua

Yang Berjalan ke Dalam Kelam

kelak, bila suaraku tak lagi kau dengar
di rabun malam. di jalan-jalan sebelum menempuh kota
hanya kan terlihat para pengemis kecil meringkuk. meminta
bulan jatuh
atau bintang
untuk selimut dari takdir yang gigil
dan aku, adalah penyair gagal membaca peta negeri ini

atau bila puisi-puisiku tak lagi menggetarkan jiwamu
karena sepanjang waktu kau lewati. hanya lagu-lagu muram
senandung bocah kehilangan angan. kehilangan rumah
dan harapan
tergadai dalam rusuh dan keruh
maka kata-kata
adalah serpih sesia teronggok di pinggir jalan

saat kesepian saja bisa kau baca
mungkin aku. atau syair-syairku tengah berjalan
ke dalam kelam

Payakumbuh, 2006