Minggu, 01 Juni 2014

GITANJALI


Data buku kumpulan puisi

Judul : Gitanjali
Penulis : Rabindranath Tagore
Penerjemah : Anna Karina
Penerbit : Liris, Surabaya
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : xvi + 112 halaman (106 puisi)
ISBN : 978-602-95979-0-5
Editor bahasa : Sandiantoro
Desain sampul : Yoyok
Pemeriksa aksara : Agus Hidayat

Beberapa pilihan puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali
(Puisi-puisi di buku tanpa judul, judulnya saya yang kasih, kebanyakan diambil dari baris pertama puisi)

Engkau Menciptakan Aku Tanpa Akhir

Engkau menciptakan aku tanpa akhir, itulah kesenanganmu. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi, dan kau isi selamanya dengan kehidupan yang segar.

Seruling buluh yang kecil ini kau bawa melintasi perbukitan dan ngarai, dan bernapas melaluinya kau hembuskan melodi yang selalu baru.

Pada sentuhan abadi tanganmu hati kecilku kehilangan batasnya dalam keriangan dan melahirkan ungkapan yang tak terkatakan.

Pemberianmu yang tak terbatas datang padaku hanya dalam tanganku yang sangat kecil ini. Masa-masa berlalu, masih kau tuangkan, dan di sana masih ada ruang untuk diisi

PUISI-PUISI FARUK HT

Prof. Dr. Faruk HT (kanan) saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku di Taman Budaya, Banjarmasin, 13 Maret 2007
Data buku kumpulan puisi

Judul : (Sedang Dipikirkan)
Penulis : Faruk HT
Penerbit : -
Cetakan : -
Tebal : -
Sumber : Facebook (Faruk Tripoli)

Beberapa pilihan puisi Faruk HT

Martabat Dua

kembalilah ke alam
ketika lingkar pohon
kita hitung dengan pelukan
dan panjang kita ukur dengan bayang
tak ada presisi
angka masih keramat
ranting tak dapat dipotong sama panjang
selalu ada yang terasa berbeda di dalam

seperti kita
yang sekarang duduk di bangku yang sama
menemukan jawaban yang sama
atas pertanyaan di papan sana
bahwa 2 + 3 = 5

seperti kita
yang sekarang menunggu usia yang sama
untuk mendapat hak yang sama
sebuah kartu tanda warga negara
yang boleh memberi suara
tentang siapa presiden kita

seperti kau dan aku
yang menunggu dentang lonceng yang sama
tanda waktu istirahat telah tiba
dengan suara perut yang berbeda
bagi yang tadi pagi sarapan atau tidak

seperti mereka
yang juga membawa bekal berbeda
untuk menentukan berapa harga pasaran
suara kita

kembalilah ke alam
kembalilah ke dalam
kembalilah dengarkan suara yang berbisik di sana
maka kita tak akan pernah sama
seperti bekal yang dari rumah kita bawa
dan harga keringat orang tua
yang tadi pagi memasaknya

juga pilihan sikap ibu dan bapak
untuk tetap merasa bahagia
meski kita makan
di alas yang tak sama

(Posting, 7 Mei 2014)

Abdul Hadi W. M.: MEREKA MENUNGGU IBUNYA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Mereka Menunggu Ibunya
Penulis : Abdul Hadi W. M.
Penerbit : PN. Balai Pustaka, Jakarta
Cetakan : I, 1983
Tebal : 51 halaman (31 puisi)
BP No. 3152
Ilustrasi Kulit : Abdul Hadi W. M.
Perancang kulit : Hanung Sunarmono

Keterangan buku: Bahan sajak-sajak nasehat lama dari Negeri Cina ini diambil dari Chinese Poems on Ahimsa, Dr. Raghu Vira, International Academy of Indian Culture, Nagpur, 1964. Dicipta kembali oleh: Abdul Hadi W.M.

Beberapa pilihan puisi anak gubahan Abdul Hadi W. M. dalam Mereka Menunggu Ibunya

Tolong-Menolong

Di tepi kali yang deras
seekor kepiting merintih keras
ia tak bisa berjalan buat pulang ke liang
seluruh kakinya putus di batu karang

Jerit pilunya terdengar kawan-kawannya
Hingga berdatangan
“Ada apa gerangan kawan?” tanya kawannya
“Kakiku retak lalu patah dihantam gelombang,” ujarnya

Lalu dua ekor kepiting yang kuat maju
Mereka angkat dan gotong si malang
Penuh cinta dan kasih sayang
Tolong-menolong adalah lambang kedamaian dan kemanusiaan

Aku lantas termenung
Kalau kepiting si makhluk kecil kurang beruntung
Punya rasa belas dan bisa tolong-menolong
Kenapa kita makhluk yang mulia tidak?

TAMAN SI MUSLIM KETJIL

  
Data buku kumpulan puisi

Judul : Taman Si Muslim Ketjil
Penulis : Sjamsiar Seman
Penerbit : Mido, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Tjetakan : I, (1963?)
Rentjana Kulit dan Hiasan : Sjamsiar Seman
Tebal : 36 halaman (30 sadjak)

- 30 buah sadjak keagamaan untuk anak-anak umur 8 sampai 12 tahun -

Beberapa pilihan puisi anak karja Sjamsiar Seman dalam Taman Si Muslim Ketjil
(Penulisan menggunakan ejaan lama, sesuai buku)

Berwudhu

Si Muslim Ketjil sudah pandai berwudhu.
Berwudhu, mengambil air sembahjang.
Dia sering melihat ajah dan ibu.
Berwudhu sebelumnja pergi sembahjang.

Air wudhu harus baik!, kata si Muslim.
Dia rupanja sudah tahu.
Djika air wudhu terpakai kita.
Wudhu itu mendjadi sia-sia.

Si Muslim Ketjil sedang berwudhu.
Niatnja djuga dia sudah tahu.
Disiramnja muka dan tangan.
Ubun-ubun, telinga kiri dan kanan.
Tak lupa pula kedua kaki.
Kesemuanja itu dalam tiga kali.

Kearah kiblat si Muslim berdiri.
Tangan diangkat tersusun djari.
Ia mendo’a kepada Ilahi.

Doanja itu pendek sadja.
Karena itu ia telah hafal sadja.

Si Muslim Ketjil pandai sekali
Ibu dan bapaknja bersenang hati.

Nb. Versi terbitan 1978, penerbit Djambatan: Jika air kotor terpakai kita (bait 2, baris 3); Kesemuanya itu diulang tiga kali (bait 3, baris 6); Doanya pendek saja (bait 5, baris 1). 

TUGU BUNDARAN KOTA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Tugu Bundaran Kota
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit : Dewan Kesenian Kota Banjarbaru bekerjasama dengan Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru.
Cetakan : I, November 2010
Desain sampul : Binudi
Layout : Hery S
Tebal : iv + 218 halaman (169 puisi)

Beberapa pilihan “puisi anak” dalam Tugu Bundaran Kota

Kabar dari Lubang Galian

kabar dari lubang galian
kadang membawa kebahagiaan
kadang membawa kesedihan
bagi para pendulang intan
bila mendapat intan para pendulang
sangatlah senang
bila tidak mendapat intan para pendulang
sangatlah sedih
akan tetapi
mereka tak pernah putus asa
untuk menghidupi keluargaku

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Di Balik Cempaka

menggali tanah yang dalam
tak peduli panas atau hujan
tetap mereka lakukan
untuk menafkahi keluarga

hasil yang mereka dapatkan
hanya membayar
sejumput kelelahan mereka

namun bagi mereka
itu hasil yang besar

andai aku bisa membantu mereka
aku tak akan mungkin berdiam di sini
membiarkan mereka

yah,
begitulah
di balik cempaka

Cempaka, 10 Desember 2009
(karya Aulia Azizah, lahir di Cempaka, 18 Februari1996, SDN Cempaka 2 kelas VI)


Desa Cempaka

desa cempaka
adalah tempat kelahiranku
tempat aku menghirup udara
udara yang bersih dan sehat
aku senang tinggal di desa cempaka ini
akan tetapi
pada suatu hari aku menangis
karena aku harus meninggalkan desaku ini
tetapi sampai mati pun
aku tidak akan pernah
melupakan desa cempaka
selama-lamanya

(karya Fitria Nurmussa’adah, lahir di Cempaka, 31 Maret 1998, SDN Cempaka 2 kelas VI)

BUNGA-BUNGA LENTERA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Bunga-bunga Lentera
Editor : Ali Syamsudin Arsi
Penerbit : Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru bekerja sama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru
Cetakan : I, 2009
Supervisi : Ogi Fajar Nuzuli dan Hamami Adaby
Pemeriksa aksara : M. Mus’ab
Tebal : xiv + 166 halaman (137 puisi)

Beberapa pilihan “puisi anak” dalam Bungas-bunga Lentera

Kupu-kupu

kupu-kupu
sayapmu begitu indah
dengan warnamu yang menarik
saat kumelihatmu
terbang di atas bunga mawar
yang indah dan terayun pada tangkainya

memandang bunga-bunga
berwarna-warni
sangat lincah terbangmu
kian ke mari

senja mulai tiba
kau pun beterbangan
di antara pepohonan
untuk kembali pulang

Cempaka, April 2009
(karya Wahdaniah, lahir di Marabahan, 13 November 1996, SDN Cempaka 2)

MELATI UNTUK BUNDA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Melati untuk Bunda
Penulis : Karsono H. Saputra
Penerbit : Wedatama Widya Sastra, Jakarta
Cetakan : I, April 2005
Tebal : vi + 25 halaman (25 puisi)
ISBN : 979-3258-39-X

Beberapa pilihan puisi anak Karsono H. Saputra dalam Melati untuk Bunda

Melati untuk Bunda

kupetik melati di sudut taman
kusuntingkan di sanggul bunda
sebagai pengganti mutiara hatinya
saat menuntut ilmu di sekolah


Si Belang Dua

putih dan coklat muda warna bulunya
bening dan tajam sorot matanya

ia senang berguling
lalu melenting
mengeong
dan duduk di pangkuan bila ingin dibelai

tak mau mencuri meski lapar
cuma memandang yang di meja makan

itulah si belang dua, kucing kami

KEAGUNGAN ILAHI

 

Data buku kumpulan puisi

Judul : Keagungan Ilahi
Penulis : Tony Ismoyo
Penerbit : Tiga Serangkai, Solo
Cetakan : I, 1985
Tebal : 48 halaman (31 puisi)
Setting Cg Compugraphic : Fajar AP
Koreksi dan Lay Out : A. Khabarna Ar

Beberapa pilihan puisi anak karya Tony Ismoyo dalam Keagungan Ilahi

Perahu Nelayan

Angin laut bertiup lembut
Di tengah malam cuaca berkabut
Diterobos perahu para nelayan
Meluncur menuju tengah lautan

Udara dingin tak dihiraukan
Mengarungi lautan luas
Menebar jaring menangkap ikan
Hati mereka tak kenal was-was

Perahu kecil di tengah laut
Diayun ombak seperti sabut
Dipermainkan oleh gelombang
Diterpa angin bertiup kencang

Ombak bergulung berkejar-kejaran
Mempermainkan perahu nelayan
Tetapi mereka bersikap tenang
Tidak takut pada gelombang