Tampilkan postingan dengan label Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rendra. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Rendra: SAJAK-SAJAK SEPATU TUA




Data buku kumpulan puisi

Judul : Sajak-sajak Sepatu Tua
Penulis : Rendra
Cetakan : VI, 1995 (cet. I: 1972)
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Jakarta.
Dicetak oleh PT Penebar Swadaya, Jakarta
Tebal : 93 halaman (38 sajak)
ISBN : 979-419-035-7
Gambar jilid oleh A. Wakidjan

Sajak-sajak Sepatu Tua terdiri atas 2 sub judul, yaitu Sajak-sajak Sepatu Tua – yang dibagi menjadi: Bagian Pertama (10 sajak), Bagian Kedua (13 sajak). Sub judul berikutnya adalah Masmur Mawar (15 sajak). 

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Sajak-sajak Sepatu Tua

Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang

Tuhanku
wajah-Mu membayang di kota terbakar
dan firman-Mu terguris di atas ribuan
kuburan dangkal.

Anak menangis kehilangan bapa.
Tanah sepi kehilangan lelakinya.
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia.

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali bicara.
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku.

Malam dan wajahku
adalah satu warna.
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
biarpun bersama penyesalan.

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah?
Sementara kulihat kedua tangan-Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati-Mu.
Tuhanku.
Erat-erat kugenggam senapanku.
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku.

Rabu, 04 Desember 2013

Rendra: ORANG-ORANG RANGKASBITUNG



 


Data buku kumpulan puisi

Judul: Orang-orang Rangkasbitung
Penulis: Rendra
Cetakan: I, September 1993
Penerbit: Bentang Intervisi Utama, pt. Yogyakarta.
Tebal: vi + 63 halaman (10 puisi)
Disain grafis: Buldanul Khuri
Ilustrasi cover: Haitamy El Jaid
Tata letak: Heppy L. Rais dan Dwi Agus M.

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Orang-orang Rangkasbitung

Kesaksian Bapak Saijah

Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku
berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran
bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh
sudah lama aku mati.

Hidup tanpa pilihan
menjadi rakyat Sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadaran,
sebab kesadaran dianggap tantangan
                                        kekuasaan.
Hidup tanpa daya
sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berharap menjadi semut
agar bisa tidak kelihatan.

Sekarang setelah mati
baru aku menyadari
bahwa ketakutan membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya
menyuburkan ketidakadilan.

Aku sesali tatanan hidup
yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.
Pikiran dan batin
tidak berani angkat suara
karena tidak punya kata-kata.

Baru sekarang setelah mati
aku sadar ingin bicara                                      
memberikan kesaksian.

O, gunung dan lembah tanah Jawa!
Apakah kamu surga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa,
bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu
tak mampu membelamu.

Jumat, 07 Desember 2012

Rendra: BLUES UNTUK BONNIE




Data buku kumpulan puisi

Judul: Blues untuk Bonnie
Penulis: Rendra
Cetakan: XII, 2008 (cet. 1. 1971; cet. II, 1976, PT. Dunia Pustaka Jaya)
Penerbit: Burungmerak Press
Tebal: 54 halaman (13 puisi)
ISBN: 978-979-17719-2-4
Desain sampul dan lay-out: DS Priyadi

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Blues untuk Bonnie

Pemandangan Senjakala

Senja yang basah meredakan hutan yang terbakar.
Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua.
Bau mesiu di udara. Bau mayat. Bau kotoran kuda.
Sekelompok anjing liar
memakan beratusribu tubuh manusia
yang mati dan yang setengah mati.
Dan di antara kayu-kayu hutan yang hangus
genangan darah menjadi satu danau.
Luas dan tenang. Agak jingga merahnya.
Dua puluh malaekat turun dari sorga
mensucikan yang sedang sekarat
tapi di bumi mereka disergap kelelawar-kelelawar raksasa
yang lalu memperkosa mereka.
Angin yang sejuk bertiup sepoi-sepoi basa
menggerakkan rambut mayat-mayat
membuat lingkaran-lingkaran di permukaan danau darah
dan menggairahkan syahwat para malaekat dan kelelawar.
Ya, saudara-saudaraku,
aku tahu inilah pemandangan yang memuaskan hatimu
kerna begitu asyik kau telah menciptakannya.


Rick dari Corona

(Di Queens Plaza
di stasion trem bawah tanah
ada tulisan di satu temboknya:
“Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?”)

Ya.
Rick dari Corona telah di sini.
Di mana engkau, Betsy?

Kamis, 07 Juni 2012

Rendra: BALLADA ORANG-ORANG TERCINTA


Data buku kumpulan puisi

Judul : Ballada Orang-orang Tercinta
Penulis : Rendra
Cetakan : VII, 1993 (Cet. I, 1957)
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta (mulai cet. II, 1971)
Tebal : 52 halaman (19 judul puisi)
ISBN : 979-419-004-7
Gambar jilid : Jean Kharis

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Ballada Orang-orang Tercinta

Ballada Lelaki-lelaki Tanah Kapur

Para lelaki telah keluar di jalanan 
dengan kilatan-kilatan ujung baja 
dan kuda-kuda para penyamun 
telah tampak di perbukitan kuning 
bahasa kini adalah darah.

Di belakang pintu berpalang
tangis kanak-kanak, doa perempuan.

Tanpa menang tiada kata pulang 
pelari akan terbujur di halaman 
ditolaki bini dan pintu berkunci.

Mendatang derap kuda
dan angin bernyanyi :
-'Kan kusadap darah lelaki 
terbuka guci-guci dada baja
bagai pedagang anggur dermawan 
lelaki-lelaki rebah di jalanan
lambung terbuka dengan geram serigala!

O, bulu dada yang riap! 
Kebun anggur yang sedap!

Setengah keliling memagar 
mendekat derap kuda
lalu terdengar teriak peperangan 
dan lelaki hidup dari belati 
berlelehan air amis
mulut berbusa dan debu pada luka.

Pada kokok ayam ketiga
dan jingga langit pertama 
para lelaki melangkah ke desa 
menegak dan berbunga luka-luka 
percik-percik merah, dada-dada terbuka.

Berlumur keringat diketuk pintu.
- Siapa itu?
- Lelakimu pulang, perempuan budiman!

Perempuan-perempuan menghambur dari pintu 
menjilati luka-luka mereka 
dara-dara menembang dan berjengukan 
dari jendela.

Lurah Kudo Seto
bagai trembesi bergetah 
dengan tenang menapak 
seluruh tubuhnya merah.

Sampai di teratak
istri rebah bergantung pada kaki
dan pada anak lelakinya ia berkata: 
- Anak lanang yang tunggal!
kubawakan belati kepala penyamun bagimu 
ini, tersimpan di daging dada kanan.

Senin, 04 April 2011

Rendra: EMPAT KUMPULAN SAJAK



Data buku kumpulan puisi

Judul : Empat Kumpulan Sajak
Penulis : Rendra
Cetakan : IX, 2004 (cetakan I, 1961)
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal : 163 halaman (89 judul puisi)
ISBN : 979-419-311-9
Disain cover : Deddy S

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Empat Kumpulan Sajak


Spada

He, kakak yang berjalan ke timur itu
palingkan kepalamu bongkah batu
kerna dalam gelap yang menelanmu
aku bimbang apa kau lakiku!

Ada khianat dan angkuh antara kita
tertahan ku ngejar, bisaku cuma nyapa.
Spada! Hai! Teriak angin di dada: Spada!
Bila kau lelakiku yang serong, berpalinglah kiranya.


Minggu, 23 Januari 2011

Rendra: POTRET PEMBANGUNAN DALAM PUISI




Data Buku Kumpulan Puisi

Judul: Potret Pembangunan dalam Puisi
Penulis: Rendra
Cetakan: II, 1996 (cetakan I, 1993)
Penerbit: PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta
Tebal: 104 halaman (26 judul puisi)
ISBN: 979-419-109-4
Pengantar: A. Teeuw
Disain cover: Jean Kharis

Beberapa pilihan puisi Rendra dalam Potret Pembangunan dalam Puisi

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah.
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng-iya-an.

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput esok pagi.
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki,
menjadi marabahaya,
menjadi isi kebon binatang.

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam.
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan.
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan.

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair.
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendara-bendara semaphore di tanganku.
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
            yang teronggok bagai sampah.
            Kegamangan. Kecurigaan.
            Ketakutan.
            Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara.
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca:
ternyata kita, toh, manusia!

Pejambon, 27 April 1978